Minggu, 09 Maret 2014

Adab Dan Etika Jual-Beli Yang Sesuai Tuntunan Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Jual beli adalah aktivitas yang telah dihalalkan Allah, sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah Ta’ala:... وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ ... (Q.S. Al-Baqarah: 275)
Sepanjang perjalanan sejarah, kaum Muslimin merupakan simbol sebuah amanah di bidang perdagangan mereka berjalan di atas adab islamiyyah. Adab yang banyak menyebabkan manusia memeluk agama Islam sehingga masuklah berbagai ummat ke dalam agama yang lurus ini. Jual-beli merupakan sarana untuk memilki sesuatu dan tentu dalam operasionalnya terdapat adab-adab yang wajib untuk diperhatikan, antara lain:
1. Tidak Menjual Sesuatu yang Haram
Tidak boleh menjual sesuatu yang haram seperti khamar, majalah porno, nomor undian dll. Hasil penjualan barang-barang ini hukumnya haram dan kotor.
2. Tidak Melakukan Sistem Perdagangan Terlarang.
Misalnya menjual sesuatu yang tidak ia miliki, berdasarkan sabda Rasulullah saw 
لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
Jangan engkau menjual sesuatu yang tidak engkau miliki” [1]. Seperti seseorang ang menjual buah-buahan yang belum jelas hasilnya (sistem tebasan-bhs. Jawa).
3. Tidak Terlalu Banyak Mengambil Untung
Hendaklah mengambil untung secara wajar-wajar saja, kasihanilah orang lain dan jangan hanya berambisi mengumpulkan harta saja, orang yang tidak mengasihani orang lain tidak berhak untuk dikasihani.
4. Tidak Membiasakan Bersumpah ketika Menjual Dagangan.
Janganlah bersumpahuntuk sekedar melariskan dagangan atau menutupi kekurangan/cacat dari barang dagangannya tersebut.Rasulullah saw. Bersbda:
إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِى الْبَيـــْعِ فَـــإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ  
Janganlah kalian banyak bersumpah ketika berdagang sebab cara seperti itu melariskan dagangan lalu menghilangkan keberkahannya. [2].
Juga termasuk di dalamnya adalah sumpah palsu; seperti ucapan: Demi Allah, aku membelinya dengan harga sekian.” Atau “Demi Allah aku Cuma mengambil untung sekian.” dlsb. Dalam sebuah hadists Rasulullah saw. Bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص ثَلاَثَ مِرَارٍ قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ خَابُوْا وَخَسِرُوْا مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَلْمُسْبِلُ وَالْمَنَانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ 
tidak akan dilihaat oleh Allah, tidak akan dibersihkan Allah dan untuk mereka siksa yang sangat pedih: Seorang yang menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikan yang telah ia lakukan, dan orang yang menjual barang dagangannya disertai dengan sumpah palsu.” [3].
5. Tidak Berbohong Ketika Berdagang
Misalnya menjual barang yang ada cacatnya dan hal itu tidak diberitahukan kepada si pembeli.
Nabi saw. Pernah bersabda kepada pedagang yang menyembuyikan makanan yang basah, beliau berkata:”Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas agar orang-orang dapat melihatnya. Barangsiapa yang melakukan penipuan, maka ia tidak termasuk golongannku, [4].
6. Penjual Harus melebihkan Timbangan
Pedagang harus jujur dalam menimbang dan tidak boleh mengurangi timbangan tersebut, sebagaimana ia suka jika barang yang ia beli diberikan dengan sempurna, maka ia pun wajib memberikan/memenuhi hak-hak orang lain. Allah Ta'ala berfirman: 
 0 وَيۡلٌ۬ لِّلۡمُطَفِّفِينَ 0  ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ 0 وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ 
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang , (1) [yaitu] orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (3) (Q.S. Al-Muthaffifiin: 1-3).
Rasulullah saw. Bersabda: “Timbanglah dan lebihkan. [5].
7. Pemaaf, Mempermudah, dan Lemah Lembut dalam Berjual Beli
Rasulullah saw.bersabda:
اَدْخَلَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ رَجُلاً كَانَ سَهْلاً مُشْتَرِيًا وَ بَائِعًا وَ قَاضِيًا وَ مُقْتَضِيًا اْلجَنَّةَ
 “Allah memasukkan ke dalam surga orang yang mudah dalam membeli, menjual, melunasi dan ketika meminta haknya.” [6].
Beliau juga bersabda: 
 رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا اِذَا بَاعَ، وَاِذَا اشْتَرَى وَاِذَا اقْتَضَى 
Semoga Allah merahmati orang yang pemurah ketika menjual, membeli, dan menuntut haknya.” [7].
8. Menjauhkan Sebab-Sebab Munculnya Permusuhan dan Dendam Kesumat
Misalnya membeli barang yang telah dibeli saudaranya, seperti jual beli jenis najasy dan lain-lain yang diharamkan dalam syari’at Islam. Perdagangan najasy ialah seseorang datang seolah-olah ingin membeli sebuah barang dan iapun menawar barang tersebut. Setelah itu ada yang meninggikan tawaran untuk barang itu agar dilihat oleh calon pembeli sehingga kemudian ia membeli dengan harga yang tinggi di atas harga pasaran. Cara ini banyak terjadi pada yang disebut mazaad atau lelang.
9. Penjual dan Pembeli Boleh Menentukan Pilihan Selama Mereka Belum Berpisah kecuali Jual Beli Khiyaar.
Apabila penjual dan pembeli sudah sepakat untuk barang tertentu dan mereka berpisah di tempat penjualan, maka barang tersebut tidak boleh dikembalikan, kecuali jual beli khiyaar, yakni jual beli yang menetapkan saling rela sebagai syarat sempurnanya jual beli (jika salah seorang ada yang tidak rela, boleh membtalkan jual belinya walaupun sudah berpisah dari tempat penjualan). Atau setelah berpisah diketahui salah seorang dari mereka ada yang merasa dibohongi.
Rasulullah saw. Bersabda:
 اَلْبَيّعَانِ بِاْلخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا. فَاِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا. وَ اِنْ كَذَبَا وَ كَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا 
Jual beli masih diberi pilihan (untuk meneruskan atau membatalkan) selama mereka belum berpisah. Apabila mereka berdua jujur dan memperjelas jual beliny, maka jual beli mereka akan diberkahi. Namun, apabila mereka berdua menyembunyik sesuatu dalam jual belinya dan berbohong, maka keberkahan tersebut dihapuskan.” [8].
10. Tidak Boleh menimbun atau memonopoli Barang Dagangan Tertentu.
Nabi saw. Melarang perbuatan ini dan bersabda:
لاَ يَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِئٌ
“Tidaklah seseorang menimbun barang, melainkan pelaku maksiat.[9].
Dengan berprinsip pada 10 adab jual-beli ini, insyaallah usaha kita adalah usaha yang halal dan mendapat keberkahan, amin.


Ayat-Ayat Al-Qur'an Tentang Perdagangan

1. Boleh berniaga saat musim haji
(2) Al-Baqarah: 198
لَيۡسَ عَلَيۡڪُمۡ جُنَاحٌ أَن تَبۡتَغُواْ فَضۡلاً۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ‌ۚ فَإِذَآ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَـٰتٍ۬ فَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَشۡعَرِ ٱلۡحَرَامِ‌ۖ وَٱذۡڪُرُوهُ كَمَا هَدَٮٰڪُمۡ وَإِن ڪُنتُم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ 
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia [rezki hasil perniagaan] dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah [dengan menyebut] Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (198).
2. Larangan mengambil sesuatu yang bukan haknya dan larangan bunuh diri.
(4) An-Nisa: 29
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَكُم بَيۡنَڪُم بِٱلۡبَـٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمً۬ا 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (29).
3. Meninggalkan jual-beli manakala diseru shalat 
(62) Al-Jumu'ah: 10-11
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (١٠) وَإِذَا رَأَوۡاْ تِجَـٰرَةً أَوۡ لَهۡوًا ٱنفَضُّوٓاْ إِلَيۡہَا وَتَرَكُوكَ قَآٮِٕمً۬ا‌ۚ قُلۡ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٌ۬ مِّنَ ٱللَّهۡوِ وَمِنَ ٱلتِّجَـٰرَةِ‌ۚ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلرَّٲزِقِينَ
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (10) Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri [berkhutbah]. Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (11).
4. Larangan curang dalam menimbang.
(83) Al-Muthaffifin: 1-3
وَيۡلٌ۬ لِّلۡمُطَفِّفِينَ (١) ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (1) [yaitu] orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (3)
Semoga bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ               
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: Ensiklopedia Adab Islam Menurut al-Qur'an dan as-Sunnah, Jilid I hal.215-222, 'Abdul 'Azis bin Fathi as-Sayyid Nada, Penerbit: Pustaka Imam Syafi'i - telah diringkas . 
***
[1].H.R.Ahmad (III/402), Abu Daud (3503), an-Nasa’I (VII/289), at-Tirmidzi (1232) Ibnu Majah (2187) dari Hakim bin Hizam. Hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’ (7206).
[2]. H.R.Muslim (1607) dari Abu Qatadah.
[3]. H.R.Muslim (106) dari Abu Dzar r.a.
[4]. H.R. Muslim  (102) dari Abu Huhairah r.a.                     
[5]. H.R.Ahmad (IV/352), Abu Daud (3336), an-Nasa’I (724), at-Tirmidzi (1305), dan ia menshahihkannya, Ibnu Majah (2220), ad-Darimi (II/260), Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi dalam al-Kubra (VI/33) dari Suwaid bin Qais.
[6]. H.R.Ahmad (I/58), an-Nasa’I (VII/319), dan Ibnu Majah (2202) dari ‘Utsman, Hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jami’ (4378).
[7]. H.R.Muslim (2564) dari Abu Hurairah r.a.
[8]. H.R.Bukhari (2079,2082, 2108) dan Muslim (1532) dari hakim bin Hizam.
[9]. H.R.Muslim (1605) dari Ma’mar bin ‘Abdullah r.a.

1 komentar:

  1. Betul, menimbang barang dagangan memang harus matap, syukur dilebihkan. Kalau maksud anda "mantap" yang lain, ya terima kasih saja, moga blog ini berkenan.

    BalasHapus