Minggu, 09 Februari 2014

Jenis, Arti Mimpi, Serta Adab Menyikapinya Menurut Tuntunan Sunnah

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).
Seorang manusia hampir-hampir tidak terlepas dari mimpi yang ia saksikan dalam tidurnya. Islam pun telah mensyari’atkan adab-adab yang berkaitan dengan mimpi. Ini merupakan bukti agung yang menunjukkan bahwasanya Islam adalah agama yang meliputi seluruh perkara agama dan dunia. Apakah mimpi itu baik ataupun buruk, selayaknya seorang Mukmin beradab dengan adab-adabnya. 


1. Hakikat Mimpi

Kalau kita berbicara tentang mimpi para Nabi Allah dan Rasul-Nya tentulah sangat banyak kita dapatkan. tapi kami ingin menggaris bawahi satu masalah penting yaitu bahwa mimpi para Nabi itu tidak sama dengan mimpi manusia lainnya, karena mimpi mereka adalah wahyu dari Allah swt.
Sedangkan pentingnya mimpi pada sebagian individu, mungkin sebagai berita gembira dan peringatan. adapaun berita gembira (busyra) bagi yang melihatnya, adalah hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. kalau dia seorang yang taat misalnya, maka dia akan tetap teguh (konsisten) di atas ketaatan itu, bahkan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjaganya. dan kalau dia seorang ahli maksiat, maka mimpi ini sebagai ancaman yang menakut-nakutinya dari siksa dan murka Allah serta peringatan dari-Nya agar tidak terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan itu. dan kalaupun tidak ada hal lain dalam mimpi itu selain hal ini, maka itupun cukup sebagai keutamaan dan penghargaan bagi mimpi ini.
Sering kita dengar orang-orang yang bermaksiat; tidak mau shalat atau bermuamalah dengan cara riba (rente), atau mereka sediakan kelapangan mereka untuk para ahli maksiat dan kemungkaran ini. dan sering pula kita dengar mimpi ini menjadi sebab yang menggugah mereka untuk beribah menjadi orang yang istiqamah (konsisten) dalam ketaatan kepada Allah serta berpaling menjauhi perbuatan yang selama ini mereka lakukan.
Kesimpulannya, di dalam mimpi itu terdapat manfaat yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladan merupakan sebagian nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya; berita gembira bagi seorang mukmin, penggugah bagi orang-orang yang lalai, dan peringatan bagi orang-orang yang berpaling serta hujjah terhadap para penentang.
Penulis kitab At-Tamhid mengatakan:
“Ilmu tentang ta’wil mimpi termasuk ilmu para Nabi dan orang-orang yang beriman. Cukuplah bagimu apa yang telah diternagkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam dan atsar yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta ijma’ para imam pembawa petunjuk dari kalangan shahabat dan tabi’in serta para ulama kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah sesudah mereka, untuk mengimaninya dan meyakini bahwasanya mimpi itu adalah hikmah yang sempurna dan nikmat yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang dikehendaki-Nya, sekaligus sebagai berita gembira yang tersisa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.


2. Pembagian Golongan Manusia Menurut Mimpi

Menurut orang yang melihatnya (yang bermimpi) terbagi menjadi beberapa bagian. Dan ini sesuai dengan jujur tidaknya orang yang bermimpi. Berdasarkan keadaan orang yang bermimpi, ahli ilmu membagi keadaan manusia sehubungan dengan mimpi ini menjadi lima bagian, yaitu:
1. Para Nabi
2. Shalihuh (orang-orang shalih)
3. Masturun (yang tidak diketahui keadaannya)
4. Fasaqah (orang-orang fasiq)
5. Kuffar (orang-orang kafir)
1. Mimpi Para Nabi
Mereka adalah manusia-manusia yang paling jujur (benar) mimpinya, dan ini tidak diragukan lagi. KArena mereka adalah orang-orang yang paling benar (jujur) ucapan dan perbuatannya. Sebab itulah mimpi NAbi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagaikan cahaya subuh (pagi) yang terang, karena mimpi beliau adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau.
2. Mimpi orang-orang Shalih
Mereka berada pada urutan kedua setelah para Nabi dan Rasul Allah. Yang Dominan pada mimpi mereka adalah kebenaran. Namun diantaranya ada yang perlu dita’birkan dan ada pula yang tidak perlu (karena mimpi itu) sudah menunjukka suatu perkara yang sangat jelas.
Rasullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya.”
Dan beliau juga bersabda:
“Mimpi yang baik dari orang yang shalih adalah satu dari 46 bagian kenabian (nubuwwa). (HR Al-Imam Bukhori dan Muslim)
3. Mimpi Para Masturin (Orang yang tidak dikenal keadaannya)
Yaitu orang-orang yang tidak diketahui apakah dia melakukan shalat, berzakat, haji dan ketaatan lainnya, mereka kurang dalam sebagian amalan dan mempunyai dosa yang lebih rendah dari syirik. Mereka ini juga mempunyai mimpi, namun kadang dari Allah dan kadang ari syaithan.
4. Mimpi Orang-orang Fasik
Mimpi mereka sangat sedikit benarnya, yang paling dominan adalah mimpi-mimpi kosong yang merupakan permainan syaithan.
5. Mimpi orang-orang Kafir
Mimpi mereka sangat jarang benarnya. Hal ini dikarenakan kekejian dan kekafiran mereka kepada Allah dan RAsul-Nya. Dan pada umumnya mimpi mereka adalah dari syaithan. Akan tetapi kadang mereka melihat mimpi yang benar. Namun demikian masih dipertanyakan. apakah mimpi tersebut berasal dari wahyu atau kita katakana satu dari 46 bagian kenabian?
Al-Imam Al-Qurthubi menjawab hal ini, beliau mengatakan:
“Jika dikatakan bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagian dari kenabian, bagaimana mungkin orang kafir dan pendusta serta kacau keadaannya memperoleh atau bisa mendapatkannya?
Jawabnya ialah bahwasanya orang yang kafir, fajir (jahat), fasik dan pendusta itu, meskipun suatu ketika mimpi mereka benar, itu bukanlah dari wahyu dan bahkan bukan juga dari nubuwwah. Karena tidaklah semua yang benar dalam berita tentang perkara ghaib, lantas beritanya merupakan nubuwwah. Dan sudah dijelaskan dalm surat Al-An’am bahwa seorang dukun atau yang lainnya (paranormal dan sejenisnya) kadang-kadang menyampaikan suatu berita dengan pernyataan yang benar (haq) lalu dibernarkan (dipercaya). Akan tetapi hal itu sangat jarang dan sedkit sekali. Demikian pula mimpi mereka ini. [Tafsir Al-Qurthubi (9/124)].


3. Tanda-Tanda Untuk Mengenal Sebuah Mimpi

Yang pertama: Tanda-tanda Mimpi yang Benar
1. Bersih dari mimpi kosong, bayang-bayang yang menakutkan dan meresahkan.
2. Dapat dipahami ketika terjaga. Yang bermimpi tidak melihat dalam tidurnya sesuatu yang bertolak belakang, seperti mimpi melihat orang berdiri dalam keadaan duduk.
3. Tidur dalam keadaan pikirannya jernih, tidak disibukkan oleh satu persoalan pun. Karena pada umumnya, mimpi orang yang seperti ini adalah karena bisikan jiwanya (angan-angannya) sebelum tidur. Misalnya dia dalam keadaan haus lalu tertidur dan dalam tidurnya mimpi dia sedang minum. Atau lapar lalu mimpi sedang makan dan sebagainya.
4. Mimpi tersebut dapat dita’wil dan sesuai dengan yang ada di Lauh Mahfuzh. Kalau mimpi itu kadang terlihat begini atau kadang begitu, maka itu tidaklah dinamakan mimpi yang baik dan benar. Karena mimpi yang benar itu harus tersusun rapi yang sesuai dan memungkinkan untuk dita’wilkan (ditafsirkan).
Yang Kedua: Mimpi yang Diperbuat oleh Syaithan
Mimpi ini sangat berbeda dengan yang telah kami paparkan. Sehingga kalau mimpi ini meliputi berbagai perkara yang mendatangkan duka cita, keresahan, ketakutan dan sebagainya, maka tidak perlu diperhatikan karena itu adalah perbuatan syaithan.
Al-Allamah ‘Abdurrahman bin NAshir As-Sa’di rahimahullah mengatakan:
“Perbedaan antara ahkam yang berupa mimpi-mimpi kosong dan tidak bisa dita’wil, seperti orang yang bermimpi dalam keadaan dia sibuk berfikir dan berangan-angan terhadap suatu persoalan. Maka kebanyakan yang dilihatnya dalam tidurnya adalah sejenis dengan apa yang dipikirkannya ketika dia dalam keadaan jaga. Jenis ini biasanya mimpi kosong yang tidak ada ta’wilnya.
Demikian juga bentuk lain yang dilemparkan syaithan kepada ruh orang yang tidur, berupa mimpi dusta dan makna-makna yang kacau. Ini juga mimpi yang tidak ada ta’wilnya. Dan tidak perlu menyibukkan pikirannya dengan hal ini. Bahkan sebaliknya dia membiarkannya begitu saja.
Adapun mimpi yang benar, maka itu adalah ilham yang diberikan Allah kepada ruh ketika dia lepas dari jasad pada waktu tidur. Atau tamsil yang dibuat oleh malaikat bagi seorang manusia agar dia memahami apa yang sesuai dengan tamsil itu. YAkni, kadang dia melihat sesuatu sesuai hakekatnya, dan ta’birnya adalah apa yang dilihatnya dalam tidurnya. (Al-Majmu’atul Kamilah li Mu’allafat Ibnu Sa’di, (1/108).


4. Pedoman Menafsirkan Mimpi

Sangat disayangkan dalam masa-masa terakhir ini banyak orang yang berusaha mena’birkan mimpi. Yang kami maksud tentunya bukan para ahli dalam masalah ta’bir dan ta’wil, tetapi mereka yang terlalu berani mena’birkannya tanpa memperhatikan dan memahami permasalahannya. Dan mereka menyangka bahwa masalah ini adalah perkara yang gampang.
Mereka lupa bahwa selama mimpi ini bagian dari nubuwwah (kenabian), maka tidak boleh terllau berani menta’wilnya kecuali dengan dasar ilmu dan kekuatan pemahaman. Alangkah banyak kami dengar orang-orang yang mena’birkan mimpi ini tidak benar, akhirnya merusak urusan dunia orang yang bermimpi. Akibatnya dia memutuskan hubungan silaturrahmi, yang sebetulnya diperintahkan untuk menyatukannya. Semua itu disebabkan ta’bir yang salah.
Maka ketika mimpi ini ternyata mengambil bagian terbesar dalam kehidupan sebagian manusia, jelas sudah seharusnya diberlakukan pedoman untuk mena’birkan mimpi tersebut. Dan sebelum kita menerangkan patokan-patokan atau kaidah dalam mena’birkan mimpi ini, kita Tanya pada diri kita masing-masing: Mengapa ada sebagian orang yang berani mena’birkannya tanpa ilmu? Ini adalah pertanyaan yang mesti dijawab karena melihat bahayanya perkara ini. Apalagi sudah banyak yang terjerumus ke dalamnya.
Adapun sebab-sebabnya:
1. Lemahnya sisi keimanan
Keimanan adalah penggerak dan pelindung hati sesudah adanya taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’alaagar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak sepantasnya. seandainya semua pelaku maksiat ingat bahwa imannya tidak mengizinkannya untuk berbicara atas nama Allah tanpa ilmu, tidak mungkin dia akan berani mencoba-coba melakukannya. Bahkan tentu dia akan lebih memilih apa yang pantas baginya dalam urusan dien dan dunianya.
2. Lalai dari kehidupan akhirat
Sesungguhnya ahl ta’wil yang kekanakkan, yakni mereka yang tidak mempedulikan dan tidak mempertimbangkan permasalahan ini dengan kadar yang sesuai, mereka pada hakekatnya adalah orang-orang yang lalai dari kampong akhirat. Lalai bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allah swt.
Boleh jadi mimpi itu menjadi dakwah yang mengajaknya untuk konsisten (istiqamah) atau agar yang melihatnya melepaskan diri dari berbagai kemungkaran yang dijalaninya. Sehingga jika orang yang mena’birkannya ternyata salah, tidaklah ada jalan lain kecuali yang bermimpi tetap dalam keadaannya. Selanjutnya dia tidak mungkin konsisten dalam ketaatan dan tidak dapat melepaskan diri dari kemaksiatan. Dari sinilah seorang pena’bir menjadi sebab kebinasaan dan tersiksanya dia pada hari kiamat. Dari sini pula, seorang pena’bir akan ditanya tentang ta’birnya yang salah selama dia tahu bahwa dia bukan ahlinya.
3. Cinta kemasyhuran
Ini adalah kerusakan besar yang menimpa sebagian pena’bir di zaman kita. Hal ini adalah karena banyaknya mimpi di zaman ini.
4. Kurangnya ilmu
Yang kami maksud dengan ilmu adalah ilmu tentang syariat yang mengantarkan seseorang untuk mengenal RAbbnya (Allah swt) dan mengenal syariat-Nya. Maka jika mereka mengetahui hakekat Zat yang diibadahi (Yang Disembah) dan hakekat syariat-Nya tentulah tidak akan berani berbuat demikian (mena’birkan tanpa ilmu)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’: 36)
Ringkasnya, saya mengingatkan para saudaraku tentang ucapan Imam Malik ketika ditanya: “Apakah setiap orang boleh mena’birkan mimpi? Dan apakah dengan nubuwwah dia bermain-main?”
Beliau mengatakan: “Tidak ada yang mena’birkan kecuali orang yang memang menguasai ilmunya. Maka kalau dia melihat kebaikan dia ceritakan. Adapun kalau dia melihat sesuatu yang yang dibenci maka ucapkanlah kebaikan atau diam.” Dikatakan kepada beliau: “apakah boleh mena’birkan suatu mimpi dengan kebaikan sedang menurutnya hal itu merupakan sesuatu yang dibenci, hanya karena ucapan seseorang bahwa mimpi itu adalah berdasarkan bagaimana kamu ta’wilkan?”
Kata beliau: “Tidak boleh. Mimpi itu adalah suatu bagian dari kenabian, maka janganlah bermain-main dengan masalah nubuwwah!” [Tafsir Al-Qurthubi (9/126), At-Tamhid (1/288)].

5. Adab yang Berkaitan dengan Mimpi Baik

1. Memuji Allah Ta’ala
Rasulullah saw. bersabda: 
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّهَا مِنْ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ الشَّيْطَانِ 
"Jika salah seorang diantara kalian bermimpi sesuatu yang ia sukai, sesungguhnya itu berasal dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah dan menceritakan mimpi tersebut. Adapun jika ia bermimpi yang selain itu, yang tidak ia sukai, maka itu berasal dari syaitan." [1]
2. Bergembira dengan Mimpi Baik
3. Tidak Mencerikatan Mimpi Baik kecuali kepada Orang yang Menyukainya
Nabi saw. memberi petunjuk: 
الرُّؤْيَا مِنْ اللَّهِ وَالْحُلْمُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَنْ  تَضُرَّهُ.........
"Mimpi yang baik berasal dari Allah dan mimpi yang buruk berasal dari syaitan. Barangsiapa melihat mimpi buruk, hendaklah ia meludah ke kiri dan meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan. Niscaya (dengannya) mimpi buruk itu tidak akan memudharatkannya. Janganlah ia memceritakan mimpi itu kepada siapapun. Jika ia melihat mimpi yang baik, hendaklah ia bergembira dan janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang menyukai dirinya." [2].
4. Menafsirkan Mimpi Baik dengan Sebaik-Baik Penafsiran.
Menafsirkan mimpi dengan sebenar-benarnya akan melapangkan dada orang yang bermimpi, Seorang Muslim dituntut untuk berharap baik dan berbaik sangka kepada Allah Ta'ala dalam setiap keadaan. Adapun penafsiran yang baik akan mendukung hal itu.

6. Adab yang Berkaitan dengan Mimpi Buruk

1. Meludah ke Kiri Tiga kali.
Ini dimaksudkan untuk mengusir syaitan karna mimpi tersebut berasal darinya.
2. Berlindung kepada Allah dari Syaitan yang Terkutuk
Yakni membaca ta'awudz, lafadnya: أعود بالله من السيطن الرجيم (A'uudzu billaahi minasy-Syaithaanirrajiim)  "Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk."
3. Mengubah Posisi Tidur dari Posisi Semula
Ketika syaitan mendatangi manusia, ia pun menghembuskan mimpi itu, sementara orang itu sedang berada pada posisi tersebut. Maka dari itu, sebaiknya mengubah posisi semula ke posisi yang lain. Mudah-mudahan perbuatan itu dapat mengusir syaitan.
4. Memohon kepada Allah kebaikan Mimpi Buruk dan Berlindung kepada Allah dari Keburukannya
Kadang-kadang mimpi itu zhahirnya jelek, tetapi pada hakikatnya baik. Rasulullah saw. bersabda:
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَتَحَوَّلْ وَلْيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْأَلْ اللَّهَ مِنْ خَيْرِهَا وَلْيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا
"Jika salah seorang dari kalian mimpi yang tidak ia suka, hendaklah ia mengubah posisi tidurnya, meludah ke kiri tiga kali, memohon kepada Allah kebaikan mimpi itu, dan berlindung kepada Allah dari keburukannya." [3].
5. Bangun dan Mengerjakan Shalat Dua Raka’at
Rasulullah memerintahknnya dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
الرُّؤْيَا ثَلَاثٌ فَبُشْرَى مِنْ اللَّهِ وَحَدِيثُ النَّفْسِ وَتَخْوِيفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا تُعْجِبُهُ فَلْيَقُصَّ إِنْ شَاءَ وَإِنْ رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلَا   يَقُصَّهُ عَلَى أَحَدٍ وَلْيَقُمْ يُصَلِّي.....
 "Mimpi itu ada tiga macam: Mimpi baik merupakan kabar gembira dari Allah, mimpi sedih berasal dari syaitan, dan mimpi biasa yang dialami seseorang. Maka jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak disukai, hendaklah ia bangun dan mengerjakan shalat, serta jangan menceritakan mimpi itu kepada orang lain." [4]
6. Jangan Menafsirkan Mimpi Buruk
Nabi saw. melarang menafsirkan mimpi buruk, sebagaimana telah dijelaskan pada adab keempat .
7. Jangan Menceritakan Mimpi Buruk kepada Seorangpun
Juga sabda Rasulullah saw. 
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ
"Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak ia sukai, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan tiga kali, dan mengubah posisi tidurnya dari posisi semula." [5].

7. Adab-adab lain yang Berkaitan dengan Mimpi

1. Tidak Menceritakan Mimpi kecuali kepada Seorang Ulama atau Penasihat.
Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada seorang ulama atau orang yang bisa memberi nasihat." [6].
2. Tidak Terburu-buru Menafsirkan Mimpi
Rasulullah saw. bersabda: 
الرُّؤْيَا عَلَى رِجْلِ طَائِرٍ مَا لَمْ تُعْبَرْ فَإِذَا عُبِرَتْ وَقَعَتْ قَالَ وَالرُّؤْيَا جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ لَا يَقُصُّهَا إِلَّا عَلَى وَادٍّ أَوْ ذِي رَأْيٍ
"Mimpi itu berada di kaki burung selama tidak ditakwilkan. Maka jika ditakwilkan, niscaya ia akan jatuh (terjadi)." Beliau bersabda: "Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada orang yang menyukai dan bijaksana." [7].
3. Tidak Berdusta dalam Menceritakan Mimpi
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ تَحَلَّمَ حُلُمًا كَاذِبًا كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَيُعَذَّبُ عَلَى ذَلِكَ
"Barangsiapa menceritakan mimpi yang  tidak ia lihat, niscaya ia akan dibebani untuk mengikat dua biji gandum dan ia tidak akan mampu melakukannya." [8].
4. Janganlah Seorang Hamba Mengabarkan kepada Orang Lain Permainan Syaitan ataas Dirinya dalam Mimpi.
Nabi saw. bersabda: 
إِذَا لَعِبَ الشَّيْطَانُ بِأَحَدِكُمْ فِي مَنَامِهِ فَلَا يُحَدِّثَنَّ بِهِ النَّاسَ
"Jika syaitan mempermainkan salah seorang dari kalian dalam mimpi, maka janganlah ia menceritakannya kepada seorang pun." [9].
Beliau juga bersabda kepada seorang Arab badui yang bermimpi seakan-akan kepalanya terputus lalu mengggelinding dan ia mengikutinya: لَا يُخْبِرْ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِي الْمَنَامِ
 "Janganlah engkau menceritakan kepada seorangpun permainan syaitan atas dirimu dalam mimpi." [10].
5. Barangsiapa Melihat Nabi saw. Maka Sungguh ia Telah Melihatnya.
Nabi saw. bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ عَلَى صُورَتِي
"Barang siapa melihatku di dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku. Sesungguhnya syaitan tidak mampu menyerupai bentukku."
6. Hendaknya Orang yang Menafsirkan Mimpi Mengambil Faedah dari al-Qur’an dan as-Sunnah
Bahwasanya Nabi saw. telah menakwilkan susu dengan ilmu dan menakwilkan tali dengan keteguhan memegang agama dan lain sebagainya. Maka seharusnya seorang yang menjelaskan mimpi mengikuti Nabi saw. dalam hal ini semampunya. Demikian juga mengambil faedah dari apa yang disebutkan dalam kitabullah, berkaitan dengan takwil mimpi yang disebutkan dalam surah Yusuf.
 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ   
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Ensiklopedia Adab Islam Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, Jilid I- Pasal XI, hal. 529-539, 'Adul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i., telah diedit untuk keselarasan.
Teks hadits dari www.mutiarahadits.com
https://firarif.wordpress.com/2009/09/09/tafsir-dan-kedudukan-mimpi-dalam-islam/#comment-862
***
[1] H.R. Bukhari (6985) dari Abu Sa'id r.a.
[2] H.R. Muslim (2261) dari Abu Qatadah r.a.
[3] H.R. Ibnu Majah (3910) dari Abu Hurairah r.a.
[4] H.R. Muslim (2263) dari Abu Hurairah r.a.
[5] H.R. Muslim (2262) dari jabir r.a.
[6] H.R. Ad-Darimi (II/126), Tirmidzi (2280) dan ia mensahihkannya dari Abu Hurairah r.a.
[7] H.R. Abu Daud (5020) dan Ibnu Majah (3914) dari abu Razin.
[8] H.R. Bukhari (7042) dari Ibnu 'Abbas r.a.
[9] H.R. Muslim (2268) dari Jabir r.a.
[10] H.R. Muslim (2268) dari Jabir r.a.

3 komentar:

  1. mimpi itu ternyata bukan hanya sekedar mimpi yaa mas
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, jika benar dalam menyikapi dan menindaklanjutinya, bisa menjadi ladang pahala, Tetapi jika salah dalam menanggapi dan mempercayai, seperti misalnya pergi ke tukang ramal, paranormal dsb, maka bisa menjadi ladang dosa, naudzubillaahi min dzaalik.

      Hapus
  2. Benar karena jika mimpi kita tafsirkan sendiri akan beribu2 artinya, ketika mimpi tersebut tidak sesuai dengan tafsirannya maka akan menimbulkan kekesalan dalam hatinya yang akibatnya akan muncul kekecewaan pada Allah SWT. perbuatan ini sama halnya dengan membuat ladang dosa

    BalasHapus