Minggu, 16 Februari 2014

Etika dan Kunci Sukses dalam Berda’wah / Menasihati Orang lain

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Pengertian Dakwah Islam,- Secara etimologis, kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti: panggilan, ajakan, dan seruan. Sedangkan dalam ilmu tata bahasa Arab, kata dakwah adalah bentuk dari isim masdar yang berasal dari kata kerja : دعا, يدعو, دعوة  artinya : menyeru, memanggil, mengajak.
Dalam pengertian yang integralistik dakwah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang ditangani oleh para pengemban dakwah untuk mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk ke jalan Allah, dan secara bertahap menuju perikehidupan yang Islami
Diantara kewajiban yang terpenting, teragung dan ciri khusus yang paling menonjol, juga penyebab ummat ini menjadi baik adalah amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang berbuat munkar). Allah Ta’ala berfirman: 
..... كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ‌ۗ 
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.....  (Q.S. Ali-Imran: 110).
Ini kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh kaum Muslimin sesuai dengan kemampuan masing-masing, menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang berbuat munkar memiliki adab dan tatacara tertentu.


1. Tehnik /Strategi Komunikasi Da'wah

Pekerjaan komunikasi da’wah ini adalah pekerjaan pokok ummat manusia yang Muslim dan tidak bisa tidak harus dilaksanakan dimana saja berada sesuai dengan keahlian dan kesanggupannya masing-masing. Secara spesifik dakwah diartikan sebagai aktifitas menyeru atau mengajak dan melakukan perubahan kepada manusia untuk melakukan kema’rufan dan mencegah dari kemungkaran.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka aktifitas dakwah dapat berhasil secara optimal jika didukung dengan strategi dakwah. Dakwah sebagai proses komunikasi terdiri dari Juru Dakwah atau yang disebut juga Mubalig, Umat manusia yang heterogin, lingkungan atau dimana dakwah dilaksanakan, media dakwah apa yang dipilih, dan tujuan dakwah. Dakwah dapai dilakukan langsung bertatap muka, maupun tidak langsung menggunakan media. Agar tujuan dakwah tercapai maka diperlukan adaptasi bahasa dan budaya atau adat istiadat yang dianut masyarakat.
Sementara teknik komunikasi yang dapat dilakukan dalam dakwah adalah informatif, persuasif, dan coersif. Pertama-tama diinformasikan apa yang menjadi hak dan kewajiban, diajak untuk menjalaninya, dan diberikan sanksi jika melanggar perintahNYA.  Dalam penyampaiannya menggunakan bahasa seharihari yang mudah difahami masyarakat luas, jika perlu menggunakan bahasa-bahasa gaul terkini, apalagi dalam menghadapi masyarakat modern yang multikultural. Audiensnya datang dengan latar belakang yang heterogin.
Yang terpenting membangun kerukunan antar budaya, kemudian menjelaskan masalah sterotip antar suku yang harus saling menjaga untuk kebersamaan. Disinilah diperlukan hal yang terpenting untuk membangun kerukunan antar budaya. Mengingtkan persatuan adalah kekuatan besar. Jika persatuan ini memudar maka akan mengancam kekuasaan, tapi jika sebaliknya dapat memperkuat kekuasaan. Oleh karena itu dalam teknik komunikasi dakwah perlu :
1. Mengenali sasaran komunikasi
Sebelum melancarkan komunikasi, kita perlu mempelajari siapa-siapa yang akan menjadi sasaran kita. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah:
a. Kerangka referensi
Pesan komunikasi yang akan disampaikan kepada komunikan harus disesuaikan dengan kerangka referensi (frame of reference), maksudnya adalah bahwa ketika kita akan memberikan pesan harus memperhatikan siapa yang menjadi komunikan kita, sehingga mereka mereka dapat memahami apa yang kita sampaikan. Kerangka referensi seseorang akan berbeda dengan orang lain, ada yang berbeda secara ekstrim seperti antara murid SD dengan seorang mahasiswa atau seorang petani dengan seorang diplomat, intinya kita harus mengetahui siapa yang kita ajak bicara.
b. Faktor situasi dan kondisi
Yang dimaksudkan adalah situasi komunikasi pada saat komunikan akan menerima pesan yang kita sampaikan. Situasi yang dapat menghambat jalannya komunikasi dapat diduga sebelumnya, dapat juga datang tiba-tiba pada saat komunikasi dilancarkan.
Sedangkan yang dimaksudkan kondisi adalah state of personality komunikan, yaitu keadaan fisik dan psikis komunikan pada saat ia menerima pesan komunikasi. Komunikasi yang kita lakukan tidak akan efektif apabila komunikan sedang marah, sedih, bingung, lapar, sakit, dan lain sebagainya.
Untuk mengatasi hal semacam itu kita dapat memperhatikan komunikasi kita sampai datangnya suasana yang menyenangkan. Akan tetapi tidak jarang pula komunikasi tetap dilakukan pada saat itu juga, disini faktor manusiawi sangat penting.
2. Pemilihan media komunikasi
Pemilihan media komunikasi juga sangat menentukan keberhasilan efektifitas dan efisiensi komunikasi yang dilakukan, apakah media elektronik, media letak, bisa juga dengan media tradisional seperti kentongan, bedug, pagelaran kesenian, atau media yang sudah modern seperti telepon, telegraf, pamflet, poster, spanduk, dan lain-lain.
Untuk mencapai sasaran komunikasi kita dapat memilih salah satu gabungan dari beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan dan teknik yang akan dipergunakan.
3. Pengkajian tujuan pesan komunikasi
Aktivitas komunikasi dikatakan berhasil jika pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat dipahami secara benar oleh komunikan. Untuk itu paling tidak ada dua hal yang harus dipersiapkan secara matang dalam melakukan pengkomunikasian, hal tersebut yaitu:
a) Fokus pesan (what to say)
b) Cara atau pendekatan dalam menyampaikan (how to say)
Semakin sederhana dan simpel pesan yang disampaikan meski yang disampaikan kompleks, maka semakin besar kemungkinan audiens memahaminya.
4. Pesan komunikator dalam komunikasi
Ada faktor yang penting pada diri komunikator apabila ia melancarkan komunikasi, yaitu:
a. Daya tarik sumber
Komunikan bersedia taat pada isi pesan yang disampaikan oleh komunikator apabila komunikator ikut serta atas apa yang telah disampaikan, sehingga dengan kata lain komunikan merasa ada persamaan dengan komunikator. Disitulah seorang komunikator dikatakan berhasil karena dapat merubah opini, sikap dan perilaku komunikan.
b. Kredibilitas sumber
Faktor kedua yang dapat menyebabkan komunikasi berhasil adalah kepercayaan komunikan pada komunikator.

Berdasarkan kedua faktor tersebut, seorang komunikator dalam menghadapi komunikan harus bersikap empirik (empathy).


2. Beberapa Adab Dalam Berda'wah

1. Niat yang Benar
Dengan niat yang lurus dan ikhlas semata karean Allah Ta'ala, orang akan meraih pahala yang sempurna, dan Allah akan menjadikan kebaikan tersebut terus mengalir melalui usahanya. Seseorang harus berusaha untuk mendapat niat yang baik tersebut, walaupun mendapatkan tugasa amar ma'ruf itu berasal dari pemerintah yang memberinya gaji. Tetaplah membersihkan niatnya dari kotoran dunia sebelum melaksanakan tugas tersebut.

2. Memiliki Ilmu Tentang Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Seseorang wajib memiliki ilmu tentang apa yang ia perintahkan dan apa-apa yang ia larang, Ia dilarang menyuruh dan melarang sesuatu yang ia tidak ketahui. Sebab, bisa jadi ia akan menyuruh sesuatu yang tidak disyari'tkan, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah swt., atau melarang sesuatu yang tidak dilarang syari'at sehingga mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah Ta'ala. Maka jadilah ia orang yang sesat dan menyesatkan (orang lain).

3. Bersikap Lemah Lembut dalam Menyuruh dan Melarang
Sifat ini merupakan yang dicintai Allah Ta'ala dan manusia. Bahkan, sebagai sebab yang cukup penting diterimanya dakwah di tengah masyarakat.
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ 
"Sesungguhnya Allah itu Mahalembut menyukai kelembutan dalam segala urusan dan Dia memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan kepada kekerasan dan selainnya." [1].
Rasulullah saw. juga bersabda:
مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ
"Barangsiapa dijauhkan dari sifat lembut, berarti ia dijauhkan dari kebaikan." [2].
Juga firman Allah swt. kepada Musa dan Harun ketika Dia menugaskan mereka berdua untuk mendatangi Fir'aun. 
فَقُولَا لَهُ ۥ قَوۡلاً۬ لَّيِّنً۬ا لَّعَلَّهُ ۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.(Q.S. Thaha: 44).

4. Sabar
Siapa saja menyuruh dan melarang wajib menghiasi dirinya dengan sifat sabar, jangan sampai ia menjadi seorang pemarah. Sebab, jika ia tidak sabar, ia tidak akan mampu menghadapi bantahan orang banyak. Bahkan, ia sama sekali tidak akan sabar menahan dirinya dari perbuatan maksiat, yang pada gilirannya ia sendiri akan terjerumus dalam kemunkaran yang lain. Kemarahannya dapat menjauhkannya dari kebenaran dan mungkin juga kemarahannya itu menjadi sebab orang-orang benci kepadanya dan tidak menerima dakwahnya. 

5. Melaksanakan Apa yang Allah Perintahkan dan Meninggalkan Apa yang Dia Larang
Seharusnya seorang juru dakwah terlebih dahulu menjadikan dirinya bertakwa kepada Allah, sehingga ia sendiri melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya, khususnya pada masalah-masalah yang sedang ia dakwahkan.
Allah Ta'ala berfirman:
أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ‌ۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Mengapa kamu suruh orang lain [mengerjakan] kebaikan, sedang kamu melupakan diri [kewajiban]mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab [Taurat]? Maka tidakkah kamu berpikir? (Q.S.Al-Baqarah: 44)
Juga firman-Nya  
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (٢) ڪَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (2) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.(Q.S. Ash-Shaff: 2-3)
Rasulullah saw. bersabda: 
 يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ 
"Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan seorang lelaki, kemudian dia dilemparkan ke dalam api Neraka sehingga ususnya terburai. Lantas, ia berputar-putar di dalam Neraka seperti keledai mengelilingi gilingan sehingga penduduk Neraka berkumpul di sekitarnya dan berkata: 'Wahai, Fulan, mengapa kamu sampai di sini ? Bukankah kamu yang memerintahkan kami untuk berbuat baik dan melarang kami untuk berbuat munkar ?' Ia menjawab: "Benar, dahulu aku menyuruh kalian berbuat baik, namun aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarang kalian berbuat munkar, tetapi aku sendiri melakukannya." [3].

6. Menghiasi diri dengan Akhlak yang Mulia
Diantara yang termasuk akhlak mulia adalah: pemaaf, menunjukkan wajah berseri-seri, dermawan, berani, baik, jujur, amanah, dan lain sebagainya. Sikap-sikap semacam ini dapat membantu seseorang yang menyuruh berbuat ma'ruf dan melarang perbuatan munkar.

7. Tidak Memiliki Pamrih
Di dalam kitab Minhaajul Qaashidiin tercantum pembicaraan mengenai akhlak juru dakwah:, diantaranya: memperkecil ketergantungan kepada orang lain dan bekerja tanpa pamrih agar terhindar dari sifat penjilat. Atau hindari mengikuti kehendak mereka, suka jika mereka ridha dan senang mendapat pujian mereka.

8. Tidak Mempermasalahkan Perkara Khilafiyyah
Terlebih lagi jika ikhtilaf (perbedaan pendapat) tersebut adalah ikhtilaf tanawwu' (variatif) yang masing-masing memiliki dalil dan tafsir. Dalam kondisi seperti ini, tidak dibolehkan mempermasalahkannya. Sebab, mempermasalahkan sesuatu hanyalah ditujukan untuk perkara yang sudah disetujui keharamannya, atau jika terdapat perbedaan pendapat dengan orang yang tidak perlu diperdulikan karena bukan termasuk ulama, atau karena adanya dalil yang sangat jelas bertentangan dengan pendapat itu dan yang semisalnya.

9. Memilih Waktu yang Tepat untuk Menentang Kemunkaran
Contohnya, menentang perkara kecil yang dilakukan seorang penguasa di depan khalayak ramai atau menentangnya dengan nada yang kasar sehingga penguasa merasa tersinggung.

10. Meluruskan Sesuatu Secara Bertahap
Rasulullah saw. bersabda:
من رأى منكم منكرا  فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان
"Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak sanggup, maka ubahlah denan lisannya. Apabila tidak sanggup juga, maka dengan hatinya, . Yang demikian itu merupakan selemah-lemah keimanan." [4].
Selama nasihat bermanfaat maka hal ini lebih dikedepankan daripada celaan. Jika melarang dengan lisan memiliki pengaruh, maka hal itu sudah cukup, tidak perlu lagi meluruskannya dengan tangan (kekuasaan).

11. Memiliki Skala Prioritas dalam Berda’wah
Banyak juru dakwah yang tidak memperhatikan perkara ini sehingga mereka lebih dahulu mempermasalahkan perkara kecil daripada perkara besar. Ini merupakan kejahilan, kekurangan, dan kelaemahan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala.

12. Mengingatkan dengan Cara Berbicara Empat Mata
Mengingatkan secara personal dilakukan menurut keadaan, selama mengingatkan secara terang-terangan tidak membawa maslahat. Asy-Syafi'i berkata: "Barangsiapa mengingatkan saudaranya secara rahasia, berarti ia telah menasihati dan menjaga nama baiknya dan barangsiapa menasihati secara terang-terangan, berarti ia telah membuka kejelekkannya dan merusak nama baiknya."[5].

13. Tidak Mencari-Cari Aib Orang Lain
Jangan memberikan pengingkaran kecuali pada kemunkaran yang tampak. Tidak diperintahkan pula untuk menyelidiki rumah seseorang atau sampai memanjat dinding untuk membuktikan kemunkaran tersebut. Al-Mawardi berkata: "Seseorang juru dakwah atau aparat tidak dibenarkan menyelidiki perbuatan haram yang tidak dilakukan secara terang-terangan, kecuali berdasarkan tanda-tanda dan bukti yang jelas, yang disinyalir bahwa kaum tersebut terus melakukan kemunkaran."

14. Menjauhkan Sifat Kagum Terhadap Diri Sendiri
Sifat buruk ini dapat mendorong untuk berlebihan dalam menyuruh berbuat ma'ruf dan melarang berbuat munkar terhadap orang lain, timbullah perasaan sombong hingga akhirnya akan merusak amalannya sendiri.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ          
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Akumohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: Ensiklopedia Adab Islam Menurut Al-Qur’an dan Sunnah jilid I hal.178-194, ‘Adul ‘Azizi bin Fathias-Sayyid Nada, penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, telah diedit untuk keselarasan.
http://muhakbarilyas.blogspot.com/
https://isnawijayani.wordpress.com/2012/09/19/teknik-komunikasi-dakwah-dalam-masyarakat-modern-dan-multikultural/
***
[1] H.R. Muslim (3593) dari 'Aisyah r.a.
[2] H.R. Muslim (2592) dari Jabir r.a.
[3] H.R. Bukhari (3267) dan Muslim (2989) dari 'Usamah bin Zaid r.a.
[4] H.R. Muslim (49) dari Abu Said al-Khudri r.a.
[5] Shahih Muslim dengan syarah an-Nawawi (II/12).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar