Minggu, 02 Februari 2014

Amalan dalam Haji dan ‘Umrah, Agar Menjadi Haji Mabrur

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Haji (Bahasa Arab: حج‎; transliterasi: Hajj) adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.
Melaksanakan haji ke Baitul Haram merupakan salah satu dari rukun Islam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 
... وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلاً۬‌ۚ ...
" ... mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu [bagi] orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;...  (Q.S. Ali ‘Imran: 97). 
Rasulullah saw. bersabda: 
 ..بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam dibangun atas lima perkara: Syahadat Ashadu an laa ilaah illallah wa anna Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu.” [1].
Adapun ‘umrah diperselisihkan hukum wajibnya. Yang tidak diperselisihkan wajibnya ialah menyempurnakan umrah bagi  yang telah memulainya. Allah Ta’ala berfirman: 
وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِ‌ۚ
Dan sempurnakanlah ibadat haji dan umrah karena Allah.... (Q.S. Al-Baqarah: 196).
Akan tetapi umrah memiliki keutamaan yang sangat banyak. Diantara keutamaan umrah sebagimana disebutkan dalam sabda Rasulullah saw.
تَابِعُوْا بَيْنَ الحَجِّ وَ الْعُمْرَةِ فَإِنَّ مُتَابَعَةَ بَيْنَهُمَا تَنْفِيْ الْفَقْرَ وَ الذُّنُوْبِ كَمَا تَنْفِيْ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ
Iringilah haji dengan umrah. Sebab, sesungguhnya mengiringi haji dengan umrah menghapus kefakiran dan dosa seperti api menghilangkan kotoran pada besi.” [2].
Demikian juga sabda beliau:
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
“Umrah ke umrah berikutnya merupakan penebus dosa diantara keduanya, sedangkan haji mabrur tidaklah dibalas kecuali dengan surga.” [3].
Haji dan umrah memiliki adab-adab yang harus diperhatikan untuk menjaga kesempurnaan ibadah serta meraih pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi siapa saja yang menunaikannya sesuai dengan tuntunan syari’at. 


1. Adab Haji Dan Umrah

1. Mengikhlaskan Niat Hanya karena Allah Semata
Allah Ta'ala telah mewajibkan haji semata-mata untuk meraih keridhaan-Nya. Maka dari itu, hendaknya niat seseorang menunaikan haji dan umrah adalah ikhlas karena Allah Ta'ala, janganlah melakukannya karena riya', atau agar mendapat gelar "Haji" dan lain sebagainya. Sebab melakukan amal karena manusia termasuk perbuatan syirik.
2. Bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan Taubat Nashuha.
Wajib sebelum berangkat agar bertaubat kepada Allah dari segala dosa. Allah berfirman:
 يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً۬ نَّصُوحًا
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,... (Q.S. At-Tahrim: 8).
Orang yang hendak bepergian untuk haji dan umrah lebih ditekankan lagi dalam bertaubat, karena ia tidak mengetahui apakah ia dapat kembali lagi atau tidak.
3. Berusaha Melaksanakan Umrah di Bulan Ramadhan.
Nabi saw. bersabda:
عمرة في رمضان تعدل حجة
"Pahala umrah di bulan Ramadhan menyamai (pahala) haji." [4].
4. Menjaga Adab-Adab Safar berkaitan dengan Haji dan Umrah.
Diantara adab-adabnya antara lain: Melakukan istikharah untuk memilih waktu keberangkatan, memilih saran transportasi, memilih tabiat kawan seperjalanan, melunasi utang sebelum berangkat atau meminta izin kepada orang yang menghutangkan, meminta izin kepada kedua orang tua, menulis wasiat, menunjuk seseorang yang terpercaya untuk menjaga keluarganya, meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan, membawa bekal dari nafkah yang halal, berpamitan kepada keluarga dan sanak famili, berangkat di hari Kamis jika memungkinkan, berangkat di pagi hari, memperbanyak dzikir dan do'a, dll.
5. Seorang Wanita Tidak Boleh Berangkat Haji atau Umrah kecuali Disertai oleh Mahramnya.
Rasulullah saw.:
لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم ، فقام رجل فقال : يا رسول الله ، إن امرأتي خرجت حاجة ، وإنني قد اكتُتِبتُ في غزوة كذا وكذا ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : انطلق فحج مع امرأتك 
"Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali disertai oleh mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali disertai oleh mahramnya." Seorang laki-laki berkata: "Ya Rasulullah, isteriku hendak pergi mengerjakan haji, sedangkan aku telah mendaftarkan diri dalam peperangan ini dan ini." Rasulullah bersabda: "Berangkatlah haji bersama isterimu." [5]
Hadits ini menunjukkan lemahnya pendapat yang membolehkan seorang wanita berangkat haji tanpa disertai mahram dengan ssyarat ada jaminan keamanan dan bersama serombongan kaum wanita, atau dengan syarat wanita itu telah berusia lanjut, dan lain sebagainya.
6. Mempelajari Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haji dan Umrah.
Ilmu adalah imam bagi amal, sementara amal tanpa didasari ilmu adalah kesesatan dan menyerupai amal kaum Nasrani. Wajib bagi orang yang hendak berhaji atau umrah untuk mempelajaari perkara-perkara yang berkaitan dengannya, baik dari buku, kaset, atau yang selainnya. Apabila ia tidak mampu melakukannya, maka paling tidak ia harus ditemani oleh seorang yang paham tentang imu manasik haji dan umrah, supaya ia bisa bertanya kepadanya bila membutuhkan.
7. Membawa Bekal yang Cukup dari Nafkah yang Halal
Hendaknya membawa bekal yang mencukupi agar bisa menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia dan mencoreng mukanya. Berapa banyak di antara jama'ah haji yang kekurangan bekal sehingga mereka meminta-minta di pintu masjid, berdiri di depan kemah-kemah meminta sedekah, dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak pantas. Dan, bekal itu harus berasal dari harta yang halal, karena Nabi saw. telah bersabda: "Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik...lalu beliau menyebutkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan berdebu. Ia pun mengangkat kedua tangannya ke langit seraaya berseru: Ya Rabbku! Ya Rabbku!' sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin do'anya akan di kabulkan." [6]
8. Memperbanyak Sedekah
Selama dalam haji dan umrah, akan banyak dijumpai peminta-minta dan orang yang membutuhkan uluran tangan, maka dari itu, selayaknya memperbanyak sedekah sesuai dengan kemampuannya untuk mencari pahala dan balasan dari Allah Ta'ala.
9. Banyak memberikan Nafkah kepada Teman Seperjalanan.
Disamping memperoleh pahala besar dari Allah Ta'ala, juga akan menciptakan perasaan gembira dan kasih sayang diantara mereka. Maka seharusnya ia meniatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
10. Menolong Teman Seperjalan
Mujahid berkata: "Aku menemani Ibnu 'Umar r.a. dalam perjalanan agar aku menolongnya dan ia menolongku."
11. Menghiasi Diri dengan Akhlak yang Mulia.
Diantara akhlak-akhlak yang mulia adalah: sifat santun, sabar, dermawan, serta mengutamakan orang-orang yang lemah, kaum wanita, dan orang-orang yang membutuhkan, menjaga kehormatan diri, pemaaf, bermuka ceria, menjaga kesucian diri, dan  lain-lainnya.
12. Selalu Bertaqwa kepada Allah.
Hendaknya ia merasa selalu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah serta menjauhi segal perkara yang mendatangkan kemarahan dan kemurkaan-Nya.
Allah Ta'ala telah berfirman:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akhirat], dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hasyr: 18).
Juga firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam(Q.S. Ali-Imran: 102)
13. Menjaga Lisan
Artinya menjaga dari keburukan seperti: mencaci maki ini dan itu, selalu mengomentari perbuatan orang lain, ghibah (membicarakan orang lain), namimah (mengadu domba), kesaksian palsu, sumpah palsu, senda gurau dan kata-kata yang sama sekali tidak mengandung kebaikan serta dusta yang diharamkan. Allah Ta'ala telah berfirman:
..... فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلۡحَجِّ‌ۗ ..... 
..... maka tidak boleh rafats [2] berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji...... (Q.S. Al-Baqarah: 197)
14. Menundukkan Pandangan
Hindari mengumbar pandangan, melihat kepada kaum wanita, apalagi mencari-cari kesempatan terbukanya bagian tubuh mereka. Hendaknya bersungguh-sungguh menjaga pandangan dari perkara yang diharamkan, sehingga terhindar dari kemaraha Allah Ta'ala dan tidak merusak ibadahnya.
15. Menjauhi Semua Perbuatan Haram
Selain sudah disebutkan beberapa kemunkaran di atas, maka kemungkaran lebih besar lagi yang harus dihindari adalah menginggalkan shalat!
16. Kaum Wanita Wajib Memakai Hijab Islami
Janganlah kaum wanita memakai pakaian yang tipis hingga menampakkan tubuh atau pakaian dalamnya. Ada juga diantara kaum wanita yang memakai minyak wangi dan pakaian yang menarik perhatian ketika haji dan umrah. Hanya saja, apabila wanita berada di tempat yang tidak terlihat oleh laki-laki asing, maka ia boleh membuka wajah dan telapak tanggannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:
 لَا تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْحَرَامُ وَلَا تَلْبَسُ الْقُفَّازَيْنِ
"Janganlah seorang wanita yang berihram mengenakan cadar dan sarung tangan." [7]
Akan tetapi, apabila ia berada di tempat yang terlihat oleh laki-laki asing, hendaknya ia menutup wajah dan kedua telapak tangannya dengan selain cadar dan sarung tangan, misalnya dengan jilbab, kerudung, dan lain-lain.
17. Menghindari Berdesak-desakan dan Bercampur baur Antara Laki-laki dan Wanita
Hindarilah berdesak-desakan saat thawwaf, sa'i, melempar jumrah, di dalam masjid al-Kheif, masjid Namirah; bahkan kadang-kadang sebagian kaum wanita tidur di antara kaum laki-laki, sebagimana yang sering terlihat di masjid al-Kheif, Namirah, dan sebagainya.
18. Menjauhi Rafats (Berkata Tidak Senonoh), Berbuat Fasik, dan Berbantah-Bantahan ketika Mengerjakan Haji.
Yang dimaksud rafats adalah jima' dan pendahuluannya. juga jauhi perbuatan-perbuatan fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Allah Ta'ala berfirman: 
..... فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلۡحَجِّ‌ۗ ..... 
..... maka tidak boleh rafats [2] berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji...... ((Q.S. Al-Baqarah: 197)
19. Selalu Tafakkur, Tadabbur, dan Sakinah (Tenang)
Amalan dimaksud akan selalu menyatukan hati dan akal orang yang menunaikan haji dan umrah, juga akan membantunya untuk mengambil pelajaran dari manasik haji. Dahulu, apabila mengenakan ihram, Syuraih r.a. seperti orang yang membisu karena banyaknya diam, memperhatikan dan memfokuskan perhatian kepada Allah swt. Adapun Anas r.a., apabila telah mengenakan ihram untuk haji dan umrah, maka ia terus-menerus berdzikir, tenang dan tidak berbicara tentang urusan dunia hingga selesai mengerjakan hajinya.
20. Terus-Menerus Berdzikir dengan Lisan maupun hati.
Hendaknya mengamalkan dzikir-dzikir yang berkaitan dengan haji dan umrah, diantaranya talbiah dngan lafadz yang dicontohkan Nabi saw.:
 لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ:
"Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu." [8]. 
Demikian juga memperbanyak takbir pada hari-hari haji dan bersungguh-sungguh berdzikir ketika menaiki Bukit shafa dan Marwah. ketika mendekati bukit Shafa dan Marwah, Nabi saw. membaca:  
..... إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآٮِٕرِ ٱللَّهِ‌ۖ 
Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah..... (Q.S. Al-Baqarah: 158). Kemudian membaca ابدأ بما بدأ ألله به (Abda'u bimaa bada'allaahu bih) "Aku memulai dengan apa yang Allah memulai dengannya." Setelah itu beliau memulai dari Bukit Shafa. Ketika Naabi saw. mendaki bukit shafa hingga melihat baitullah, beliau pun menghadap kiblat, Sesudah itu beliau mengumandangkan kalimat tauhid dan bertakbir seraya membaca: "Tiada ilah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, pujian dan kerajaan hanyalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Ia telah menepati janji-Nya telah menolong hamba-Nya, dan mengalahkan musuh-Musuh-Nya." Demikian juga bentuk-bentuk dzikir lain seperti tasbih, tahmid, tahlil, istighfar dan sebagainya.
21. Memperbanyak Do’a
Diantaranya adalah saat-saat:  thawaf, sa'i , di atas bukit Shafa, Marwah, hari Arafah, melempar jumrah dan pada hari-hair Tasyrik.
22. Banyak Memberi Makan
Hendaknya banyak memberi makan, baik kepada rekan seperjalanan, atau yang selainnya, yakni orang-orang fakir dan orang -orang yang membutuhkan, yang banyak dijumpai selama haji, khususnya yang berasal dari negara-negara tertentu yang berada di puncak kefakiran. Rasulullah saw. bersabda: "Kebajikan dalam haji adalah memberi makan dan ucapan yang baik." [9].
23. Selalu Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Jika menyaksikan berbagai kemunkaran, maka wajib kita menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, semampu mungkin. Allah swt. berfirman:
..... وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬‌ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ 
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka [adalah] menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh [mengerjakan] yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, ... (Q.S. At-Taubah: 71).
24. Tidak Mengganggu Orang Lain.
25. Sabar Terhadap Gangguan Orang Lain.
26. Melazimi Sunnah dalam Seluruh Manasik Haji.
Sesungguhnya di antara syarat amal shalih yang diterima oleh Allah adalah harus bersesuaian dengan petunjuk Nabi saw. Karena Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ 
"Barangsiapa mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka ia tertolak." [10]. 
Diantara sunnah Nabi saw. adalah: Memakai minyak wangi pada badan ketika hendak ihram. idhthiba (membuka pundak kanan ketika melakukan thawaf Qudum dalam haji dan thawaf umrah), raml (berjalan cepat dengan langkah pendek) pada tiga putaran pertama thaawaf Qudum, mengusap/mencium hajar aswad dan Rukun Yamani setiap putaran apabila berkesempatan, dll.
27. Menyibukkan Diri Mengajarkan Sunnah kepada Orang Lain
28. Menghindari kesalahan-Kesalahan dalam Pelaksanaan Haji dan Umrah
Beberapa sudah dibahas di atas, dan perlu ditambahkan kesalahan seperti tidur di emperan-emperan atau di bawah jembatan, membuat arak-arakan dengan mengangkat bendera putih ketika berangkat haji dan kembli darinya.
29. Segera Kembali kepada Keluarganya Setelah Menyelesaikan Ibadah Haji.
Rasulullah saw. bersabda: "Jika salah seorang dari kalian telah menyelesaikan hajinya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya. Sesungguhnya itu lebih besar pahalanya." [11].
30. Kembali dari Haji dan Umrah dalam keadaan yang lebih Baik  dari Sebelumnya.


2. Ayat-Ayat Al-Qur'an Tentang Haji

1. Sa'i salah satu rukun dalam haji dan umrah
(2) Al-Baqarah: 158, 189, 196-200, 203
إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآٮِٕرِ ٱللَّهِ‌ۖ فَمَنۡ حَجَّ ٱلۡبَيۡتَ أَوِ ٱعۡتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا‌ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرً۬ا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ 
Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah Maka barangsiapa yang beribadat haji ke Baitullah atau ber-’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri  kebaikan lagi Maha Mengetahui. (158).
2. Masukilah rumah dari pintu (arah depan)
 يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَهِلَّةِ‌ۖ قُلۡ هِىَ مَوَٲقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلۡحَجِّ‌ۗ وَلَيۡسَ ٱلۡبِرُّ بِأَن تَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنِ ٱتَّقَىٰ‌ۗ وَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِنۡ أَبۡوَٲبِهَا‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ 
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan [bagi ibadat] haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (189).
3. Pelaksanaan ibadah haji, dam dan kaidahnya
وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِ‌ۚ فَإِنۡ أُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡىِ‌ۖ وَلَا تَحۡلِقُواْ رُءُوسَكُمۡ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ٱلۡهَدۡىُ مَحِلَّهُ ۥ‌ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦۤ أَذً۬ى مِّن رَّأۡسِهِۦ فَفِدۡيَةٌ۬ مِّن صِيَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُكٍ۬‌ۚ فَإِذَآ أَمِنتُمۡ فَمَن تَمَتَّعَ بِٱلۡعُمۡرَةِ إِلَى ٱلۡحَجِّ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡىِ‌ۚ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَـٰثَةِ أَيَّامٍ۬ فِى ٱلۡحَجِّ وَسَبۡعَةٍ إِذَا رَجَعۡتُمۡ‌ۗ تِلۡكَ عَشَرَةٌ۬ كَامِلَةٌ۬‌ۗ ذَٲلِكَ لِمَن لَّمۡ يَكُنۡ أَهۡلُهُ ۥ حَاضِرِى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ (١٩٦) ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٌ۬ مَّعۡلُومَـٰتٌ۬‌ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلۡحَجِّ‌ۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٍ۬ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُ‌ۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰ‌ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٧) لَيۡسَ عَلَيۡڪُمۡ جُنَاحٌ أَن تَبۡتَغُواْ فَضۡلاً۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ‌ۚ فَإِذَآ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَـٰتٍ۬ فَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَشۡعَرِ ٱلۡحَرَامِ‌ۖ وَٱذۡڪُرُوهُ كَمَا هَدَٮٰڪُمۡ وَإِن ڪُنتُم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ (١٩٨) ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنۡ حَيۡثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (١٩٩) فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَـٰسِكَڪُمۡ فَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَڪُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِڪۡرً۬ا‌ۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنۡ خَلَـٰقٍ۬ 
Dan sempurnakanlah ibadat haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung [terhalang oleh musuh atau karena sakit], maka [sembelihlah] korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya [lalu ia bercukur], maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah [merasa] aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji [di dalam bulan haji], [wajiblah ia menyembelih] korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan [binatang korban atau tidak mampu], maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari [lagi] apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh [ hari] yang sempurna. Demikian itu [kewajiban membayar fidyah] bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada [di sekitar] Masjidil Haram [orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah]. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (196) [Musim] haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi,barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (197) Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia [rezki hasil perniagaan] dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam Dan berzikirlah [dengan menyebut] Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (198) Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak [Arafah] dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (199) Apabila kamu telah menyelesaikan ibadat hajimu, maka berzikirlah [dengan menyebut] Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut [membangga-banggakan] nenek moyangmu atau [bahkan] berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: "Ya Tuhan kami, berilah kami [kebaikan] di dunia", dan tiadalah baginya bahagian [yang menyenangkan] di akhirat. (200).
4. Kadar tinggal di Mina
 وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ۬ مَّعۡدُودَٲتٍ۬‌ۚ فَمَن تَعَجَّلَ فِى يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ‌ۚ لِمَنِ ٱتَّقَىٰ‌ۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّڪُمۡ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ
Dan berzikirlah [dengan menyebut] Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat [dari Mina] sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan [keberangkatannya dari dua hari itu], maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. (203)
5. Ka'bah adalah rumah ibadah yang pertama dibangun
(3) Ali-Imran: 96
إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٍ۬ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكً۬ا وَهُدً۬ى لِّلۡعَـٰلَمِينَ 
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk [tempat beribadat] manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah [Mekah] yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (96)
6. Larangan berburu saat haji
(5) Al-Ma'idah: 1-2, 94-96
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَوۡفُواْ بِٱلۡعُقُودِ‌ۚ أُحِلَّتۡ لَكُم بَہِيمَةُ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ غَيۡرَ مُحِلِّى ٱلصَّيۡدِ وَأَنتُمۡ حُرُمٌ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ (١) يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحِلُّواْ شَعَـٰٓٮِٕرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّہۡرَ ٱلۡحَرَامَ وَلَا ٱلۡهَدۡىَ وَلَا ٱلۡقَلَـٰٓٮِٕدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ يَبۡتَغُونَ فَضۡلاً۬ مِّن رَّبِّہِمۡ وَرِضۡوَٲنً۬ا‌ۚ وَإِذَا حَلَلۡتُمۡ فَٱصۡطَادُواْ‌ۚ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ أَن صَدُّوڪُمۡ عَنِ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ أَن تَعۡتَدُواْ‌ۘ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ‌ۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٲنِ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu . Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. [Yang demikian itu] dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. (1) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram  jangan [mengganggu] binatang-binatang had-ya dan binatang-binatang qalaa-id dan jangan [pula] mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya  dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadat haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian [mu] kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya [kepada mereka]. Dan tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (2).
7. Ajakan menyeru manusia untuk berhaji
(22) Al-Hajj : 27, 29
وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالاً۬ وَعَلَىٰ ڪُلِّ ضَامِرٍ۬ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ۬
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (27).
8. Thawaf dan syarat suci
ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ


Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu [Baitullah]. (29)
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyallaah bermanfaat.
Sumber: Ensiklopedia Adab Islam Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, Jilid I- Pasal XI, hal. 397-419, 'Adul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i., telah diedit untuk keselarasan.
***
[1] H.R. Bukhari (1773) dan Muslim (16) dari Ibny ‘Umar r.a.
[2] H.R. Ibnu Majah (2887) dari ‘Umar r.a., Lihat kitab Sahahih Ibnu Majah (2334). Diriwayatkan juga oleh Nasa’i (V/115) serta Tirmidzi (810) dan ia menshahihkannya dari hadits Ibnu Mas’ud r.a.
[3] H.R. Bukhari (1773) dan Muslim (1349) dari Abu Hurairah r.a.
[4] H.R. Bukhari (1863) dan Muslim (1236) dari Ibnu 'Abbas r.a.
[5] H.R. Bukhari (3006) dan Muslim (1341) dari Ibnu 'Abbas r.a.
[6] H.R. Muslim (1015) dari Abu Hurairah r.a.
[7] H.R. Bukhari (1838) dan asalnya ada dalam riwayat Muslim (1177) dari Ibnu 'Umar r.a.
[8] H.R. Bukhari (1549) dan Muslim (1184) dari Ibnu 'Umar r.a.
[9] H.R. Hakim (II/483)
[10] H.R. Muslim (1718) dari 'Aisyah r.a.
[11] H.R. Baihaqi (V/259) serta Hakim (I/477) dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dari 'Aisyah r.a.

1 komentar:

  1. sangat bermanfaat dan lengkap dengan doa-doanya. terima ksih

    BalasHapus