Minggu, 12 Januari 2014

Tatacara dan Kriteria Memilih Pemimpin Menurut Tuntunan Islam

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Terkadang manusia diserahi tanggung jawab kepemimpinan dalam lingkup kecil ataupun besar. Semisalnya diangkat menjadi pemimpin masyarakat umum atau masyarakat tertentu, dipercaya memimpin suatau pekerjaan, atau ia ditunjuk sebagai pemimpin daerah tertentu. Allah pasti akan meminta pertanggung-jawaban atas apa saja yang mereka pimpin. Salah memilih kriteria pemimpin bisa berakibat fatal. Lihatlah negeri Indonesia yang sudah kondang sebagai surganya koruptor ? apakah ini semata-mata salah si koruptor ? tentu tidak !!! Rakyat yang memilih juga harus dimintai pertanggung jawaban; atas dasar kriteria apa kita memilih seseorang? Oleh karena itu, Allah menetapkan hukum syar’i sebagai kode etik dan adab di dalam pemerintahan (al-Imaarah). – yang harus dipahami dan dilaksanakan – agar kepemimpinan tersebut tidak menjadi malapetaka bagi pemimpin dan yang dipimpin.

1. Beberapa Adab Memilih Pemimpin: 

1.  Niat yang Baik
Dalam menerima jabatan pemerintahan, hendaklah ia berniat semata-mata untuk menegakkan apa yang telah ditetapkan Allah, demi meraih ganjaran yang besar dan menggapai apa yang dijanjikan Allah kepadanya jika ia melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan baik. Sebab semua pekerjaan tergantung kepada niat pelakunya. Rasulullah saw. bersabda:
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” 
”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niyatnya, dan bagi seseorang tergantung apa yang ia niyatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rosulnya [mencari keridhoannya] maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rosulnya [keridhoannya]. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita maka hijrahnya itu tertuju kepada yang dihijrahkan.”  " Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung kepada niatnya" [1]
2. Pemimpin Diangkat Dari Kaum Laki-laki
Seorang wanita tidak boleh diangkat menjadi seorang pemimpin, baik untuk masyarakat umum maupun masyarakat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.: 
لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة
"Tidak akan berjaya suatu kaum yang menyerahkan kepermimpinannya kepada seorang wanita."[2]
3. Tidak Meminta Jabatan Pemerintahan
Orang yang meminta dan menginginkan sebuah jabatan pemerintahan, ia akan berusaha keras untukk mendapatkannya hingga dapat, kemudian ia akan merendahkan agamanya demi mencapai jabatan tersebut, serta melakukan apa saja meskipun perbuatan maksiat untuk mendapatkannya atau untuk mempertahankan kedudukan yang telah ia raih. 
Rasulullah saw. telah mengingatkan :
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ
"Kalian akan berambisi untuk menjadi penguasa sementara hal itu akan membuat kalian menyesal dan merugi di hari Kiamat kelak. Sungguh hal itu (ibarat) sebaik-baik susuan dan sejelek-jelek penyapihan."[3]
Bahkan, beliau saw. pernah menolak permintaan salah seorang sahabat yang datang memohon agar diberi suatu jabatan. 
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّا- والله- لَا نُوَلِّي هَذَا الأمرَ أحدًا سَأَلَهُ وَلَا أحدًا حَرَصَ عَلَيْهِ
"Kami - demi Allah -  tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang memintanya dan orang yang berambisi untuk mendapatkannya." [4]
4. Berhukum dengan Hukum yang Diturunkan Allah Ta’ala
Tugas ini merupakan kewajiban terbesar yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin dan penguasa. Allah Ta'ala berfirman: 
 وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَہُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.... (Q.S. Al-Ma'idah: 49).
5. memberikan keputusan yang Adil Antara Sesama Manusia
Seorang pemimpin wajib bersikap adil terhadap rakyatnya dan memberikan perlakuan yang sama diantara mereka. Allah berfirman :
... ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰ‌ۖ ...
 Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa...(Q.S. Al-Ma'idah: 8). 
Rasulullah saw. bersabda:
مَا مِنْ أَمِيْرِ عَشْرَةٍ إِلَّا يُؤْتَى بِهِ مَغْلُولَةً يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ، أطْلَقَهُ عَدْلُهُ أَوْ أوْبَقَهُ جَورُ
"Tidaklah seseorang memimpin sepuluh orang, melainkan ia akan didatangkan dalam keadaan tangn yang terbelenggu pada hari Kiamat, hingga keadilanlah yang akan melepaskannya dari ikatan atau kedzalimanlah yang akan membuat dirinya celaka."[5]
6. Tidak Menutup Diri untuk Memenuhi Kebutuhan Rakyat
Seharusnya seorang pemimpin tetap membuka pintunya untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakan dan pengaduan orang-orang yang teraniaya, mendekati dan mendengarkan keluhan mereka, serta tidak menutup diri dan mengunci pintu dari mereka yang ia pimpin. Rasulullah saw. bersabda: 
"Tidaklah seorang pemimpin atau seorang penguasa menutup pintunya dari orang-orang yang memiliki kebutuhan, keperluan, serta orang-orang fakir, melainkan Allah akan menutup pintu langit dari keperluan, kebutuhan, dan hajatnya." [6]
7. Senantiasa Menasihati Rakyatnya dan Tidak Menghianati Mereka.
Seorang pemimpin seharusnya senantiasa menasehati rakyatnya tentang kebaikan apa saj a yang ia ketahui berkaitan dengan urusan agama mereka. Rasulullah saw. bersabda: 
مَا مِنْ أَمِيْرٍ يَلِي أُمُورَ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنصَحُ لَهُمْ؛ إِلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ
"Tidaklah seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum Muslimin kemudian ia tidak pernah meletihkan diri untuk mengayomi dan menasehati mereka, melainkan ia tidak akan masuk surga bersama mereka." [7]
8.Tidak Menerima Hadiah
Jika ada rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang penguasa atau seorang pemimpin, hampir bisa dipastikan dibalik ini mereka ingin agar pemimpin tersebut dekat dengannya dan menyukai dirinya. Rasulullah saw. bersabda: 
الهَدِيَّةُ إِلَى الإِمَامِ غَلُوْلٌ
"Hadiah yang diberikan kepada seorang pemimpin adalah penghianatan." [8].
Dikisahkan dalam sebuah hadits, bahwa seorang petugas Rasulullah saw. berkata: "Yang ini untuk kalian dan yang ini dihadiahkan untukku." Lantas Rasulullah saw. bersabda:
أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ الْعَامِلِ نَسْتَعْمِلُهُ فَيَأْتِينَا فَيَقُولُ هَذَا مِنْ عَمَلِكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَنَظَرَ هَلْ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا.
"Amma ba'du, mengapa pejabat yang kami angkat berkata: 'Yang ini dari hasil pekerjaan kalian sementara yang iani khusus dihadiahkan untukku?' Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah dan ibunya lalu menunggu apakah ada orang-orang yang memberinya hadiah atau tidak ?" [9]
9. Mengambil Penasihat dari Kalangan Orang-Orang yang Baik.
Yang dimaksud orang-orang baik adalah mereka yang mampu mengingatkannya di saat ia lupa, membantunya di saat teringat, selalu mengontrolnya agar senantiasa bersikap baik dan berlaku adil, memberinya nasihat dan pengarahan serta mendorongnya untuk berbuat baik dan menjaga ketakwaan, sehingga semua urusan akan lurus. 
Rasulullah saw. bersabda: 
مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى
"Tidak ada Nabi yang Allah utus dan tidak pula ada seorang pemimpin yang Dia angkat kecuali mereka mempunyai dua jenis teman dekat; teman yang menyuruhnya untuk berbuat baik serta selalu membantunya dalam berbuat baik dan teman yang menyuruhnya berbuat jahat serta selalu mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang selamat adalah orang yang dijaga oleh Allah Ta'ala." [10]
10. Bersikap Ramah Terhadap Rakyat
Seorang pemimpin hendaknya bersikap sebagai anak terhadap orang tua, sebagai saudara untuk yang sebaya, dan sebagai orang tua terhadap anak. Ia harus bersikap lembut, ramah serta menyayangi mereka dan tidak membebani mereka dengan urusan yang mereka tidak sanggupi. Pemimpin yang memiliki sikap seperti ini berhak mendapat do'a Rasulullah saw.
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ  
"Ya Allah, bagi siapa yang menjadi penguasa ummatku lalu ia menyulitkan mereka, maka timpakanlah kesulitan kepadanya dan siapa saja yang menjadi penguasa ummatku lalu ia menyayangi mereka maka sayangilah ia." [11]
11.Tidak Boleh Merusak Rakyat dengan Meragukan Kesetiaan Mereka dan dengan memata-matai Mereka.
Rasulullah saw. bersabda: 
"Apabila seorang pemimipin curuga terhadap rakyatnya, berarti ia telah merusak mereka." [12]
Hal ini bisa merusak hubungan baik antar pemimpin dan rakyatnya. Lihatlah, pertentangan antara penguasa dan rakyatnya yang sudah merebak di seluruh negeri Islam pada saat-saat sekarang, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
12. Jujur dalam Menjalankan Semua Urusan yang Berkaitan dengan Kaum Muslimin.
Hendaknya seorang pemimpin membantu Ahlus Sunnah dan orang baik, membasmi ahli bid'ah dan pembuat kerusakan, mengibarkan panji 'amar ma'ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah, serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan, agama, harta kaum Muslimin, dan sebagainya. Demikian juga ia berkesinambungan mengevaluasi semua pejabat dan pegawainya, memperhatikan bagaimana cara mereka menjalankan tugas, menyelesaiakn berbagai problema masyarakat, walaupun dengan membentuk tim khusus, misalnya, demi kemaslahatan, karena sesungguhnya ia akan mempertanggung-jawabkan semua bawahannya d hadapan  Allah Ta'ala, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi saw. dan para khalifah setelah beliau.


2. Contoh Ayat Tentang Pemimpin dan Pelindung

1. Yahudi dan Nasrani Mustahil Ridha sama Orang Islam
(20 Al-Baqarah: 120, 257
وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَہُودُ وَلَا ٱلنَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَہُمۡ‌ۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰ‌ۗ وَلَٮِٕنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ‌ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ۬ وَلَا نَصِيرٍ 
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk [yang benar]". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (120).
2. Allah Pelindung orang beriman
ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ‌ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّـٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَـٰتِ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan [kekafiran] kepada cahaya [iman]. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan [kekafiran]. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (257).
3. Larangan mengambil wali/pemimpin selain muslim
(3) Ali-Imran: 28
لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَٮٰةً۬‌ۗ وَيُحَذِّرُڪُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُ ۥ‌ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena [siasat] memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri [siksa]-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali [mu]. (28).
4. Pemimpin itu dari jenis laki-laki
(4) An-Nisa: 34, 45, 89, 109, 138-139; 144
ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara [mereka]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (34)
5. Cukup Allah sebagai pelindung dan penolong
وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِأَعۡدَآٮِٕكُمۡ‌ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَلِيًّ۬ا وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ نَصِيرً۬ا 
Dan Allah lebih mengetahui [daripada kamu] tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung [bagimu]. Dan cukuplah Allah menjadi Penolong [bagimu]. (45).
6. Jangan jadikan orang kafir sebagai penolong
وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءً۬‌ۖ فَلَا تَتَّخِذُواْ مِنۡہُمۡ أَوۡلِيَآءَ حَتَّىٰ يُہَاجِرُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَخُذُوهُمۡ وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ‌ۖ وَلَا تَتَّخِذُواْ مِنۡہُمۡ وَلِيًّ۬ا وَلَا نَصِيرًا 
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama [dengan mereka]. Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong [mu], hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan [pula] menjadi penolong, (89).
7. Larangan membela orang kafir
هَـٰٓأَنتُمۡ هَـٰٓؤُلَآءِ جَـٰدَلۡتُمۡ عَنۡہُمۡ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فَمَن يُجَـٰدِلُ ٱللَّهَ عَنۡہُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ أَم مَّن يَكُونُ عَلَيۡہِمۡ وَڪِيلاً۬
Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk [membela] mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk [membela] mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang jadi pelindung mereka [terhadap siksa Allah]? (109).
8. Mengambil orang kafir sebagai sekutu dihukumi sebagai munafiq
بَشِّرِ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا (١٣٨) ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۚ أَيَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعً۬ا
Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (138) [yaitu] orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (139).
9.Larangan mengambil orang kafir sebagai wali
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡڪُمۡ سُلۡطَـٰنً۬ا مُّبِينًا 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah [untuk menyiksamu]? (144).
10, Larangan memilih Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin
(5) Al-Maidah: 51, 57
 يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَہُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَ‌ۘ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬‌ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُ ۥ مِنۡہُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin [mu]; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (51).
11. Larangan mengambil pemimpin selain dari orang Islam
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَكُمۡ هُزُوً۬ا وَلَعِبً۬ا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَٱلۡكُفَّارَ أَوۡلِيَآءَ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, [yaitu] di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir [orang-orang musyrik]. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (57).
12. Ikutilah selalu petunjuk Al-Qur'an
(7) Al-A'raf: 3. 27
ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ‌ۗ قَلِيلاً۬ مَّا تَذَكَّرُونَ 
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran [daripadanya]. (3).
13. Jangan jadi pengikut syaitan
يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّڪُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٲتِہِمَآ‌ۗ إِنَّهُ ۥ يَرَٮٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُ ۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ‌ۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَـٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (27).
14. Sesama kafir akan saling melindungi
(8) Al-Anfal: 73
وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٌ۬ ڪَبِيرٌ۬ 
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu [hai para muslimin] tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (73).
15. Jika ingkar janji, orang kafir boleh diperangi
(9) At-Taubah: 12
وَإِن نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَـٰنَهُم مِّنۢ بَعۡدِ عَهۡدِهِمۡ وَطَعَنُواْ فِى دِينِڪُمۡ فَقَـٰتِلُوٓاْ أَٮِٕمَّةَ ٱلۡڪُفۡرِ‌ۙ إِنَّهُمۡ لَآ أَيۡمَـٰنَ لَهُمۡ لَعَلَّهُمۡ يَنتَهُونَ 
Jika mereka merusak sumpah [janji]nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. (12).
16. Tidak ada pelindung selain Allah.
(13) Ar-Ra'd:16
قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ قُلِ ٱللَّهُ‌ۚ قُلۡ أَفَٱتَّخَذۡتُم مِّن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ لَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ نَفۡعً۬ا وَلَا ضَرًّ۬ا‌ۚ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِى ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُ أَمۡ هَلۡ تَسۡتَوِى ٱلظُّلُمَـٰتُ وَٱلنُّورُ‌ۗ أَمۡ جَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ خَلَقُواْ كَخَلۡقِهِۦ فَتَشَـٰبَهَ ٱلۡخَلۡقُ عَلَيۡہِمۡ‌ۚ قُلِ ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىۡءٍ۬ وَهُوَ ٱلۡوَٲحِدُ ٱلۡقَهَّـٰرُ

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfa’atan dan tidak [pula] kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (16)
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                      “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. 
Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Semoga bermanfaat.
Sumber: Ensiklopedia Adab Islam Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, Jilid I- Pasal XI, hal. 165-177, 'Adul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i., telah diedit untuk keselarasan.
***
[1] H.R. Bukhari, Muslim, dari 'Umar bin Khattab r.a.
[2]H.R. Bukhari (no.4425, 7099) dari Abu Bakrah
[3] H.R.Bukhari (no.7148) dari Abu Hurairah r.a.
[4] H.R Bukhari (no. 7149) dan Muslim (1733), lafadz hadits di atas diambil dari lafadz Muslim dari Abu Musa r.a..
[5] H.R. Albaihaqi dalam al-Kubraa (X/96) dari Abu Hurairah r.a., hadits ini tertera dalam Shahihul Jami' (5695)
[6] H.R Ahmad (IV/231) dan At-Tirmidzi (1332) dari 'Amr bin Murrah, At-Tirmidzi (1332) dari Maryam. Hadits ini tertera dalam Shahihul Jaami' (5685)
[7] H.R. Muslim (142) dari Ma'qil bin Yasar r.a.
[8] H.R. At-Tabarani dalam al-Kabiir (XI/11486) dari Ibnu 'Abbas r.a.,hadits ini tertera dalam Shahihul Jaami' (7054).
[9] H.R. Muslim (1833) dari 'Adi bin Umair r.a.
[10] H.R. Bukhari (6611, 7198) dari Abu Sa'ad r.a.
[11] H.R. Muslim (1848) dari 'Aisyah r.a.
[12] H.R. Abu Daud (4889), Ahmad (VI/4), Hakim (IV/378), dari al-Miqdam, Abu Umamah dll.

1 komentar: