Minggu, 19 Januari 2014

Adab dan Etika Memperlakukan Pekerja, Bawahan dan Anak Buah Menurut Islam

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Kadang kala seseorang berhajat menyewa tenaga orang lain, satu ataupun lebih, atau mempekerjakannya untuk suatu pekerjaan tertentu, baik karena memang ia membutuhkannya maupun karena ia tidak mampu melakukan pekerjaan itu seorang diri. Pada kondisi itu, ia harus mengetahui adab-adab Islami dan bimbingan yang berkaitan dengan ijaarah (memperkerjakan orang). Bahasan dalam hal ini menyangkut juga pekerja, karyawan, bawahan, anak buah hingga pekerja rumah tangga .


1. Pengertian Buruh, Pekerja dan karyawan

Pada dasarnya pengertian Buruh, Pekerja,Karyawan adalah sama yaitu manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya kepada Pemberi Kerja atau Pengusaha atau majikan. Tetapi dalam kultur Indonesia, "Buruh" berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, Tenaga kerja dan Karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tapi otak dalam melakukan kerja. akan tetapi pada intinya sebenarnya keempat kata ini sama mempunyai arti satu yaitu Pekerja.
Secara internasional sebenarnya yang lebih populer dan lebih umum adalah kata Buruh, bukan Pekerja / Karyawan, itulah sebabnya di Australia ada Partai Buruh dan bukan Partai Karyawan. Demikian juga Organisasi Buruh se Dunia namanya ILO (International Labour Organization) bukan International Worker Organization.
Menurut sejarah penggunaan kata buruh di Indonesia banyak digunakan pada masa Orde Lama yaitu sejak proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 sampai tahun 1967. Hal ini bisa kita lihat dalam sebuah spanduk raksana pada peringatan May Day tanggal 1 Mei tahun 1965 di Jakarta yang dihadiri Presiden Soekarno. Dalam kegiatan itu ada sebuah tulisan KAUM BURUH SEDUNIA” bukan “KAUM PEKERJA SEDUNIA”.
 Seiring dengan jatuhnya rezim Orde Lama dan diganti oleh Orde Baru maka penggunaan kata buruh dihilangkan karena dianggap berbau paham ke kiri-kirian. Sebagai gantinya pemerintahan Orde Baru mempopulerkan kata Karyawan atau Pekerja. Serikat Buruh yang ada pada orde lama diganti menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.

2. Beberapa Adab Dalam Hubungan Kerja:

1. Hanya Mempekerjakan Sesama Muslim. 
Nabi saw. pernah bersabda: فلن أستعين بمشرك  (falan asta'iinu bimusyrikin) “...Aku tidak akan meminta bantuan  kepada orang musyrik.” [1]Umar bin Khattab r.a. sangat marah ketika Abu Musa al-Asy’ari  r.a. mempekerjakan seorang Nasrani sebagai juru tulis pada masa kepemimpinannya di Kufah. Terkecuali jika ia tidak menemukan seorang Muslim hingga ia terpaksa mengupah orang musyrik, itupun dengan syarat tidak memberikan kekuasaan kepada orang tersebut atas aset-aset kaum Muslimin. 
Karena Allah Ta’ala berfirman:
وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَـٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلاً  
... dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisa: 141).
2. Mempekerjakan Orang Yang Kuat dan Terpercaya
Hendaknya mempekerjakan seseorang yang pada dirinya sifat amanah, bagus agamanya, kuat dan layak, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَـٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِىُّ ٱلۡأَمِينُ 
karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja [pada kita] ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya"  (Q.S. Al-Qashash: 26). 
Sebab orang yang memiliki sifat-sifat seperti ini akan mampu melaksanakan tugas dan lebih bertaqwa kepada Allah dalam tugasnya. Adapun yang memiliki sebagian sifat di atas dan tidak memiliki sebagian yang lain akan menyebabkan kekacauan sehingga pekerjaan tidak akan sempurna hasilnya sebagaimana yang diharapkan. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa ‘Umar r.a. berkata: “Ya Allah aku mengadukan kepada-Mu kelemahan orang yang amanah dan penghianatan orang yang kuat.”
3. Kemudahan Dalam Muamalah
Yang dimaksud adalah muamalah antara majikan dan pekerja yang diwarnai dengan kemudahan, kelembutan, dan penuh kerelaan hati. Islam sangat menganjurkan kemudahan dalam semua muamalah. Rasulullah saw. bersabda: Allah merahmati orang yang mudah jika menjual, membeli dan menagih.” [2]
4. Kesepakatan
Maksudnya adalah kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya, yakni tentang jenis pekerjaan, karakter dan perinciannya, serta upah yang pantas sehingga tidak merugikan salah satu pihak. Kesepakatan ini akan memutuskan sebab-sebab perselisihan, menutup pintu masuk syaitan, serta mencegah kecurangan dan penipuan. Sebagaimana pula majikan tidak boleh memanfaatkan kefakiran pekerja atau memaksanya mengerjakan sesuatu hingga merugikan haknya, atau memberinya upah yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan pekerjaan. Rasulullah saw. ketika ditanya tentang pekerjaan beliau menggembala kambing, Beliau bersabda: “Aku menggembala kambing millik penduduk Makkah dengan upah beberapa Qirath.” [3]
5. Tidak Boleh Mempekerjakan Seseorang untuk Perkara yang Haram
Seorang pekerja tidak boleh menerima pekerjaan yang di dalamnya terkandung kemarahan Allah ta’ala. Misalnya menjaga toko yang menjual barang haram seperti makanan tidak halal, minuman keras, majalah dan CD-CD porno, dan lain-lain. Demikian juga bagi majikan, janganlah mempekerjakan seseorang untuk membantunya melakukan pekerjaan yang haram. Hal demikian akan menambah dosa pada dosanya yang pertama, yaitu melakukan perbuatan haram, dengan dosa baru, yaitu mengikut sertakan orang lain dalam perkara haram tersebut.
Allah Ta'ala telah berfirman: 
 وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ‌ۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٲنِ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (Q.S. Al-Ma'idah: 2).
6 Amanah dalam Melaksanakan Tugas dan Pekerjaan
Sudah selayaknya seorang pekerja melaksanakan tugasnya dengan penuh amanat dan tidak berkhianat. Hendaknya ia bertakwa kepada Allah Ta’ala, bahkan ketika majika tidak ada. Ia harus tetap muraqabah (merasa dalam pengawasan) dengan Rabbnya dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
Firman Allah Ta'ala: 
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِ‌ۚ
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan [menyuruh kamu] apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil(Q.S. An-Nisa: 58).
7. Menyerahkan Hasil Keuntungan kepada Majikan
Seorang pekerja tidak boleh mengambil sesuatupun untuk dirinya karena itu merupakan penghianatan. Sebagaimana ia juga tidak boleh menyerahkan keuntungan kepada selain majikannya. Sesungguhnya itu adalah kedzaliman. Demikian juga hendaknya ia bersikap wara’ (berhati-hati ) dalam menerima hadiah yang diserahkan kepadanya disebabkan posisinya pada jabatan itu. Rasulullah saw. bersabda: "Seorang bendahara yang amanah, yang menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya dengan senang hati, termasuk orang yang bershadaqah." [4].
8. Berbelas Kasih kepada Pegawai
Hendaknya seorang majikan tidak membebani pegawai dengan pekerjaan diluar kemempuan atau memikulkan kepadanya pekerjaan yang tidak sanggup ia kerjakan. Terkecuali jika majikan turun membantunya mengerjakan tugas yang berat itu. Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak mampu. jika kalian membebankan sesuatu kepada mereka, maka bantulah. [5]
9. Menunaikan Hak Pekerja
Hendaknya seorang majikan menunaikan hak-hak pekerja yang telah disepakati sebelumnya, segera setelah ia menyelesaikan tugasnya,
 berdasarkan sabda Rasulullah saw
.أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ 
Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” [6] 
Rasulullah saw. juga bersabda: 
“Allah Ta’ala berfirman: ‘Ada tiga macam orang yang langsung Aku tuntut pada hari Kiamat: Orang yang membuat perjanjian atas nama-Ku lalu ia langgar; orang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasil penjualannya; dan orang yang mempekerjakan orang lain, yang orang itu telah menyempurnakan pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan gajinya (upahnya). [7]
10. Menjaga Hak-Hak Pekerja yang Pergi (Tidak Hadir)
Hendaknya seorang majikan tetap menjaga hak-hak pekerja jika ia pergi sebelum ditunaikan haknya, baik karena sakit, pergi tiba-tiba, atau sebab lainnya. Seandanya upah pekerja itu bergabung dengan harta majikan dan terus bertambah keuntungannya ketika si pekerja pergi, hendaknya majikan menyerahkan upah itu berikut keuntungannya. Ini merupakan amal shalih dan bentuk penunaian amanah.


3. Rujukan Dari Hadits

Bagi setiap majikan hendaklah ia tidak mengakhirkan gaji bawahannya dari waktu yang telah dijanjikan, saat pekerjaan itu sempurna atau di akhir pekerjaan sesuai kesepakatan. Jika disepakati, gaji diberikan setiap bulannya, maka wajib diberikan di akhir bulan. Jika diakhirkan tanpa ada udzur, maka termasuk bertindak zholim.
Allah Ta’ala berfirman mengenai anak yang disusukan oleh istri yang telah diceraikan,
فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ
“Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (QS. Ath Tholaq: 6). Dalam ayat ini dikatakan bahwa pemberian upah itu segera setelah selesainya pekerjaan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).  Maksud hadits ini adalah bersegera menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan, begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan.
Al Munawi berkata, “Diharamkan menunda pemberian gaji padahal mampu menunaikannya tepat waktu. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering.” (Faidhul Qodir, 1: 718)
Menunda penurunan gaji pada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564)
Bahkan orang seperti ini halal kehormatannya dan layak mendapatkan hukuman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ
“Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman” (HR. Abu Daud no. 3628, An Nasa-i no. 4689, Ibnu Majah no. 2427, hasan). Maksud halal kehormatannya, boleh saja kita katakan pada orang lain bahwa majikan ini biasa menunda kewajiban menunaikan gaji dan zholim. Pantas mendapatkan hukuman adalah ia bisa saja ditahan karena kejahatannya tersebut.
Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya, “Ada seorang majikan yang tidak memberikan upah kepada para pekerjanya dan baru memberinya ketika mereka akan safar ke negeri mereka, yaitu setelah setahun atau dua tahun. Para pekerja pun ridho akan hal tersebut karena mereka memang tidak terlalu sangat butuh pada gaji mereka (setiap bulan).”
Jawab ulama Al Lajnah Ad Daimah, “Yang wajib adalah majikan memberikan gaji di akhir bulan sebagaimana yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi jika ada kesepakatan dan sudah saling ridho bahwa gaji akan diserahkan terakhir setelah satu atau dua tahun, maka seperti itu tidaklah mengapa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المسلمون على شروطهم

“Kaum muslimin wajib mematuhi persyaratan yang telah mereka sepakati.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 14: 390).

        ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. 
Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga bermanfaat.
Sumber: 
Ensiklopedia Adab Islam Menurut Al-Qur’an dan Sunnah jilid I hal.63-69, ‘Adul ‘Azizi bin Fathias-Sayyid Nada, penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, telah diedit untuk keselarasan.
http://rumaysho.com/muamalah/bayarkan-upah-sebelum-keringat-kering-3139
***
[1] H.R. Muslim (1817) dari ‘Aisyah r.a.
[2] H.R. Bukhari (2976) dari Jabir r.a.
[3] H.R. Bukhari (2262) dari Abu Hurairah r.a.
[4] H.R. Bukhari (2260) dan Muslim (1023) dari Abu Musa r.a.
[5] H.R. Bukhari (30) dan Muslim (1661) dari Abu Dzar r.a.
[6] H.R. Ibnu Majah (2443) dari Ibnu ‘Umar r.a.
[7] H,R. Bukhari (2227).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar