Rabu, 11 Desember 2013

Pengertian Dan Hakikat Mizan Menurut Al-Qur'an Dan Hadits

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Secara bahasa (etimologi) mizan artinya adalah alat (neraca) untuk mengukur sesuatu berdasarkan berat dan ringan. Secara istilah (terminologi), mizan adalah sesuatu yang Allah letakkan pada hari Kiamat untuk menimbang amalan hamba-Nya, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ijma’ salaf.  Imaam Al Qurthubi dalam kitab beliau yang berjudul At Tadzkiroh fi Ahwaalil Mautaa wa ‘Umuuril Aakhiroh (Peringatan Tentang Keadaan Orang Mati dan Perkara-Perkara Akhirat), yaitu Kitab yang khusus berbicara tentang Kiamat Sughro (Kiamat Kecil) dan Kiamat Kubro (Kiamat Besar), beliau menukil perkataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah bahwa:
“Jika Al Hisab (perhitungan amalan-amalan seseorang) sudah selesai, maka berikutnya adalah Waznul A’maal dimana amalan setiap manusia ditimbang. Karena dengan timbangan itu lah kemudian akan ditegakkannya pembalasan Allah.” Oleh karena itu Al Mizan didahului oleh Al Hisab. Karena Hari Hisab merupakan pengakuan manusia, bahwa benar ia telah melakukan sesuatu amalan ini dan itu semasa hidupnya di dunia. Semua pengakuan itu ada dalam Muhaasabah.
bahwa Yaumul Mizan adalah untuk memperlihatkan balasan amalan seseorang. Seseorang itu berhak mendapatkan balasan seperti apakah akan ditentukan setelah Al Mizan; dimana balasan Allah terhadap manusia itu adalah sesuai dengan pengakuan amalannya, sesuai dengan timbangan hasil prestasi amalan yang telah ia lakukan ketika hidup di dunia. Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany (beliau adalah ‘Ulama ber-madzhab Syafi’iy)  dalam Kitab beliau berjudul “Fat-hul Baari”, beliau mengatakan:Yang benar menurut pemahaman Ahlus Sunnnah bahwa amalan-amalan yang baik itu dalam bentuk fisiknya akan dimunculkan oleh Allah dalam gambar (bentukan) yang baik. Sedangkan amalan-amalan orang yang berbuat keburukan, akan muncul dalam gambar (bentukan) yang buruk. Kemudian setelah itu amalan-amalan tersebut akan ditimbang”. Demikian dikatakan beliau, ketika menjelaskan tentang pembahasan perkara ini dalam Kitab Shahiih Imam Al Bukhary.

1. Penjelasan Al-Qur'an Dan As-Sunnah Tentang Al-Mizan

1. (Q.S. Al-Mukminun: 102-104):
فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٲزِينُهُ ۥ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٠٢) وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٲزِينُهُ ۥ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ فِى جَهَنَّمَ خَـٰلِدُونَ   (١٠٣)   تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ وَهُمۡ فِيہَا كَـٰلِحُونَ (١٠٤
Barangsiapa yang berat timbangan [kebaikan] nya maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. (102) Dan barangsiapa yang ringan timbangannya[8], maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (103) Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. (104).
2..(Q.S. Al-Isra’: 13-14) :
  وَكُلَّ إِنسَـٰنٍ أَلۡزَمۡنَـٰهُ طَـٰٓٮِٕرَهُ ۥ فِى عُنُقِهِۦ‌ۖ وَنُخۡرِجُ لَهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ڪِتَـٰبً۬ا يَلۡقَٮٰهُ مَنشُورًا (١٣) ٱقۡرَأۡ كِتَـٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبً۬ا (١٤
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya [sebagaimana tetapnya kalung] pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (13) "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (14) .
3. (Q.S. Al-Kahfi: 49):
      وَوُضِعَ ٱلۡكِتَـٰبُ فَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَـٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَـٰذَا ٱلۡڪِتَـٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً۬ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ صَٮٰهَا‌ۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرً۬ا‌ۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدً۬ا (٤٩                                                    
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang [tertulis] di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak [pula] yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada [tertulis]. Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun". (49).
4. Sabda Rasulullah saw.:                                                                                        كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ 
 “Dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, berat dalam timbangan (pada hari Kiamat). dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) : Subhaanallah wa bihamdihi, subhaanallahil ‘adziim.  [1].

    2. Empat Perkara Yang Diyakini Dalam Al-Mizan

    Al Mizan adalah timbangan yang Allah tegakkan pada hari Kiamat, untuk menimbang  amalan manusia. Di dalam Al Mizan itu akan ditemui empat perkara yang harus diyakini dengan benar menurut kaidah-kaidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah:  
    1. ARTI TIMBANGAN . Timbangan yang dimaksud adalah dalam arti yang sesungguhnya dimana timbangan tersebut bukanlah dalam arti kiasan. Timbangan itu memiliki dua penampang yaitu disebelah kanan dan disebelah kiri. Tidak ada yang mengetahui berapa besarnya timbangan itu kecuali Allah Ta'ala. Yang ada dalam timbangan tersebut hanyalah keadilan. Timbangan itu hasilnya tidak akan curang, maka ia disebut Al Qisthu atau Al ‘Adlu (Adil). Perhatikanlah sabda Rasuulullah saw. dalam sebuah Hadits Artinya: “…Tidaklah mereka (suatu kaum) mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan ditimpa dengan: 1. kemarau panjang,2. beban hidup yang berat 3. dan penguasa yang dzolim….”[2]. Dalil tentang adanya Al Mizan (Timbangan) adalah terdapat dalam QS. Anbiyaa’ (21) ayat 47 berikut ini:وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِين “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.
    2. BESARNYA AL MIZANBahwa Rasuulullah saw. bersabda يوضع الميزان يوم القيامة فلو وزن فيه السماوات و الأرض لوسعت فتقول الملائكة : يا رب لمن يزن هذا ؟ فيقول الله تعالى : لمن شئت من خلقي فتقول الملائكة : سبحانك ما عبدناك حق عبادتك و يوضع الصراط مثل حد الموس فتقول الملائكة : من تجيز على هذا ؟ فيقول : من شئت من خلقي فيقول : سبحانك ما عبدناك حق عبادتك  : Artinya: “Timbangan akan ditegakkan pada Hari Kiamat, seandainya pada hari itu langit dan bumi ditimbang maka akan mencakupnya.” Lalu malaikat bertanya: “Ya Allah untuk menimbang siapakah ini?” Allah Ta'ala menjawab: “Bagi makhluk-Ku yang Aku kehendaki.” Kemudian malaikat berkata: “Maha Suci Engkau ya Allooh. Kami belum menunaikan hak ibadah kepada Engkau dengan sesungguhnya, ya Allah.” Kemudian diletakkan Ash-Shirath (jembatan) seperti pisau yang tajam, dan kemudian malaikat berkata: “Siapa yang bisa meniti jembatan yang setajam ini?”. Allah Ta'alamenjawab: “Yang Aku kehendaki dari ciptaan-Ku.”Kemudian malaikat berkata: “Maha Suci Engkau, ya Allah, kami belum bisa menunaikan hak ibadah terhadap-Mu dengan sesungguhnya”.   Al Mizan dalam Hadits diatas dijelaskan bahwa ternyata ia bisa menampung besarnya langit dan bumi, beserta isinya.
    3. BANYAKNYA TIMBANGANMenurut Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany,  yang benar adalah bahwa Al Mizan (Timbangan) itu adalah satu, tidak bisa kita gambarkan dengan banyak timbangan, betapapun banyaknya amalan yang akan ditimbang. Karena keadaan di Hari Kiamat itu tidaklah bisa dipikirkan oleh akal manusia ataupun digambarkan dengan gambaran-gambaran duniawi. Sebagaimana dinukil juga dari pendapat Imaam Al Hasan Al Basri, dimana beliau berkata: “Setiap manusia mempunyai timbangan. Yang berat adalah penetapan bahwa kelak di Hari Kiamat itu ada timbangan. Dan itu bukan menunjukkan tentang satuannya, karena firman Allah Ta'ala (dalam QS. Al Qari’ah (101) ayat 6) adalah: فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ “ Fa amma man tsaqulat mawaazinuhu (Adapun orang yang berat timbangan (kebaikan-nya)”. Oleh karena itu tidaklah mungkin bahwa untuk perkataan hati ada timbangannya, untuk perbuatan fisik ada timbangannya, dan untuk masing-masing amalan itu ada timbangannya sehingga timbangannya bukan hanya satu, melainkan menjadi beberapa timbangan. Tetapi yang dimaksudkan itu adalah menimbang apa yang menjadi amalan-amalan yang berbeda. Sedangkan timbangannya itu sendiri adalah satu.”‘Ulama Ahlus Sunnah yang lain mengatakan sebagai berikut: “Adapun Allah Ta'ala menggunakan kata jamak dengan kata “mawaaziin”,  jamak-kata dari “miizan” adalah karena amalan yang akan ditimbang oleh Allah Ta;ala itu banyak sekali. Ada amalan yang berkenaan dengan Allah Ta'ala, ada amalan yang berkenaan dengan manusia, ada amalan berkenaan dengan anak-isterinya; maka amalan itu banyak yang ditimbang, sehingga disebut dengan “mawaazin”. Padahal timbangannya itu sendiri hanyalah satu.” Imam As Safaarini menyatakan bahwa pendapat inilah pendapat yang bisa diterima.
    4. APA SAJA YANG AKAN DITIMBANGAda tiga pendapat, yang akan ditimbang adalah: Amalan, Orangnya dan Catatan amalnya. Al-HafidzHakamy, dalam Kitab beliau yang bernama Ma’aarijil Qabuul”, beliau mengatakan bahwa: “Yang bisa kita tampakkan dari nash-nash, - walahu a’lam - adalah bahwa orang yang melakukan amalan, amalannya, serta catatan amalannya, maka semua itu ditimbang oleh Allah swt., karena hadits-hadits telah menjelaskan tentang hal ini. Tidak ada pertentangan diantara semuanya. Dan agar kita yakin, maka terdapat dalil dari apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dimana kata beliau bahwa: “Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash r.a., yaitu tentang kisah Shahib Al Bithoqoh, dimana tiap orang memiliki kartu, dan kartu itu akan ditimbang. Bahwa timbangan itu akan diletakkan pada Hari Kiamat. Ada seseorang dimana orang tersebut diletakkan pada suatu penampang timbangan kemudian diletakkanlah pada apa yang menjadi hitungan orang itu, kemudian timbangan menjadi miring, sehingga orang itu pun akan dicampakkan ke dalam api neraka. Namun kemudian pada timbangan orang itu dibawakan juga bithoqoh (kartu), dimana apa yang termaktub dalam bithoqoh itu adalah: Asyhaadu an laa ilaaha ilallooh wa asyhaadu anna Muhammad ‘abduhu warosuuluh, sehingga penampang Timbangan bagi orang tersebut pun menjadi lebih berat kearah bithoqoh itu.” Disinilah terlihat bahwa orang yang sudah akan dimasukkan ke dalam neraka, kemudian tidak jadi dimasukkan ke dalam neraka karena disebelahnya terdapat kartu bertuliskan Asyhaadu an laa ilaaha ilallooh wa asyhaadu anna Muhammad ‘abduhu warosuuluh, sehingga timbangan pun menjadi miring kearah sebaliknya, yakni kearah kebaikannya. Hal ini dikarenakan beratnya timbangan kartu amalan Asyhaadu an laa ilaaha ilallooh wa asyhaadu anna Muhammad ‘abduhu warosuuluh tersebut. Kemudian kata beliau (Hafidz Hakamy ) selanjutnya:  “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang hamba itu diletakkanlah kebajikannya, dan catatan amalannya pada satu penampang timbangan. Demikian pula keburukannya diletakkan di penampang sebelahnya. Dan ini merupakan penggabungan dari Hadits-Hadits yang bisa kita temukan tentang Al Mizan.” Maka menurut beliau berdasarkan dalil tersebut diatas, bahwa yang ditimbang adalah amalannya, orangnya dan catatan amalannya.

    3. Mizan Secara Hakiki Memiliki Dua Daun Timbangan

    • Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih, diantaranya hadits dari ‘Abdullah bin’Amr bin al-‘Ash r.a. tentang hadits pemilik Bithaqah (kartu), Nabi saw. bersabda: فَتُوْضَعُ السِّجِلاَّتُ فِيْ كِفَّةٍ وَاْلبِطَاقَةُ فِيْ كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ، فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ “Lalu catatan-catatan (amal) itu diletakkan di salah satu sisi daun neraca dan bithaqah di daun neraca lainnya, maka catatan-catatan itu melayang dan bithaqah yang lebih berat, maka tidak ada sesuatu yang lebih berat dibandingkan Nama Allah.” [4].
    • Abu Ishaaq Az Zajjaaj : “Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk mengimani keberadaan Al Mizan dan amalan seorang hamba itu ditimbang pada Hari Kiamat dan timbangannya itu mempunyai lisan (lidah), dan dua penampang (kanan dan kiri) yang akan condong akibat amalannya. Apabila amalannya berat akan condong, apabila amalannya ringan juga akan condong. Amalan-lah yang menyebabkan lidah Al Mizan itu bergerak”.
    • Para ‘Ulama yang lain, dalam Kitab yang berjudul “As Sunnah”, menjelaskan perkataan dari salah seorang Shahabat yakni Salmaan Al Faarisy r.a. yang mengatakan bahwa: “Timbangan itu akan ditegakkan dan ia mempunyai dua penampang. Bila diletakkan di salah satu antara kedua penampang itu, maka niscaya langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya akan tercakup oleh timbangan itu”. Artinya, Al Mizan itu sedemikian besarnya, seandainya langit dan bumi dan isinya dimasukkan dalam timbangan itu, maka semuanya akan tercakup dan muat dalam timbangan tersebut.
    • Imam Al Hasan Al Basry mengatakan bahwa: “Al Mizan itu mempunyai lisan dan mempunyai dua penampang”. Itulah pemahaman yang diyakini oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah tentang apa yang dimaksudkan dengan Al Mizan.
    • Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah  bin ‘Abbas r.a.berkata, bahwa Rasulullah saw.bersabda : “Dengan Kekuasaan Allah سبحانه وتعالى bahwa catatan nilai-nilai amalan manusia akan diubah menjadi fisik, sesuai dengan kehendak Allah swt.”.
    • Maka bila disimpulkan dari berbagai penjelasan para ‘Ulama diatas, maka yang ditimbang itu adalah amalan. Amalan itu, seperti yang diyakini oleh Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah,dengan kekuasaan Allah swt. akan dibentuk sesuai dengan kehendak Allah swt. sehingga ia bisa ditimbang. Walaupun menurut akal manusia hal yang seperti ini tidak bisa diterima (tidak masuk akal). Namun Akhirat itu berbeda dengan Dunia, dan kehendak Allah swt. itu tidaklah bisa didiskusikan oleh akal ataupun dibantah.
    Oleh karena itu kita meyakini bahwa amalan kita akan ditimbang, seperti apa dan bagaimana caranya, maka serahkan saja hal itu kepada Allah Ta'ala, karena yang demikian itu tidaklah bisa dijangkau dengan akal kita (manusia) serta alamnya pun juga sudah berbeda, yakni alam Akhirat.
                     ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
    “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sebarkan !!! insyaallah Bermanfaat.
    Sumber: 
    Syarah Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama'ah hal.320 - 322, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit: Pustaka Imam Syafi'i.
    ustadzrofii.wordpress.com
    ***
    [1]. (H.R. Bukhari no. 6406, 6682, dan Muslim no.2694, dari Abu Hurairah r.a.
    [2]. Diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dalam “Al-Mustadrok” Kitab “Al-Fitan wal Malaahim” no: 8667 dan kata beliau sanadnya Shahiih dan Imam Adz-Dzahaby menyepakati-nya, juga Imam Ibnu Majah dalam kitab yang sama no: 4019. Dan Syaikh Nashiruddin Al-Albany meng-Hasan-kan Sanadnya sebagaimana dalam Silsilah Hadits Shahih-nya 1/167-169 No.106:
    [3]. Di dalam Hadits Riwayat Imam Al Hakim no: 8739 dan kata beliau Hadits ini Shahiih sesuai dengan Sanad Muslim akan tetapi Imam Al Bukhary dan Imam Muslim tidak mengeluarkannya, dan Imaam Adz Dzahaby didalam Kitab “At Talkhiish mengatakan bahwa Hadits ini sesuai dengan Syarat Shahiih Muslim, dan di-Shahiih-kan pula oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany رحمه الله dalam Silsilah Hadits Shahiihah no: 941, dari Shahabat Salman Al Faarisy رضي الله عنه 
    [4]. (H.R.Tirmidzi no.2639, Ibnu Majah no. 4300, Hakim  I/6, 529, Ahmad II/213 dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. Hadits ini shahih.).

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar