Minggu, 29 Desember 2013

Definisi Syafa'at Di Hari Kiamat, Syarat dan Macamnya

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Syafa’at menurut bahasa (etimolog) berarti menggenapkan, menggabungkan atau mengumpulkan sesuatu dengan sejenisnya. Syafa’at juga berarti washilah (perantara) dan thalab (permintaan). Syafa’at menurut istilah (terminologi) berarti التوسظ للغير بجلب منفعة أو دفع  مضرة  (Attawassuthu lilghairi bijalbi manfa'atin au daf'in madharratin) “Menjadi perantara bagi orang lain dengan tujuan mengambil manfaat atau menolak bahaya.” Syafa’at diyakini ada pada hari Kiamat.
Syafaat disebutkan pertama kali dalam Al-Qur'an adalah pada QS.Al-Baqarah ayat 48. Dalam ayat tersebut terdapat perintah Allah kepada Bani Israil untuk bertaqwa dengan alasan di akhirat nanti tidak akan ada syafaat (pertolongan) dari siapapun kecuali amal manusia masing-masing. Syafa’at hakikatnya adalah doa, atau memerantarai orang lain untuk mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan. Atau dengan kata lain syafa’at adalah memintakan kepada Allah di akhirat untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian meminta syafa’at berarti meminta doa, sehingga permasalahan syafa’at ialah sama dengan doa.
Syafa’at ada bermacam macam, diantaranya ada yang khusus dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu syafa’at bagi manusia ketika di padang Mahsyar dengan memohon kepada Allah agar segera memberikan keputusan hukum bagi mereka, syafa’at bagi calon penduduk surga untuk bisa masuk surga, syafa’at bagi pamannya yaitu Abu Thalib untuk mendapat keringanan adzab
Ada pula syafa’at yang dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam maupun para pemberi syafa’at lainnya, yaitu: Syafa’at bagi penduduk surga untuk mendapatkan tingkatan surga yang lebih tinggi dari sebelumnya, syafa’at bagi mereka yang seimbang antara amal shalihnya dengan amal buruknya untuk masuk surga, syafa’at bagi mereka yang amal buruknya lebih berat dibanding amal shalihnya untuk masuk surga, syafa’at bagi pelaku dosa besar yang telah masuk neraka untuk berpindah ke surga, syafa’at untuk masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab
Dalam keyakinan Ahlus sunah wal jama'ah, tersebut suatu kisah di akhirat nanti umat manusia akan meminta syafaat kepada para nabi. Akan tetapi dari Nabi Adam sampai Isa tidak ada yang bersedia memberikan syafaat. Para nabi tersebut merekomendasikan kepada umat manusia untuk meminta syafaat kepada Nabi Muhammad, sebab hanya dia yang diberi izin untuk memberikan syafaat. Maka kita sebagai umat Islam untuk meminta syafaat kepada Nabi Muhammad Saw. Sedangkan yang akan mendapatkan syafaat adalah orang-orang tauhid. Ketika Rasulullah ditanya, siapakah yang akan mendapatkan syafaatmu? Dia menjawab : yang akan mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengucapkan La Ilaha Illalah. Syafaat tidak hanya di akhirat saja, akan tetapi juga di dunia sebab pertolongan tidak hanya di akhirat.


1. Hukum Meminta Syafa'at

Setelah kita memahami hakekat syafaat, hendaknya kita meminta syafaat hanya kepada Allah. Karena hanya Allahlah yang memiliki syafaat. Barangsiapa yang meminta syafaaat kepada selain Allah, pada hakekatnya dia telah berdoa kepada selain Allah. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan, meskipun dia meminta kepada Nabi shalallhu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, salahlah ketika orang yang meminta syafaat mengatakan: “Wahai Nabi, berilah aku syafaat”, atau “ Wahai Nabi, syafaatilah aku”, dan yang semisalnya.

Syafaat hanya milik Allah dan Nabi tidak bisa memberikan syafaat tanpa ridha dan izin dari-Nya. Sehingga, tidak boleh meminta syafaat kepada makhluk, termasuk kepada Nabi sekalipun. Mengapa? Karena meminta syafaat adalah termasuk doa permintaan. Seseorang yang meminta syafaat kepada selain Allah berarti dia telah berdoa kepada selain Allah. Doa adalah ibadah yang harus ditujukan kepada Allah dan tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya. Barang siapa yang beribadah kepada selain Allah dia telah melakukan syirik akbar. Demikian pula bagi orang yang meminta syafaat kepada selain Allah dia telah berbuat syirik akbar. [Lihat Syarhu al Qowaaidil Arba’, Syaikh Sholeh Alu Syaikh].

2. Syarat Diberikannya Syafa’at Ada Tiga:

1. Izin Allah kepada pemberi syafa’at. Allah berfirman: 
   ..  ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ‌ۚ لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ۚ لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ
Allah, tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus [makhluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.....(Q.S.Al-Baqarah: 255).
2. Ridha Allah kepada yang memberi dan yang diberikan syafa’at. Allah berfirman: 
    يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيہِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ
Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka [malaikat] dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at  melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya (Q.S.Al-Anbiyaa: 28).
3. Allah berikan kepada orang yang bertauhid.
Orang yang paling berbahagia dengan mendapat syafa’at Nabi Muhammad saw. adalah orang yang mengucapkan kalimat   لا؛إله إلا آلله  (Tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar selain Allah) dengan ikhlash dari hatinya. [1].
Adapun orang kafir, mereka tidak akan mendapatkan syafa’at. Allah Ta’ala berfirman: 
   فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ
Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.(Q.S.Al-Mudatstsir: 48). Begitu juga orang-orang yang berbuat syirik, mereka tidak mendapatkan syafa’at. 

3. Syafa'at Yang Dimiliki Nabi Muhammad: 

  1. Asy-Syafa’atul ‘Uzhmaa (Syafa’at yang agung), yaitu syafa’at yang beliau berikan kepada ummat manusia di Maqif (saat kritis), ketika manusia seluruhnya dikumpulkan Allah di padang Mahsyar. Matahari didekatkan kepada mereka (dengan jarak satu mil), sehingga mereka berada dalam keadaan susah dan sedih yang luar biasa. Pada saat seperti itu, mereka mendatangi Nabi Adam a.s., kemudian Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., lalu ‘Isa a.s., untuk meminta syafa’at, namun mereka semua menolaknya. Dan terakhir kalinya mereka datang kepada Nabi Muhammad saw. untuk meminta syafa’at darinya, maka Rasulullah saw. dengan izin Allah memberikan syafa’at kepada ummat manusia, agar mereka diberi keputusan.[2].
  2. Syafa’at yang beliau berikan kepada para ahli surga untuk memasuki surga. Kedua syafa’at tersebut adalah khusus bagi Rasulullah saw.[3].
  3. Syafa’at yang diberikan kepada orang-orang yang berhak masuk neraka. Syafa’at ini untuk Nabi Muhammad dan para Nabi, para shiddiqin, dan yang lain dari kalangan kaum Mukminin. Rasulullah saw. akan memberi syafa’at kepada orang yang semestinya masuk neraka untuk tidak masuk neraka, serta memberi syafa’at kepada orang yang sudah masuk neraka untuk dikeluarkan dari api neraka. Syafa’at Rasul adalah untuk pelaku dosa besar dari ummat Islam sebagaimana sabda Rasulullah saw.   شفا عتي لاهل الكبائر من أمتي  “Syafa’atku akan diberikan kepada pelaku dosa besar dari ummatku.” [4].
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Al-Hafizh Ibnu Katsir dan pensyarah kitab al-‘Aqiidatuth Thahaawiyyah berkata: ‘Tujuan para ulama salaf membatasi bahasan tentang syafa’at dengan hanya diberikan kepada orang-orang yang berbuat dosa besar adalah sebagai bantahan terhadap Khawarij dan yang mengikuti mereka dari firqah Mu’tazilah.” Syafa’at ini diingkari oleh Khawarij dan Mu’tazilah karena mereka meyakini bahwa orang yang berbuat dosa besar akan kekal dalam neraka dan tidak bisa keluar, baik dengan adanya syafa’at maupun yang lainnya. Pendapat mereka tersebut adalah pendapat yang sesat dan menyesatkan, karena hadits-hadits tentang syafa’at adalah mutawatir.
Allah mengeluarkan dari neraka beberapa kaum tanpa melalui syafa’at, akan tetapi berkat karunia dan rahamt-Nya.[5].. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi setelah dimasuki orang-orang dari dunia tidak akan penuh, maka Allah swt. menciptakan beberapa kaum, lalu Allah swt. masukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. [6].

                ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ            
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat
Sumber
Syarah Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, hal.327 - 330, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit: Pustaka Imam Syafi'i.
http://id.wikipedia.org/wiki/Syafa'at
***
[1]. {[H.R Bukhari(no.99, 6570), dan Ahmad (II/373) dari Abu Hurairah r.a.]
[2]. [H.R.Bukhari (no.4712) dan Muslim (no.194) dari Abu Hurairah r.a.
[3]. Syarhul 'Aqidah al Wasithiyyah (hal.217) oleh Khalil Hirraas.
[4]. [H.R.Abu Daud (no.4739), Tirmidzi (no.2435), Ibnu Hibban dalam Mawaaridzh Zham’aan (no.2596), shahih Mawaaridizh Zham’aan (no.2197), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no.832), Ahmad (III/213) dan Hakim (I/69) dari Anas bin Malik r.a. dan Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih.]
[5]. [H.R.Bukhari (no.7439) dan Muslim dalam Kitaabul Iimaan (no.183(302), dari Abu Sa’id al-Khudri r.a.]
[6]. [H.R.Bukhari (no.7384) dan Muslim (no.2848), dari Anas bin Malik r.a.].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar