Kamis, 14 November 2013

Hal-Hal Yang Dilarang Dilakukan DI Kuburan

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Orang mati sudah ada semenjak dahulu, namun proses pengurusan jenazah banyak kita saksikan masih bercampur baur antara syari'at dengan adat kebiasaan. Hal ini disebabkan karena para tokoh mengajarkan dan mencontohkan tidak sesuai syari'ah, namun menambahinya dengan sesuatu yang berdasarkan akal - dianggap baik - begitulah dilakukan turun-temurun, hingga generasi berikutnya menganggap made in para sesepuh itu adalah suatu sunnah yang dicontohkan Nabi juga. Bahkan belakangan kita mendengar, kuburan seorang ustadz terkenal juga sudah mulai ditembok dan ditambahi aneka hiasan dan pernak-pernik untuk keperluan peziarah. Na'udzu billahi min dzalik !
Artikel ini adalah sedikit sumbangsih untuk mengingatkan kembali kepada ajaran sunnah yang benar, yang dicontohkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw.

1. Membina Kubur Menurut Sunnah

  1. Ditinggikan sejengkal. Menurut sunah, hendaklah kubur itu ditinggikan dari tanah kira-kira sejengkal, agar diketahui orang bahwa itu kubur. Dan haram meninggikannya lebih dari sejengkal itu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain dari Harun, bahwa Tsumamah bin Syufai bercerita kepadanya, katanya: "Kami berada di daerah Romawi Rhodus bersama Fadhalah bin 'Ubeid. Kebetulan seorang sahabat kami meninggal dunia, maka Fadhalah bin 'Ubeid menyuruh meratakan kuburnya lalu katanya: 'Saya dengar Rasulullah saw. menyuruh meratakannya'." Dan diriwayatkan juga dari Abu Hiyaj at-Asadi bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan kepadanya: "Maukah Anda saya beri tugas sebagaimana saya ditugaskan oleh Rasulullah saw. yaitu agar setiap melihat patung hendaklah Anda tumbangkan, dan setiap menjumpai kubur yang ditinggikan, hendaklah Anda datarkan!"
  2. Larangan membangun kubah dan masjid. Diantara hal-hal yang termasuk dalam meninggikan kuburan yang dilarang oleh hadits, bahkan lebih berat lagi hukumnya ialah membuat kubah-kubah dan ruangan-ruangan di atas kubur, begitu juga mengambil kubur sebagai masjid, Rasulullah saw. telah mengutuk orang yang melakukan itu. Banyaknya pembinaan kubur secara megah dan mewah ini mengakibatkan bencana yang menyedihkan bagi Islam. Diantaranya ialah kepercayaan orang-orang yang jahil terhadap makam-makam seperti kepercayaan orang-orang kafir terhadap berhala. mereka agungkan ia dan mereka kira ia sanggup memberi manfaat dan mengihndarkan mudharat, mereka jadikan tumpuan harapan untk memohon keperluan, tempat berlindung guna terkabulnya cita-cita. Mereka minta kepadanya seperti yang diminta hamba kepada Tuhannya, mereka kunjungi, dan mereka mohon berkah dan pertolongan. Ringkasnya, tak satu pun hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah terhadap berhala, kecuali dilakukan pula oleh orang-orang itu, Inna lillahi wa innaa ilahi raaji'uun!
  3. Agar merobohkan kubah dan masjid. Dan para ulama telah berfatwa agar masjid-masjid dan kubah-kubah yang dibangun di atas kubur diruntuhkan, berkata ibnu Hajar dalam Az-Zawajir:"Dan wajib menyegerakan penghancuran masjid-masjid dan kubah-kubah yang terdapat di atas kubur, karena itu lebih berbahaya dari masjid dhirar, sebab ia dibangun dengan mendurhakai Rasulullah saw. yang melarang membuatnya dan menyuruh merubuhkan kubur-kubur yang ditinggikan. Juga wajib menyingkirkan pelita-pelita dan lampu-lampu di atas kubur, dan tidak boleh mewakafkan atau menadzarkannya,"

2. Menandai Kubur

Boleh meletakkan sesuatu tanda di atas kubur untuk mengenalinya, baik berupa batu atau kayu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas r.a.: "Bahwa Nabi saw. memberi tanda kubur Usman bin Mazh'un dengan batu." Maksudnya ditaruhnya dia atasnya batu untuk menandainya. Dan dalam buku Az-Zawaid tercantum: "Hadits berikut ini isnadnya hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud dari Mutthalib bin Wada'ah, dimana terdapat bahwa Nabi saw. mengambil batu dan meletakkan  dekat kepalanya, serta sabdanya 'Batu ini ialah untuk menjadi tanda bagi kubur saudaraku, dan agar dapat menguburkan di sini nanti kaum keluargaku yang meninggal.' Hadits tersebut juga menunjukkan sunatnya mengumpulkan keluarga yang meninggal di tempat-tempat yang berdekatan, agar lebih mudah diziarahi dan lebih sering didoakan.

3. Haramnya Mendirikan Masjid Dan Menara Di Kuburan

Diterima beberapa hadits yang sah menegaskan haramnya membangun masjid dan menara di pekuburan.
  1. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: "Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi, Mereka ambil kuburan Nabi-Nabi mereka untuk menjadi masjid."
  2. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. oleh Ahmad dan Ash-Habus Sunan kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan hasan oleh Turmudzi, katanya: "Rasulullah saw. mengutuk wanita-wanita yang menziarahi kubur dan orang -orang yang mendirikan di atasnya masjid dan menara."
  3. Juga tercantum di sana  riwayat dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi saw. bersabda; "Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka ambil kuburan Nabi-nabi mereka untuk menjadi masjid."
  4. Dan diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah r.a. bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebut-nyebut soal gereja - yang pernah mereka lihat di Habsy, penuh dengan patung-patung - kepada Rasulullah saw. Maka sabda Rasulullah saw.: "Mereka itu , jika ada seorang yang shaleh diantara mereka meninggal, mereka binalah di atas makamnya sebuah masjid dan mereka buat di dalamnya patung-patung itu. merekalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat!' (Diriwayatkan oleh Abu Daud, juga oleh Nasa'i dengan kalimat yang berbunya: Rasulullah saw. mengutuk ... dan seterusnya).
Dan kata 'Aisyah: "Makam Rasulullah saw. tidak ditonjolkan, maksudnya ialah agar tidak dijadikan masjid." Juga mengkhususkan kubur sebagai tempat shalat akan menyerupai pemujaan dan mendekatkan diri kepada berhala. Padahal menurut cerita, asal mula orang -orang menyembah berhala itu ialah karena membesar-besarkan  orang yang telah meninggal dengan membuat patung-patung mereka, mengusapnya dan shalat di sana.

4. Makruh Menyembelih Di Kuburan

Dilarang oleh syara' menyembelih di pekuburan demi menjauhi perbuatan orang-orang jahiliyah dan menghindarkan kemewahan dan membangga-banggakan diri. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Anas, bahwa Rasulullah saw. bersabda: " Tak ada 'aqar - menyembelih kurban di makan - dalam Islam. Berkata Abdur Razak: "Mereka biasanya mengorbankan seekor sapi ata seekor domba di kuburan."

5. Larangan Duduk, Berjalan Di Kubur Dan Bersandar Padanya

  • Terlarang duduk di kubur, begitu juga bersandar padanya dan berjalan di atasnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari 'Amar bin Hazmin, katanya: "Rasulullah saw. melihat saya bertelekan di atas kubur, maka sabdanya: 'Jangan kau sakiti penghuni kubur ini'! (menurut suatu riwayat: 'Jangan kau sakiti dia '!)
  • Dan diterima dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: "Lebih baik jika seseorang diantaramu duduk di atas bara panas hingga membakar pakaiannya dan tembus ke kulitnya daripada ia dukduk di atas kubur!" (Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasa'i dan Ibnu Majah).
  • Pendapat yang mengharamkannya ialah madzhab Ibnu Hazmin, karena pada hadits itu terdapat ancaman. Katanya itu juga merupakan pendapat segolongan ulama salaf termasuk di dalamnya Abu Hurairah r.a.

6. Larangan Menembok Kubur Dan Memberinya Tulisan

  • Menembok, duduk. Diterima dari Jabir r.a. katanya: "Rasulullah saw. telah melarang menembok kubur, mendudukinya dan membuat bangunan di atasnya." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Nasa'i dan Abu Daud, juga oleh Turmudzi yang menyatakan sahnya dengan kata-kata berikut: "Rasulullah saw. telah melarang menembok kubur, membuat tulisan padanya, membuat bangunan di atas kubur, menambahnya, menginjaknya"  Sedang kata-kata dari Nasa'i berbunyi sebagai berikut: "Membuat bangunan di atas kubur, menambahnya, menemboknya atau menulisnya") Dan menembok maksudnya ialah melebur dengan adukan semen. Oleh jumhur, larangan tersebut diartikan makruh, sedang Ibnu Hazmin memandangnya haram. Adapun hikmah larangan ialah karena kubur itu hanya buat sementara, bukan untuk selama-lamanya. 
  • Mengubur dengan peti. Makruh membangunnya dengan batu bata atau kayu, atau memasukkan mayat ke dalam peti. Kecuali bila tanah di sana basah atau berlumpur, maka ketika itu boleh dibangun dengan batu bata dan lain-lain. dan boleh pula dimasukkan ke dalam peti tanpa makruh.
  • Menulisi makam. Madzhab Hanafi, larangan menulisi kuburan itu berarti makruh, baik ia berupa ayat-ayat Al-Qur'an atau nama mayat. Golongan Syafi'i sependapat dengan mereka, hanya kata mereka: "Jika kubur itu kubur seorang ulama, atau orang yang saleh, sunat menulis namanya dan tanda-tanda lainnya agar dapat dikenal." Menurut golongan Maliki, jika tulisan itu berupa ayat-ayat Al-Qur'an, diharamkan, dan jika untuk menerangkan nama dan tanggal kematiannya, maka makruh. Berkata golongan Hanafi: "Haram hukumnya membuat tulisan di kuburan, kecuali jika dikhawatirkan lenyapnya, bekas-bekasnya maka tidak jadi apa." Dan menurut Ibnu Hazmin, jika namanya dipahatkan pada batu, tidaklah makruh hukumnya.
Allahu a'lam

             ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ              
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber: 
Fikih Sunnah 4, Sayyid Sabiq, telah diedit untuk keselarasan.

1 komentar:

  1. I was suggested this website by my cousin. I am not sure whether this
    post is written by him as nobody else know such detailed about my difficulty.
    You are wonderful! Thanks!

    My page: rijschool delft

    BalasHapus