Minggu, 13 Oktober 2013

Doa Ketika Menemui Musuh Dan Ketika Takut Penguasa

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Pengertian:

1. Musuh : pihak yang hendak menjerumuskan pihak lain ke dalam kehancuran.
 2. Penguasa atau Hegemoni : dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang disampaikan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar. Musuh adalah istilah umum untuk individu atau kelompok yang hendak menghancurkan; akan tetapi pemerintah /penguasa hanyalah salah satu contoh khusus dari jenis musuh, jika memang ada permusuhan. Dalam sebuah hadits disebutkan: "Orang mu’min yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada orang mu’min yang lemah. Dan dalam hal apa saja lebih baik. Capailah dengan sungguh-sungguh apa saja yang bermanfaat buatmu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah."(HR. Muslim).
Dari petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah ini, bahwa Islam adalah agama yang sangat mendambakan kekuatan, baik moril maupun matriil.
  • Kekuatan moril meliputi, iman yang kuat, ilmu yang banyak, mental yang baik, jiwa yang teguh, dan lain-lain.
  • Kekuatan materiil  yang bisa dilihat, seperti berbadan sehat, berharta yang cukup, kebutuhan dunia yang terpenuhi dan sebagainya.
  • Bahkan Allah mengedepankan sumber-sumber kekuatan dalam rangka untuk menghadapi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kaum muslimin bisa berupa, senjata, peralatan perang, kuda-kuda yang ditambatkan dan lain-lain. Untuk menghadapi senjata atau kekuatan musuh harus juga dipersiapkan dengan senjata dan kekuatan. Ilmu lawan ilmu, ekonomi lawan ekonomi, politik dengan politik, teknologi dengan teknologi, bilangan dengan bilangan dan sebagainya. Namun dalam Islam, melawan musuh harus dengan cara Islam.
  • Untuk mendapatkan kekuatan harus dipersiapkan dari sekecil mungkin dan sedini mungkin, jangan sampai menunggu besar, dan menunggu serangan musuh. 
  • Senjata itu penting, namun orang dibalik senjata juga harus dipentingkan dan diperkuat, sehingga tidak ada senjata yang makan tuan.
  • Mohon pertolongan dan kekuatan Allah. Kekuatan apapun yang memberi manfaat buat kebaikan dunia atau akhirat mutlak harus dicari disertai mohon pertolongan dan kekuatan Allah, karena kekuatan sumber kekuatan apapun hanyalah dari Allah. Ingat nasihat Rasulullah diatas. Akhirnya, apapun yang kita korbankan di jalan Allah, untuk menolong agama Allah, Allah pasti menolong dan membalas, bahkan lebih baik dan lebih banyak. 
Bagaimanakah Islam mengajarkan do'a-do'a jika kita menghadapi musuh ?

1. Do'a Ketika Bertemu/ Menghadapi Musuh.

  1. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasa'i dari Abu Musa bahwa Nabi saw. jika merasa cemas terhadap sesuatu kaum, maka beliau akan mengucapkan: "اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ (Ya Allah, kami jadikan Engkau di tenggorokan mereka dan kami berlindung dengan-Mu dari kejahatan mereka)."
  2. Diriwayatkan oleh Ibnus Sunni: "Bahwa dalam suatu peperangan, Rasulullah saw. membaca: 'Yaa Maliku Yaumid din, iyyaaka a'budu w iyyaaka asta-'in '(Ya Allah yang menguasai hari yang akhir, hanya kepada-Mu saya mengabdi, dan hanya kepada-Mu saya mohon pertolongan)." Kata Anas: "Saya lihat orang itu diterjang oleh para Malaikat, baik dari depan maupun dari arah belakang."
  3. Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Jika engkau merasa cemas terhadap penguasa atau lainnya, maka ucapkanlah:'
    ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻵ ﺍﷲ ﺍﻟﺤﻟﻴﻡ ﺍﻟﺤﻜﻴﻡ ﺴﺒﺤﺎﻦ ﺍﷲ ﺮﺐ ﺍﻟﺴﻤﻭﺍﺖ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻭﺮﺐ ﺍﻟﻌﺮﺶ ﺍﻟﻌﻈﻴﻡ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻵ ﺍﻧﺖ ﻋﺯ ﺠﺎﺮﻚ ﻮﺠﻞ ﺛﻨﺎﺅﻚ ' (Tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Mahamulia, Mahasuci Allah Tuhanku, Mahasuci Allah Tuhan dari langit yang tujuh dan Tuhan dari 'arasy besar. Tidak ada Tuhan melainkan Engkau, kuatlah berdampingan dengan-Mu, dan besarlah pujian kepada-Mu)."
  4. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas, katanya: " حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ  " (Cukuplah bagi kami Allah, dan Ia adalah sebaik-baik tempat menyerahkan diri)." diucapkan oleh Ibrahim ketika ia dilemparkan ke dalam api, dan juga oleh Muhammad saw. sewaktu ia mendengar berita: "Orang-orang itu sungguh telah menghimpun tentara buat memerangimu." Disebutkan dalam hadits itu, قَالَهَا إِبْرَاهِيْمُ حِيْنَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ قَالَ لَهُ النَّاسُ: إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ Kalimat itu diucapkan Ibrahim ketika dirinya dilemparkan ke dalam api dan diucapkan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika orang-orang berkata kepada beliau, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu …’.” (Ali Imran: 173). Ungkapan قَالَهَا إِبْرَاهِيْمُ ‘kalimat itu diucapkan Ibrahim’, dengan kata lain, mengucapkan kalimat ini ketika dirinya dilemparkan ke dalam api sebagai hukuman atas dirinya dari kaumnya karena dia telah melakukan pengrusakan atas patung-patung mereka yang mereka sembah selain Allah Ta ‘ala. Ungkapan وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ ‘dan diucapkan Muhammad‘. dengan kata lain, nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan kalimat ini ketika Nu’aim bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu …” Yaitu Abu Sufyan dan kawan-kawannya. “Maka takutlah kepada mereka dan janganlah keluar menghadapi mereka.” Namun para shahabat tidak mendengar ucapan seperti itu darinya. Sehingga mereka keluar dan berkata, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Mereka yakin bahwa Allah Ta’ala tidak mungkin menghinakan Muhammad. Maka, mereka pun pulang dengan ghanimah dan selamat. Yang demikian adalah firman Allah Ta’ala, فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali Imran: 174). Ungkapan حَسْبُنَا اللهُ ‘cukuplah Allah menjadi Penolong kami‘, dengan kata lain, cukuplah Allah Ta’ala bagi kami dalam segala hal. وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ‘dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung‘, dengan kata lain, sebaik-baik tempat kepercayaan. Al-Wakil adalah sebuah nama di antara nama-nama Allah Ta’ala. Artinya, Yang selalu mengurus makhluk-Nya dan menjamin semua rezekinya. Kata نِعْمَ adalah kata untuk memuji, sebagaimana بِئْسَ adalah kata untuk mencela.
  5. Dan diterima dari 'Auf bin Malik: "Bahwa Nabi saw. pernah membayarkan utang dua orang laki-laki. Ketika hendak pergi, salah seorang yang telah dibayarkan utangnya itu berkata: ' حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ  ' .Maka sabda nabi saw.: 'Sesungguhnya Allah mencela sifat lemah, dari itu berusahalah! Dan jika kamu masih belum dapat mengatasinya, barulah ucapkan: Hasbiyallaahu wani'mal wakil (Cukuplah bagiku Allah, dan Ia adalah sebaik-baik tempat menyerahkan diri).

2. Do'a Menghadapi Penguasa/Kekuatan yang Dzalim

 . اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي، وَأَنْتَ نَصِيْرِي، بِكَ أَجُوْلُ، وَبِكَ أَصُوْلُ، وَبِكَ أُقَاتِل
Ya Allah, Engkau adalah lenganku (pertolongan-Mu yang ku-utamakan dalam menghadapi lawanku). Engkau adalah Pembela-ku. Dengan pertolongan-Mu aku berputar-putar, dengan pertolongan-Mu aku menyergap dan dengan pertolongan-Mu aku berperang“.  (HR. Abu Dawud: 2/89, dishahihkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi: 2/142).
                                                        اللَّھُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، سَرِیْعَ الْحِسَابِ، اھْزِمِ اْلأَحْزَابَ، اللَّھُمَّ اھْزِمْھُمْ وَزَلْزِلْھُمْ 
“Ya Allah yang menurunkan kitab, Maha cepat perhitungan-Nya, hancurkanlah pasukan-pasukan (musuh), Ya Allah kalahkanlah mereka dan goyahkanlah mereka“.

. اللَّھُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِیْمِ، كُنْ لِي جَاراً مِنْ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ، وَأَحْزَابِھِ مِنْ خَلاَئِقِكَ، أَنْ یَفْرُطَ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْھُمْ أَوْ یَطْغَى، عَزَّ جَارُكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَلاَ إِلَھَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Ya Allah, Tuhan langit dan bumi, Tuhan ‘Arasy yang agung, jadilah pendampingku dari fulan bin fulan dan kelompoknya dari makhluk-Mu, (agar)

tidak ada seorangpun dari mereka berlaku sewenang-wenang terhadapku atau melampaui batas,  pembelaan-Mu amatlah besar, pujian terhadap-Mu amatlah agung, dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau“. 

 . اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَعَزُّ مِنْ خَلْقِھِ جَمِیْعاً، ألله أَعَزَّ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، أَعُوْذُ بِاللهِ الَّذِي لاَ إِلَھَ إِلاَّ ھُوَ، الْمُمْسِكِ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ أَنْ  یَقَعْنَ عَلَى اْلأَرْضِ إِلاَّ بِإِذْنِھِ، مِنْ شَرِّ عَبْدِكَ فُلاَنٍ، وَجُنُوْدِهِوَأَتْبَاعِھِ وَأَشْیَاعِھِ، مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ، اللَّھُمَّ كُنْ لِيْ جَاراً مِنْشَرِّھِمْ، جَلَّ ثَنَاؤُكَ وَعَزَّ جَارُكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَلاَ إِلَھَ غَیْرُكَ (ثلاث مرات

“Allah Maha besar, Allah lebih mulia dari seluruh makhluk-Nya, Allah lebih mulia dari apa yang aku takuti, aku berindung kepada Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengendalikan tujuh langit hingga tidak runtuh ke bumi kecuali denga izin-Nya dari kejahatan hamba-Mu fulan dan bala tentaranya serta pendukungpendukungnya dari golongan jin dan manusia. Ya

Allah, jadilah pendampingku terjauhkan dari keburukan mereka, pujian terhadap-Mu amatlah agung, perlindungan-Mu amatlah besar, Maha suci nama-Mu dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain diri-Mu“.

3. Tuntunan Islam Dalam Menghadapi Musuh

Dalam menyikapi kasus ini Islam memberikan aturan yang jelas, di mana pelaku kejahatan dibalas sesuai dengan apa yang dilakukannya. Apabila ia melukai mata, mesti dibalas dengan mata, tangan dibalas dengan tangan, telinga dibalas dengan telinga, dan seterusnya. Hal tersebut (apabila perlu dibalas), dan membalasnya adalah bertujuan untuk memberikan efek jera kepada pelakunya. Dalam melakukannya tidak melampaui batas seperti yang banyak terjadi.
Sebagai contoh pembelajaran bagi umat dalam menyikapi tindakan orang yang memusuhi Islam, adalah bagaimana strategi dan aturan Islam dalam melakukan peperangan pada masa dahulu. Dalam peperangan Islam balasan atas tindakan zhalim kaum kafir adalah sesuai dengan apa yang diterima oleh kaum muslimin. Oleh karenanya dalam Islam hanya mengenal tipe peperangan yang defensif, yakni dalam rangka menjaga kehormatan. Bukan ofensif yang sengaja membuat peperangan, berdakwah dengan mengangkat senjata. Perang dalam Islam adalah sebagai bentuk reaksi atas perlakuan zhalim dan kesewenangan musuh yang merugikan umat.
Dalam sejarah Islam, awal terjadinya perang adalah sebatas diizinkan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ ﴿الحج: ٣٩
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Kuasa menolong mereka itu.
Perang yang dijalankan Rasulullah adalah perang yang terhormat, ditentukan waktu dan tempatnya, tidak dilakukan di tempat yang menyebabkan korban sipil. Hikmahnya adalah orang yang tidak siap di kedua belah pihak tidak terkena efeknya. Dan orang yang berangkat ke medan perang adalah orang yang siap dengan resikonya.
Berbeda dengan apa yang kita saksikan sekarang ini. Bom meledak di mana-mana, di masjid, pasar atau tempat keramaian lainnya. Sabotase, penghancuran fasilitas umum, bom bunuh diri adalah bentuk penyimpangan perilaku sebagian umat Islam dalam menyikapi persoalan kontra terhadap tindakan zhalim musuh-musuhnya. Inilah yang membuat bingung umat lain melihat perilaku sebagian umat Islam, sementara ajaran Islam di satu sisi didengungkan sebagai agama yang membawa rahmat dan kedamaian bagi seluruh umat manusia.
Umat Islam tidak diajarkan berdiam diri ketika Islam dihina orang lain, tapi rasa kekecewaan atau kebencian tersebut diekspresikan dengan tindakan yang sesuai dengan Siyasah Al-Islamiyyah dan tidak ngawur (sembarang, semaunya). Demonstrasi yang dilakukan sebagian umat Islam secara anarkis di mana-mana pada akhirnya merugikan kelompok umat Islam sendiri, karena tidak mengikuti prosedur Allah dan Rasul-Nya. 
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ       
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaaallah bermanfaat.
Sumber: 
Fikih Sunnah 4, Sayyid Saabiq. telah diedit untuk keselarasan.
https://doandzikir.wordpress.com/2013/03/19/syarah-doa-bertemu-musuh-dan-penguasa-3/
http://www.pmarrisalah.com/islam-agama-kekuatan.html
http://m.al-idrisiyyah.com/index.php/read/article/338/bagaimana-menghadapi-musuh-islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar