Sabtu, 12 Oktober 2013

Doa Di Waktu Susah Dan Di Kala Duka

 بسم االلهالرحمن اارحيم
Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Siapa yang mengira bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Tuhan maka dia telah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan, itupun dia telah keliru. Allah mengecam kepada orang-orang yang apabila diberi nikmat oleh Tuhan, lantas berkata, “Saya disenangi Tuhan,” dan kalau Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata, “Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya.”
Jangan duga, saudara-saudara kita yang meninggal dan ditimpa musibah itu dibenci Tuhan. Jangan duga yang menderita itu dimurkai Tuhan. Jangan duga yang berfoya-berfoya disenangi Tuhan. Kallâ! Tidak! Di sini Allah menggunakan kata balâ` yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Tuhan.

1. Hakikat Musibah Menurut Islam

Setiap masalah yang menimpa, pasti memiliki hikmah di dalamnya. Itu adalah sebuah skenario dari Allah swt .. Semua itu adalah ujian dari sang Khalik terhadap kemampuan seorang hamba-Nya. Apakah hamba Allah akan putus asa atau selalu bersabar? Apakah hamba Allah memiliki pribadi yang kuat atau tidak? Apakah hamba Allah masih selalu ingat Allah atau tidak?. Terkadang kita sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa sering menjudge bahwa pilihan Sang Khalik yang diberikan kepada kita itu tidak adil. Di dalam Al-Qur'an Allah sudah mengabarkan akan menguji manusia dengan aneka kesulitan dan kesusahan: 
ولنبلونكم بشىء من ٱلخوف وٱلجوع ونقص من ٱلأموٲل وٱلأنفس وٱلثمرٲت وبشر ٱلصبرين
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu , dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS Al-Baqarah: 155).
Musibah itu tidak selamanya dapat diartikan sebagai alamat murka Allah. Begitu pula dengan nikmat, tidak selamanya sebagai pertanda mendapat keridhaan Allah. Tetapi, bahagia dan musibah kedua-duanya merupakan Sunnatullah terhadap makhluknya Allah SWT bermaksud menguji iman seorang mukmin dengan kebaikan dan kejelekan, agar dengan ujian ini Allah dapat mengetahui sampai di mana kebenaran imannya. 
Hal ini telah dituturkan oleh Allah dalam firman-Nya: 
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. 29 : 2 – 3). 
Manusia tidak hanya cukup mengatakan iman di mulut, kemudian menjadi orang yang terdekat dengan Allah sebelum mengalami ujian terlebih dahulu. Sebagai sunatullah, Allah menguji orang-orang terdahulu dengan beban-beban dan sebagai macam ujian untuk menguji kadar iman mereka. 
Untuk itu Allah telah berfirman : 
 وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً۬‌ۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ...
“...Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu kembalikan”. (QS. 21 : 35). 
Rasulullah SAW dalam hal ini pernah bersabda :
 عجبا لأمر المؤمن ان أمره كله خير وليس ذلك لأحد الا المؤمن ان اصابته مراء شكر فكان خيرا له وان اصابته ضراء صبر فكان خيرا له (رواه مسلم
Orang-orang beriman itu memang sangat mengherankan semua perkaranya serba baik, dan tak ada seorang pun yang seperti orang yang mukmin. Apabila dianugerahi kesenangan ia bersyukur, dan apabila tertimpa musibah, ia berlaku sabar. Hal inilah yang menjadikan dia selalu dalam keadaan baik( Hadits riwayat Muslim). 
Adakalanya suatu musibah itu merupakan peringatan bagi orang-orang yang berbuat dosa, agar mereka sadar kembali kepada ketaatan dan kebenaran. 

Hal ini telah dinyatakan Al-Qur’an: 
وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ۬ مِّن قَبۡلِكَ فَأَخَذۡنَـٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”. (QS. 6 : 42). 

2. Do'a Dikala Susah (Musibah) Menurut Hadits Nabi saw.


Saat sebuah musibah menimpa seorang muslim, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bersabar, berdoa, kembali kepada Allah Ta’ala semata dan memperbaiki dirinya. Musibah harus selalu menjadi pelajaran agar keimanan dan kehidupan seorang muslim menjadi lebih baik pada masa-masa sesudahnya. Saat menghadapi musibah, doa merupakan senjata utama seorang hamba. Melalui doa, seorang hamba berpasrah diri kepada Allah, bersimpuh di hadapan-Nya dan mengharapkan pertolongan-Nya semata.

  1. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw. di waktu susah membaca: "   لا إله إلا الله العظيم الحليم, لا إله إلا الله رب العرش العظيم, Tiada إله إلا الله رب السماوات ورب الأرض ورب العرش الكريم  (Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Mahabesar lagi Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan melainkan Allah pengatur 'arasy besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah pengatur langit, pengatur bumi dan peng atur 'arasy mulia). "
  2. Menurut riwayat Turmudzi yang diterima dari Anas ra bahwa bila mengahadapi urusan penting, Rasulullah saw. membaca: "  يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث  (Ya Allah Yang Mahahidup. Ya Allah Yang Maha Pengatur! Kumohon pertolongan dengan rahamt-Mu!). "
  3. Juga menurut Turmudzi yang diterima dari Abu Hurairah ra ., bahwa jika menghadapi masalah besar, maka Rasulullah saw. menengadah ke langit, lalu mengucapkan: " subhaanallahi l'adzim . (Mahasuci Allah Yang Mahabesar). " Dan jika memohon dengan amat sangat, maka diucapkannya: "yaa hayyu yaa QAYYUUM (Ya Allah Yang Mahahidup, ya Allah Maha Pengatur). "
  4. Dalam Sunan Abu Daud ada riwayat dari Abu Bakrah , bahwa Rasulullah saw. bersabda: " Ucapan doa dari orang yang itimpa kesusahan adalah: '  اللهم رحمتك أرجو فلا تكلني إلى نفسي طرفة عين, وأصلح لي شأني كله, لا إله إلا أنت  (Ya Allah, rahmat-Mulah yang kuharapkan, maka janganlah daku diserahkan hanya kepada diriku walau sekejap pun, dan baikkanlah semua urusanku, tidak ada Tuhan selain dari-Mu!). "
  5. Juga ada di sana riwayat yang diterima dari Asma 'binti' Umeis bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya: "Maukah kau saya ajari kalimat yang akan dibaca ketika susah atau dalam kesusahan? Yaitu:"  الله الله ربي لا أشرك به شيئا  (Ya Allah, Tuhanku adalah Allah, tiadalah aku mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun) ' . "Menurut suatu riwayat, kalimat itu harus dibaca 7 x.
  6. Menurut riwayat Turmudzi yang diterima dari Sa'ad bin Abi Waqqash , bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Do'a dari Dzun Nun - yakni Nabi Yunus - ketika ia menerapkan dalam perut ikan besar, adalah: '  لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين' (Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau sungguh aku termasuk orang-orang yang aniaya.). Tidak ada seorang Muslimpun yang membaca doa tersebut untuk meminta sesuatu kecuali akan dikabulkan Allah! " Menurut Turmudzi , kalimat itu berbunyai sebagai berikut: "Saya tahu suatu kalimat yang bila diucapkan oleh seseorang yang ditimpa kesusahan pastilah akan dilepaskan oleh Allah, yaitu kalimat saudaraku Yunus as
  7. Dan menurut riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban yang diterima dari Ibnu Mas'ud ra . bahwa Nabi saw. bersabda: "Bila seorang hamba ditimpa suatu kesusahan atau kedukaan lalu dibacanya     : ' للهم إني عبدك, ابن عبدك, ابن أمتك, ناصيتي بيدك, ماض في حكمك, عدل في قضاؤك, أسألك بكل اسم هو لك, سميت به نفسك, أو أنزلته في كتابك , أو علمته أحدا من خلقك, أو استأثرت به في علم الغيب عندك, أن تجعل القرآن ربيع قلبي, ونور صدري, وجلاء حزني, وذهاب همي  '( Ya Allah, akau ini adalah hamba-Mu, purta daari hamba-Mu, selanjutnya putra dari umat-Mu, ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, menerima segala putusan-Mu, dan memandang adil apa juga hukum-Mu; aku mohon dengan asma apa juga yang engkau sebutkan terhadap diri-Mu, atau pernah Engkau ajarkan kepada salah seorang diantara makhluk-Mu, atau Engkau simpan dalam perbendaharaan gaib dari ilmu-Mu, agar Al-Qur'an itu Engkau jadikan kembang hatiku, cahaya dadaku, pelenyap duka dan penghilang susahku), maka Allah akan menghapus kesusahan dan kedukaannya, serta menggantinya dengan kelapangan dan kegembiraan.

3. Hadits Ummu Salamah Mempraktekkan Do'a dari Nabi saw.

Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam saat tertimpa musibah adalah doa berikut ini:
 إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا 
Kita milik Allah semata dan sesungguhnya hanya kepada-Nya semata kita kembali. (QS. Al-Baqarah [2]: 156). Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.(HR. Muslim). Dalam riwayat lain doa tersebut berbunyi:  
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا 
Kita milik Allah semata dan sesungguhnya hanya kepada-Nya semata kita kembali. (QS. Al-Baqarah [2]: 156). Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.(HR. Ahmad dan Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi). 
Doa tersebut telah diamalkan dan dibuktikan sendiri khasiatnya oleh perawi hadits tersebut, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini: 
(1). Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang tertimpa sebuah musibah, kemudian ia mengucapkan:إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا “Kita milik Allah semata dan sesungguhnya hanya kepada-Nya semata kita kembali. (QS. Al-Baqarah [2]: 156). Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.” Kecuali Allah pasti akan memberinya pahala atas musibah yang menimpanya dan memberinya ganti yang lebih baik dari apa yang telah hilang darinya." Ummu Salamah berkata: “Ketika suami saya Abu Salamah meninggal, saya pun membaca doa tersebut sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Maka Allah menggantikan untukku Abu Salamah dengan orang yang lebih baik, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.” (HR. Muslim no. 918)
(2). Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, “Pada suatu hari suamiku Abu Salamah kembali dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Ia berkata, “Saya telah mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam suatu perkataan yang membuat aku begitu gembira. Beliau bersabda: “Tidaklah sebuah musibah menimpa seorang pun dari kaum muslimin lalu ia beristirja’ (mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’un) saat tertimpa musibah tersebut, kemudian ia mengucapkan: اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا “Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.” Melainkan doa itu akan terlaksana.” Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, “Maka aku pun menghafalkan doa tersebut dari Abu Salamah. Ketika Abu Salamah meninggal, aku pun mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’un dan membaca doa: اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا “Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.” Aku kemudian bertanya-tanya dalam hati, “Dari mana saya mendapatkan ganti yang lebih baik daripada suamiku Abu Salamah?” Ketika masa ‘iddah saya telah habis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam meminta izin bertemu denganku. Saat itu aku sedang menyamak kulit, maka aku pun segera mencuci tanganku dan member izin beliau bertamu. Saya meletakkan sebuah bantal dari kulit yang diisi oleh serabut. Beliau duduk di atas bantal itu dan melamarku.

4. Do'a Yang Diucapkan Ketika Melihat Orang Yang Ditimpa Bala

  1. Diriwayatkan oleh Turmudzi dari Abu Hurairah ra . serta dinyatakannya hasan, bahwa Nabi saw. bersabda: " Barangsiapa menyaksikan orang yang ditimpa bala , lalu diucapkannya:الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً '. Alhamdulillahil ladzi 'afaani mimmab talaka bih, wafadhdhalanii' alaa Katsirin mimman khalaqa tafdhila''(Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari bala yang telah ditimpakan-Nya padamu, dan yang telah mengutamakan diriku dari kebanyakan makhluk-Nya), maka tidaklah akan ditimpa oleh bala tersebut. " 
Berkata  Nawawi: "Menurut para ulama, harus ucapan itu dibacanya secara perlahan - sir - sekira dapat terdengar olehnya tapi tidak sampai terdengar oleh yang ditimpa bala, agar tidak melukai hatinya, kecuali bila ia ditimpa bala itu disebabkan perbuatan maksiat, maka tidak apa terdengar olehnya asal saja ia tidak khawatir akan akibatnya.

Abu Isa berkata; hadits ini adl hadits gharib. Dan dalam bab tersebut terdapat riwayat dari Abu Hurairah, & 'Amr bin Dinar bendahara keluarga Az Zubair, ia adl Syekh dari Bashrah, & ia bukanlah orang yg kuat dalam hadits, & memonopoli hadits-hadits dari Salim bin Abdullah bin Umar. Dan telah diriwayatkan dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali bahwa ia berkata; "Apabila melihat orang yg tertimpa musibah kemudian berlindung darinya, hendaknya ia mengucapkannya di dalam hati & tak memperdengarkan kepada orang yg tertimpa musibah". 
                      سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك                                "Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu. "
Sebarkan !!! insyaalah bermanfaat.
Sumber: 
Fikih Sunnah 4 . Sayyid Saabiq, telah diedit untuk keselarasan.
http://islamiwiki.blogspot.com/2012/04/pengertian-musibah-dalam-agama-islam.html#.VQZBm9KUfWg
http://www.arrahmah.com/read/2012/12/14/25454-doa-saat-terkena-musibah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar