Sabtu, 19 Oktober 2013

Arti, Keutamaan Dan Hikmah Ucapan Shalawat + Salam Buat Rasulullah SAW.

 بسم االلهالرحمن اارحيم
Shalawat adalah bentuk jamak dari kata shalla atau shalat yang berarti: doa , keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah.  Salam : Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan sholawat maka kitapun mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari kekurangan dan dengan shalawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi dan lebih sempurna.
Ada juga yang mengatakan ia berarti taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab:43).


1. Redaksi Kalimah Shalawat

Ada beberapa riwayat shahih yang datang dari Rasulullah Saw. tentang tata cara bershalawat kepada beliau (lihat kitab Shifat Shalat an-Nabi karya asy-Syaikh al-Albani, hlm. 164-167). Di antaranya adalah:
1. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3370) dan Muslim (no. 406) dari Ka'b bin Ujrah ra. Ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam keluar menuju kami lalu kami pun berkata, 'Kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?' Beliau menjawab, "Ucapkanlah:
اللهم صل على محمد كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد
2. Diriwayatkan juga oleh Muslim (no. 405) dari hadits Abu Mas'ud ra . Ia berkata, "Rasulullah saw. datang kepada kami dan kami bersama Sa'd bin Ubadah. Lalu Basyir bin Sa'd berkata kepada beliau, 'Allah Subhaanahu Wa Ta'ala memerintahkan kami bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah. Lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? ' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam pun diam sehingga kami berangan-angan seandainya dia tidak menanyakannya. Lalu beliau bersabda, 'Ucapkanlah:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد


2. Arti Shalawat Dan Salam Untuk Nabi

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓٮِٕڪَتَهُ ۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّۚ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. " (QS Al-Ahzab : 56).
  • Mengatakan Bukhari : "Kata Abul 'Aliyah : Shalawat Allah terhadap Nabi, maksudnya adalah pujian dan sanjungan-Nya terhadapnya di depan Malaikat. Sedang shalawat dari Malaikat berarti doa mereka. 
  • Abu 'Isa Turmudzi: "Diriwayatkan dari Sufyan Tsauri dan beberapa orang anggota: Shalawat Allah itu berarti rahmat , sedang shalawat dari Malaikat berarti permohonan ampun. "
  • Ibnu Kutseir : "Maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah swt. menyatakan kepada hamba-hamba-Nya posisi Nabi-Nya di lingkungan makhluk, cabang atas bahwa ia disanjung oleh Malaikat-Malaikat Muqarrabin dan dimohonkan ampunan oleh mereka, kemudian Allah menitahkan makhluk-makhluk di alam bawah agar juga mengucapkan shalawat dan salam buatnya, sampai dengan demikian akan bertumpuklah puji-pujian dari dua lingkungan sekaligus yakni alam lantai atas dan alam lantai bawah.

4. Hadits Keutamaan Mengucap Shalawat Dan Salam.

  1. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Amar bin Ash ra . bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشر" (Barangsiapa memberi shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan mengucapkan shalawat kepadanya sepuluh kali). "
  2. Diriwayatkan oleh Turmudzi dari Ibnu Mas'ud ra , bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Manusia yang lebih utama di sisiku adalah yang terbanyak mengucapkan salam kepadaku." (Menurut Turmudzi hadits ini hasan). Maksudnya dapat syafa'at darinya, dan posisinya lebih dekat kepada Nabi saw.
  3. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan isnad yang sah dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw.bersabda:
    Artinya: "Saya mendengar Nabi Saw. Bersabda janganlah kamu membuat rumah-rumahmu sebagai kuburan, dan janganlah kamu membuat kuburanku sebagai per-sidangan hari raya. Bershalawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku dimana saja kamu berada."  (HR. Al-Nasâ ' i, Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Nawawi ).
  4. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasa'i dari Aus ra bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya harimu yang paling utama adalah hari Jum'aat, maka perbanyaklah shalwat padaku di hari itu, karena ucapan shalawatmu itu akan dihadapkan kepadaku!" Tanya mereka: "Ya Rasulullah, bagaimana caranya shalawat kami dihadapkan kepada Anda, padahal jasad Anda telah hancur?" Ujar Nabi saw.: "Sesunggunya Allah telah melarang bumi buat menghancurkan jasad para Nabi."
  5. Dalam Sunan Abu Daud ada riwayat dari Abu Hurairah ra dengan isnad yang sah bahwa Rasulullah saw. bersabda: ما من أحد يسلم علي إلا رد الله علي روحي حتى أرد عليه " Setiap orang Islam memberi salam kepadaku, maka Allah akan mengembalikan roh ke tubuhku, hingga aku dapat membalas salamnya itu. "
  6. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Thalhah Anshari , katanya:" عن عبدالله بن ابى طلحة: عن ابيه رضى الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم جاءذات يوم, والبشرى فى وجهه, فقلنا: انالنرى البشرى فى وجهك, فقال: انه اتانى الملك, فقال: يامحمد, امايرضيك انه لايصلى عليك احد الاصليت عليه عشرا, ولا يسلم عليك احد, الاسلمت عليه عشرا    Pada suatu pagi Rasulullah saw. tampak merasa puas dan tanda-tanda kegembiraan terlukis di wajahnya. Maka para sahabat berkata: 'Ya Rasulullah, pada hari ini Anda terlihat senang sekali dan tampak kegembiraan di wajah Anda '! Ujar Nabi: "Memang! Kemarin ada yang datang kepadaku dari Tuhanku, katanya: 'Barangsiapa di antara umatmu memberikan satu shalawat kepadamu, maka Allah akan mencatat baginya sepuluh kebaikan dan menghapus darinya sepuluh kejahatan serta meninggikan derajatnya sepuluh tingkat, dan menjawab shalawatnya itu pula'. " (Menurut Ibnu Kutseir isnad hadits ini dapat diterima).
  7. Diterima dari Abu Hurairah ra . bahwa Nabi saw. bersabda: " من سره أن يكتال بالمكيال الأوفى إذا صلى علينا أهل البيت فليقل:   اللهم صل على محمد النبي الأمي وأزواجه أمهات المؤمنين وذريته وأهل بيته, كما صليت على آل إبراهيم; إنك حميد مجيد".  Siapa yang suka timbngan kebaikannya mendapat imbalan yang lengkap - bila ia mengucapkan shalawat kepada kami Ahlu-bait - maka harus diucapkannya: 'Allahumma shalli' ala Muhammadinin Nabiyyi wa-azwajihi ummahatil mukminina wa dzurriyatihi wa-anggota baitihi kama shallaita 'ala ali Ibrahima innaka hamidum majid '. (Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad yang menjadi nabi itu dan kepada istri-istrinya, ibu-ibu kaum mukminin, beegitupun kepada anak-cucu dan kaum keluarganya, sebagaimana telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia), "(Riwayat Abu Daud dan Nasa'i).
  8. Diterima dari Ubai bin Ka'ab ra , katanya: "Jika telah lewat dua pertiga malam, Rasulullah saw.pun bangun, lalu sabdanya: 'Hai manusia, dzikirlah kepada Allah, dzikirlah kepada Allah! Telah datang tiupan pertama - bunyi nafiri - diiringi tiupan kedua! Telah datang maut dengan segala bawaannya, telah datang maut dengan segala bawaannya '! Lalu saya tanyakan:... يا رسول الله إني أكثر الصلاة عليك فكم أجعل لك من صلاتي? فقال ما شئت قال قلت الربع قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قلت النصف قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قال قلت فالثلثين قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قلت أجعل لك صلاتي كلها قال إذا تكفى همك ويغفر لك ذنبك  (Ya Rasulullah, saya sering membaca shalawat bagi Anda. Maka berapa bagiankah saya pergunakan waktuku untuk shalawat itu? Ujar Nabi: 'Berapa sukamu'! 'Bagaimana kalau seperempatnya'? Ujarnya: 'Berapa sukamu, jika lebih, maka lebih baik'! Tanyaku: 'Bagaimana kalau separonya'? Ujarnya: 'Jika kamu suka, tetapi bila kamu lebihi, maka lebih baik lagi '!' Bagaimana kalu du sepertiganya '? tanyaku pula. 'Terserah padamu dan jika kamu tambahkan, adalah lebih baik lagi'! Kataku akhirnya: 'Akan kugunakan seluruh waktuku yang tersedia itu buat membaca shalawat untuk Anda! "Kalau demikian', ujar Nabi pula, 'itu akan dapat menghilangkan kesusah dan dosamu akan diampuni karenanya')!" (Riwayat Turmudzi) .

5. Hukum Membaca Shalawat di Luar Shalat


Bacaan shalawat, dapat kita golongkan menjadi dua:

Shalawat yang bersifat mutlak, tidak terikat waktu dan tempat

Shalawat muqayad, yaitu shalawat yang disyariatkan di waktu tertentu, atau keadaan tertentu, seperti shalawat ketika shalat.

  • Al-Qodhi Iyadh[1] dalam kitabnya as-Syifa bi Ta’rif Huquq Musthofa mengatakan, “Pahamilah bahwa bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum hukum wajib, yang tidak dibatasi waktu tertentu. Berdasarkan perintah Allah agar kita memberikan shalawat kepada beliau. Dan para ulama memahami perintah ini sebagai perintah wajib. Mereka sepakat akan hal ini. Sementara Abu Ja’far at-Thabari menyatakan bahwa menurutnya ayat ini (ayat shalawat) dipahami sebagai perintah anjuran. Dan beliau mengklaim adanya ijma’ tentang hukum anjuran ini.”Kemudian al-Qodhi Iyadh berkomentar, ”Mungkin maksud beliau adalah membaca shalawat lebih dari sekali. Dan hukum wajib yang bisa menggugurkan beban dosa karena meninggalkan kewajiban hanya berlaku sekali. Sebagaimana persaksian tentang kenabian beliau. Lebih dari itu, hukumnya sunah yang dianjurkan dalam islam.” (as-Syifa bi Ta’rif Huquq Musthofa, 2/140).
  • Selanjutnya, al-Qodhi Iyadh menyebutkan keterangan beberapa ulama, diantaranya al-Qodhi Abul Hasan Ibn al-Qoshor, قَالَ الْقَاضِي أَبُو الْحَسَنِ بْنُ الْقَصَّارِ: الْمَشْهُورُ عَنْ أَصْحَابِنَا أَنَّ ذَلِكَ وَاجِبٌ فِي الْجُمْلَةِ على الإنسان وفرض عليه عَلَيْهِ أَنْ يَأْتِيَ بِهَا مَرَّةً مِنْ دَهْرِهِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى ذَلِكَ Al-Qodhi Abul Hasan Ibn al-Qoshar mengatakan, Pendapat yang masyhur di kalangan ulama kami (Malikiyah) bahwa bershalawat hukumnya wajib untuk dilakukan sekali bagi manusia. Dia wajib membaca shalawat sekali di sepanjang usianya, selama dia mampu untuk melakukannya. Berikutnya, beliau menukil keterangan al-Qodhi Abu Bakr bin Bukair,وَقَالَ الْقَاضِي أَبُو بَكْرِ بْنُ بُكَيْرٍ: افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَى خَلْقِهِ أَنْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا وَلَمْ يَجْعَلْ ذَلِكَ لِوَقْتٍ مَعْلُومٍ. فَالْوَاجِبُ أَنْ يُكْثِرَ الْمَرْءُ مِنْهَا، وَلَا يَغْفُلَ عَنْهَا al-Qodhi Abu Bakr bin Bukair mengatakan, Allah mewajibkan kepada makhluk-Nya untuk bershalawat dan memberi salam kepada Nabi-Nya. Dan Allah tidak menetapkan adanya waktu khusus untuk shalawat. Karena itu, wajib bagi seseorang memperbanyak shalawat dan tidak lalai darinya. Nukilan beliau lainnya, قال القاضي أبو عبد الله محمد بن سعيد: ذهب مَالِكٌ وَأَصْحَابُهُ وَغَيْرُهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فرض بالجملة بقصد الْإِيمَانِ، لَا يَتَعَيَّنُ فِي الصَّلَاةِ. وَأَنَّ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ مَرَّةً وَاحِدَةً مِنْ عُمُرِهِ سَقَطَ الْفَرْضُ عَنْهُ. Al-Qodhi Abu Abdillah Muhammad bin Said mengatakan, Imam Malik dan ulama malikiyah serta yang lainnya berpendapat bahwa bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya wajib secara umum, dalam rangka mengimani beliau. Tidak ada waktu khusus untuk kewajiban shalawat ini. Dan siapa yang membaca shalawat sekali sepanjang usianya, maka gugurlah kewajiban darinya.(as-Syifa bi Ta’rif Huquq Musthofa, 2/141 – 142).Demikian keterangan para ulama madzhab Malikiyah, bahwa membaca shalawat secara umum hukumnya wajib. Yang kami maksud secara umum, shalawat yang bersifat mutlak, tidak terikat waktu dan tempat. Selama seseorang mukmin telah membaca shalawat di sepanjang usianya, kapanpun, dan di manapun, maka telah gugur kewajiban membaca shalawat.
  • Sementara Syafiiyah berpendapat bahwa kewajiban shalawat yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika shalat. Sedangkan di luar shalat, hukumnya tidak wajib.

Allahu a’lam.

[1] Al-Qodhi Iyad bin Musa al-Yahshabi. Lahir di akhir abad ke-5 H di daerah Andalus. Beliau termasuk ulama besar bermadzhab Maliki dan menjadi hakim di berbagai wilayah propinsi. Karena itu, beliau digelari al-Qodhi. Wafat tahun 544 H.
                      سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك        
"Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu. "
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber: Fikih Sunnah 4 , Sayyid Saabiq, telah diedit untuk keselarasan.
http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membaca-shalawat-di-luar-sholat/

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum Wr Wb Ustad

    Kesehatan dan lindungan Allah semoga selalu tercurah kepada kita semua. Amiin. Pak Ustad, Saya mau tanya, terkait untuk pembagian waris dan beban pembiayaan alm. saat sakit menjelang ajal. seorang laki-laki (suami/si X) semasa hidupnya kawin dengan si-Y, mempunyai 2 anak laki-laki dan 3 anak perempuan, dan memiliki harta berupa tanah. si-Y meninggal namun harta bersamanya (harta warisannya) belum dibagi, dua tahun kemudian si-X meninggal, sebelum meninggal si-X sakit-sakitan dan biaya RS maupun perawatan lain ditanggung oleh anak-anaknya yang 2 laki-laki dan 3 anak perempuan tersebut sampai meninggal dan menguburkannya. Setelah suami meninggal ada pihak lain yang menyatakan bahwa dirinya pernah kawin dengan suaminya tersebut dengan keturunan 2 anak laki-laki.(sesuai hukum waris tanpa melihat sah tidaknya perkawinan/tanpa melihat bukti yang mungkin ada dalam status perkawinan si-X dengan istri kedua)
    yang ingin saya tanyakan bagaimana pembagian waris tersebut apakah dibagi waris dengan istri pertama dulu dengan suami mendapat 1/4 bagian, baru dibagi bersama semua ahliwaris (Ps 190 KHI) 1 istri, 4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan dan beban biaya yang telah dikeluarkan saat si-X sakit diperhitungkan dimana, apakah dalam pembagian dengan istri si-Y atau masuk dalam pembagian yang 1/4 bagian harta suami (si-X) sebagai ahliwaris istri si-Y. terimakasih atas saran dan jawabannya. Wassalamu'alaikum wr wb. semoga Allah memberkahi ustad dan keluarga. Amiin.

    BalasHapus
  2. 'Alaikum salam wr. wb.
    Jika bisa dibuktikan telah adanya perkawinan dengan isteri kedua dan memperoleh anak, maka pembagian warisnya:
    1. Menurut Hukum Islam (ilmu faraidh):
    - Ketika isteri meninggal, dibagikanlah semua harta milik isteri untuk suami dan ke -5 anaknya + orang tua isteri jika masih hidup, bagian suami 1/4.
    - Ketika suami meninggal, maka sebelum dibagi waris, ambil dulu untuk seluruh biaya pengobatan, penguburan, dll. yang telah ditalangi anaknya, kecuali para anak telah mengikhlaskan sebagai tanda bakti, maka itu menjadi harta warisan.
    - Ahli waris suami: isteri (kedua) + 4 anak laki +2 anak perempuan +orang tuanya (jika masih hidup).
    2. Menurut KHI:
    Pewaris yang meninggalkan 2 isteri, warsannya dibagikan berdasarkan masa pernikahannya.
    Pasal 190
    Bagi pewaris yang beristeri lebih dari seorang, maka masing-masing isteri berhak mendapat bagian atas gono-gini dari rumah tangga dengan suaminya, sedangkan keseluruhan bagian pewaris adalah menjadi hak para ahli warisnya.
    Wallahu a'lam.

    BalasHapus