Sabtu, 07 September 2013

Syarat Sahnya Pernikahan dan Perihal Saksi

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Pengertian Definisi Perkawinan Sacara bahasa Az-zawaaj adalah kata dalam bahasa arab yang menunjukan arti: bersatunya dua perkara, atau bersatunya ruh dan badan untuk kebangkitan. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya):Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)(Q.S At-Takwir :7).
dan firman-Nya tentang nikmat bagi kaum mukminin di surga, yang artinya mereka disatukan dengan bidadari :
Namun jika dilihat dari segi agama perkawinan itu memiliki, dua cara pengartiannya yaitu:
1. Pengertian secara bahasaAl-nikah yutlaq ‘ala al-wat’ wa ‘ala al-‘aqd dun al-wat’. Kata al-nikah secara umum digunakan dalam makna persetubuhan, namun juga bermakna akad tanpa persetubuhan.
2. Pengertian secara istilahSecara umum Fuqaha’ memberikan definisi perkawinan sebagai berikut: عقد يفيد حل استمتاع كل من العاقدين بالآخر علي الوجه المشروع 
“Sebuah akad yang menghalalkan bagi kedua belah pihak untuk bersenang-senang sesuai dengan syariat.”
Meskipun terdapat definisi lain yang berbeda redaksinya, semua definisi itu memberikan pengertian yang sama, bahwa obyek akad perkawinan adalah memberikan hak untuk bersenang-senang sesuai dengan syariat, sehingga perkawinan itu dipandang oleh manusia dan syariat menjadikan bersenang-senang itu sebagai perbuatan yang halal.
Syarat-syarat perkawinan merupakan dasar bagi sahnya pernikahan. Jika syarat-syaratnya terpenuhi, perkawinannya sah dan menimbulkaan adanya segala kewajiban dan hak-hak perkawinan. Syarat-syaratnya ada 2, yaitu: pertama: perempuannya halal dikawin oleh laki-laki yang ingin menjadikannya isteri. Jadi perempuannya itu bukanlah merupakan orang yang haram dikawini, baik karena haram sementara atau selama-lamanya. kedua: aqad nikahnya dihadiri para saksi.


1. Hukum Mempersaksikan Ijab Qabul

Syarat menjadi saksi: Berakal sehat, dewasa dan mendengarkan omongan dari kedua belah pihak yang beraqad dan memahami bahwa ucapan-ucapannya itu maksudnya adalah sebagi ijab-qabul perkawinan. Jika yang menjadi saksi itu anak-anak atau orang gila atau orang bisu, atau yang sedang mabuk, maka perkawinannya tidak sah, sebab mereka dipandang seperti tidak ada.
Menurut jumhur (mayoritas) ulama, perkawinan yang tidak dihadiri saksi-saksi tidak sah. Ketika ijab qabul tak ada saksi yang menyaksikan, sekalipun diumumkan kepada orang ramai dengan cara lain, perkawinannya tetap tidak sah. Jika para saksi hadir dipesan oleh pihak yang mengadakan aqad nikah agar merahasiakan dan tidak memberitahukannya kepada orang ramai, maka perkawinannya tetap sah.
Alasannya:
  1. Dari Ibnu Abbas r.a.: Rasulullah saw bersabda: البغايا اللاتى ينكحن أنفسهن بغير بينه Artinya: "Pelacur yaitu perempuan-perempuan yang mengawinkan dirinya tanpa saksi." (H.R.Tirmidzi).
  2. Dari 'Aisyah r.a., Rasulullah saw. bersbda: لا نكاح إلا بولي و شاهدى أىعدل Artinya: "Tidak sah perkawinan kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil." (H.R.Daruquthni). 
  3. Dari Abu Zubair Al-Malkkiy, bahwa 'Umar bin Khaththab menerima pengaduan adanya perkawinan yang hanya disaksikan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu jawabnya: "Ini kawin gelap, dan aku tidak membenarkan, dan andaikan saat itu aku hadir, tentu akan kurajam." (H.R.Malik, dalam Al-Muwaththa). Menurut Tirmidzi paham ini dipegang oleh para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in dll, Mereka berkata: Tidak sah perkawinan kecuali dengan saksi-saksi . Pendapat ini tidak ada yang menyalahi kecuali oleh segolongan ulama mutaakhirin.
  4. Karena adanya pihak lain yang turut terlibat di dalam hak kedua belah pihak yang berakad, yaitu anak-anak. Karena itu di dalam aqadnya disyaratkan adanya saksi agar nantinya ayahnya tidak mengingkari keturunannya.

2.Yang Berpendapat Bahwa Perkawinan Tanpa Saksi Tetap Sah

    Golongan syiahAbdur Rahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Ibnul Mundzir, Daud, prakteknya Ibnu Umar dan Ibnu Zubair. Diriwayatkan juga bahwa Hasan bin Ali pernah kawin tanpa saksi-saksi, tapi kemudian ia umumkan perkawinannya.
    Beberapa alasan yang dikemukakan:
    - Ibnu Mundzir : Tidak ada satupun hadits yang sah tentang syarat dua orang saksi dalam perkawinan.
    - Yazid bin Harun: Allah memerintahkan mengadakan saksi dalam urusan jual-beli, bukan dalam perkawinan.

    3. Perempuan Menjadi Saksi

    1. Tidak sah: Golongan Syafi'i dan Hambali mensyaratkan saksi haruslah laki-laki. Aqad nikah dengan saksi seorang laki-laki dan 2 orang perempuan, tidak sah, ssebagaimana riwayat Abu Ubaid dari Zuhri, katanya: Telah berlaku contoh dari Rasulullah saw. bahwa tidak boleh perempuan menjadi saksi dalam urusan pidana, nikah dan talak.
    2. Sah: Golongan Hanafi tidak mengharuskan syarat ini, mereka berpendapat bahwa kesaksian 2 orang laki-laki atau seorang laki-laki dan 2 perempuan sudah sah sebagaimana Allah berfirman: 
    وَٱسۡتَشۡہِدُواْ شَہِيدَيۡنِ مِن رِّجَالِڪُمۡ‌ۖ فَإِن لَّمۡ يَكُونَا رَجُلَيۡنِ فَرَجُلٌ۬ وَٱمۡرَأَتَانِ مِمَّن تَرۡضَوۡنَ مِنَ ٱلشُّہَدَآءِ 
    Artinya: Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu]. Jika tak ada dua orang lelaki, maka [boleh] seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai. (Q.s.Al-Baqarah 282).
    Aqad nikah sama dengan jual-beli, yaitu karena merupakan perjanjian timbal balik ini dianggap sah dengan saksi 2 perempuan di sambping seorang laki-laki.


    4. Harus Orang Islam

    Para ahli fiqh berbeda pendapat tentang syarat-syarat menjadi saksi dalam perkawinan bilamana pasangannya terdiri dari laki-laki dan perempuan muslim. apakah saksinya harus beragama Islam ? juga mereka berbeda pendapat jika yang laki-lakinya beragama Islam, apakah yang menjadi saksi boleh orang yang bukan Islam?
    1. Tidak sah perkawinannya; jika saksi-saksinya bukan orang Islam,, karena yang kawin adalah orang Islam, sedang kesaksian bukan orang Islam terhadap orang Islam tidak dapat diterima (Pendapat Ahmad, Syafi'i, dan Muhammad bin Al-Hasan).
    1. Sah perkawinannya; jika perkawinan itu antara laki-laki muslim dan perempuan Ahli Kitab maka kesaksian 2 orang Ahli Kitab boleh diterima. (Pendapat Abu Hanifah, Abi Yusuf, dan pendapat ini diikuti oleh Undang-Undang Perkawinan Mesir).

    5. Makna Adil Sebagai Syarat Sah Saksi

    Yang dimaksud muslim yang adil adalah muslim yang menjalankan kewajiban dan tidak melakukan dosa besar atau kebohongan.
    1. Hanafiyah berpendapat bahwa sifat adil untuk saksi, bukan syarat. Pernikahan hukumnya sah, meskipun dengan saksi dua orang fasik. Setiap orang yang layak menjadi wali nikah, maka dia layak menjadi saksi. Karena maksud utama adanya saksi adalah pengumuman adanya pernikahan.
    2. Syafi’iyah dan mayoritas ulama berpendapat bahwa saksi dalam urusan manusia harus adil. Berdasarkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
    “Tidak ada nikah kecuali dengan wali (wanita) dan dua saksi yang adil.” (HR. At-Thabrani dalam al-Ausath, Ad-Daruquhni, dan dishahihkan al-Albani).
    Pendapat Sayyid Saabiq:
    Pendapat Hanafiyah lebih kuat. Karena pernikahan berlangsung di masyarakat, di desa, kampung, sementara tidak diketahui status keadilan mereka. Tidak ada jaminan mereka telah lepas dari dosa besar. Sehingga, mempersyaratkan saksi nikah harus orang yang adil, akan sangat memberatkan. Karena itu, cukup dengan melihat penilaian umum pada saksi, tanpa harus mengetahui detail apakah dia pernah melakukan dosa besar atau tidak.
    Kemudian, jika ternyata setelah akad diketahui bahwa ternyata saksi adalah orang fasik, ini tidak mempengaruhi keabsahan akad. Karena penilaian sifat adil dilihat pada keumuman sikapnya, bahwa dirinya bukan orang fasik. Meskipun setelah itu diketahui dia melakukan dosa besar (Fiqhus Sunnah, 2:58).
    Penjelasan Syaikhul Islam :
    Lain dari penjelasan beliau, Syaikhul Islam menjelaskan bahwa kriteria adil dalam masalah saksi, kembali pada standar yang ada di masyarakat. Artinya jika seseorang itu masih dianggap sebagai orang baik-baik di mata masyarakatnya, maka dia layak untuk menjadi saksi, kerena telah memenuhi kriteria adil di masyarakat tersebut, meskipun bisa jadi dia pernah melakukan transaksi riba atau melakukan ghibah. Ini berdasarkan firman Allah :
    وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ
    “Ambillah saksi dua orang laki-laki. Jika tidak ada dua orang laki-laki maka saksi dengan seorang laki-laki dan dua orang wanita, yang kalian relakan (untuk menjadi saksi).(QS. Al-Baqarah: 282).
    Setelah menyebutkan ayat ini, Syaikhul islam mengatakan:
    “Ayat ini menunjukkan bahwa diterima persaksian dalam masalah hak anak Adam dari orang yang mereka ridhai untuk menjadi saksi dalam interaksi diantara mereka, dan tidak harus melihat sifat adilnya. Mereka menerima urusan yang diamanahkan di antara sesama mereka.”
    “Kriteria adil dalam setiap waktu, tempat, dan masyarakat berbeda-beda sesuai dengan keadaan mereka. Karena itu, saksi dalam setiap masyarakat adalah orang yang dianggap baik di tengah mereka. Meskipun andaikan di tempat lain, kriteria adil berbeda lagi. Dengan keterangan ini, memungkinkan untuk ditegakkan hukum di tengah masyarakat. Karena jika yang boleh menjadi saksi dalam setiap masyarakat hanyalah orang yang melakukan semua kewajiban syariat dan menjauhi semua yang haram, sebagaimana yang dulu ada di zaman sahabat, tentu syariat persaksian dalam setiap kasus tidak akan berjalan, semuanya atau umumnya.” (al-Fatawa al-Kubro, 5:574).
    Wallahu a'lam.
                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                             
    “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
    Sumber: 
    Fikih Sunnah 6, Sayyid Saabiq, telah diedit untuk keselarasan.
    http://www.konsultasisyariah.com/syarat-saksi-nikah/

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar