Sabtu, 14 September 2013

Keutamaan Puasa 'Asyura (Muharram) dan Tingkatannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Hari ‘Asyura berasal dari bahasa arab yang artinya hari ke sepuluh di bulan Muharram. Hari ini memiliki keistimewaan tersendiri di dalam islam. Nabi Muhammad saw. biasa berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal serupa.
Keutamaan puasa ini juga sangat besar sehingga Nabi saw. menekankan dalam haditsnya:
" Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram,…" [HR Muslim]
Dan tentang puasa ‘Asyura, pahalanya adalah pengampunan atas dosa setahun sebelumnya: Dari Abu Qatadah radhiallahu anhu
  وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ
Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. [Sunan Abu Dawud].

1. Hadits Tentang Kaidah Puasa 'Asyura

  1. Diterima dari Abu Hurairah r.a katanya:"Ditanyakan orang kepada Rasulullah saw.'Shalat apakah yang lebih utama setelah shalat fardhu '? Ujar Nabi: 'Yaitu shalat di tengah malam'. Tanya mereka lagi:'Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?' Ujar Nabi : 'Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram'." (Riwayat Ahmad, Muslim dan Abu Daud).
  2. Dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan, katanya:"Saya dengar Rasulullah saw. bersabda: 'Hari ini ialah hari 'Asyura, dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Dan saya sekarang berpuasa, maka siapa yang suka, berpuasalah dan siapa yang tidak, berbukalah'!" (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
  3. Dari 'Aisyah r.a., katanya: " Hari 'Asyura asalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa Jahiliyah. Rasulullah juga biasa mempuasakannya, dan tatkala datang di Madinah, ia berpuasaa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka tatkala difardhukan puasa Ramadahan, sabdanya: 'Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa dan siapa yang tidak, ia berbuka'." (Disepakati bersama).
  4. Dari Ibnu Abbas r.a., katanya:"Nabi saw. datang ke Madinah, dan dilihatnya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura. maka tanya Nabi: 'Ada apa ini'? Ujar mereka: 'Hari baik di saat mana Allah membebaskan Nabi Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, hingga dipuasakan oleh Musa', Maka sabda Nabi saw.: 'Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu', lalu beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang agar berpuasa."(Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).Dari Abu Musa Al-'Asy'ari r.a., katanya: "Hari 'Asyura itu dibesarkan oleh orang Yahudi dan merekea jadikan seagai hari raya. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: 'Puasakanlah hari itu oleh kamu sendiri'!" (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
  5. Diterima dari Ibnu Abbas r.a., katanya: "Tatkala Rasulullah saw. berpuasa pada hari 'Asyura dan menitahkan orang agar mempuasakannya, mereka berkata: 'Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Maka ujar Nabi: 'Jika datang tahun depan, - isnyaallah - kita berpuasa pad hari ke sembilan'" kata Ibnu Abbas: "Maka belum lagi datang tahun depan itu, Rasulullah saw. pun wafatlah." (H.R. Muslim dan Abu Darda'). Dan pas satu riwayat, kalimatnya berbunya: " Maka ujar Rasulullah: 'Seandainya saya masih ada hingga tahun depan, maka saya akan berpuasa pada hari ke sembilan' - yakni bersama hari 'Asyura -."(H.R.Ahmad dan Muslim).
Para ulama menyebutkan bahwa puasa 'Asyura itu ada tiga tingkat:
Tingkat pertama: berpuasa selama 3 hari, yaitu hari/tangal  ke-9, ke-10  dan ke-11.
Tingkat kedua: berpuasa pada hari ke-9 dan ke-10. 
Tingkat ketiga: berpuasa hanya pada hari ke-10 saja.

2. Makna Pahala Besar Amalan Sunnah

Diterima dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari 'Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu." (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Asy-Sya'b, dan oleh Ibnu Abdil Bar).
Hadits tersebut mempunyai jalan-jalan lain, tetapi semuanya lemah. Hanya bila sebagian digabungkan kepada lainnya, maka ia akan bertambah kuat sebagaimana dikatakan oleh Sakhawi.
Jangan Sampai Tertipu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
Antara shalat 5 waktu (shalat fardhu ke shalat fardhu berikutnya), jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan ke ramadhan berikutnya, bisa menjadi kafarah (penebus dosa) yang dilakukan diantara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi. (HR. Ahmad 9197 & Muslim 233).
Dengan menimbang hadits di atas, mari kita perhatikan keterangan Ibnul Qoyim berikut,
  • Banyak orang yang merasa puasa asyura menghapuskan dosa-dosa satu tahun penuh, sehingga masih menyisakan puasa arafah yang akan menjadi tambahan pahala. Sayangnya orang yang tertipu (dengan banyaknya pahala) ini tidak menyadari bahwa puasa ramadhan, shalat 5 waktu, pahalanya lebih besar dan nilainya lebih mulia dibandingkan puasa arafah dan puasa asyura yang hanya bernilai sunah. Padahal amal-amal besar tadi (shalat 5 waktu, puasa ramadhan) hanya bisa menghapuskan dosa selama dosa besar dijauhi.
  • Betapa puasa ramadhan sampai ramadhan berikutnya, jumatan sampai jumatan berikutnya, tidak mampu menghilangkan dosa-dosa kecil kecuali diiringi dengan tindakan meninggalkan dosa-dosa besar. sehingga dengan dua unsur ini, amal besar tersebut mampu menghapus dosa-dosa kecil. (Al-Jawab Al-Kafi, hlm. 13).
  • Karena itu, bagaimana mungkin puasa sunnah sehari mampu menghapus seluruh dosa besar yang pernah dilakukan oleh seorang hamba, sementara dia masih berlum bertaubat darinya? Ini satu hal yang mustahil! Meskipun bisa jadi puasa arafah dan puasa asyura bisa menjadi penghapus seluruh dosa secara umum, sementara dalil yang isinya ancaman menjadi syarat dan penghalang terhapusnya dosa, kemudian tidak bertaubat dari dosa besar bisa menjadi penghalang terhapusnya dosa yang lain. Sehingga bertaubat dari dosa dan puasa asyura bisa saling membantu untuk menjadi penghapus dosa secara umum, sebagaimana shalat 5 waktu, puasa ramadhan, dan sikap meninggalkan dosa besar bisa saling membantu untuk menghapuskan dosa kecil…. Sehingga bentuk penghapusan dosa dengan melakukan dua sebab, akan lebih kuat dan lebih sempurna jika hanya melakukan satu sebab. (Al-Jawab Al-Kafi, hlm. 13). wallahu a'lam.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaaallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah 3, Sayyid Saabiq, dan sumber-sumber lain yang telah diedit untuk keselarasan.

http://www.konsultasisyariah.com/hari-asyura-amalan-dan-keutamannya/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar