Senin, 02 September 2013

Kadar Berqurban dan Pembagian Daging Qurban

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Di beberapa tempat penyelenggara Qurban masih banyak dijumpai panitia membagikan daging kurban terfokus hanya untuk golongan fakir-miskin, sementara yang berqurban pun jika menghendaki bagian, hanya dikasih "jatah" sekedarnya, misalnya 1 paha. Di bagian lain masih ada yang menganggap bahwa orang yang berqurban tidak boleh memakan daging hewan kurbannya. Begitulah jadinya kalau kaidah agama ditafsirkan dengan akal belaka, tanpa mau melihat pada sumber hukum yang mengaturnya. Pertanyaannya: Bagaimana kaidah qurban I'edul Adha yang sesuai tuntunan sunnah? Bolehkah memakan daging hewan Qurban sendiri ?


1. Berqurban pada Masa Rasulullah dan Sahabat

Jika orang berqurban dengan satu kambing Jawa atau domba, ini berarti sudah dianggap memadai untuknya dan untuk keluarga seisi rumahnya. Dahulu para sahabat r.a. berqurban dengan seekor domba untuknya dan untuk keluarga seisi rumahnya. Karena ia fardhu kifayah. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu Ayyub berkata: "Pada zaman Rasulullah saw. orang berqurban dengan seekor domba untuknya dan untuk keluarga seisi rumahnya. Mereka memakan dan mereka berikan orang lain sampai manusia merasa senang (lega), sehingga mereka menjadi seperti yang kau lihat."


2. Qurban patungan

Kurban adalah termasuk ritual ibadah mahdhah, yaitu terikat dengan tata cara dan aturan yang baku. Sehingga kita tidak dibenarkan melakukan terlalu banyak improvisasi di dalamnya. Sebab bisa jadi malah merusak ritualitas ibadah tersebut, yang sering diisitlahkan oleh para ulama dengan sebutan: tidak sah. Misalnya masalah patungan untuk membeli hewan qurban, secara tegas memang sudah ada aturan baku yang turun dari langit. Peraturan itu bersifat sakral dan tidak boleh diotak-atik lagi.
Dahulu Rasulullah SAW telah menyampaikannya dengan terang kepada para shahabat, lalu praktek seperti itu telah dilakukan selama ribuan tahun oleh umat Islam hingga hari ini. Khusus masalah patungan atau biasa disebut dengan istilah musyarakah, ada ketentuan resmi dimana dibolehkan untuk menyembelih sapi, kerbau atau unta bersama-sama sebanyak 7 orang dan tidak boleh lebih dari itu.  Jadi kalau pun ada urunan atau patungan, maka harus ditetapkan hanya tujuh orang saja, tidak boleh lebih dari itu. Dan hewannya tidak boleh kambing, harus sapi, kerbau atau unta. Demikianlah Rasulullah SAW mengajarkan aturan ritual kepada kita.
Di dalam berqurban dibolehkan bergabung, jika binatang qurban itu berupa unta atau sapi. Untuk sapi dan unta berlaku buat tujuh orang, jika mereka semua bermaksud berqurban dan bertaqarrub kepada Allah. Diriwayatkan oleh Jabir, ia berkata: Kami menyebelih qurban bersama dengan Nabi di Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang, begitu juga sapi." (Demikian menurut riwayat Muslim, Abu Daud dan  At-Tirmidzi).


3. Pembagian Daging Qurban

  • Dianjurkan turut makan. Di sunnahkan bagi orang yang berkurban memakan daging qurban dan menghadiahkannya kepada para kerabat, dan menyedekahkannya kepada orang-orang fakir. Rasulullah saw. bersabda: كلو و أطعموا وا د خروا  "Makanlah dan berilah makan kepada tamu dan simpanlah." 
  • Disedekahkan sepertiganya. Dalam kaitan ini para ulama mengatakan : Yang paling afdhal bahwa ia memakan sepertiga, bersedekah sepertiga dan menyimpan sepertiga. 
  • Tidak boleh dijual. Daging qurban boleh diangkut sekalipun ke negara lain. Tetapi tidak boleh dijual, begitu juga kulitnya. Dan tidak memberi tukang potong daging sebagai upah. Tukang potong berhak menerimanya sebagai imbalan kerja. Orang yang berqurban bersedekah dan boleh mengambil daripadanya untuk dimanfaatkan. 
  • Pendapat Abu Hanifah. Menurut Abu Hanifah, bahwa boleh menjual kulitnya dan bayarannya disedekahkan atau membelikannya barang yang bermanfaat untuk umum.

4. Orang Yang Berqurban Menyembelih Sendiri

  • Disunnahkan menyembelih sendiri. Orang yang berqurban yang pandai menyembelih disunnahkan menyembelih sendiri binatang qurbannya.
  • Do'a waktu meyembelih. Disunnahkan membaca: بسم الله و الله أكبر ،اللهم هذا عن فلان (Bismillahi Wallahu Akbar, Allahumma, hadzaa 'an.....) Artinya: Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah, qurban ini dari si.....(sebut namanya)Karena Rasulullah saw. menyembelih seekor kambing kibasy dan membaca: بسم الله و الله أكبر ،اللهم هذاعني و عن من لم يضح من امتي  "Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma hadza 'anni wa 'an man lam yudhahhi min ummati." (Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah, sesungguhnya ini dariku dan dari ummatku yang belum berqurban.")
  • Menghadiri dan menyaksikan pemotongan. Jika orang yang berqurban tidak pandai menyembelih, dia hendaknya menghadiri dan menyaksikan penyembelihannya. Rasulullah saw. bersabda: "Hai Fathimah, bangunlah. Dan saksikanlah  qurbanmu. Karena setiap tetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kaulakukan. Dan bacalah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku - qurbanku - hidupku dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan untuk itu aku diperintah. Dan aku adalah orang yang pertama-pertama menyerahkan diri kepada Allah." Seseorang sahabat lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ini untukkmu dan khusus keluargamu atau untuk kaum Muslimin secara umum?" Rasulullah saw. menjawab: "Bahkan untuk kaum Muslimin umumnya."

5. Hikmah Berkurban


  • Al-Ikhlaasu Fil-‘Amal. Ibadah kurban merupakan pendidikan keikhlasan dalam beramal. Niat kurban itu hanya untuk dan demi menuju ridha Allah semata (Taujiihul ‘Ibaadah Libtighaai Mardhootillaah). Tidak boleh disertai kepentingan lain, selain lillahi rabbil’alamin. Syi’ar kurban bukan ajang pamer kekayaan dan kemewahan, melainkan kebanggaan dan keunggulan beribadah yang ditujukan hanya untuk Allah Yang Maha Kaya, sebagaimana bunyi do’a: “Warzuqnaa wa anta khairur-raaziqiin,Ya Allah, beri kami rezeki, sebab Engkau adalah sebaik-baik Pemberi Rezeki.” (QS. Al-Maidah: 114). Allah ingin menanamkan pembelajaran motivasi pada kita semua, agar melepaskan baju kepentingan apapun, di luar kepentingan Tauhidullah semata. Dan ini tercermin dalam do’a kurban:”Bismillaahi Walloohu Akbar, Alloohumma minka walaka,Alloohumma Taqobbal Minnii.(Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah! Ini dari-Mu dan hanya untuk-Mu. Ya Allah! Terimalah kurban ini dariku).” Seorang Muslim yang berkurban pada setiap tahunnya berarti ia telah melakukan sebuah latihan beramal yang diliputi oleh rasa ikhlas. Ikhlas dalam beramal merupakan salah satu kunci dalam beribadah kurban, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Teladan Nabi Ibrahim adalah merupakan sebuah contoh yang sangat monumental yang patut ditiru oleh generasi Muslim sepanjang zaman. Perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim serta anak beliau Nabi Ismail yang berjuang menaklukkan godaan syaitan. Syaitan membujuk mereka supaya mengurungkan perintah Allah dengan tidak perlu menyembelih putera tersayang Ismail yang remaja belia yang diharapkan menjadi pengganti dan penerus cita-cita menegakkan dan mendakwahkan kalimat tauhid yang menjadi inti aqidah Islam.Kalau bukan karena kecintaan Allah SWT dan keyakinan yang mendalam atas keagungan dan kebesaran serta rahmatNya, maka mustahil seseorang mampu mengorbankan sesuatu yang berharga yang merupakan milik satu-satuya yang dimilikinya. Inilah puncak kecintaan dan ketulusan kepada Allah, yang sekaligus merupakan bukti nyata Nabi Ibrahim a.s yang telah benar-benar lulus menghadapi ujian yang sangat serius dari Allah. Kenyataan ini menjadi contoh teladan yang baik sekali bagi manusia dan kemanusiaan yang secara fitrah manusia itu cenderung kepada penghambaan diri hanya kepada Allah, yang dimanifestasikan dalam bentuk ibadah. Karena untuk kepentingan beribadah itulah manusia itu diciptakan oleh Allah. Dan dengan jiwa keibadahan itulah manusia mampu mencapai kesucian jiwa. 
  • Al-Ihsaan Fil-Udlhiyyah. Dalam praktek penyembelihan kurban ini ada tujuan ihsan, antara lain dengan menyayangi binatang, seperti dalam hadits Syaddab bin Aus Al Anshari ra, Shahih Muslim (3:1548), Nabi SAW menyuruh untuk berlaku ihsan terhadap semua makhluk Allah, yang hidup maupun yang sudah mati, manusia maupun binatang. Penyembelih atau tukang potong tidak boleh menakut-nakuti hewan sembelihan, pisaunya harus tajam, tidak boleh menyakiti hewan kurban dengan mengambil sebagian dari dagingnya sebelum disembelih, sembelihlah binatang itu dengan baik.
  • Idzhaarul Manaafi’ Duniawiyyah wal Ukhrawiyyah, yakni tujuan menampakkan manfaat duniawi dan ukhrawi dari inti-inti ajaran Islam, seperti tujuan kesehatan pada menyedekahkan dagingnya, tujuan ekonomi pada pembelian hewan, tujuan budaya pada kedatangannya setiap tahun, tujuan sosial pada berhimpunnya banyak jama’ah saat penyembelihan dan pembagian dagingnya, dan sebagainya. Dalam kurban, nilai-nilai solidaritas sosial betul-betul nampak. Setiap insan harus saling mengasihi dan menyayangi, peduli terhadap orang lain, dan membantu orang-orang yang tidak mampu. Manusia adalah makhluk zon politicon, yaitu makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, ia membutuhkan bantuan orang lain.Dengan berkurban berarti kita sudah peduli dengan lingkungan sekitar kita, khususnya bagi mereka yang hampir sepanjang tahunnya tidak mampu menikmati daging, karena tergolong fakir atau miskin. Berkurban berarti ikut membantu beban penderitaan orang lain yang lagi kesusahan. Mungkin saatnyalah kita senantiasa berempati kepada sesama agar hidup ini penuh berkah dan berarti bagi diri sendiri, orang lain dan tentunya bagi Allah SWT.
  • Al-Quwwatu Fil-‘Aqiidah. Dengan menyembelih hewan kurban, kita diingatkan untuk selalu menyebut asma Allah sambil mengenang jejak sejarah anak Nabi Adam dan napak tilas nilai perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim dengan isteri dan anaknya, sekaligus nilai sejarah Masy’aril Haram dari ‘Arafah, Mudzdalifah, Mina dan tempat bersejarah lainnya. Dengan senantiasa menyebut nama Allah, keyakinan kita terhadap-Nya semakin kuat. Dimana dan kapan pun berada, kita selalu mengingat-NyA.
  • Al-Idzhaabu Shifaati Hayawaan. Kurban mendidik manusia untuk menghilangkan sifat-sifat kebinatangan, seperti rakus, tamak, dan lain-lain. Di samping itu, pekerjaan atau profesi yang menjurus kepada kemaksiatan sehingga pelakunya sering dipanggil dengan idiom-idiom atau jargon-jargon binatang harus dihindari. Penyebutan panggilan tersebut contohnya: lelaki hidung belang (sebutan bagi lelaki yang suka berzina), kupu-kupu malam (sebutan bagi perempuan pelacur/pezina), lintah darat (sebutan bagi para rentenir), buaya darat (sebutan bagi lelaki/perempuan gombal yang suka berbohong/berdusta/bersilat lidah), tikus-tikus kantor (sebutan bagi orang yang suka korupsi). Sebutan-sebutan tersebut identik dengan dosa dan kemaksiatan, maka wajib bagi umat Islam untuk menjauhinya. 
  • Idzhaaruut Taqwa Ilallaah. Kurban merupakan perwujudan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Implementasi dari rasa dan sikap umat untuk mengerjakan perintah-Nya. Firman-Nya dalam SuratAl-Hajj ayat 37: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                                 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                            "Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Fikih Sunnah 13, Sayyid Saabiq, telah diedit untuk keselarasan.
https://soetrisnoismail.wordpress.com/2012/07/17/sejarah-qurban-dan-mutiara-hikmahnya/

2 komentar:

  1. blognya bagus...
    tapi mau tanyaa
    daging kurban itu sebaiknya dibagikan dalm bentuk apa ??
    makasih atas jawabanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blog ini biasa saja, Sesuai namanya, umumnya dalam bentuk daging mentah, lain kalau aqiqah, maka ia dibagikan dalam bentuk yang sudah dimasak, terima kasih kembali.

      Hapus