Minggu, 01 September 2013

Jenis dan Kriteria Binatang Yang Diperbolehkan Untuk Qurban

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Belakangan ini semangat kaum muslimin berqurban hewan sembelihan pada hari raya I'edul Adha dirasa terus meningkat. Hal ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kesadaran yang semakin meningkat pula. Namun demikian, perkembangan yang baik ini juga harus dibarengi dengan meningkatnya pengetahuan, dalam hal ini tentang masalah kurban, agar niat dan amalnya dilandasi dengan ilmu yang benar, dan itulah yang Allah janjikan akan diterima amalnya, amin. Berikut akan saya tambahkan  beberapa hal terkait dengan ibadah qurban, selamat membaca.
Jenis binatang yang boleh dikurbankan adalah : Unta, sapi dan kambing. Untuk selain yang tiga jenis ini tidak diperbolehkan. Firman Allah swt.:
                                                                                       لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ‌ۗ
Artinya: supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka,... (Q.S.Al-Hajj: 34).

1. Usia Minimal Hewan Qurban

no. Jenis hewan Usia minimal
1. Domba         Genap 6 bulan, masuk bulan ketujuh.
2. Kambing      Genap 1 tahun, masuk tahun kedua.
3. Sapi             Genap 2 tahun, masuk tahun ketiga.
4. Unta             Genap 5 tahun, masuk tahun keenam.
Tabel di atas sesuai dengan hadis riwayat Muslim.
  • Perbandingan domba dan kambing. Dalil Hadis dari Mujasyi’ bin mas’ud r.a, bahwa Nabi saw, bersabda, “Sesungguhnya domba usia 6 bulan nilainya sama dengan kambing usia 1 tahun.” (HR. Abu daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani).
  • Serba Hitam. Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta domba bertanduk, menginjak sesuatu yang hitam, duduk di atas yang hitam, dan melihat dengan sesuatu yang hitam. Kemudian beliau diberi hewan dengan ciri tersebut dan beliau gunakan untuk berqurban. (HR. Muslim). keterangan: maksud “menginjak sesuatu yang hitam, duduk di atas yang hitam, dan melilhat dengan sesuatu yang hitam” : kaki-kaki, sekitar mata, dan perutnya berwarna hitam.
  • Contoh kurban Nabi saw. Dari ‘Aisyah dan Abu Hurairah radliallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin berkurban, kemudian membeli dua ekor domba yang besar, gemuk, bertanduk, berwarna putih bercampur hitam, dan dikebiri. Kemudian ia menyembelihnya…(HR. Ibnu Majah dan dishahihkan Al- Albani).
  • Umur Minimal. Dan dianggap memadai berqurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing jawa yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, unta yang berumur lima tahun. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antar jantan dan betina, berdasarkan : 
  1. Riwayat Ahmad  dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda :     نعمة الأضحية الجذع من الضأن  "Binatang qurban yang paling bagus adalah jadza' kambing." (Menurut Imam Hanafi Jadza' adalah kambing/domba yang berumur beberapa bulan. Menurut Asy-Syafi'i yang berumur 1 tahun, ini yang tershahih).
  2. Uqbah bin Amir berkata: Kutanyakan : قلت يا رسول إلله أ صابني جذع . قال : ضح به   "Wahai Rasulullah saw., aku punya jadza'." Rasulullah saw. menjawab: "Berqurbanlah dengannya." (H.R.Bukhari dan Muslim).
  3. Muslim meriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah kalian mengqurbankan binatang keduali yang berumur satu tahun ke atas, jika itu menyulitkanmu, maka sembelihlah yang jadza' domba."
Dan yang berumur tua adalah: 
  • Qurban unta, untuknya yang berusia 5 tahun.
  • Sapi yang berumur 2 tahun. 
  • Kambing Jawa yang berumur 1 tahun. 
  • Kambing domba yang berumur 1 tahun atau beberapa bulan. 
Berbeda dengan yang disebutkan oleh para imam, Yang berumur disebut Tsaniyyah.


2. Berqurban dengan Kambing Yang Dikebiri

Pengertian kebiri pada kambing adalah kambing jantan yg biji zakarnya telah diambil, biasanya untuk dijadikan kambing potong.
Tidak mengapa berqurban dengan kambing yang dikebiri, Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abi Rafi', bahwa Rasulullah saw berqurban dengan dua ekor kambing qibasy yang keduanya berwarna putih bercampur hitam lagi dikebiri, karena dagingnya lebih enak dan lebih lezat.
وَيُجْزِئُ خَصِيٌّ وَمَوْجُوءٌ أَيْ مَرْضُوضُ عُرُوقِ الْبَيْضَتَيْنِ لِأَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ مَوْجُوءَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَلِأَنَّ ذلك يَزِيدُ اللَّحْمَ طِيبًا وَكَثْرَةً وَبِهِ يَنْجَبِرُ ما فَاتَ من الْبَيْضَتَيْنِ مع أَنَّهُمَا لَا يُؤْكَلَانِ عَادَةً بِخِلَافِ الْأُذُنِ
Dan mencukupi berkurban dengan hewan yang dikebiri dan putus buah pelirnya “karena Nabi SAW berkurban dengan dua kambing domba dan terputus pelir keduanya” (HR. Al-Hakim) dan sebab yang demikian menjadikan daging semakin enak dan banyak yang dengannya terganti dua buah pelirnya yang hilang karena keduanya menurut kebiasaannya tidak dimakan berbeda dengan telinga.
Asna al-Mathoolib I/535

3. Binatang Yang Tidak Boleh DiQurbankan

Dari Al Barra’ bin Azib r.a, sesungguhnya Nabi saw. bersabda sambil berisyarat dengan tangannya demikian (empat jari terbuka): “Ada empat cacat yang tidak boleh dalam hewan Kurban: buta sebelah matanya dan jelas butanya, sakit dan jelas sakitnya, pincang dan jelas pincangnya, dan sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.Al Barra’ mengatakan, “Apapun ciri binatang yang tidak kamu sukai maka tinggalkanlah dan jangan haramkan untuk orang lain. (HR. An-Nasa’i, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).
Syarat-syarat binatang yang boleh diqurbankan adalah bebas dari aib, karena itu tidak boleh berqurban dengan binatang yang aib (terlihat jelas/tampak dan mengurangi daging). Misalnya:
  1. Yang penyakitnya terlihat dengan jelas.
  2. Yang picak, dan jelas terlihat kepicakannya.
  3. Yang pincang sekali.
  4. Yang sumsum tulangnya tidak ada, karena saking kurusnya. Rasulullah saw. bersabda: "Ada empat penyakit pad binatang qurban yang dengannya qurban tidak memadai: yaitu yang picak dan kepicakannya nampak sekali, dan yang sakit dan penyakitnya terlihat sekali, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali."(Riwayat At-Tirmidzi, dan ia mengatakannya hadits ini hasan shahih). 
  5. Yang cacat (tekel); yaitu yang telinga dan tanduknya sebagian besar hilang. 
Ketentuan lain sesudah yang lima di atas adalah:
Hatma  (ompong gigi depannya, seluruhnya)
Ashma (kulit tanduknya pecah).
'Umya   (buta).
Taula    (yang mencari makan di perkebunan, tidak digembalakan) dan
Jerba   ( yang banyak penyakit kudisnya).
Dan tidak mengapa dengan yang : tak bersuara (bisu), yang buntutnya terputus, yang bunting, dan yang tidak ada sebagian telinga atau sebagian besar bokongnya tidak ada. Menurut yang tershahih dalam mazhab Asy-Syafi'i, bahwa bokong/pantatnya terputus , tidak memadai, begitu juga yang mammae (puting susu)-nya tidak ada, karena hilangnya sebagian organ yang dapat dimakan. Demikian juga yang ekornya putus, Asy-Syafi'i mengatakan: "Kami tidak memperoleh hadits tentang gigi sama sekali."


4. Waktu Penyembelihan

Untuk qurban disyaratkan tidak disembelih sesudah terbit matahari pada hari 'Ied. Tetapi setelah lewat beberapa saat, seukuran shalat 'Ied. Sesudah itu boleh menyembelihnya di hari mana saja yang termasuk hari tiga, baik malam atau siang. Dan setelah tiga hari tersebut tidak ada lagi waktu penyembelihannya.
  • Dari Al-Barra r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda: "Sesungguhnya awal hari kita ini (hari raya 'Ied) adalah bahwa kita shalat, kemudian kita kembali dan memotong qurban. Siapa yang melakukan itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan siapa yang menyembelih sebelum itu, adalah sembelihan yang dagingnya ia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah (qurban) sama sekali."
  • Abu Bardah berkata: Pada hari nahar, Rasulullah saw. berkhotbah di hadapan kami, beliau bersabda:"Siapa yang bershalat sesuai dengan shalat kami, dan menghadap ke kiblat kami, dan beribadah dengan cara ibadah kami, mak ia tidak menyembelih qurban sebelum ia shalat."
  • Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Rasulullah saw., beliau bersabda: "Siapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya. Dan siapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khotbah, sungguh ibadahnya ia telah sempurnakan dan ia mendapat sunnah kaum Muslimin. 
         ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ              
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga bermanfaat.
Sumber: 
Fikih Sunnah 13,Sayyid Saabiq, telah diedit untuk keselarasan.
http://www.konsultasisyariah.com/kriteria-hewan-kurban/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar