Jumat, 20 September 2013

Hukuman Mati Bagi Pengedar Narkoba Sudah Sesuai Syari'at Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalah-artikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya. Kejahatan narkoba kian waktu terus meningkat, korban pun terus berjatuhan, menurut data BNN dalam satu hari ada 50 orang meninggal akibat narkoba atau 18.000 pertahun. Kalau terus dibiarkan dan tidak diambil langkah tegas, niscaya kejahatan narkoba akan memiliki jaringan yang semakin kuat dan susah diberantas lagi. Alhamdulillah, sekarang pemerintah sudah menyadari bahaya ini, dan langsung bergerak dengan mencanangkan hukuman mati bagi para pengedar dan penyelundup itu, yakni dengan diberlakukannya hukuman mati bagi para penjahat narkoba. Tahap pertama telah dieksekusi 6 orang, 5 warga asing dan sati WNI, berikutnya akan menyusul 10 orang yang juga tinggal menunggu hari "H" eksekusi setelah permohonan grasinya ditolak Presiden Jokowi. Bahkan presiden telah berjanji tidak ada grasi untuk penjahat narkoba, termasuk untuk 2 WN Australia yang tergabung dalan kelompok "Bali Nine" yang pemerintahnya gencar mengadakan tekanan. Maju terus....
Permasalahannya, apakah hukuman mati untuk para pengedar itu sesuai dengan kaidah hukum Islam ?
Mari kita telusuri data dan fatwa berikut, agar kita objektif dalam memberi penilaian.


1. Indonesia Menghukum Mati 6 Pengedar Narkoba

Berikut adalah cuplikan berita yang saya kutip dari www.voaindonesia.com:
Pemerintah telah menghukum tembak mati lima warga asing dan satu perempuan warga negara Indonesia yang dipidana atas penyelundupan narkoba sebagai upaya menumpas perdagangan narkoba yang sedang meningkat.
Empat laki-laki asal Brazil, Malawi, Nigeria dan Belanda serta perempuan itu dieksekusi Sabtu tengah malam (17/1), beberapa kilometer dari sebuah penjara dengan tingkat keamanan maksimal di Nusa Kambangan.
Satu perempuan dari Vietnam dieksekusi di Boyolali, menurut juru bicara kantor Kejaksaan Agung Tony Spontana.
Jenazah mereka lalu diangkut dengan ambulans Minggu dini hari untuk dikubur atau dikremasi sesuai permintaan kerabat dan kedutaan asing perwakilan mereka. Presiden Joko Widodo Desember menolak grasi bagi para terpidana itu meskipun diminta langsung oleh pemimpin negara asal mereka. Jaksa Agung Muhammad Prasetyo mengatakan tidak ada keringanan bagi pedagang narkoba dan berharap hukuman mati itu akan memiliki efek jera. Ia menambahkan presiden juga tidak akan memberikan grasi bagi 64 terpidana narkoba lain yang telah divonis hukuman mati. Jaksa Agung mengatakan 40 hingga 50 orang tewas setiap hari akibat narkoba di Indonesia, menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN). Perdagangan narkoba telah menyebar ke banyak wilayah, katanya, termasuk desa-desa terpencil dimana korbannya adalah orang muda.
Indonesia telah menjadi pasar terbesar di Asia Tenggara dengan 45 persen dari total peredaran narkoba di kawasan tersebut, kata Jaksa Agung. Lebih dari 138 orang kini menanti hukuman mati, kebanyakan dalam kasus narkoba, dan sekitar sepertiganya adalah orang asing menurut kantor berita Associated Press.


2. Data Peredaran Narkoba 2012

Sindikat peredaran narkoba di Indonesia sepanjang tahun 2012 meningkat tajam. Hal itu sebagaimana terekam dalam data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri, dimana peredaran narkoba jenis sabu meroket hingga 343 persen. 
"Sepanjang 2012 ini hasil pengungkapan hampir keseluruhannya adalah barang yang diselundupkan dari luar negeri ke Indonesia. Artinya ada perubahan modus operandi," ujar Direktur IV Narkotika Mabes Polri, Brigjen Arman Depari, di kantornya Jl Cawang, Jakarta Timur, Kamis (20/12).Menurut Arman, kenaikan paling signifikan adalah pada peredaran narkoba jenis Amphetamine Type Simultan (ATS), seperti ekstasi dan sabu. Berdasarkan data Mabes Polri, peredaran narkoba jenis sabu di Indonesia sepanjang tahun 2011 hanya mencapai 433.868 gram. Angkanya melonjak drastis pada 2012 menjadi 1.924.856 gram atau 1,9 ton. Artinya ada peningkatan mencapai 343 persen. Polisi juga mengendus adanya perubahan sistem peredaran narkoba jenis ini. Pada tahun 2011, kata Arman, peredaran narkoba jenis ini menggunakan laboratorium atau pabrikan yang ada di Indonesia. Namun, saat ini, peredaran narkoba jenis ini berubah dengan sistem impor atau diselundupkan ke dalam negeri. "Pada 2011 ditemukan 780.885 butir ekstasi, namun pada tahun 2012 ditemukan 2.835.324 butir yang siap edar di Indonesia, artinya ada kenaikan jumlah sekira 263 persen," tambahnya. Arman mengatakan, narkoba banyak didatangkan dari para tersangka warga negara asing, seperti Afrika Barat, China, Iran, Malaysia, India, Pakistan, Afhganistan, dan Belanda. "Yang tentu berkolaborasi dengan sindikat lokal di daerah, maupun nasional," jelasnya.


3. Produsen dan Pengedar Barang haram Dimata Hukum Islam

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 10 Februari 1976 telah menetapkan  fatwa haram terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkotika. Para ulama berpendapat bahwa mengedarkan dan menyalahgunakan narkotika dan semacamnya akan membawa kemudharatan. Selain itu, peredaran gelap penyalahgunaan narkotika juga bisa mengakibatkan rusaknya mental dan fisik seseorang, serta dapat mengancam keamanan masyarakat dan ketahanan nasional. 
Fakta menunjukkan, sekitar 15 ribu orang  setiap tahun  tewas sia-sia,  akibat mengkonsumsi narkotika. Tak hanya membuat belasan ribu jiwa melayang, peredaran dan penyalahgunaan narkotika pun telah membuat bangsa ini mengalami kerugian sebesar Rp 32,4 triliun pada 2008. Tak heran bila dalam fatwanya,  MUI menuntut agar para penjual, pengedar dan penyelundup narkoba dihukum seberat-beratnya hingga hukuman mati.
  • Pro hukuman mati. Para ulama pun meminta agar aparat keamanan dan pihak-pihak berwenangan yang turut memudahkan dan membiarkan peredaran narkoba dihukum seberat-beratnya. Para ulama secara jelas dan tegas mendukung penerapan pidana mati bagi sindikat dan produsen narkotika, termasuk oknum aparat hukum yang bermain.
  • Upaya pencegahan. Sejak tiga dasawarsa silam, para ulama juga telah mengusulkan diterbitkannya peraturan-peraturan yang lebih keras dan sanksi yang lebih berat terhadap sindikat peredaran narkotika.  Yang lebih penting lagi, para ulama juga mendorong dilakukannya usaha-usaha preventif dengan dibuatnya undang-undang mengenai penggunaan dan penyalahgunaan narkotika.
  • Fatwa haram MUI. Pada 2 September 1996, Komisi Fatwa MUI juga telah menetapkan fatwa bahwa menyalahgunakan ekstasi dan zat-zat sejenis lainnya adalah haram. Yang dimaksud dengan menyalahgunakan adalah mengkonsumsi atau menggunakan, mengedarkan atau memperdagangkan, serta memproduksi dan membantu terjadinya penyalahgunaan untuk keperluan yang tidak semestinya. Dalam fatwa itu, para ulama mendesak kepada pemerintah agar segera mewujudkan undang-undang tentang penggunaan dan penyalahgunaan ekstasi dan zat-zat sejenis lainnya, serta pemberatan hukuman terhadap pelanggarnya. Sebab, ekstasi  dan zat-zat sejenisnya dapat merusak kehidupan umat manusia.
  • Fatwa hukuman Mati Ulama NU. Penerapan pidana mati terhadap produsen dan pemasok narkotika dan psikotropika juga mendapat dukungan dari para ulama Nahdlatul Ulama (NU).  Dalam muktamar NU ke-31 di Solo, Jawa Tengah  pada akhir 2004, para ulama NU telah membahas masalah hukuman mati bagi produsen dan pemasok narkotika. Dalam fatwanya, ulama NU bersepakat untuk membolehkan penerapan pidana mati bagi produsen dan pemasok narkotika dan psikotropika. Alasannya, mereka dipandang telah menimbulkan kerusakan yang besar terhadap masyarakat.  Para ulama NU mendukung hukuman mati bagi produsen dan sindikat pengedar narkotika dan psikotropika dengan berlandaskan pada Alquran surah al-Maidahayat 33: إِنَّمَا جَزَٲٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَـٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ ذَٲلِكَ لَهُمۡ خِزۡىٌ۬ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَلَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ Artinya:  ''Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.'Ulama NU juga berpegang pada aqwal (perkataan) ulama-ulama dalam “Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu”, bahwa pelaku kriminal dan negatifnya tidak bisa dicegah kecuali dengan jalan hukuman mati, maka hukuman mati harus dijatuhkan kepadanya.
               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                     
  “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Dirangkum dari berbagai sumber dan http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-hukum-mati-6-terpidana-narkoba/2603210.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar