Kamis, 26 September 2013

Hukum Wanita Muslimah Memakai Cadar, Wajib atau Bid'ah?

بسم االلهالرحمن اارحيم
Polemik tentang hukum pemakaian cadar telah lama mengemuka. Dimulai dari Kairo, ketika Pengadilan Mesir memutuskan memperkuat larangan universitas dan kampus-kampus yang melarang para mahasiswi mengenakan cadar saat mengikuti pelajaran maupun tes. Dan yang paling hangat baru-baru ini adalah keputusan pemerintah Prancis yang melarang pemakaian cadar di depan publik. Tak ayal, aturan baru ini menuai protes dan menimbulkan kontroversi hingga sekarang.  Cadar adalah:  Kain penutup muka atau sebagian wajah wanita, dimana hanya matanya saja yang nampak, bahasa arabnya  khidir  atau  tsiqab , sinonim dengan  burqu: marguk.
Lalu bagaimanakah sebenarnya hukum cadar dalam Islam? Apakah bid'ah ataukah wajib?


1. Perbedaan Penafsiran Pemakaian cadar

  • Identifikasi muasal. Mengidentifikasi cadar sebagai bid'ah yang datang dari luar serta sama sekali bukan berasal dari agama dan bukan dari Islam, bahkan menyimpulkan bahwa cadar masuk ke kalangan umat Islam pada zaman kemunduran yang parah, tidaklah  ilmiah   dan tidak tepat sasaran. "Identifikasi seperti ini hanyalah bentuk perluasan yang merusak inti persoalan dan hanya menyesatkan usaha untuk mencari kejelasan masalah yang sebenarnya,"
  • Masalah khilafiyah (diperselisihkan). Satu hal yang tidak akan disangkal oleh siapa pun yang mengetahui sumber-sumber ilmu dan pendapat ulama, bahwa masalah tersebut merupakan masalah khilafiyah . Artinya, persoalan apakah dapat membuka wajah atau wajib menutupnya-demikian pula dengan hukum kedua telapak tangan-adalah masalah yang masih diperselisihkan. "Masalah ini masih diperselisihkan oleh para ulama, baik dari kalangan ahli fikih, ahli tafsir, maupun ahli hadits, sejak zaman dahulu sampai sekarang,".
  • Adanya nash multitafsir. Menurut Qardhawi, perbedaan pendapat itu kembali ke pandangan mereka terhadap nash-nash yang berkenaan dengan masalah ini dan sejauh mana pemahaman mereka terhadapnya, karena tidak didapatinya nash yang  qath'i tsubut (jalan periwayatannya) dan  dalalah  (petunjuknya) tentang masalah ini. "Seandainya ada nash yang tegas (tidak samar), sudah tentu masalah ini sudah terselesaikan."
  • Perbedaan menafsirkan ayat. Mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala : وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِہِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآٮِٕهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآٮِٕهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ أَخَوَٲتِهِنَّ أَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِى ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٲتِ ٱلنِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ‌ۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ yang artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak darinya . Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita -wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan [terhadap wanita] atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(Q.S. An-Nur : 31: ). Titik perselisihannya adalah pada kalimat  "... Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak daripadanya ..."  (QS An-Nur : 31).  Menurut Qardhawi , mereka meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan " kecuali apa yang biasa tampak daripadanya " adalah pakaian dan jilbab,  yakni pakaian luar yang tidak mungkin disembunyikan. Mereka juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang menafsirkan "apa yang biasa tampak"   itu dengan celak dan cincin . Penafsiran yang sama juga diriwayatkan dari Anas bin Malik. Dan penafsiran yang hampir sama lagi diriwayatkan dari 'Aisyah . Selain itu, kadang-kadang lbnu Abbas menyamakan dengan celak dan cincin terhadap pemerah kuku, gelang, anting-anting, atau kalung. Ada pula yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan "perhiasan "di sini adalah tempatnya . Ibnu Abbas berkata, "(Yang dimaksud adalah) bagian wajah dan telapak tangan." Dan penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, Atha ' , dan lain -lain. "Sebagian ulama lagi menganggap bahwa  sebagian dari lengan termasuk "apa yang biasa tampak" itu. Ibnu Athiyah   menafsirkannya dengan apa yang tampak secara darurat , misalnya karena dihembus angin atau lainnya, "jelas Qardhawi.

2. Perbedaan Penafsiran Tentang "mengulurkan jilbab"

Syekh Qardhawi mengatakan, para ulama juga berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah: 
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزۡوَٲجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡہِنَّ مِن جَلَـٰبِيبِهِنَّۚ ذَٲلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا
 "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-isti orang mukmin, 'Hendaklah mereka, mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (QS Al-Ahzab: 59).
Apakah yang dimaksud dengan "mengulurkan jilbab" dalam ayat tersebut? 
Mereka meriwayatkan dari  Ibnu Abbas   yang merupakan kebalikan dari penafsirannya terhadap ayat pertama. Mereka meriwayatkan dari sebagian tabi'in- Ubaidah As-Salmani -bahwa ia menafsirkan "mengulurkan jilbab "itu dengan penafsiran  praktis   (dalam bentuk peragaan), yaitu menutup muka dan kepala , dan membuka mata yang sebelah kiri . Demikian pula yang diriwayatkan dari Muhammad Ka'ab al-Qurazhi .
Namun, kata Qardhawi, penafsiran kedua tokoh ini ditentang oleh Ikrimah , mantan budak Ibnu Abbas . Dia berkata, "Hendaklah ia (wanita) menutup lubang (pangkal) tenggorokannya dengan jilbabnya , dengan mengulurkan jilbab tersebut atasnya. Sa'id bin Jubair  berkata, " Tidak halal bagi wanita muslimah dilihat oleh pria asing kecuali ia mengenakan kain di atas kerudungnya, dan ia mengikatkannya pada kepalanya dan lehernya.


3. Pendapat Syekh Qardhawi

  (Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional, kini bermukim di Qatar.).
  • Wajah dan kedua telapak tangan bukanlah aurat. "Dalam hal ini saya termasuk orang yang menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat dan tidak wajib bagi wanita Muslimah menutupnya. Karena menurut saya, dalil-dalil pendapat ini lebih kuat dari pendapat yang lain, "jelas Qardhawi. Banyak sekali ulama zaman sekarang yang sependapat dengan dirinya, misalnya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya  Hijabul Mar'atil Muslimah fil-Kitab was-Sunnah  dan mayoritas ulama Al-Azhar di Mesir, ulama Zaituna di Tunisia , Qarawiyyin di Maghrib (Maroko) , dan tidak sedikit dari ulama Pakistan, India, Turki, dan lain-lain.
  • Para ulama belum ijma' (sepakat). Meskipun demikian, kata Qardhawi, dakwaan ( klaim) adanya  ijma '   ulama sekarang terhadap pendapat ini juga tidaklah benar, karena di kalangan ulama  Mesir  sendiri ada yang menentangnya. "Ulama-ulama  Saudi  dan sejumlah ulama negara- negara Teluk menentang pendapat ini, dan sebagai tokohnya adalah ulama besar Syekh Abdul Aziz bin Baz. "  Banyak pula ulama  Pakistan  dan India yang menentang pendapat ini, mereka berpendapat kaum wanita wajib menutup wajahnya . Dan diantara ulama terkenal yang berpendapat demikian adalah ulama besar dan da'i terkenal, mujaddid Islam yang masyhur, yaitu al-Ustadz Abul A'la Al-Maududi dalam kitabnya  Al-Hijab
  • Fatwa ulama masa kini. Adapun diantara ulama masa kini yang masih hidup  yang mengumandangkan wajibnya menutup muka bagi wanita ialah penulis kenamaan dari Suriah, DR Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi, yang mengemukakan pendapat ini dalam risalahnya  Ilaa Kulli Fataatin tu'minu Billaahi  (Kepada setiap Remaja Putri yang Beriman kepada Allah). Disamping itu, kata Qardhawi , masih terus saja bermunculan risalah-risalah dan fatwa-fatwa dari waktu ke waktu yang menganggap aib jika wanita membuka wajah . Mereka menyerukan kaum wanita dengan mengatasnamakan agama dan iman agar mereka mengenakan cadar, dan menganjurkan agar jangan patuh kepada ulama-ulama "modern" yang ingin menyesuaikan agama dengan peradaban modern. " Barangkali mereka memasukkan saya ke dalam kelompok ulama seperti ini, "ujarnya. " Jika ditemukan diantara wanita-wanita Muslimah yang merasa mantap dengan pendapat ini, dan menganggap membuka wajah itu haram, dan menutupinya itu wajib, maka bagaimana kita akan mewajibkan kepadanya mengikuti pendapat lain, yang dia anggap keliru dan bertentangan dengan nash? "
  • Tidak boleh menghakimi dalam perkara khilafiyah. Qardhawi menegaskan, "Kami hanya mengingkari mereka jika mereka memasukkan pendapatnya kepada orang lain, dan menganggap dosa dan fasik terhadap orang yang menerapkan pendapat lain itu, serta menganggapnya sebagai kemunkaran yang wajib diperangi, padahal para ulama  muhaqiq  telah sepakat tentang  tidak bolehnya menganggap munkar terhadap masalah -masalah  ijtihadiyah khilafiyah . " Bahkan, kata Qardhawi , seandainya wanita muslimah tersebut tidak menganggap wajib menutup muka, tetapi ia hanya menganggapnya lebih wara' dan lebih takwa demi membebaskan diri dari perselisihan pendapat, dan dia mengamalkan yang lebih hati-hati,   maka siapakah yang akan melarang dia berlatih pendapat yang lebih hati-hati untuk dirinya dan agamanya? Dan apakah pantas dia dicela selama tidak mengganggu orang lain, dan tidak membahayakan kemaslahatan (kepentingan) umum dan khusus?
  • Yang menolak dan mengiingkari cadar. Syekh Qardhawi mencela penulis terkenal Ustadz Ahmad Bahauddin yang menulis masalah ini dengan tidak mengacu pada sumber-sumber terpercaya, lebih-lebih tulisannya ini dimaksudkan sebagai sanggahan terhadap putusan pengadilan khusus yang bergengsi. Sementara kalau dia menulis masalah politik, dia menulisnya dengan cermat, penuh pertimbangan, dan dengan pandangan yang menyeluruh. Bisa jadi, kata Qardhawi , karena dia bersandar pada sebagian tulisan-tulisan ringan yang tergesa-gesa dan sembarang yang membuatnya terjatuh ke dalam kesalahan sehingga dia menganggap "cadar" sebagai sesuatu yang munkar, dan dikiaskannya dengan "pakaian renang" yang sama-sama tidak memberi kebebasan pribadi. "Tidak seorang pun ulama dahulu dan sekarang yang melarang memakai cadar bagi wanita secara umum, kecuali hanya pada waktu ihram. Dalam hal ini mereka hanya berbeda pendapat antara yang mengatakannya wajib, mustahab, dan jaiz, "jelas Syekh QardhawiSedangkan tentang keharamannya, tidak seorang pun ahli fiqih yang berpendapat demikian, bahkan yang memakruhkannya pun tidak ada . Maka Qardhawi mengaku sangat heran kepada Ustadz Bahauddin yang mengecam sebagian ulama Al-Azhar  yang mewajibkan menutup muka (cadar) sebagai telah mengharamkan apa yang dihalalkan  Allah,   atau sebagai pendapat orang yang tidak memiliki kemajuan dan pengetahuan yang mendalam tentang Al-Qur'an, As -Sunnah, fiqih, dan ushul Fiqih.
  • Qardhawi berpendapat hukumnya mubah. "Kalau hal itu hanya sekedar mubah, sebagaimana pendapat yang saya pilih, bukan wajib dan bukan pula  mustahab , maka adalah hak bagi muslimah untuk membiasakannya, dan tidak dapat bagi seseorang untuk melarangnya, karena itu cuma melaksanakan hak pribadinya . Apalagi, dalam membiasakan atau mengenakannya itu tidak merusak sesuatu yang wajib dan tidak membahayakan seseorang, "terang ulama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini.  Qardhaw i menyitir sebuah pepatah Mesir yang menyindir orang yang bersikap demikian, " Seseorang bertopang dagu, mengapa Anda kesal terhadapnya? "
  • Cacian hendaknya ditujukan kepada yang masih memamerkan aurat. Hukum buatan manusia sendiri, lanjut dia, mengakui hak-hak perseorangan ini dan melindunginya. Bagaimana mungkin kita akan mengingkari wanita muslimah yang komitmen pada agamanya dan hendak memakai cadar, sementara diantara mahasiswi-mahasiswi di perguruan tinggi itu ada yang mengenakan pakaian mini, tipis, membentuk potongan tubuhnya yang dapat menimbulkan fitnah (rangsangan), dan memakai bermacam-macam  make-up ,   tanpa seorang pun yang mengingkarinya, karena dianggapnya sebagai kebebasan pribadi. "Padahal pakaian tipis, yang menampakkan kulit, atau tidak menutup bagian tubuh selain wajah dan kedua tangan itu diharamkan oleh syara '  demikian menurut kesepakatan kaum Muslim, "ujarnya. Syekh Qardhawi mengaku heran , mengapa wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan bergaya untuk memikat orang lain kepada kemaksiatan dibebaskan saja tanpa ada seorang pun yang menegurnya? Kemudian mereka tumpahkan seluruh kebencian dan celaan serta caci maki terhadap wanita-wanita bercadar , yang berkeyakinan bahwa hal itu termasuk ajaran agama yang tidak bisa disia-siakan atau dibuat sembarang? " Kepada Allah-lah kembalinya segala urusan sebelum dan sesudahnya. Tidak ada daya untuk menjauhi kemaksiatan dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan, " tandasnya.


4. Hukum Memakai Cadar Dalam Pandangan Ulama Madzhab

1. Madzhab Hanafi. Wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
2. Madzhab MalikiWajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.
3. Madzhab Syafi'i. Aurat wanita di depan pria ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita mengenakan cadar di depan lelaki ajnabi. Inilah pendapat  mu'tamad  madzhab Syafi'i.
4. Madzhab Hambali. * Imam Ahmad bin Hambal berkata: كل شيء منها أي من المرأة الحرة عورة حتى الظفر " Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya "(Dinukil dalam  Zaadul Masiir , 6/31).
Wallaahu a'lam.
              سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك            
"Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu. "
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat 
Sumber
www.Republika.co.id ,
www.muslim.or.id.   telah diedit untuk keselarasan.

6 komentar:

  1. Saya senang dengan semua artikel agama yang diperhalusi dan disertakan dengan sokongan dalil-dalil yang tertentu. Pasti sangat memberi manfaat dalam memahami agama yang kita anuti ini. Mungkin perubahan tidak mampu dibuat mendadak tetapi perlahan-lahan, sedikit tapi berterusan. Moga anda di sana sudi mendoakan saya di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah, kekuatan dan kemudahan di dalam anda berbuat kebaikan, amin.

      Hapus
  2. kenapa di Indonesia tidak ada yang pakai cadar,sementara mazhabnya Syafi' ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. BENARKAN BERMADZHAB SYAFI'I ?
      Sepengamatan saya, Klaim menggunakan Madzhab Syafi'i dimaknai hanya dalam tataran fanatisme saja, adapun substansi ijtihadnya hanya diketahui yang mempelajarinya saja, cobalah ditanyakan kepada yang awan : "Apakah nama kitab Imam Syafi'i yang populer itu ?" dijamin banyak yang tidak tahu. Kalau nama kitabnya saja tidak tahu, apalagi isinya. Allaahu a'lam.

      Hapus
  3. Alhamdulillah.....semoga artikel ini bermanfaat bagi semua muslimah yang ingin senantiasa memperbaiki diri....

    BalasHapus
  4. Adanya ketetapan hukum cadar karena ada illat, sehingga ketika illat itu ada pada laki2 maka laki2puj wajib pake cadar....

    BalasHapus