Selasa, 17 September 2013

Hukum Walimah Dalam Pernikahan dan Menghadiri Undangannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Walimah arti harfiahnya ialah berkumpul, karena pada waktu itu berkumpul suami-isteri. Dalam istilah khusus walimah yaitu  tentang makan dalam acara perkawinan. Dalam kamus hukum walimah juga adalah makanaan pesta pengantin atau setiap makanan untuk undangan dan lain sebagainya. kata walimah berasal dari al-walam yang mempunyai arti al-jam'u (berkumpul), karena setelah prosesi ijabqabul dalam akad nikah keduanya biasa dan bisa berkumpul. Ada juga yang mengartikan al-walim itu  makanan pengantin, yang maksudnya adalah makanan yang disediakan khusus dalam acara pesta pernikahan. Bisa juga diartikan dengan makanan untuk tamu undangan atau lainnya. Ibnu KAtsirmengemukakan bahwa walimah adalah: "yaitu makanan yang dibuat untuk pesta pernikahan". Sedangkan menurut Ibn Arabi, bahwa kata walimah mengandung makna sempurna dan bersatunya sesuatu. Sebagai istilah, walimah biasanya digunakan untuk menyebut perayaan tasyakur atas terjadinya peristiwa yang menggembirakan. Namun istilah ini mengalami penyempitan makna, digunakan sebagai istilah untuk perayaan tasyakur pernikahan (walimatu al-'urs) atau resepsi pernikahan. Hal ini merujuk kepada sebuah keterangan tentang hal itu, (yaitu) sebuah perintah Nabi saw kepada Abdurrahman bin Auf ra saat selesai akad nikah yang oleh beliau kelihatan dari dandananya.

1. Hukum Walimah

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum mengadakan walimah adalah sunnah muakkad, berdasarkan kepada dalil:
  1. Hadits قال رسول الله لعبد الرحمان ابن عوف أو لم ولو بشاة  Rasulullah saw. bersabda kepada Abdur Rahman bin Auf: "Adakan walimah, sekalipun dengan seekor kambing..."
  2. Dari Anas , ia berkata: "Rasulullah saw. mengadakan walimah dengan seekor kambing untuk isteri-isterinya dan untuk Zainab." (H.R.Bukhari dan Muslim).
  3. Dari Buraidah, ia berkata: Ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya harus, untuk pesta perkawinan ada walimahnya."(H.R.Ahmad).
  4. Anas berkata: Rasulullah saw. tidak pernah tidak mengadakan walimah bagi isteri-isterinya, juga bagi Zainab. Beliau memulai menyuruh aku, lalu aku panggil orang atas nama beliau. Kemudian beliau hidangkan pada mereka roti dan daging sampai mereka kenyang.
  5. Bukhari meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw mengadakan walimah untuk sebagian isterinya dengan dua mud gandum. Adanya perbedaan-perbedaan dalam mengadakan walimah ini oleh Nabi saw. bukanlah melebihkan isteri yang satu daripada yang lain, tetapi semata-mata disebabkan oleh keadaan sulit atau lapang.

2. Waktu dan Adab Walimah

Walimah dapat diadakan ketika aqad nikah atau sesudahnya, atau ketika hari perkawinan (mencampuri isterinya), atau sesudahnya. Hal ini leluasa tergantung kepada adat dan kebiasaan. Dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah mengundang orang-orang untuk walimahan sesudah beliau bercampur dengan ZainabWalimah bisa dilaksanakan kapan saja, bisa sebelum jima’ ataupun sesudah jima’, bisa bersamaan dengan akad nikah dan bisa pula sesudahnya. Apabila bukan karena tidak mungkin mengundang tamu-tamu yang diharapkan hadir dalam satu waktu, walimah hendaknya diadakan satu kali saja pada hari pertama; terpaksanya supaya dicukupkan dua kali saja, yaitu tambahan pada hari kedua. Jangan sampai walimah berlangsung lebih dari dua hari. Rasulullah saw bersabda, “Makanan walimah pada hari pertama adalah haq, makanan pada hari kedua adalah sunnah; makanan hari ketiga adalah riya; barangsiapa suka memperdengarkan kebaikannya kepada orang lain, Allah akan memperdengarkan kepada orang lain itu keburukan-keburukannya.” Dalam lafazh menurut Ath-Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Walimah itu adalah hak (benar). Menyelenggarakan walimah untuk yang kedua adalah kebaikan dan menyelenggarakannya untuk yang ketiga adalah suatu kesombongan.
Karena walimah adalah ibadah, maka sangat penting untuk menjaga adab-adabnya. Diantara adab-adab tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Meluruskan niat. Lakukanlah walimah dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Hindari penyelenggaraan walimah dengan niat memamerkan harta yang dimiliki, atau saling bersaing dengan keluarga lain. Hindari pula pelaksanaan walimah karena niat mencari sensasi, mencari popularitas. Bahkan ada yang berniat menyakiti hati orang lain dengan cara mengadakan walimah besar-besaran.Jangan pula menyelenggarakan walimah dengan motif komersial, mengharap sumbangan yang lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Memang kita diperkenankan untuk menerima sumbangan yang datang dengan senang hati dan rasa terima kasih serta dipandang sebagai pernyataan kasih sayang dari para tamu undangan, tetapi bukan sebagai “karcis masuk” memenuhi undangan walimah.
  2. Tidak membeda-bedakan undangan dengan meninggalkan orang-orang yang miskin. Rasulullah saw bersabda, “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah dimana yang diundang dalam walimah tersebut hanya orang-orang kaya sementara orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Al-Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 3507). Juga ada diriwayatkan sebuah hadits Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: "Makanan yang paling jelaek adalah pesta perkawinan yang tidak mengundang orang yang mau datang kepadanya (miskin), tetapi mengundang orang yang enggan datang kepadanya (kaya). Barang siapa tidak memperkenankan undangan maka sesungguhnya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya." (H.R.Muslim).
  3. Mengundang orang-orang yang shalih. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang bertaqwa” (Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4832), at-Tir-midzi (no. 2395), al-Hakim (IV/128) dan Ahmad (III/38), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri ra.).
  4. Tidak berlebih-lebihan, bermewah-mewahan, dan berlaku mubadzir. Sesuaikanlah walimah dengan kemampuan, dan jangan memaksakan diri. Tidak jarang ada orang yang memaksakan diri berhutang kesana kemari guna menggelar acara resepsi yang wah agar meninggalkan kesan meriah. Dalam membayar hutangnya nanti, biasanya dia berharap dari sumbangan yang diterima. Ini tentu tidak benar. Walimahan hendaknya tidak dilakukan dengan cara memaksakan diri diluar kemampuan dan juga tidak merepotkan orang banyak lantaran harus menyumbang, meskipun menyumbang atau memberikan hadiah itu boleh.
  5. Menghindari hal-hal yang maksiat dan bertentangan dengan syariat Islam, seperti melakukan ritual-ritual kesyirikan/khurafat, tasyabbuh dengan orang-orang kafir, terjadinya campur baur (ikhtilath) antara kaum laki-laki dan kaum perempuan, jabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram, mengumbar aurat dihadapan orang-orang asing, dan sebagainya. 
  6. Tidak memperdengarkan musik-musik jahiliyah ataupun tontonan-tontonan jahiliyah. Akan tetapi diperbolehkan menabuh rebana (duff) dan melantunkan nyanyian-nyanyian yang tidak bertentangan dengan syariat, dan hal ini pernah dilakukan di masa Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Pemisah antara apa yang halal (yakni pernikahan) dan yang haram (yakni perzinaan) adalah duff dan shaut (suara) dalam pernikahan.” (HR. An-Nasa`i no. 3369, Ibnu Majah no. 1896. Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1994) Adapun makna shaut di sini adalah pengumuman pernikahan, lantangnya suara dan penyebutan/pembicaraan tentang pernikahan tersebut di tengah manusia. (Syarhus Sunnah 9/47,48). Hikmah dari diperbolehkannya menabuh rebana dan memperdengarkan nyanyian adalah untuk mengumumkan (memeriahkan) pernikahan dan untuk menghibur kedua mempelai. Adapun bagaimana jika memperdengarkan alat musik, kembali pada hukum alat musik itu sendiri, yang masih menjadi khilaf diantara para ulama. Wallahu a’lam.

3. Hukum Menghadiri Undangan Walimah

Menghadiri undangan walimah hukumnya adalah wajib bagi yang diundang karena untuk menunjukkan perhatian, memeriahkan dan menggembirakan.
  • Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda :  إذا دعي أحدكم إلى وليمة فلياتها "Jika salah seorang diantaramu diundang ke walimahan. hendaklah ia datangi."
  • Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: ومن ترك ألدءوت فقد عصى الله ورسوله  Barang siapa meninggalkan undangan, sesungguhnya ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya..."
  • Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi saw. bersabda: "Andaikata aku diundang untuk makan kaki kambing, niscaya saya datangi. Dan andaikata aku dihadiahi kaki depan kambing niscaya saya terima. Hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh bukhari.
  • Jika undangan bersifat umum, tidak tertuju kepada orang-orang tertentu maka tidak wajib mendatangi dan tidak pula sunnah. Contohnya seorang pengundang mengatakan: "Walhai orang banyak, datanglah ke walimahan saya," tanpa disebut orang-orang secara tertentu atau ia katakan," undanglah tiap orang yang kau temui." Nabi pernah melakukan ini sebagaimana: Anas berkata: Nabi saw. kawin lalu masuk kepada isterinya, kemudian ibuku membuatkan kue untuk Ummu Sulaim, lalu beliau tempatkan pada bejana, lalu ia berkata: "Wahai saudaraku..., bawalah ini kepada Rasulullah saw. ..."Lalu aku bawa kepada beliau, maka sabdanya: "Letakkanlah." Kemudian sbdanya lagi:"Undanglah si anu dan si anu. Dan orang-orang yang bertemu." Lalu saya undang orang-orang yang disebutkan dan saya temui. (H.R. Muslim).
Ada yang berpendapat menghadiri undangan hukumnya wajib kifayah, dan ada yang berpendapat hukumnya sunnah. Tetapi pendapat pertamalah yang lebih jelas, sebab tidak dikatakan berbuat durhaka kecuali kalau meninggalkan yang wajib...ini bila berkenaan dengan walimah perkawinan. Adapun menghadiri undangan selain walimah, maka menurut Jumhur (mayoritas ) ulama dianggap sebagi sunnah muakkad. Sebagian golongan Syafi'i berpendapat adalah wajib. Tetapi Ibnu Hazm menyangkal, bahwa pendapat ini dari jumhur sahabat dan tabi'in. Karena hadits-hadits di ats memberi pengertian wajibnya menghadiri setiap undangan baik undangan perkawinan atau lain-lain.

4. Undangan Yang Wajib Dihadiri

Dalam Fathul-bari Al-Hafidz berkata: Syarat undangan yang wajib didatangi ialah:
  1. Pengundangnya sudah mukallaf, merdeka dan sehat akal.
  2. Tidak khusus buat orang-orang kaya saja, sedang yang miskin tidak.
  3. Tidak hanya tertuju kepada orang yang disenangi dan dihormati saja.
  4. Pengundangnya beragama Islam, demikianlah pendapat yang lebih sah.
  5. Khusus hari pertama, demikianlah pendapat yang terkenal.
  6. Belum didahului oleh undangan lain. Kalau ada undangan lain, maka yang pertama wajib didahulukan.
  7. Tidak ada kemungkaran dan lain-lain yang menghalangi kehadirannya
  8. Yang diundang tak ada udzur.
Baghawi berkata: "Undangan yang ada udzur, atau tempatnya jauh sehingga memberatkan, maka boleh tidak usah hadir.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah 7, Sayyid Sabiq, telah diedit untuk keselarasan.
https://www.facebook.com/notes/hizbul-pahman/walimah-syari-dalam-islam/305191429500753

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar