Senin, 16 September 2013

Hiburan Musik dan Nyanyian Dalam Pesta Pernikahan, Bolehkah ?

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13).
Sudah umum dilakukan dalam acara-acara hajatan atau perkawinan diramaikan dengan irama musik dan nyanyian. Karena sudah menjadi keumuman, maka dianggap sudah "lumrah" bahkan ada yang berani berhutang agar dapat mengundang grup musik. Jenis nyanyian yang umum diadakan misalnya: Dangdut, Pop, qasidah, Campursari dan musik Tradisional ; Rock dan keroncong agaknya jarang dipanggil kalau untuk pernikahan. Artikel ini akan mengajak pembaca meneliti dengan cermat hukum menyanyi secara umum dan kebolehan menampilkan nyanyian dalam acara perkawinan.

1. Hukum Melantunkan Nyanyian (Al-Ghina' / At-Taghanni)

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at-taghanni). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing.
A. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian:
  1. Berdasarkan firman Allah:Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.(Qs. Luqmân [31]: 6). Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, IbnuAbbas dan Ibnu Mas’ud. Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Qs. an-Najm [53]: 59-61; dan Qs. al-Isrâ’ [17]: 64 .
  2. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif). [HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590].
  3. Hadits Aisyah r.a., Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjual-belikannya, mempelajarinya atau mendengarkannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas.[HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih]. 
  4. Hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda: Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.” [HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits mauquf].
  5. Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.” [HR. Ibnu Abid Dunya]. 
  6. Haditsyang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf r.a., bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).”
B. Dalil-Dalil Yang Menghalalkan Nyanyian:
  1. Firman Allah swt.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
  2. Hadits dari Nafi’ r.a, katanya: "Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar r.a. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw.” [HR. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi].
  3. Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata: "Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda:“Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah r.a.].
  4. Dari 'Aisyah r.a.; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda:“Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” [HR. Bukhari].
  5. Dari AbuHurairah r.a.,:" sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata: “Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal. 485].

2. Kesimpulan

Atas dasar itu, kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut 
  • Boleh pada hari raya dan pernikahan. Bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’, seperti pada hari raya atau pada hari pernikahan. 
  • Haramnya mutlak, bolehnya terbatas. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 63-64; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 102-103).
  • Jenis nyanyian yang haram. Dari sini kita dapat memahami bahwa nyanyian ada yang diharamkan, dan ada yang dihalalkan. Nyanyian haram didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, yaitu nyanyian yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana(asy-yâ’), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas, mempropagandakan sekularisme, liberalisme, dan sebagainya. Nyanyian halal didasarkan pada dalil-dalil yang menghalalkan, yaitu nyanyian yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah swt., mendorong orang meneladani Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan keindahan alam semesta, dan semisalnya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 64-65; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 103).
  • Wallahu a'lam.

3. Nyanyian Dalam Acara Pernikahan

Menurut kitab Fikih Sunnah, karya Sayyid Saabiq, hiburan nyanyian dalam pesta pernikahan termasuk kegiatan yang dibolehkan dan disenangi oleh Islam, guna menyenangkan dan membuat pengantin perempuan giat, asal saja hiburannya sehat. Pesta perkawinan wajib dijauhkan dari acara yang tidak sopan, pornp, campur gaul antara laki-laki dan perempuan, begitu pula perkataan yang keji dan tak pantas didengarkan. 
Yang melandasi kebolehannya adalah beberapa hadits sebagai berikut
  1. Dari Amir bin Sa'ad, ia berkata: "Saya masuk ke rumah Quradhah bin Ka'ab ketika hari perkawinan Abu Mas'ud Al Anshari. Tiba-tiba beberapa anak perempuan bernyani-nyanyi, lalu saya bertanya: "Bukankah Anda berdua adalah sahabat Rasulullah saw. dan pejuang Badr, mengapa ini terjadi di hadapan Anda?" Maka jawab mereka: "Jika Anda suka, maka boleh mendengarnya bersama kami dan jika Anda tak suka maka Anda boleh pergi. Karena kami diberi kelonggaran untuk mengadakan hiburan pada acara perkawinan. (H.R.Nasa'i dan Hakim dan beliau mensahkannya).
  2. 'Aisyah mengiringkan Fathimah binti As'ad dengan disertai pula oleh Nabith bin Jabir Al-Anshari pada hari-hari perngantinnya ke rumah suaminya. Lalu Nabi saw. bersabda: "Wahai 'Aisyah, mengapa tidak kamu sertai dengan hiburan? sesungguhnya orang-orang Anshar senang hiburan." (H.R.Bukhari, Ahmad dan lainnya).
  3. Dari Rubaiyai' binti Mu'awwidz, ia berkata: "Ketika perkawinanku, Rasulullah saw. datang, lalu duduk di atas tempat tidurku, kemudian anak-anak gadis kamu memulai memukul rebana dan bersenandung memuji salah seorang nenekku yang terbunuh di Perang Badar. Tiba-tiba salah seorang anak gadis itu mengucapkan pantun begini ..., sedang di tengah-tengah kita ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari." Lalu Rasulullah saw. menyahut: " Tinggalkanlah ucapan itu, Dan katakanlah begini: Demi Tuhan yang engkau biasa sebutkan." (Rasulullah melarang ucapan tadi, karena hanya Allah yang mengetahui yang ghaib - Dalam hadits lain disebutkan: "Tak ada yang dapat mengetahui apa yang terjadi esok hari, kecuali Allah"(H.R.Bukhari).
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sumber: 
    Fikih Sunnah 7, Sayyid Saabiq
    Konsultasi.wordpress.com, telah diedit untuk keselarasan.

    8 komentar:

    1. Bertapa Rasullah sangat mulia dan berlemah lembut dan begitu pengertian dalam berdakwah.
      Sesuatu larangan itu tidak diucap dengan kasar tetapi melalui tapisan bahasa agar Islam itu sentiasa indah seindah maksudnya. Hanya sesuatu itu haruslah ada garisan sempadan dan jangan berlebih-lebihan. Terima kasih Wasiun atas pencerahannya dan saya telah lama menantikan kupasan yang sebegini sejak zaman sekolahan.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Zaman sekarang banyak orang semangat berda'wah, tetapi metodenya berlawanan dengan cara Rasulullah saw. Agama telah dijadikan "topeng" untuk mengaku "paling benar." Naudzubillah. Terima kasih Lynn Munir, telah berkunjung, menyumbang komentar dan like E TA'LIM on Fb. jazaakillahu khaira.

        Hapus
    2. Assalamu alaikum Wr.Wb.Pada pernikahan saya sering mendengar ijab kabul yang berbunyi;saya nikahkan dan kawinkan----dst.yang biasanya teksnya sudah disiapkan oleh penghulu.Menurut saya teks tsb rancu karena ada dua kata yang artinya sama'Sebaiknya KUA memberi pedoman kepada penghulu untuk memakai salah satu kata itu -nikah atau kawin supaya tidak terdengar lucu. Terima kasih wassalamualaikum.

      BalasHapus
    3. 'Alaikum salam wr. wb.
      Nikah itu dalam bahasa arab, sementara kawin bahasa Indonesia. Sama secara bahasa, tetapi secara istilah bisa berbeda atau ada beda. Kata kawin dianggap lucu karena dalam kehidupan di Indonesia sudah mengalami pergeseran makna.
      Semoga ada pejaabat KUA atau penghulu yang membaca pertanyaan ini dan berkenan menjawabnya.
      Terima kasih telah berkunjung dan berbagi.

      BalasHapus
    4. Aslkum wr wb.jadi klw wali mengucapkan saya nikahkan dan kawinkan. Sedangkan pengntin pria qobul.ya saya terima nikah.y .tanpa kata kawin.klw itu sah atau ga pernikahan itu ustad tolong blz

      BalasHapus
    5. 'Alaikum salam wr. wb.
      Sah, nikah dan kawin dianggap sama dalam ijab-qabul.
      Insyaallah.

      BalasHapus