Minggu, 15 September 2013

Do'a/Ucapan Untuk Pengantin baru dan Mengumumkan Pernikahan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sudah menjadi tradisi di setiap peristiwa pernikahan, kedua mempelai mendapat ucapan selamat bertubi-tubi. Ucapan terkadang diucapkan setelah selesainya acara aqad nikah terkadang pada saat resepsi. Dan redaksi ucapannya pun beragam; ada yang beraroma doa, puisi, pantun, bahasa formal dan bahkan kadang diselipkan istilah-istilah dalam bahasa asing. Yang paling populer misalnya: "SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU" atau 'Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, atau Semoga cepat punya momongan" dll. Apakah Islam mengajarkan do'a atau ucapan bagi kedua pengantin maupun redaksi ucapan selamat untuk pengantin?  Di dalam kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq, penulis menemukan bahasan dimaksud di bab Pernikahan. Dan penulis bagi-bagi untuk ikhwan-akhawat agar bisa mengamalkannya sebagai suatu sunnah, insyaallah.

1. Do'a dan Ucapan Setelah Aqad Nikah

Setelah aqad nikah selesai, disunnahkan bagi suami-isteri berdo'a sebagaimana diajarkan oleh Nabi saw.
  • Dari Abu Hurairah r.a.: Sesungguhnya Nabi saw. di waktu orang selesai melakukan aqad nikah beliau berdo'a: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ(Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dan atasmu dan mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan."
  • Dari 'Aisyah r.a. ia berkata: Setelah Nabi saw. mengawini aku, kemudian aku datang kepada ibuku. Beliau lalu memasukkan aku ke dalam rumah. Tiba-tiba beberapa perempuan Anshar sudah ada di rumah dan mereka mengucapkan :"على الخير ، ولبركة و على خير طائر-'Alal khairi, walbarakati wa'ala khairin tha-ir (Semoga selalu baik, penuh keberkahan dan dalam kebaikan selalu." (H.R. Bukhari dan Abu Daud).
  • Dari Al-Hasan, ia berkata: Uqail bin Abi Thalib kawin dengan perempuan Bani Yasir, lalu mereka mengucapkan do'a "Semoga kamu rukun dan banyak anak." Lalu Uqail menjawab:  Ucapkanlah sebagaimana Rasulullah saw. berdo'a: بارك الله فيكم و بارك عليكم - Barakallahu fikum wa baraka 'alaikum- "Semoga Allah memberikan kamu dan menjadikan kamu berbahagia." (H.R.Nasa'i).

2. Perbedaan Arti  لَكَ dan  عَلَيْكَ dan Hikmahnya

Ucapan do'a  yang diajarkan Rasulullah saw. memiliki nilai dan hikmah yang panjang buat kedua mempelai dan kelurganya, jauh lebih bermakna dari ucapan lainnya semisal: "Semoga dikaruniai banyak anak."
Ada sebagian ulama / ahli bahasa Arab mencoba membedakan arti dari preposisi kata "لك " dan "عليك " pada hadits di atas, misalnya: 
preposisi ل  /laam/ secara harfiyyah artinya memang bisa diterjemahkan ‘pada’. Adapun على /’alaa/ dapat diterjemahkan ‘di atas’. Akan tetapi, jika kedua preposisi tersebut terdapat dalam satu kalimat secara bersamaan, makna preposisi tersebut tidak bisa lagi diterjemahkan secara harfiyyah’ pada’ atau ‘di atas’ lagi. Namun, makna ل menunjukkan makna yang baik, sedangkan على menunjukkan makna yang buruk. Oleh karena itu, jika memerhatikan hal ini, do'a walimah di atas jika diterjemahkan akan menjadi panjang, yaitu:
“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.
Mengapa demikian?
  • Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi. Hari-hari setelah pernikahan tidak selalu merupakan hari yang bahagia. Orang yang menikah juga belum tentu memiliki banyak anak. Maka membayangkan setelah menikah akan selalu bahagia dan memiliki banyak anak adalah hal yang tak sepenuhnya benar, tak sepenuhnya bisa menjadi kenyataan bagi tiap orang. 
  • Kehidupan rumah tangga penuh suka dan duka. Sebagaimana fase kehidupan lainnya, hari-hari dalam kehidupan berumah tangga juga diwarnai oleh dua hal: kadang kita menemukan hal-hal yang kita sukai, kadang kita menemukan hal yang tidak kita sukai. Kadang kita mengalami hal-hal yang kita inginkan, kadang kita mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan. Kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita senang, kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita tidak senang. Pada kedua sisi itu, kita berharap ada barakah. Pada kedua sisi itu, kita mendoakan pasangan suami istri selalu mendapatkan barakah. Inilah yang kita tangkap dari doa ini. Dan inilah yang jauh lebih baik daripada “bahagia dan banyak anak.”
  • Do'a mencakup kondisi senang dan susah. Dalam doa yang diajarkan Rasulullah ini, ada kata laka dan ada ‘alaika. Meskipun sama-sama keberkahan yang diminta, tetapi dengan adanya preposisi yang berbeda ini, maknanya menjadi: barakah pada hal-hal yang disenangi dan sekaligus barakah pada hal-hal yang tidak disenangi. Jadi kita mendoakan pengantin muslim senantiasa mendapatkan keberkahan baik dalam kondisi yang mereka senangi maupun tidak mereka senangi. Misalnya saat mereka diluaskan rezekinya oleh Allah, mereka berada dalam keberkahan dengan sikap syukur dan banyaknya infaq. Dan ketika suatu saat mereka berada dalam keterbatasan ekonomi, mereka juga berada dalam keberkahan dengan sikap sabar dan iffah-nya.
  • Barakah meliputi aneka kebaikan. Dengan mendoakan barakah, berarti kita merangkum sekian banyak kebaikan dalam satu ikatan. Seperti saat menyuruh seseorang untuk shalat dengan khusyu’, sesungguhnya untuk dapat mencapai perintah itu harus thaharah dulu, berwudhu dulu, memenuhi syarat dan rukun shalat. Demikian pula dengan barakah.
  • Meliputi do'a di dunia dan akhiratnya. Ada suami istri yang banyak berbahagia di dunia, tetapi di akhirat masuk neraka. Tentu bukan itu yang kita harapkan terjadi pada saudara kita pengantin baru. Pun ada suami istri yang pernikahannya langgeng dan abadi di dunia, tetapi keduanya masuk neraka. Seperti Abu Lahab dan istrinya yang di-nash Allah dalam surat Al Lahab. Tentu pula, bukan seperti ini yang kita harapkan pada saudara kita pengantin baru. Kita mengharapkan mereka memperoleh banyak kebaikan; kendati bahagia dan duka datang silih berganti, dan tak semua pasangan suami istri memiliki anak yang banyak. Dan doa yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itulah doa yang paling tepat.
Wallahu a'lam.

3. Menyiarkan Perkawinan

Agama men-sunnahkan mengumumkan perkawinan agar dengan demikian terjauh dari nikah sirri (rahasia) yang terlarang itu dan untuk menyatakan rasa gembira yang dihalalkan oleh Allah, dalam menikmati kebaikan. Juga karena perkawinan merupakan perbuatan yang haq untuk dipopulerkan supaya dapat diketahui baik oleh orang yang berkepentingan ataupun khalayak ramai, orang yang dekat ataupun yang jauh, dan menjadi perangsang bagi orang-orang yang lebih suka membujang dalripada kawin. Sehingga pasaran perkawinan menjadi laris. Mennyiarkan perkawinan boleh dilaksanakan menurut adat sebab tiap-tiap masyarakat itu mempunyai adatnya sendiri-sendiri. Tetapi dalam syi'ar perkawinan ini tidak boleh disertai dengan hal-hal yang haram seperti mabuk-mabukan, pergaulan bebas laki-laki dan perempuan dan lain sebagainya. 
Dari 'Aisyah r.a., bahwa Nabi saw. bersabda: 
هذا النكاح وجعلوه في المساجد واضربو أ عليه الدفوق  
"Syi'arkan nikah ini dan adakanlah di masjid-masjid, dan pukullah untuknya rebana-rebana." (H.R.Ahmad dan Tirmidzi, hadits Hasan).
Tidak diragukan bahwa mengadkan di masjid-masjid adalah lebih mendapatkan perhatian dan berpengaruh, oleh karena di masjid-masjid merupakan tempat berkumpul banyak orang, lebih-lebih pada zaman sahabat, masjid-masjid merupakan tempat pertemuan umum.
  • Tirmidzi meriwayatkan hadits dan ia hasankan, Hakim meriwayatkan dari Yahya Ibnu Sulaiman dan ia sahkan, katanya Saya berkata kepada Muhammad bin Khattab: "Saya telah mengawini dua orang perempuan, Dan pada salah seorang daripadanya tidak menggunakan keramaian pukul rebana. Lalu Muhammad ( bin Khattab) menjawab:  قال النبي صلى الله عليه وسلم  فصل ما بين الحلال والحرام الصوت والدف في النكاح Rasulullah saw. telah bersabda: "Perbedaan antara pesta halal dan haram yaitu bernyanyi dan pukul rebana (dalam Perkawinan)."
  • Hadits Tirmidziحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا أَبُو بَلْجٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَاطِبٍ الْجُمَحِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَرَامِ وَالْحَلَالِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَجَابِرٍ وَالرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ مُحَمَّدِ بْنِ حَاطِبٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَأَبُو بَلْجٍ اسْمُهُ يَحْيَى بْنُ أَبِي سُلَيْمٍ وَيُقَالُ ابْنُ سُلَيْمٍ أَيْضًا وَمُحَمَّدُ بْنُ حَاطِبٍ قَدْ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ غُلَامٌ صَغِيرٌ  Perbedaan antara yg diharamkan (zina) & yg dihalalkan (pernikahan) ialah dgn memukul rebana & suara. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari Aisyah, Jabir & Ar Rubayyi' binti Mu'awwidz. Abu Isa berkata; Hadits Muhammad bin Hattib merupakan hadits hasan. Abu Balj bernama Yahya bin Abu Sulaim, juga terkadang disebut Ibnu Sulaim. Muhammad bin Hatib telah melihat Nabi pada saat masih kecil. [HR. Tirmidzi No.1008].
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Fikih Sunnah 7, Sayyid Saabiq
http://keluargacinta.com/mengapa-rasulullah-melarang-mendoakan-pengantin-semoga-bahagia-dan-banyak-anak/
Sumber-sumber lain yang telah diedit untuk keselarasan.

4 komentar:

  1. Terima kasih telah berkunjung dan memberi apresiasi, jazaakillaahu khaira.

    BalasHapus
  2. Terima kasih ya Akhi
    Sangat membantu dan memberi ilmu (y)

    BalasHapus
  3. al afwu. rebana tu bukan sunnahwallahu alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan rebananya yang sunnah, itu cuma alat, tetapi mengumumkan pernikahan pada khalayaknya yang sunnah. Syukran.

      Hapus