Sabtu, 28 September 2013

Arti, Keutamaan dan Tata Cara Berdzikir

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau menyucikan Allah Ta'ala, memuji dan menyanjung-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimiliki-Nya. Kata Dzikir berasal dari kata Dzakara yang artinya dari segi bahasa ialah : “Memelihara dalam ingatan”. Jadi, Dzakarallâha artinya : “(Ia) Memelihara ingatan untuk selalu mengingat Allâh dengan cara bertasbih dan mengagungkan-Nya”.
Imam Nawawi  mengatakan bahwa dzikir itu dapat dilakukan dengan hati atau dengan lisan. Akan tetapi lebih afdhal bila dilakukan dengan keduanya. Namun, bila ingin memilih diantara kedua hal itu, maka lebih afdhal bila dilakukan dengan hati. Di samping itu tidak layak bagi seseorang untuk meninggalkan dzikir dengan lisan dan hati hanya karena kuatir dituduh riya (pamer). Jadi, dzikir dengan hati dan lisan itu harus tetap dilakukan dengan niat semata-mata karena Allâh swt.. (Al-Adzkar hal. 6). Namun, Imam Nawawi juga menegaskan bahwa yang dimaksud dzikir di sini ialah hadirnya hati. Maka sudah sepantasnya bagi setiap orang yang melakukan dzikir untuk menyadari bahwa itulah tujuannya sehingga timbul keinginan untuk meraih hasilnya dengan mentadabbur ucapan-ucapan dzikirnya serta memikirkan makna-maknanya. Karena tadabbur atau tafakkur (merenung) dalam berdzikir merupakan keharusan sebagaimana ketika ia membaca Al-Qur-ân karena kedua-duanya memiliki maksud dan tujuan yang sama. (Al-Adzkar hal. 9).
ٱلَّذِينَ  ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ 
[yaitu] orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S.Ar-Rad: 28).

1. Keutamaan Dzikir

1. Allah memerintahkan manusia agar banyak berdzikir. Firman-Nya (Q.S. Al-Ahzab: 41-42):يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرً۬ا كَثِيرً۬ا (٤١) وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٤٢) Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah [dengan menyebut nama] Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.(41) Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi danpetang. (42)
2. Allah akan mengingat orang yang mengingat (berdzikir) kepada-Nya:  فَٱذۡكُرُونِىٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡڪُرُواْ لِى وَلَا تَكۡفُرُونِ  Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat [pula] kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari [ni’mat] -Ku. (Q.S. Al-Baqarah: 152).
3. Allah telah menetapkan ahli dzikir sebagai golongan istimewa dan terkemuka. Sabda Rasulullah saw. " Telah majulah orang-orang istimewa !" Tanya mereka: siapakah orang-orang istimewa itu ?" Ujarnya: "Mereka adalah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita." (Riwayat Muslim).
4. Orang-orang yang berdzikir pada hakikatnya orang yang hidup. Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw. bersabda: "Perumpamaan orang-orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak adalah sepe: "Yaitu berdzikir kepada Allah!" (Diriwayatkan oleh Turmdzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).
5. Dzikir merupakan jalan kebebasan dari siksaDari Mu'adz  r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: "Tidak satu pun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskannya dari siksa Allah daripada dzikir kepada Allah 'azza wajalla." (Riwayat Ahmad).
6. Dan menurut riwayat Ahmad pula, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya apa-apa yang  kamu sebut waktu berdzikir tentang keagungan Allah, baik berupa tahlil, takbir dan tahmid, akan beredar kelilng 'arasy dan mendengungkan bagai dengungan lebah menyebutkan irama orang yang mengucapkannya. Nah , tidak sukakah kamu memiliki sesuatu yang akan mengumandangkan namamu itu ?"

2. Batasan Bilangan Berdzikir

    Allah menitahkan kita agar dzikir kepada-Nya sebanyak-banyaknya. Orang-orang yang berakal dapat menarik manfaat dari merenungkan tanda-tanda kebedaran-Nya, dilukiskan-Nya sebagai berikut. 
    ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ 
    [yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (Q.S.Ali-Imran: 191).
    Dan firman-Nya pula:                  
    وَٱلذَّٲڪِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا وَٱلذَّٲڪِرَٲتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةً۬ وَأَجۡرًا عَظِيمً۬ا 
    "laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut [nama] Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (Q.S. Al-Ahzab: 35)
    Menurut Mujahid, tidak dapat dikatakan banyak berdzikir, kecuali bila seseorang itu dzikir kecuali bila seseorang itu berdzikir kepad Allah, baik di waktu berdiri, duduk dan berbaring. 
    Dan ketika Ibnul Shalah ditanya mengenai sampai berapa jumlahnya seseorang itu dikatakan banyak berdzikir, dijawabnya: "Ialah jika seseorang itu terus-menerus menyebut dzikir-dzikir baik siang mauupun malam, pagi atu petang, dalam saat-saat dan keadaan yang beraneka ragam." Ibnu Abbas berucap : "Allah Ta'ala tidak mewajibkan sesuatu atas hamba-Nya, kecuali dengan memberikan batasan tertentu, sedang bagi yang uzur diberikan kelonggaran, kecuali berdzikir. Mengenai ini Allah tidak memberikan batas dimana seseorang harus berhenti. Dan Allah tidak memberikan batas di man sesuatu ke-udzuran buat meninggalkannya."

    3. Adab Berdzikir

    Tujuan berdzikir ialah menyucikan jiwa dan membersihkan diri serta membangunkan nurani. Hal inilah yang disyaratkan oleh ayat yang mulia: 
     وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ 
    "... Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. (Q.S. Al-Ankabut: 45). 
    Adab dzikir yang paling utama dan mesti diperhatikan tatkala ingin berdzikir adalah hendaknya melandasi niat dengan ikhlas dan senantiasa berdzikir dengan dzikir yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Adapun adab-adab berdzikir yang lain, maka Allah Ta’alaa telah merangkum hal tersebut dalam firman-Nya (yat),
     “وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِى نَفۡسِكَ تَضَرُّعً۬ا وَخِيفَةً۬ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأَصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَـٰفِلِينَ
    " Dan sebutlah [nama] Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A'raf: 205).  (QS.Al A’raaf: 205). 
    Dari ayat ini dapat kita ringkas beberapa adab dalam berdzikir, yaitu:

    • Berdzikir di dalam hatiMaksudnya adalah dengan memahami makna yang diucapkan dengan hatinya. Hal ini akan memudahkan untuk berdzikir dengan ikhlas karena lebih menjauhkan dari riya’ dan akan lebih mudah untuk dikabulkan.
    • Merendahkan diriHendaknya dalam berdzikir menghadirkan hati dengan menganggap dirinya hina, dalam keadaan tunduk, mengakui akan kekurangan dirinya karena hal tersebut akan membantu untuk menumbuhkan rasa kehinaan dalam mengingat keagungan Rabbnya.
    • Dengan rasa rakutMaksudnya adalah takut diadzab karena kurang dalam beramal yang benar, takut amalannya ditolak dan tidak diterima oleh Alloh, sehingga yang demikian itu justru menambah motivasi untuk beramal lebih banyak dan lebih baik. Inilah sifat-sifat orang mukmin sebagaimana yang diterangkan Alloh dalam surat Al Mu’minuun: 60, (yat), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”. 
    • Merendahkan suaraDitekankan untuk merendahkan suara dalam berdzikir karena hal ini akan lebih mendekatkan pada perenungan akan keagungan Rabb yang sempurna. Imam Ibn Katsir berkata, “Oleh karena itu Alloh berfirman, “dengan tidak mengeraskan suara”, demikianlah ketika berdzikir (hendaknya tidak mengeraskan suara-pen), dan dzikir bukanlah berupa sahutan dan suara yang keras” (Tafsirul Qur’anil Azhim). Rasulullah saw. pernah mendengar segolongan manusia yang berdo'a dengan suara keras dalam satu perjalanan, maka sabdanya: "Hai manusia! pelan-pelanlah dalam bersuara, karena kamu tidaklah menyeru orang-orang yang tuli atau di tempat yang jauh . Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi Mahadekat, bahkan lebih dekat lagi kepadamu  dari leher kendaraanmu!" (HR. Bukhari dan Muslim). 
    • Berdzikir dengan lisan, bukan dengan hati sajaHal ini ditunjukkan dalam ayat tersebut pada lafadz, “dengan tidak mengeraskan suara” yang bermakna berbicara dengan mengeluarkan suara yang lirih, sehingga yang dimaksud adalah menggabungkan antara dzikir dengan lisan dan dzikir dengan qolbu,
    • Berdzikir di waktu pagi dan petangAyat di atas juga menunjukkan waktu yang afdlal untuk berdzikir kepada-Nya, yakni di waktu pagi dan petang. Hal ini tidak membatasi bahwa dzikir hanya dilakukan pada saat itu saja, akan tetapi ayat itu hanya menekankan pentingnya untuk berdzikir di kedua waktu tersebut karena pada saat itu merupakan waktu lowong yang dapat digunakan untuk beribadah dengan bersungguh-sungguh dan pada saat itu pula amalan seluruh manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Alloh.
    • Tidak lalai ketika berdzikir kepada AllahSering kita melihat orang yang berdzikir dengan suara yang keras dan dengan begitu cepatnya, akan tetapi mereka tidak memahami apa yang dia ucapkan. Ini adalah salah satu adab yang jelek, membuat dzikir tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya dan hal ini termasuk salah satu bentuk kelalaian walaupun dia melakukan dzikir. Dzikir itu dapat bermanfaat ketika dipahami, meresap dalam qalbu dan memberi pengaruh bagi ketaatan hamba. Hendaknya dalam berdzikir menghadirkan hati dan tidak tergesa-gesa untuk menyelesaikan dzikir dengan bilangan tertentu.
    • Perihal Dzikir berjamaah dengan komando. Kesalahan sebagian besar kaum muslimin saat ini adalah melakukan dzikir bersama dengan dikomandoi seraya mengucapkan lantunan dzikir dengan suara yang keras. Adapun dzikir mereka dengan suara yang keras telah dijawab dan dalil yang menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabat berdzikir dengan suara keras diterangkan oleh para ulama bahwasanya hal itu dimaksudkan untuk mengajari para sahabat yang belum mengetahuinya. Sedangkan tata cara dzikir dengan dikomandoi maka cara ini tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun para pendukung dzikir model ini berdalil dengan dalil-dalil umum yang tidak menunjukkan bahwa tata cara dzikir yang disyariatkan adalah yang seperti mereka lakukan. Cukuplah bagi kita apa yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud ra ketika beliau mengingkari orang-orang di zaman beliau tatkala melakukan dzikir dengan model persis seperti orang-orang yang mengagungkan dzikir bersama pada saat ini. (Atsar ini diriwayatkan oleh Ad Darimi, Bahsyali dan selainnya). 
    Demikianlah yang dapat kami hadirkan pada kesempatan kali ini, wahai saudaraku isilah waktu kita dengan senantiasa mengingat Allh. Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah satu waktu berlalu bagi Bani Adam dan (mereka) tidak berdzikir (mengingat) Alloh di dalamnya, melainkan akan membawa penyesalan pada hari kiamat” (HR. Baihaqi dan Abu Nu’aim dihasankan oleh Imam Al Albani dalam Shohihul Jami’).
                            ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                       “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
      Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
      Sumber: 
      fikih Sunnah 4, Sayyid Saabiq. telah diedit untuk keselarasan.
      https://salafiyunpad.wordpress.com/2009/06/06/berdzikirlah-sesuai-sunnah/

      Tidak ada komentar:

      Posting Komentar