Senin, 12 Agustus 2013

Syarat dan Ucapan Ijab Qabul Dalam Aqad Pernikahan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Ijab kabul adalah ucapan dari orangtua atau wali mempelai wanita  untuk menikahkan putrinya kepada sang calon mempelai pria. Orang tua mempelai wanita melepaskan putrinya untuk dinikahi oleh seorang pria, dan mempelai pria menerima mempelai wanita untuk dinikahi. Ijab kabul merupakan ucapan sepakat antara kedua belah pihak.
Rukun yang pokok dalam perkawinan adalah ridhanya laki-laki dan perempuan dan persetujuan mereka untuk mengikat hidup berkeluarga. Karena perasaan ridha dan setuju bersifat kejiwaan yang tak dapat dilihat, maka harus ada perlambang yang tegas untuk menunjukkan kemauan mengadakan ikatan bersuami isteri.  Perlambang itu diutarakan dengan kata-kata oleh kedua belah pihak yang mengadakan aqad. Pernyataan pertama menunjukkan kemauan untuk membentuk hubungan suami isteri disebut "ijab." Dan pernyatan kedua yang dinyatakan oleh pihak yang mengadakan aqad berikutnya untuk menyatakan rasa ridaha dan setujunya disebut "Qabul."

1. Syarat Ijab Qabul

  1. Kedua belah pihak sudah tamyiz (bisa membedakan  benar dan salah). Bila salah satu pihak ada yang gila atau masih kecil, maka pernikahan dinyatakan tidak sah.
  2. Ijab Qabulnya dalam satu majelis. Yaitu ketika mengucapkan ijab qabul tidak boleh diselingi dengan kata-kata lain, atau menurut adat dianggap ada penyelingan yang menghalangi peristiwa ijab dan qabul. 
  3. Hendaknya ucapan qabul tidak menyalahi ucapan ijab, kecuali kalau lebih baik dari ucapan ijabnya sendiri yang menunjukkan pernyataan persetujuannya lebih tegas. Misalnya, jika pengijab mengucapkan:"Aku kawinkan kamu dengan anak perempuanku si Anu dengan mahar Rp.100,- lalu qabul menyambut:"Aku terima nikahnya dengan Rp.200,- maka nikahnya sah, sebab qabulnya memuat hal yang lebih baik (lebih tinggi nilainya) dari yang dinyatakan pengijab.
  4. Pihak-pihak yang melakukan aqad harus dapat mendengarkan pernyataan masing-masingnya dengan kalimat yang maksudnya menyatakan terjadinya pelaksanaan aqad nikah, sekalipun kata-katanya ada yang tidak dapat dipahami, karena yang dipertimbangkan di sini ialah maksud dan niat, bukan mengerti setiap kata-kata yang dinyatakan dalam ijab dan qabul.

2. Kata-Kata Dalam Ijab Qabul

  1. Dipahami semua pihak. Dalam ijab qabul haruslah dipergunakan kata-kata yang dapat dipahami oleh masing-masing pihak yang melakukan aqad nikah sebagai menyatakan kemauan yang timbul dari kedua belah pihak untuk nikah, dan tidak boleh menggunakan kata-kata yang samar atau kabur. Ibnu Taimiyah mengatakan : Aqad nikah, ijab qabulnya boleh dilakukan dengan bahasa, kata-kata atau perbuatan apa saja yang oleh masyarakat umumnya dianggap sudah menyatakan terjadinya nikah. Para ahli fikih pun sependapat bahwa di dalam qabul boleh digunakan kata-kata dan bahasa apa saja, tidak terikat kepada suatu bahasa atau kata khusus, asalkan kata-kata itu dapat menyatakan rasa ridha dan setuju, misalnya: saya terima, saya setuju, saya laksanakan dan sebaginya.
  2. BOleh dengan kata nikah atau tazwij. Adapun ijab, maka para ulama sepakat boleh dengan menggunakan kata-kata nikah dan tazwij, atau pecahan dari kedua kata tersebut, seperti: Zawwajtuka, ankahtuka, yang keduanya secara jelas menyatakan kawinl
  3. Bahasa bukan Arab. Mengenai ijab qabul bukan dengan bahasa Arab, para ahli fikih sependapat ijab qabul boleh dilakukan dengan bahasa selain Arab, asalkan memang pihak-pihak yang beraqad baik semua atau salah satunya tidak tahu bahasa Arab.
  4. Ijab qabulnya orang bisu. Ijab qabul orang bisu sah dengan isyaratnya, bilamana dapat dimengerti, sebagaimana halnya dengan aqad jual belinya yang sah dengan jalan isyaratnya, karena isyarat itu mempunyai makna yang dapat dimengerti. Tetapi kalau salah satu pihaknya tidak memahami isyaratnya, ijab qabulnya tidak sah, sebab yang melakukan ijab qabul hanyalah antara dua orang yang bersangkutan itu saja.
  5. Ijab qabulnya orang gaib (tidak hadir). Jika salah seorang dari pasangan pengantin tidak ada tetapi tetap mau melanjutkan aqad nikahnya, maka wajiblah ia mengirim wakilnya atau menulis surat kepada pihak lainnya meminta diaqadnikahkan , dan pihak yang lain ini jika bersedia menerima, hendaklah menghadirkan  para saksi dan membacakan isi suratnya kepada mereka, atau menunjukkan wakilnya kepada mereka dan mempersaksikan kepada mereka di dalam majlisnya bahwa aqad nikahnya telah diterimanya. Dengan demikian qabulnya dianggap masih dalam satu majelis.

3. Ucapan Ijab Qabul Harus Mutlak

Para ahli fikih mensyaratkan hendaknya ucapan yang dipergunakan di dalam ijab qabul bersifat mutlak, tidak diembel-embeli dengan sesuatu syarat, misalnya pengijab mengatakan : "Aku kawinkan putriku dengan kamu." lalu penerimanya menjawab: "Saya terima." Maka ijab qabul seperti ini namanya bersifat mutlak, hukumnya menjadi sah, yang selanjutnya mempunyai akibat-akibat hukum. 
Jenis ijab qabul yang membuat aqad nikah menjadi tidak sah, diantaranya: 
  1. Ijab qabul diembel-embeli dengan suatu syarat. Yaitu bahwa pernikahannya dihubung-hubungkan dengan sesuatu syarat lain, umpamanya peminang mengatakan:"Kalau saya sudah dapat pekerjaan, puteri bapak saya kawin." Lalu ayahnya menjawab:"Saya terima." Jenis aqad nikah seperti ini tidak sah, sebab pernikahannya dihubungkan dengan sesuatu yang akan terjadi yang boleh jadi tidak terwujud, Tetapi jika aqad nikahnya dikaitkan dengan sesuatu yang dapat terwujud seketika itu juga, maka aqad nikahnya sah; umpamanya peminang mengatakan:" Jika puteri bapak umurnya sudah 20 tahun, saya kawini dia." Lalu bapaknya menjawab;"Saya terima," Dan ketika itu anaknya memang benar-benar sudah berumur 20 tahun. Begitu juga misalnya puterinya mengatakan:"Kalau ayah setuju, saya mau kawin dengan kamu." Lalu laki-lakinya menjawab:" Saya terima." dan ayahnya yang ada di majlisnya mengatakan :"Saya terima."
  2. Ijab qabul yang dikaitkan dengan waktu akan datang. Contohnya: peminang berkata: "Saya kawini puteri bapak besok atau bulan depan." Lalu ayahnya menjawab:"Saya terima." Ijab qabul dengan ucapan seperti ini tidak sah, baik ketika itu maupun kelak setelah tibanya waktu yang ditentukan itu. Sebab mengaitkan dengan waktu akan datang berarti meniadakan ijab qabul yang memberikan hak (kekuasaan) menikmati seketika itu dari pasangan yang mengadakan aqad nikah.
  3. Aqad nikah sementara waktu. Jika aqad nikah dinyatakan untuk sebulan atau lebih atau kurang, maka pernikahannya tidak sah, sebab kawin itu dimaksudkan untuk hidup bergaul secara langgeng guna mendapatkan anak,  memelihara keturunan dan mendidik mereka. Karena itu para ahli fikih menyatakan bahwa kawin mut'ah (sementara) dan kawin cina buta (tahlil) tidak sah. Karena yang pertama bermaksud untuk bersenang-senang semata, sedang yang kedua bermaksud untuk menghalalkan bekas suami perempuan tadi  dapat kembali kawin dengannya.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber
Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq. Telah diedit untuk keselarasan.

    18 komentar:

    1. kalau cara pengucapan nya bagaimana..?

      BalasHapus
      Balasan
      1. Seperti yang diuraiakan di atas, dengan bahasa apa saja silakan, yang penting bisa dipahami oleh kedua fihak dan hindari kata-kata bersyarat, waktu yang akan datang serta nikah sementara waktu (mut'ah)

        Hapus
      2. maaf sebelumnya...
        mohon klarifikasinya atau diganti berkaitan dengan poin 3 dalam syarat ijab qobul yaitu jika pengijab mengucapkan:"Aku kawinkan kamu dengan anak perempuanku si Anu dengan mahar Rp.100,- lalu qabul menyambut:"Aku terima nikahnya dengan Rp.200,- maka nikahnya sah
        apakah benar ketika mengucapkan ijab nominal Rp.100,- sehinga qobulnya berubah menjadi Rp.200,- mohon pengarahannya pak ust... maaf seblmnya

        Hapus
      3. Terima kasih anda telah bertanya:
        [1]. Penjelasan tersebut saya kutip dari Kitab Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq yang memuat pendapat / ijtihad ulama.(mungkin) maksudnya "menghargai lebih baik lagi."
        [2]. Itu hanya "kebolehan" bukan keutamaan. Jika hendak lebih berhati-hati pilihlan cara yang utama/normatif; kecuali ada sesuatu hal /halangan yang memaksa untuk mengambil hal yang masih dibolehkan.
        [3]. Ijtihad bukanlah hukum, tetapi pendapat- boleh diikuti boleh juga tidak.
        Mudah-mudahan Allah merahmati kita semua, amin....

        Hapus
    2. Yth. Bapak Ustas.
      Terima kasih atas tulisannya, sangat bermanfaat bagi yang belum mengetahuinya.
      Kalau bisa dilengkapi dengan hotbah nikah. Terima kasih
      http://nurkasim49.blogspot.com

      BalasHapus
    3. Assalamu'alaikum Ustad mhn beri kami sedikit ilmu sbab kami bodoh tentang dalil ucapan ijab qobul dlm nikah Contoh

      "Aku kawinkan kamu dengan anak perempuanku si Anu dengan mahar xxx lalu qabul menyambut:"Aku terima nikahnya.

      Pertanyaan kami apakah nikahnya Sah? klu sah bagaimana dahulu ucapan Rasulullah SAW menikah dg Khadijah? tlg tunjukkan dalilnya di dalam kitab Apa? beserta rawi dan sanad hadis halaman berapa? secara detail krn ini mengingat HUKUM FIQH

      Pertanyaan yg kedua apakah boleh saudara sepupu laki2/ anak paman saudara ayah menjadi wali? Kalau boleh apakah saudara sepupu tersebut boleh menikah dgn wanita yg akan menikah sedang ia menjadi walinya mhn pencerahannya berdasarkan dalil2 yang shahih

      Mhn maaaf apabila ada kata kami yg krg berkenan wassalam........

      BalasHapus
      Balasan
      1. 'Alaikum salam wr. wb.
        Anda terlalu rendah hati, yang ditanya tidak lebih paham dari anda, kecuali bermaksud meyebarkan da'wah berdasarkan referensi buku-buku/kitab .
        1.Ijab qabul semacam itu disebut ijab qabul mutlak, sah.
        2.tentang ijab qabul pernikahan nabi dan siti khadijah, saya belum menemukan referensi yang shahih, itu bukan bagian fiqih tetapi sejarah, karena waktu itu beliau, Muhammad belum diangkat menjadi nabi. Hanya ada diterima keterangan tentang jumlah maharnya, sbb.:
        Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diceritakan bahwa mahar yang diberikan Nabi Muhammad saw adalah berupa uang sebanyak 500 dirham.

        Dasar pengambilan:

        Sahih Muslim Juz 1 halaman 597:

        حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيْزِ عَنْ يَزِيْدٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ أبِى سَلْمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَحْمَنِ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ زَوْجض النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ كَانَ صِدَاقُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَتْ: كَانَ صِدَاقُهُ لأَزْوَاجِهِ ثِنْتَى عَشْرَةَ أوْقِيَةً وَنَشًّاز قَالَ: قَالَتْ: أتَدْرِى مَا النَّشُّ ؟. قَالَ: قُلْتُ: لاَ! قَالَتْ: نِصْفُ أوْقِيَةٍ ؛ فَتِلْكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ. فَهَذَا صِدَاقُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَزْوَاجِهِ.

        Telah menceritakan hadist pada kami Abdul Aziz dari Yazid dari Muhammad dari Ibrahim dari Abi Salamah dari Abdur Rahman bahwa sesungguhnya dia berkata: saya telah bertanya kepada Aisyah isteri Rasulullah saw., berapa jumlah mas kawin Rasulullah saw.? Aisyah berkata: mas kawin Rasulullah saw kepada para isteri beliau adalah 12 auqiyah dan satu nasy. Aisyah berkata: Tahukah engkau apakah nash itu? Abdur Rahman berkata: Aku berkata: Tidak! Aisyah berkata: Setengah auqiyah. Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mas kawin Rasulullah saw kepada para isteri beliau.
        Daalam riwayat lain ada diberitakan maharnya dengan 20 ekor unta, Allaahu a'lam.
        3.Saudara sepupu laki-laki boleh jadi wali jika tidak ada urutan wali yang lebih dekat ke pengantin wanita. Jika wali sendiri yang akan menikah,dan tidak ada wali yang sederajat, dia bisa meminta wali hakim atau wali muhakkam (kesepakatan calon poengantin menunjuk wali).
        Mudah-mudahan bisa membantu. dan mohon ada yang berkenan mengoreksi jika ada yang keliru.

        Hapus
    4. Wassalamu alaikum Wr.Wb.Kalimat ijab kabul yang benar yang mana:
      1. saya nikahkan dan kawinkan ...............dst. atau 2 saya nikahkan ...............................
      Hal di atas saya tanyakan kepada Bapak karena dua-duanya sering saya dengar di masyarakat atau dalam ceritra sinetron di Tv yang menurut saya kalimat pertama terasa rancu karena ada dua kata yang artinya sama yaitu nikah dan kawin.Terima kasih atas
      pencerahan Bapak

      BalasHapus
      Balasan
      1. Alaikum salam wr. wb.
        Pertanyaan anda sudah dijawab di http://www.jadipintar.com/2013/09/Hiburan-Musik-dan-Nyanyian-Dalam-Pesta-Pernikahan-Bolehkah-.html tempat anda pertama mengajukannya, terima kasih, semoga bermanfaat.

        Hapus
    5. Assalamualaikum pak ust..
      Saya mau bertanya apakah ada hukumnya ketika orang tua perempuan selaku wali nasab dlm ijab kabul salah mengucapkan nama pengantin pria. Contoh : nama pengantin pria "si polan" namun diucapkan "si polin",

      BalasHapus
      Balasan
      1. 'Alaikum salam wr. wb.
        kalau ragu-ragu terhadap kebenaran ucapannya, ijab-qabul boleh diulang sampai yakin, dan 2 saksi menyatakan SAH pernikahannya.
        Allaahu a'lam.

        Hapus
    6. kalau menurut saya kalimat yang benar adalah : aku nikahkan putri kandungku kepada engkau.. - bukan ( aku nikahkan engkau dengan putriku).. karna laki-laki menerima.. artinya yang dinikahkan itu perempuan bukan laki-laki yang dinikahkan,karna yang punya hak wali adalah perempuan..atau dengan kata lain wanita yang diberikan kepada laki-laki bukan laki-laki yang diberikan kepada perempuan. ( diberikan tanggung jawab maksudnya ) kesimpulannya kalimat yang diberikan pak ustaz di atas sudah benar tapi kalimatnya terbalik, kalau kalimat bahasa sudah terbalik berarti sudah lain arti. gunakan bahasa yang baik dan benar pak ustaz.. dalam bahasa arab atau bahasa alqur'an lain huruf sudah lain arti.. begitupun dalam bahasa indonesia. dalam bahasa indonesia kalimat " makan dengan kalimat "dimakan kan sudah beda arti/makna.

      BalasHapus
      Balasan
      1. REDAKSI UCAPAN IJAB QABUL:
        Redaksi tersebut saya kutip dari Kitab FIkih Sunnah jilid 6 halaman 55 karya Sayyid Sabiq, adapun redaksi yang sesuai dengan koreksi anda, tertera di alinea bawahnya, pada sub judul "Kata-kata dalam ijab Qabul."
        Terima kasih koreksinya, jazaakallaahu khaira.

        Hapus
    7. Aslm mualaiku wr wb,
      Mohon tanya, bolehkah ijab qabul dsampaikan sendiri oleh calon pengantin pria kpda orang tua calon pengantin wanita, saya memohon doa restu untuk menikai putri bapak yg bernama blabla.. dngan maskwin blabala dhadapan saudara2 dan saksi2 serta bpk penghulu.. trimakasi..

      BalasHapus
      Balasan
      1. Alaikum salam wr. wb.
        Tidak diperbolehkan, itu namanya menikahkan diri sendiri. Hak menikahkan ada pada wali atau orang tua si calon perempuan. Calon pengantin lelaki menjawab ijabnya si wali dengan kalimat yang diistilahkan setuju (qabul).

        Hapus
    8. Assalamu alaikum pak ustad...
      Saya mau bertanya kalau saat ijab kabul pengantin laki-laki salah menyebut nama pengantin wanita itu gimana..?
      Contonya: pengantin perempuan namanya siska tapi saat ijab kabul penggantin laki2 menyebut nama siskaANTI itu giman tuh..?
      Katanya sih penambahan kata ANTI itu karena ada alasan khusus..
      Tolong di jawab pak ustad
      Terimah kasih

      BalasHapus
    9. 'Alaikum salam wr. wb.
      Tanpa mencari pembenaran dan pembathilannya, sebaiknya mengambil jalan yang aman sebagai unsur kehati-hatian, yakni:
      1. Menyebut nama sesuai dengan yang diberikan dari orang tuanya.
      2. Jika salah menyebut nama, sebaiknya diulang sampai benar.
      Yang demikian lebih afdhal, insyaallah.

      BalasHapus
    10. Assalamualaikum Ustadz.
      ana mau bertanya soal laval ijab kabul.
      Jika laval ijab seperti ini " aku nikahkan putri kandungku ... kepada engkau.."
      pernikahannya sah dan sempurna atau tidak ust.
      sebab saya pernah bertanya dengan pertanyaan yg sama, katanya harus diulang dengan laval " aku nikahkan engkau ... dengan putriku ..."
      Mohon pencerahannya pak ustadz.
      terimakasih.

      BalasHapus