Selasa, 27 Agustus 2013

Pengertian dan Hukum waris Anak Zina

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Kehadiran anak dalam kehidupan berumah tangga adalah dambaan setiap orang tuaAnak mewarisi tanda-tanda kesamaan orang tua, termasuk juga ciri-ciri khas, baik maupun buruk, tinggi maupun rendah. Dia adalah belahan jantungnya dan potongan dari hatinya. Dengan mempertimbangkan kedudukan anak ini, Allah menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina., demi melindungi nasab, sehingga air tidak tercampur. Anak pun bisa dikenal siapa ayahnya dan ayah pun dapat mengenal siapa anaknya. Dengan perkawinan, seorang isteri menjadi hak milik khusus suami dan dia dilarang berkhianat kepada suami, atau menyiram tanamannya dengan air orang lain dan begitu pula sebaliknya. 

1. Pengertian Zina dan Anak Zina

Definisi Zina. Perbuatan zina dapat didefinisikan / diartikan sebagai berikut  ا لوطا فئ قبل خل عن ملك وشبهة artinya: Memasukkan penis (zakar, bhs. Arab) ke dalam vagina (farj, bhs. Arab) bukan miliknya (bukan istrinya) dan ada unsur syubhat (keserupaan atau kekeliruan)
Anak zina dan anak luar nikah. Dalam kitab  Ahkamul-Mawaarits fil-Fiqhil-Islami disebutkan : “ Anak yang lahir karena perbuatan zina adalah anak yang dilahirkan bukan dari hubungan nikah yang sah secara syar'i atau dengan kata lain, buah dari hubungan haram antara laki-laki dan wanita .“ Senada dengan pengertian di atas, dalam tulisannya yang berjudul  Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia , Abdul Manan menjelaskan bahwa : “anak luar kawin adalah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan, sedangkan perempuan itu tidak berada dalam ikatan perkawinan yang sah dengan pria yang menyetubuhinya. Sedangkan pengertian diluar kawin adalah hubungan seorang pria dengan seorang wanita yang dapat melahirkan keturunan, sedangkan hubungan mereka tidak dalam ikatan perkawinan yang sah menurut hukum positif dan agama yang dipeluknya.“
Dari definisi zina di atas, maka suatu perbuatan dapat dikatakan zina apabila sudah memenuhi 2 (dua) unsur ialah:
  1. Adanya hubungan badan (jimak) antara dua orang yang berbeda jenis kelaminnya
  2. Hubungan badan tersebut bukan sebagai suami isteri yang sah
  3. Tidak ada keserupaan atau kekeliruan dalam perbuatan hubungan badan tersebut.
Berdasarkan dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa anak zina adalah anak yang dihasilkan dari hubungan haram yaitu hubungan badan  antara dua orang laki-laki dan perempuan yang bukan sebagai suami isteri yang sah.

2. Status Hukum Zina dan Anak Zina

Adapun status hukum zina sebenarnya telah jelas disebutkan dalam Al-Qur'an tentang haramnya perbuatan ini, diantaranya firman Allah:
                                                            وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓ‌ۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ فَـٰحِشَةً۬ وَسَآءَ سَبِيلاً۬ 
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.(Q.S. Al-Isra’:32)
dan      ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِى فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٲحِدٍ۬ مِّنۡہُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٍ۬‌ۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِہِمَا رَأۡفَةٌ۬ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّه   وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۖ وَلۡيَشۡہَدۡ عَذَابَہُمَا طَآٮِٕفَةٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk [menjalankan] agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah [pelaksanaan] hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nur: 2)
Anak zina menurut pandangan Islam, adalah suci dari segala dosa, karena kesalahan itu tidak dapat ditunjukkan kepada anak tersebut, tetapi kepada kedua orang tuanya (yang tidak syah menurut hukum).
Di dalam hadis disebutkan: “Setiap anak dilahirkan suci bersih (menurut fitrah)”….(HR. Bukhari).
Oleh karena itu, anak hasil zina pun harus diperlakukan secara manusiawi, diberi pendidikan, pengajaran dan keterampilan yang berguna untuk bekal hidupnya di masa depan.
Tanggung jawab mengenai segala keperluan anak itu, baik materil maupun spiritual adalah ibunya yang melahirkannya dan keluarga ibunya itu.

3. Status Nasab Anak Zina

  1. Menurut Imam Malikdan Syafi’i, anak yang lahir setelah enam bulan dari perkawinan ibu bapaknya, anak itu dapat dinasabkan kepada bapaknya. Akan tetapi jika anak itu dilahirkan sebelum enam bulan dari perkawinan ibu bapaknya, maka dinasabkan kepada ibunya saja, karena diduga ibunya telah melakukan hubungan badan dengan orang lain, sedangkan batas waktu hamil, minimal enam bulan. Artinya tidak ada hubungan kewarisan  antara anak zina dengan ayahnya.
  2. Menurut Imam Abu Hanifah, anak zina tetap dinasabkan kepada suami ibunya tanpa mempertimbangkan waktu masa kehamilan si ibu.
  3. Jika wanita yang melakukan perbuatan zina tersebut adalah seseorang yang memiliki suami atau dalam masa „iddah maka ulama sepakat bahwa nasab dari anak yang dikandung oleh wanita tersebut adalah anak dari suaminya, dan pengakuan seseorang atas anak tersebut tidak dapat diterima. Dalil yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, yaitu sabda Nabi SAW yang artinya : " Anak milik orang yang memiliki ranjang (suami) dan wanita pezina mendapatkan sanksi
  4. Jika wanita yang melakukan perbuatan zina tersebut tidak memiliki suami atau tidak sedang dalam masa „iddah, ada beberapa pendapat mengenai nasab dari anak yang dikandung oleh wanita tersebut. 
  • Pendapat pertama mengatakan bahwa anak tersebut dapat dinasabkan kepada laki-laki yang datang dan mengakuinya sebagai anak dan bukan hasil dari perbuatan zina dengan ibu si anak. Sebalikya, jika laki-laki itu berkata dan mengakui bahwa anak itu adalah anaknya dari perbuatan zina dengan ibu si anak, jumhur ulama berpendapat, anak itu tidak bisa dinasabkan kepadanya. Sebab, nasab atau keturunan adalah sebuah karunia, dan itu tidak bisa diperoleh dari perbuatan tercela. Akan tetapi, balasan yang sesuai untuk perbuatan zina adalah azab.
  • Sedangkan Ishaq bin Rahawaih, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim berpendapat bahwa anak yang lahir karena perbuatan zina adalah keturunan orang yang mengaku, sebab pada kenyataannya ia memang berbuat zina dengan ibu si anak,sebagaimana penetapan nasab anak itu kepada ibunya. Penetapan itu dimaksudkan agar si anak tidak terlantar, tidak mendapat mudharat, dan tidak terkena aib karena perbuatan yang tidak ia lakukan. Sebab, orang yang tidak berdosa tidak akan memikuldosa orang lain. 


4. Beberapa Akibat Negatif dari Zina

Islam menganggap zina sebagai tindakan pidana (jarimah) yang sudah ditentukan sanksi hukumnya dan ketentuan ini sudah pasti. Sayid sabiq dalam Fiqh Sunnah dengan tegas mengatakan, bahwa zina itu termasuk tindak pidana, dengan alasan-alasan:
  • Zina dapat menghilangkan nasab dan dengan sendirinya menyia-nyiakan harta warisan ketika orang tuanya meninggal dunia.
  • Zina dapat menyebabkan penularan penyakit yang berbahaya bagi orang yang melakukannya.
  • Zina merupakan salah satu sebab terjadinya pembunuhan.
  • Zina dapat menghancurkan keutuhan rumah tangga dan meruntuhkan eksistensinya.

5. Akibat Hukum Bagi Anak Zina

Apabila anak dilahirkan secara tidak sah seperti pada kategori pendapat pertama di atas, maka ia tidak dapat dihubungkan dengan bapaknya (tidak sah), kecuali hanya kepada ibunya saja. Dalam hukum Islam anak tersebut tetap dianggap tidak sah, dan berakibat.
  1. Tidak ada hubungan nasab dengan laki-laki yang mencampuri ibunya.
  2. Tidak ada saling mewarisi dengan laki-laki itu dan hanya waris mewarisi dengan ibunya saja.
  3. Tidak dapat menjadi wali bagi anak perempuan, karena dia lahir akibat hubungan di luar nikah.
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
          “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
     Sumber:
    www.abdulhelim.com, telah diedit untuk keselarasan.
    http://www.academia.edu/3790881/makalah_hukum_waris_anak_zina_dan_lian

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar