Sabtu, 24 Agustus 2013

Hukum Waris Bagi Khuntsa (Banci, Wadam)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
simbol banci
Khuntsa berasal dari kata khanats atau al-hantsu yang artinya lembut atau pecah adalah orang yang diragukan dan tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, adakalanya karena dia mempunyai dzakar dan parji atau karena dia tidak mempunyai dzakar atau parji sama sekali. Secara medis jenis kelamin seorang khuntsa dapat dibuktikan bahwa pada bagian luar tidak sama dengan bagian dalam, misalnya jenis kelamin bagian dalam adalah perempuan dan ada rahim, tetapi pada bagian luar berkelamin lelaki dan memiliki penis atau memiliki keduanya (penis dan vagina), ada juga yang memiliki kelamin bagian dalam lelaki, namun dibagian luar memiliki vagina atau keduanya. Bahkan ada yang tidak memiliki alat kelamin sama sekali, artinya seseorang itu tampak seperti perempuan tetapi tidak mempunyai lobang vagina dan hanya lubang kencing atau tampak seperti lelaki tapi tidak memiliki penis. (mohon maaf, penyebutan jenis-jenis alat kelamin hanyalah untuk mempertegas perbedaannya semata). 
Seorang anak khuntsa yang dapat di tentukan statusnya dengan tidak menimbulkan kesulitan, disebut dengan khuntsa ghoirul musykil, adapun jika ia membuang air kecil melewati kedua alat kelamin yang bersama-sama disebut khunsa musykil, termasuk juga dalam ketentuan ini seorang khuntsa yang tidak mempunyai alat kelamin sama sekali, sehingga untuk kepentingan membuang keperluan air kecil maupun air besar di buat lubang tiruan. Oleh karenanya segala sesuatu yang berlaku bagi khuntsa musykil berlaku juga untuknya.

1. Cara Mengidentifikasi Jenis Kelamin Banci 

Kelaki-lakian dan kewanitannya itu diketahui dengan adanya tanda-tanda lelaki atau perempuan, sbb.:
  1. Sebelum dia dewasa dapat diketahui dengan cara bagaimana dia kencing. Bila ia kencing dengan anggota yang khusus bagi laki-laki, maka dia adalah laki-laki; dan bila dia kencing dengan anggota yang khusus bagi perempuan, maka dia adalah perempuan. 
  2. Bila dia kencing dengan kedua anggotanya, maka ditetapkan dengan anggota yang mana dia kencing lebih dulu. 
  3. Dan setelah dia dewasa, bila dia tumbuh jenggotnya atau menggauli perempuan atau bermimpi seperti halnya seorang laki-laki bermimpi, maka dia adalah laki-laki. Dan bila muncul baginya  buah dada seperti halnya buah dada perempuan, maka dia adalah perempuan. 
  4. Apabila tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, karena tidak munculnya tanda-tanda atau muncul akan tetapi bertentangan, maka dia dinamakan khuntsa yang musykil (Khuntsa musykil).

2. Bagian Waris Khuntsa Musykil

Para fuqaha berbeda pendapat tentang hukum warisan bagi khuntsa musykil ini.
  • Dia diberi bagian sebagaimana laki-laki, kemudian diberi bagian sebagaimana dia perempuan. Oleh sebab itu, maka dia harus diperlakukan dengan cara yang terbaik dari dua keadaan itu, sehingga seandainya dia mewarisi menurut satu keadaan dan tidak mewarisi menurut keadaan lain, maka dia tidak diberi sesuatu. Seandainya dia mewarisi menurut dua keadaan dan bagiannya berbeda, maka dia diberi yang minimal dari kedua bagian itu (Ini pendapat Abu Hanifah)
  • Dia mengambil pertengahan antara bagian laki-laki dan bagian perempuan. (Pendapat Malik, Abu Yusuf dan Syi'ah Imamiyah)
  • Masing-masing dari ahli waris dan khuntsa diberi yang minimal dari dua keadaan, sebab dia mengecilkan bagian masing-masing. (Pendapat Asy-Syafi'i)
  • Bila kejelasan keadaan si khuntsa ditunggu, maka masing-masing dari si khuntsa dan ahli waris mendapatkan bagian terkecil, dan sisanya ditahan dulu. Dan bila kejelasan urusan si khuntsa tidak ditunggu lagi, maka dia mengambil pertengahan antara bagian laki-laki dan bagian perempuan. (Pendapat Ahmad). Inilah pendapat yang terbaik dan terkuat. Wallahu a'lam.

3. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci


1. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, dan seorang anak banci. 
- Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki, maka pokok masalahnya dari lima (5), 
- Sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah, seperti dalam masalah al-munasakhat. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8), sedangkan bagian anak perempuan empat (4), dan bagian anak banci lima (5). Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti.
2. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami, ibu, dan saudara laki-laki banci. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita, kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki, maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di- 'aul-kan. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya, menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24).
Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian, ibu enam (6) bagian, saudara laki-laki banci tiga (3) bagian, dan sisanya kita bekukan. Inilah tabelnya:


6


8
  

6


24
Suami 1/2

3
Suami 1/2

3


9
Ibu 1/3

2
Ibu 1/3

2


6
Banci

3
Banci kandung

1


4
Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara, dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas.
3. Seseorang wafat dan meninggalkan suami, saudara kandung perempuan, dan saudara laki-laki seayah banci. Maka pembagiannya seperti berikut:
Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki, maka pokok masalahnya dua (2), sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7), dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14).
Bagian suami enam (6), saudara kandung perempuan enam (6) bagian, sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. Adapun sisanya, yakni dua (2) bagian dibekukan. Ini tabelnya:


2


6


7


14
Suami 1/2

1
Suami 1/2

3


6
Sdr. kdg. pr. 1/2

1
Sdr. kdg. pr. 1/2

3


6
Banci lk.

-
Sdr. pr. seayah 1/6

1


-
4.Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang anak yang banci.
Penyelesaiannya:
·  Jika dianggap laki-laki, berarti ahli waris ada 2 orang anak laki-laki. Keduanya dalam hal ini adalah sebagai ‘ashabah bin-nafsi dan mewarisi seluruh harta dengan masing-masing memperoleh 1/2 bagian.
· Jika dianggap perempuan, berarti ahli warisnya seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Dalam hal ini, mereka adalah sebagai ‘ashabah bil-ghair dengan ketentuan bagian anak laki-laki sama dengan dua kali bagian anak perempuan. Jadi anak laki-laki memperoleh 2/3, sedangkan anak perempuan memperoleh 1/3.
Dari kedua macam anggapan ini, pembagiannya adalah sebagai berikut:
a) Menurut madzhab Hanafi:
Bagian anak laki-laki = 2/3 Bagian anak banci = 1/3
b) Menurut madzhab Syafii:
Bagian anak laki-laki = ½
Bagian anak banci = 1/3
Sisa = 1/6 (ditahan sampai jelas statusnya)
c) Menurut madzhab Maliki:
Bagian anak laki-laki = ½ x (1/2 + 2/3) = 7/12
Bagian anak banci = ½ x (1/2 + 1/3) = 5/12
5. Seorang perempuan wafat dengan meninggalkan harta berupa uang Rp 36 juta. Ahli warisnya terdiri dari suami, ibu, dua saudara laki-laki seibu, dan seorang saudara sebapak yang khuntsa.
Penyelesaiannya :
·  Jika diperkirakan laki-laki: 
Suami : 1/2 x Rp 36 juta = Rp 18 juta
Ibu : 1/6 x Rp 36 juta = Rp 6 juta
Dua sdr lk seibu : 1/3 x Rp 36 juta = Rp 12 juta
Khuntsa (Sdr lk sebapak) : Sisa (tetapi sudah tidak ada sisa lagi)
· Jika diperkirakan perempuan (dalam hal ini terjadi ‘aul dari asal masalah 6 menjadi 9) :
Suami : 3/9 x Rp 36 juta = Rp 12 juta
Ibu : 1/9 x Rp 36 juta = Rp 4 juta
Dua sdr lk seibu : 2/9 x Rp 36 juta = Rp 8 juta
Khuntsa (Sdr pr sebapak) : 3/9 x Rp 36 juta = Rp 12 juta
Dari kedua macam perkiraan ini, pembagiannya adalah sebagai berikut:
Menurut madzhab Hanafi:
a.  Suami : Rp 18 juta
b.  Ibu : Rp 6 juta
c.  Dua sdr lk seibu : Rp 12 juta
d.  Khuntsa (Sdr sebapak) : tidak mendapat apa-apa
Menurut madzhab Syafii:
a.  Suami : Rp 12 juta
b.  Ibu : Rp 4 juta
c.  Dua sdr lk seibu : Rp 12 juta
d.  Khuntsa (Sdr sebapak) : tidak mendapat apa-apa
e.  Sisa : Rp 8 juta (ditahan sampai status khuntsa jelas)
Menurut madzhab Maliki:
a.  Suami : ½ x (18 + 12) = Rp 15 juta
b.  Ibu : ½ x (6 + 4) = Rp 5 juta
c.  Dua sdr lk seibu : ½ x (12 + 8) = Rp 10 juta
d.  Khuntsa (Sdr sebapak) : ½ x (0 + 12) = Rp 6 juta
6. Seseorang wafat dengan meninggalkan ahli waris seorang ibu, seorang saudara perempuan kandung, 2 orang saudara laki-laki seibu, dan seorang saudara seibu yang khuntsa.
Penyelesaiannya:
Dalam kasus ini, ahli waris yang khuntsa adalah saudara seibu. Karena bagian warisan saudara seibu, menurut Al-Qur’an, baik laki-laki maupun perempuan adalah sama saja, yaitu 1/6 jika seorang diri, atau 1/3 dibagi sama rata jika lebih dari seorang, maka kasus khuntsa di sini tidak mempengaruhi bagian warisan untuk semua ahli waris. Jadi pembagiannya adalah sebagai berikut:
·         Bagian ibu = 1/6
·         Bagian saudara perempuan kandung = ½
·         Bagian 2 saudara pr seibu + 1 saudara seibu khuntsa = 1/3
(1/3 bagian ini dibagi sama rata untuk 3 orang saudara seibu, termasuk yang khuntsa, yaitu masing-masing mendapat 1/9 bagian).

Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                 
         “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sumber: 
    Fikih Sunnah 14, Sayyid Sabiq, telah diedit untuk keselarasan.
    http://media.isnet.org/islam/Waris/HukumBanci.html
    http://jalanbaru92.blogspot.com/2012/01/warisan-khuntsa-musykil.html

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar