Jumat, 23 Agustus 2013

Hukum Waris Anak Dalam Kandungan (Hamlu)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
ibu hamil

1. Pengertian Anak dalam Kandungan

Orang yang mengandung sering disebut dengan al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar dari kata hamalat . Dan tercantum dalam Alquran surah Al-Ahqaf : 15. Menurut istilah para fuqaha, yaitu janin yang dikandung dalam perut ibu baik laki-laki maupun perempuan. Apakah si janin beroleh bagian warisan ketika ada anggota keluarga yang saling mewarisi meninggal dunia, padahal dia belum keluar dari rahim ibunya ?
  • Pada dasarnya apabila seseorang meninggal dunia dan diantara ahli warisnya terdapat anak yang masih dalam kandungan atau istri yang sedang menjalankan masa iddah dalam keadaan mengandung atau kandungan itu dari orang lain yang meninggal, maka anak yang dalam kandungan itu tidak memperoleh warisan bil fi’likarena hidupnya ketika muwaris meninggal tidak dapat dipastikan. Karena salah satu syarat dalam mewarisi yang harus dipenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. Dengan demikian bagi anak yang masih dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya, karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya, apakah bayi itu akan lahir selamat atau tidak ,laki-laki atau perempuan , satu atau kembar. 
  • Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kita dihadapkan pada ikhtiyat menyangkut kemaslahatan demi terpelihara hak anak, maka bagiannya di-mawqufkan sampai dia lahir karena ada kemungkinan bahwa dia telah hidup ketika muwarisnya meninggal. Atau pada keadaan darurat menyangkut kemaslahatan ahli waris yang mengharuskan disegerakan pembagian harta warisan dalam bentuk awal. Oleh karena itu jika memungkinkan dapat menentukan isi kandungan dengan tes USG untuk mengetahui jenis kelamin dari anak tersebut maka disimpanlah bagian harta warisan untuknya. Karena anak dalam kandungan menjadi masalah dalam kewarisan karenaketidakpastian yang ada pada dirinya, sedangkan warisan dapat diselesaikan secara hukum jika kepastian itu sudah ada.
Kandungan itu adakalanya sudah lahir dari perut ibu, dan adakalanya masih dalam perut ibunya saat ada anggota keluarganya yang meninggal dunia. Dalam kaitannya dengan perolehan hak waris, masing-masing dari dua keadaan ini mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda-beda.

2. Kandungan Yang Dilahirkan

  • Apabila dia lahir dalam keadaan hidup, maka dia mewarisi dari dan diwarisi oleh orang lain; karena adanya riwayat dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:  إ ذ ا ستهل المولود ورث  "Apabila anak yang dilahirkan itu menangis, maka dia diberi warisan." Istihlaal artinya jeritan tangis bayi; maksudnya ialah bila nyata kehidupan anak yang lahir itu, maka dia diberi warisan. Tandanya hidup ialah suara, nafas, bersin atau serupa itu. Ini adalah pendapat Ats-Tsauri, Al-Auza'i, Asy-Syafi'i dan sahabat-sahabat  Abu hanifah. 
  • Apabila kandungan itu lahir dalam keadaan mati bukan karena tindak pidana terhadap ibunya, menurut kesepakatan dia tidak mewarisi dan tidak pula diwarisi.
  • Apabila dia lahir dalam keadaan mati disebabkan tindak pidana terhadap ibunya, maka dia tetap mewarisi dan diwarisi (Pendapat orang-orang Hanafi). Dalam keadaan demikian, dia tidak mewarisi sedikitpun, akan tetapi dia mendapatkan ganti rugi saja karena darurat. Ganti rugi itu diwarisi oleh setiap orang yang berhak mendapat warisan darinya. (Pendapat aliran Syafi'i, Hambali dan malik).

3. Kandungan Yang Masih Dalam Perut

  1. Tidak bisa menahan warisan. kandungan yang masih berada dalam perut ibu itu tidak bisa menahan sebagian harta peninggalan, bila dia bukan perawis atau terhalang oleh orang lain dalam segala keadaan.
  2. Bisa menahan. Semua harta peninggalan ditahan sampai kandungan dilahirkan, bila dia pewaris dan ada seorang perwaris tetapi terhalang olehnya, Demikian kesepakatan para fuqaha (para ahli fikih). Demikian pula semua harta peninggalan ditahan bila bersamanya terdapat ahli waris yang tidak terhalang, akan tetapi mereka semua merelakan baik secara terang-terangan ataupun tersembunyi, untuk tidak membagi warisan secara segera, misalnya mereka diam saja atau tidak menuntutnya.
  3. Ahli waris dengan bagian tetap. Setiap ahli waris yang mempunyai fardh (bagian) tidak berubah dengan berubahnya kandungan, maka dia mendapatkan bagiannya secara sempurna, dan sisanya ditahan.
  4. Ahli waris berpeluang terhalang. Pewaris yang gugur dengan salah satu dari dua keadaan kandungan dan tidak gugur dengan keadaan lain, tidak diberi bagian sedikitpun karena hak kewarisannya itu meragukan. Maka barang siapa yang mati sedang dia meninggalkan seorang isteri yang hamil dan seorang saudara laki-laki, maka saudara laki-laki itu tidak mendapatkan sesuatu, sebab mungkin kandungan yang akan lahir itu laki-laki (kalau bayi lahir laki-laki, saudara laki-laki terhalang mendapatkan waris-Pen). Inilah madzhab jumhur (mayoritas).
  5. Ashhabul fardh disiapkan bagian minimal. Ashhabul furudh (ahli waris yang mempunyai bagian tertentu) yang bagiannya berubah karena kandungan yang akan dilahirkan itu laki-laki atau perempuan, disiapkan bagian yang minimal dan  maksimal dari kedua kemungkinan di atas kemudian ditahan sampai dia lahir. Bila kandungan yang dilahirkan hidup, maka diberikan bagian sesuai dengan kedudukannya dalam ilmu fara'idh, tetapi apabila kandungan yang dilahirkan itu mati, maka dia (si bayi) tidak berhak sedikitpun; dan semua harta peninggalan dibagikan kepada ahli waris tanpa memperhatikan kandungan itu.

4. Batas Waktu Maksimal dan Minimal Bagi Kandungan

  1. 6 Bulan. Batas waktu minimal terbentuknya janin dan dilahirkan dalam keadaan hidup adalah 6 (enam) bulan, karena Allah berfirman : وَحَمۡلُهُ ۥ وَفِصَـٰلُهُ ۥ ثَلَـٰثُونَ شَہۡرًا‌  Artinya : Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan... (Q.S. Al-Ahqaaf: 15). Dan firman-Nya: وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ  Artinya : ...Dan menyapihnya dalam dua tahun ... (Q.S. Luqman: 14).  Apabila menyapihnya dua tahun, maka tidak ada sisa lagi selain enam bulan untuk mengandung. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur fuqaha (mayoritas ahli fiqih).
  2. 9 Bulan. Batas waktu minimal dari kandungan itu sembilan bulan (Pendapat sebagian orang-orang Hambali).
  3. UU Mesir. Undang-undang warisan Mesir bertentangan dengan pendapat jumhur ulama dan mengambil pendapat dari sebagian orang -orang Hambali dan pendapat para dokter resmi, yaitu bahwa batas minimal dari kandungan ialah sembilan bulan Qamariyah yakni 270 hari, karena yang demikian itu sesuai dengan apa yang banyak sekali terjadi.  Wallahu a'lam.

5. Perhitungan Kewarisan Anak Dalam Kandungan 


  • Jika lahir laki-laki, maka para ashhabul furudh yang tidak terhijab atas keberadaannya dapat mengambil bagian tanpa menunggu kelahiran. 
  • Jika lahir perempuan, maka bayi tersebut hanya mengambil bagiannya sebagai anak  perempuan, selebihnya diberikan kepada yang berhak. Baik secara perhitungan ulang atau dengan cara lain yang sesuai dengan aturan hukum waris.
  • Jika bayi lahir dalam keadaan meninggal, maka harta taksiran diberikan kepada yang  berhak sesuai aturan hukum waris. 
  • Jika bayi lahir kemudian meninggal, namun secara yuridis dapat dikatakan/dibuktikan hidup, maka akan tetap mendapat bagian harta sesuai jenis kelamin dan keberadaan dirinya dan kemudian harta tersebut iberikan kepada ahli waris yang berhak atas dirinya (bukan lagi pewaris (mayit) pertama dalam perhitungan).
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
Mudah-mudahan bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
     “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Fikih Sunnah 14, Sayyid Sabiq, telah diedit untuk keselarasan.
http://www.scribd.com/doc/28906012/Kewarisan-Anak-Dalam-Kandungan#scribd

Tidak ada komentar:

Posting Komentar