Rabu, 28 Agustus 2013

Hak Warisan Bagi Isteri Yang Dicerai


 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
bercerai
Putussss !!!
Arti Talak adalah pernyataan atau sikap atau perbuatan untuk melepaskan ikatan pernikahan. Bisa juga dikatakan sebagai putusnya hubungan perkawinan antara suami dan istri dalam waktu tertentu atau selamanya. Talak hanya boleh terjadi bila dalam suatu rumah tangga terjadi konflik yang tidak bisa lagi diselesaikan dan sebagai jalan terakhir bagi kehidupan rumah tangga. Karena itu ada talak yang dijatuhkan suami pada saat ia sedang sehat, dan ada pula yang dijatuhkan disaat suami sakit parah dan kemudian meninggal dunia . Persoalannya adalah apakah isteri yang sudah ditalak berhak mendapatkan warisan peninggalan bekas suaminya ? Imam Syafii berpendapat bahwa istrinya itu tidak menerima warisan, sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa istrinya menerima warisan. nah, lho....

1. Talak Waktu Suami Sakit Keras

Tentang talak waktu sakit keras tak ada hukumnya dalam Al-Qur'an maupun sunnah yang sah. Kecuali dari sahabat ada diceritakan tentang keputusan Utsman terhadap Abdurrahman bin 'Auf dan isteri-isteri Ibnu Mikmal. sebagai berikut:
sakit  keras
Sempat Mentalak Isteri.
  • Dari Rabi'ah bin Abi Abdir-Rahman, ia berkata: Seorang isteri Abdurrahman bin 'Auf minta thalaq . Maka ia berkata: Kalau engkau sudah bersuci (dari haidh) kabarkanlah kepadaku,. Setelah itu isterinya kabarkan kepaanya hal sudah bersihnya, lalu ia thalaq putus atau ia berikan thalaq yang ketinggalan, padahal ia dalam sakit di waktu itu. Maka Utsman jadikan perempuan itu mendapat warisan (padahal) sudah habis masa iddahnya. (H.R.Malik).
  • Dari 'Abdurrahman bin Hurmuz Al-A'raj, bahwasanya Utsman bin'Affan memberi warisan kepada isteri-isteri Ibnu Mikmal, padahal ia telah ceraikan mereka dalam masa iddahnya.
  • Seorang pernah thalaq isteri-isterinya, dan hartanya ia bagikan diantara anak-anaknya. Tatkala sampai kabar kepada Umar,ia berkata: ....hendaklah engkau tarik kembali isteri-isterimu dan hartamu, atau aku jadikan mereka ahli warismu. (Subulus-Salam).
Bahwa perempuan yang dicerai oleh suaminya di dalam sakit atau hampir mati itu oleh Umar dan Utsman diberi pusaka. Alasan dari sisi agama pembagian ini belum jelas, tetapi kedua khalifah bisa jadi mempunyai salah satu pertimbangan berikut:
  1. Ada kontribusi isteri dalam perolehan harta. Merasa tidak patut seorang perempuan yang telah jadi isteri seseorang, lantas dicerai, dan tidak berapa lama sesudah itu mati bekas lakinya, padahal ia tidak dapat pusaka apa-apa, sebab tidak sedikit pada adatnya, ada usaha atau rembukan si mati buat mendapatkan harta itu, atau sebagian daripadnya.
  2. Sengaja hendak tidak memberi. Memandang bahwa si suami ceraikan isteri-isterinya itu karena  sengaja tidak hendak memberi pusaka yang isteri-isterin itu berhak padanya kalau mereka belum cerai.
Juga ada terjadi bahwa Utsman bin 'Affan menjatuhkan talak kepada isterinya bernama Ummul-Banin, puteri 'Uyainah binti Hashn Al-Fazaari, dimana ia turut terkepung di rumahnya. Tatkala Utsman terbunuh, Ummul-Banin itu datang kepada Ali memberitahukan kejadian tersebut. Maka Ali menetapkan untuk bagian pusaka harta Utsaman. Dan Ali berkata: "(Utsman) telah meninggalkannya (Ummul-Banin) tetapi tatkala maut menjelang, bahkan ia mentalaknya." Dengan alasan ini lalu para ahli fiiqih berselisih pendapat tentang talak yang dijatuhkan pada waktu sakit keras menjelang maut.

    2. Pendapat Ulama dan  Imam Madzhab

    Golongan Hanafi:
    • Masih dalam masa iddah. "Jika suami sedang sakit lalu mentalak ba'in isteri, kemudian tak lama sesudah itu ia mati karena sakitnya tadi, maka bekas isterinya mendapatkan hak warisnya." Tetapi kalau ia mati sesudah habisnya iddah, maka bekas isteri tidak mendapatkan bagian warisan.(Ini disebut talak pelarian (talaqul faar). Talak bentuk I.
    • Kemauan isteri sendiri. Jika pada saat itu suami menyuruh atau berkata kepada isterinya: "Sekarang pilihlah! Bersuamikan aku atau cerai, lalu isterinya minta cerai (Khulu') kepadanya. Kemudian setelah itu suaminya mati dalam masa iddah, maka bekas isterinya tidak dapat mewaris hartanya. (tidak mengandung unsur pelarian), karena isterinyalah yang meminta atau memilih diberikan talak, dan masalah ini hukumnya sama dengan orang yang menjatuhkan talak ba'in kepada isterinya, sedangkan ia dalam pengepungan musuh atau dalam barisan peperangan. Talak bentuk II.
    Ahmad dan Ibnu Abi Laila :
    "Isteri yang tertalak secara demikian (talak bentuk kedua di atas) tetap berhak pada warisannya, sekalipun habis masa iddahnya asalkan belum kawin lagi dengan orang lain."
    Malik dan Laits :
    "Bekas isteri seperti ini tetap mendapat warisan bekas suaminya, baik dalam masa iddah maupun tidak. baik sudah kawin lagi dengan orang lain ataupun belum."
    "Tidak berhak mewarisi lagi. "
    Umar dan 'Aisyah:
    "Bekas isteri tetap mendapat pusaka selama dalam iddah, karena iddah itu termasuk dalam hukum perkawinan dan karean diqiaskan dengan talak raj'i."
    Ibnu Hazm :
    "Talak orang sakit sama hukumnya dengan talak orang sehat. Tidak ada perbedaan apakah mati karena sakitnya itu atau tidak, jika yang sakit jatuhkan talak tiga kali atau ketiga kalinya atau sebelum bersetubuh lalu ia mati atau bekas isterinya mati sebelum iddah habis atau sesudah habis iddah, atau dalm talak raj'i sedang bekas suami tidak merujuknya  sampai ia mati atau bekas isterinya mati sesudah iddahnya habis, maka bekas isteri sama sekali tidak mendapat hak waris. Begitu pula bekas suaminya......"
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:
    Wanita yang ditalak, jika suaminya meninggal ketika masih dalam masa iddah, ada dua kemungkinan: yaitu talak raj'i (yang bisa di rujuk) dan bukan raj'i (tidak bisa di rujuk).
    1. Jika itu talak raj'i maka statusnya masih sebagai istri sehingga iddahnya berubah dari iddah talak ke iddah wafat (iddah karena ditinggal mati suami). Talak raj'i yang terjadi setelah campur tanpa iwadh (pengganti talak), baik talak pertama maupun talak yang kedua kali, jika suaminya meninggal, maka si wanita berhak mewarisinya, berdasarkan firman Allah Ta'ala. "Artinya : Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf". [Al-Baqarah : 228]. Dalam ayat lain disebutkan. "Artinya : Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru". [Ath-Thalaq : 1]. Allah Subhnahu wa Ta'ala memerintahkan wanita yang ditalak (raj'i) agar tetap tinggal di rumah suaminya pada masa iddah, Allah berfirman. "Artinya : Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru".[Ath-Thalaq : 1]. Maksudnya adalah rujuk. 
    2. Jika wanita yang ditinggal mati suaminya dengan tiba-tiba itu dalam keadaan talak ba'in (yang tidak dapat di rujuk), seperti talak yang ketiga kali atau si wanita memberikan pengganti mahar kepada suaminya agar ditalak, atau sedang pada masa fasah (pemutusan ikatan pernikahan), bukan iddah talak, maka ia tidak berhak mewarisi dan statusnya tidak berubah dari iddah talak ke iddah diitnggal mati suami. Namun demikian, ada kondisi dimana wanita yang di talak ba'in tetap berhak mewarisi, yaitu seperti ; jika sang suami mentalaknya ketika sedang sakit dengan maksud agar si istri tetap mendapat hak warisan walaupun masa iddahnya telah berakhir selama ia belum menikah lagi. Tapi jika ia telah menikah lagi maka tidak boleh mewarisi. 

    4. Penjelasan

    Dalam Bidayatul Mujtahid dikatakan bahwa perbedaan pendapat di atas adalah karena adanya perbedaan tentang wajib-tidaknya menggunakan saddud-dzaraa'i.
    • Ini karena talak yang dijatuhkan orang yang sedang sakit diprasangkai untuk menghalangi bagian pusaka yang seharusnya didapat oleh isteri kalau akad perkawinannya masih utuh. Bagi yang berpendapat bahwa saddud-dzaraa'i dapat dipakai ia mengharuskan pemberian pusaka kepada bekas isterinya. 
    • Dan bagi yang tidak menggunakan saddud-dzaraa'i, tetapi melihat adanya talak, ia tidak memberikan pusaka kepada bekas isterinya itu. Karena itu lalu golongan ini berpendapat: " Jika talak telah sah, segal akibatnya berlaku seluruhnya." Bekas suami juga tidak mewarisi pusaka, jika yang mati itu bekas isterinya. Tetapi jika talaknya tidak sah, maka isteri tetap mendaptkan bgiannya yang ditetapkan oleh agama.

    5. Contoh soal tanya jawab hak waris isteri yang telah dicerai 

    Dikutip dari eramuslim.com:Assalamu’alaikum Pak Ustadz, 

    Dalam kesempatan ini saya ingin menanyakan suatu hal sbb: Ayah saya dulu telah bercerai dengan istri pertamanya dengan meninggalkan dua orang anak (laki & perempuan), keduanya ikut dgn ibunya. Mrk tdk meninggalkan harta peninggalan yg berarti. Istri pertama ini kemudian menikah lagi dengan lelaki lain. Beberapa waktu kemudian ayah saya menikah lagi dan memiliki satu anak lelaki (saya). Walaupun istri keduanya (ibu saya) seorang karyawan, selama perkawinan kedua ini, ayah saya berwiraswasta patungan bersama ibu sampai mereka mempunyai harta bersama. Pertanyaannya adalah, karena ayah telah meninggal, apakah harta bersama pd perkawinan kedua ini diturunkan ke istri kedua dan anak tunggalnya saja (saya) atau juga ke bekas istri pertama dan semua anaknya ? Sebagai informasi, hampir 40% waktu dari masa perkawinan kedua ini praktis hanya si istri kedua (ibu) dan saya saja yang produktif, sedangkan ayah pasif, dikarenakan sakit berat panjang hingga meninggalnya.Demikian pertanyaan saya, terimakasih sebelumnya dan mohon maaf jika deskrpsi terlalu panjang. Kami mohon sekali jawaban dari Pa Ustadz.Wassalamu’alaikum Wr Wb.

    Wa'alikumussalam Wr Wb.

    Saudara xxx yang dimuliakan Allah swt.Untuk istri pertama dari ayah anda tidak berhak mendapatkan warisan dari harta peninggalannya dikarenakan dia sudah dicerai dengan talak bain jauh sebelum ayah anda meninggal dunia. Hal itu menjadikan tidak ada lagi hubungan pernikahan diantara keduanya. Sedangkan dua orang anaknya yang merupakan hasil dari pernikahannya dengan istri pertamanya yang telah diceraikan itu berhak mendapatkan warisan dari peninggalannya.Sehingga yang menjadi ahli waris atas harta peninggalan ayah anda adalah istri keduanya (ibu anda), 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.Sebisa mungkin dipisahkan antara harta milik ayah anda dengan milik ibu anda untuk kemudian harta yang dimiliki ayah anda tersebut bisa dibagikan kepada seluruh ahli warisnya setelah dikurangi biaya pengurusan jenazahnya, hutang-hutangnya dan wasiatnya apabila ada. Wallahu A’lam

    Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
                            ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
            “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
        Sumber: 
        Fikih Sunnah 14, Sayyid Sabiq
        Al-Fara'idh, A.Hassan, telah diedit untuk keselarasan.
        http://almanhaj.or.id/content/492/slash/0/warisan-bagi-istri-yang-dicerai/
        http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/harta-waris-keluarga.htm#.VNgt4NKUfWg

        Tidak ada komentar:

        Posting Komentar