Selasa, 20 Agustus 2013

Definisi Radd' Cara Membagikan Harta Warisan Yang Bersisa

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
harta warisan banyak
Setelah artikel sebelumnya membahas harta warisan yang lebih sedikit dibanding jumlah ahli waris, kali ini saya sajikan artikel lawannya, yakni jika jumlah harta warisan masih sisa setelah dibagi-bagikan kepada ahli waris, namanya juga ada kelebihan sudah pasti menyenangkan bagi para ahli warisnya.- Sudah dapat bagian pribadi, masih ditambah dengan tambahan dari sisa yang tidak habis terbagi . Ambil  contoh misalnya jika ahli waris hanya seorang ibu dan seorang anak perempuan, atau digambarkan sbb.:

masalah radd
Setelah masing-masing ahli waris mendapatkan bagiannya, diberikan kepada siapakah sisanya ? Sisa pusaka ini disebut dengan "Radd." Radd adalah membagi sisa pusaka kepada ahli waris, menurut bagian masing-masing (proporsional). Kata radd berarti i'aadah (mengembalikan), dan kata radd juga berarti sharf (memulangkan kembali). Yang dimaksud radd menurut para ahli fuqaha (ahli fikih) ialah pengembalian apa yang tersisi dari bagian dzawul furudh nasabiyyah kepada mereka sesuai dengan besar-kecilnya bagian mereka bila tidak ada orang lain yang berhak untuk menerimanya. 
Ar-radd adalah berkurangnya pembagi (jumlah bagian fardh) dan bertambahnya bagian para ahli waris. Hal ini disebabkan sedikitnya ashhabul furudh sedangkan jumlah seluruh bagiannya belum mencapai nilai 1, sehingga disana ada harta warisan yang masih tersisa, sementara tidak ada seorangpun ashabah disana yang berhak menerima sisa harta waris. Maka dalam keadaan seperti ini kita harus menurunkan atau mengurangi pembaginya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada, meskipun akhirnya bagian mereka menjadi bertambah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ar-radd adalah kebalikan dari al-’aul.

1. Rukun Radd

Radd tidak akan terjadi kecuali bila ada tiga rukun:
1. Adanya fardh (Ashhabul Fardh / ahli waris yang berhak mewarisi)
2. Adanya sisa peninggalan harta (setelah dibagikan).
3. Tidak adanya ahli waris 'ashabah (yang berhak mengambil sisa).
Tambahan dari penulis:
- Selain dari kaidah di atas, untuk melihat suatu pembagian termasuk radd atau bukan, lihatlah hasil dari "bagian asal", jika hasilnya tidak bulat/hasil baginya kurang dari 1 (misalnya kurang dari: 6/6, 12/12, 24/24, dsb.) maka dipastikan itu adalah jenis pembagian radd.
- Pada pembagian radd dengan ahli waris tanpa suami atau isteri, maka jumlah penyebut langsung dirubah menjadi jumlah bagian para ahli waris(lihat gambar 3.pada kolom "Model Radd", semula bagiannya 1/3 +1/6; karena 1 = 3 =4, maka dengan radd langsung menjai 1/4 = 3/4).
- Pada pembagian radd dimana ahli warisnya terdapat suami/isteri, maka jumlahkan bagian semua ahli waris, sisanya dibagikan kepad ahli waris selain suami/isteri saja (lihat "contoh soal" nomor 3 atau gambar 5).


2. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd

Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh, kecuali suami dan istri. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang, yakni:

1.          Anak perempuan
3.          Saudara perempuan sekandung
4.          Saudara perempuan seayah
5.          Ibu kandung
6.          Nenek sahih (ibu dari bapak)
7.          Saudara perempuan seibu
8.          Saudara laki-laki seibu

Adapun mengenai ayah dan kakek, sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu, mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. Sebab dalam keadaan bagaimanapun, bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya, maka tidak mungkin ada ar-radd, karena keduanya akan menerima waris sebagai ashabah.


3. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd

Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab, akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab), yaitu adanya ikatan tali pernikahan. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian, maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris, suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan.


4. Pendapat Para Ulama Tentang Radd

Tidak ada nash yang menjadi rujukan masalah radd; oleh sebab itu para ulama berselisih pendapat tentang radd ini. Macam pendapatnya adalah sebagai berikut:
  1. Tidak adanya radd terhadap seorangpun di antara ashhabul furudh; dan sisa harta sesudah ashhabul furudh mengambil furudh (bagian-bagian) mereka itu diserahkan kepada Baitulmal, bila tidak ada ahli waris 'ashabah. (Pendapat Zaid bin Tsabit, yang diikuti oleh 'Urwah, Az-Zuhri, Malik dan Asy-Syafi'i).
  2. Adanya radd bagi ashhabul furudh termasuk kepada suami-isteri, menurut kadar bagian masing-masing. (Pendapat Utsman).
  3. Radd itu diberikan kepada semua ashhabul furudh, kecuali suami-isteri, ayah dan kakek. Maka radd diberikan kepada 8 (delapan) golongan: 1. Anak perempuan, 2. Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan dari anak laki-laki), 3.Saudara perempuan sekandung, 4.Saudara perempuan se-bapak, 5.Ibu, 6.Nenek, 7.Saudara laki-laki se-bapak dan 8.Saudara perempuan se-ibu. (Pendapat Umar, Ali, jumhur sahabat dan tabi'in. Dan inilah madzhab Abu Hanifah, Ahmad dan pendapat yang dipegangi bagi aliran Syafi'i serta sebagian pengikut Malik, ketika baitulmal rusak). Dan pendapat inilah yang terpilih. Mereka berkata: Radd itu tidak diberikan kepada suami-isteri, karena radd dimiliki dengan jalan rahim, sedang suami-isteri itu tidak mempunyai hubungan rahim kecuali hanya sebab perkawinan; radd juga tidak diberikan kepada bapak dan kakek, karena radd ini ada bila tidak ada ahli waris 'ashhabah, sedang bapak dan kakek termasuk ahli waris 'ashhabah yang mengambil sisa dengan jalan ta'shib dan bukan dengan cara radd.    


5. Contoh-Contoh Pembagian Radd           

1. Penyelesaian soal radd gambar 1 di atas
Jawab: 
tatacara pembagian radd
Contoh soal di atas harus diselesaikan dengan metode Radd karena setelah harta dibagikan kepada ahli waris, masih bersisa (1/6 + 1/2 = 4/6), masih ada sisa 2/6 yang harus dibagikan kepada ahli waris secara proporsional.  Model penyelesaian di atas adalah model proses penjelasan, dalam prakteknya bisa disederhanakan menjadi seperti berikut:
metode radd
2. Seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan para ahli waris: 3 nenek dan 3 saudara se-ibu. Berapakah bagian waris masing-masing ?
Jawab:
tentang radd
3. Seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris: Isteri, anak perempuan dan cucu perempuan. Berapakah bagian masing-masing ahli waris ?
Jawab: 
radd dengan suami/isteri
Keterangan:
* Sisa setelah dibagikan secara fardh adalah 5, bagian yang lebih itu masuk pada anak dan cucu, tidak pada isteri. Kita lihat, bagian anak  3 kali lebih banyak dari cucu (12 banding 4). Ini berarti sesudah dikeluarkan bagian isteri (1/8) sisanya terbagi 4 (3 + 1). Maka agar dapat angka bulat, 4 kita kalikan 8, menjadi 32.
Sehingga isteri mendapat bagian: 1/8 dari 32   =  4 ................ ..(32-4) sisanya = 28 
Anak Perempuan  mendapat     : 3/4 dari sisa  = 21          
Cucu Perempuan mendapat      : 1/4 dari sisa  =  7     +
                                                                           32
Betapapun saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi artikel ini masih tetap belum sempurna dalam penyajiannya. Maka jika anda masih belum paham juga, itu karena kekurangan saya. Teruslah belajar dan berlatih ilmu fara'idh. anda juga bisa berlatih menjadi pembagi waris dengan mendownload program aplikasi di microsoft excel anda, klik Software Pembagi Waris Otomatis.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
      “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber :
Fikih Sunnah 14, Sayyid Sabiq
Al-Farai'idh, A.Hassan
Dokumen Pribadi.
http://ilmufaraidl.blogspot.com/2009/11/masalah-ar-radd_4400.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar