Senin, 19 Agustus 2013

Definisi Aul Dalam Faraidh, Jika Harta Lebih Sedikit Dari Bagian Ahli Waris

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Al-’aul adalah bertambahnya pembagi (jumlah bagian fardh) sehingga menyebabkan berkurangnya bagian para ahli waris. Hal ini disebabkan banyaknya ashhabul furudh sedangkan jumlah seluruh bagiannya telah melebihi nilai 1, sehingga di antara ashhabul furudh tersebut ada yang belum menerima bagian yang semestinya. Maka dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pembaginya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada, meskipun akhirnya bagian mereka menjadi berkurang.
Di dalam kaidah ilmu Fara'id, bagian-bagian yang didapat oleh ahli waris ditetapkan dalam bentuk pecahan matematika seperti: 1/2, 1/3, 1/6, 2/3. 1/8 dsb. Seringkali pembagian waris bisa terbagi habis, baik secara alamiah ataupun karena adanya 'ashabah atau ahli waris yang menghabiskan sisa. Tetapi bisa juga terjadi pembagian waris yang hasilnya tidak bisa habis secara tuntas alias masih bersisa atau malah kurang, baik karena bagian ahli waris lebih sedikit dibanding bagian harta pusaka atau sebaliknya lebih banyak. Postingan kali ini akan menghususkan pada pembahasan jika bagian warisan lebih sedikit dibanding bagian ahli waris. Untuk mengatasi masalah tersebut, di dalam ilmu Fara'idh dikenal istilah pemecahannya yang disebut  'Aul.

1. Pengertian 'Aul

'Aul secara bahasa berarti irtifa' atau mengangkat. Dikatakan 'aalal miizaan bila timbangan itu naik, terangkat. Kata 'aul ini kadang  berarti cenderung kepada perbuatan aniaya (curang). Arti ini  ditunjukkan di dalam firman Allah swt.
    ذَٲلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ  
Artinya: "Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (Q.S.An-Nisa : 3).
Menurut para fuqaha, 'aul ialah bertambahnya saham Ashhabul furudh dan berkurangnya kadar peneriman warisan mereka. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis, padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya (penyebut) sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada.
Contoh dan penjelasan mudah:
jika ahli waris terdiri dari suami dan 2 orang saudara perempuan sekandung/se-bapak.
menurut ilmu fara'idh, bagian ahli waris adalah:
- Suami: 1/2
- 2 Sdr.sekandung: 2/3; Padahal 1/2 ditambah 2/3 hasilnya tidak bisa bulat menjadi 1, maka di sinilah metode 'aul diterapkan.
metode 'aul
Gambar 1. Contoh Metode 'Aul dan Istilah Bilangan Pecahan
Kalaulah tidak di'aulkan dan tidak dibagi sebagaimana contoh yang ditunjukkan di atas itu, tentu tidak dapat keberesan, dan kekurangan tidak dapat ditutupi.

2. Sejarah Awal Mula Diterapkannya 'Aul

Pada masa Rasulullah saw. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. kasus ‘aul tidak pernah terjadi. Masalah ‘aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r.a.. Ibnu Abbas berkata, "Orang yang pertama kali menambahkan pembagi (yakni ‘aul) adalah Umar bin Khathab. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak."
Riwayat kejadiannya adalah: Seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara perempuan sekandung. Yang masyhur dalam ilmu faraid, bagian yang mesti diterima suami adalah 1/2, sedangkan bagian dua saudara perempuan sekandung 2/3. Dengan demikian, berarti pembilangnya melebihi pembaginya, karena 1/2 + 2/3 = 7/6. Namun demikian, suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri, begitupun dua orang saudara perempuan sekandung, mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya.

Menghadapi hal demikian Umar pun berkata, "Sungguh aku tidak mengerti, siapakah di antara kalian yang harus didahulukan, dan siapa yang diakhirkan. Sebab bila aku berikan hak suami, pastilah saudara perempuan sekandung pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. Begitu juga sebaliknya, bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara perempuan sekandung pewaris maka akan berkuranglah bagian suami." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw.. Di antara mereka ada Abbas bin Abdul Muthalib dan Zaid bin Tsabit mengusulkan kepada Umar agar menggunakan metode ‘aul. Umar menerima anjuran tersebut dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya." Para sahabat menyepakati langkah tersebut, dan menjadilah hukum tentang ‘aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati sebagian besar sahabat Nabi saw., kecuali Ibnu ‘Abbas yang tidak menyetujui adanya ‘aul ini.
Dikatakan pula bahwa yang memberikan pertimbangan itu ialah 'Ali. Sementara yang lain mengatakan bahwa yang memberikan pertimbangan itu Zaid bin Tsabit. Wallahu a'lam.

3. Masalah Yang Bisa Di'aulkan

Sesudah diperiksa dan diteliti oleh ulama fara'idh, maka terdapat kesimpulan bahwa 'aul itu hanya ada di masalah / bilangan berpenyebut 6. 12. dan 24 saja, lainnya tidak bisa.
  • Penyebut 6 kadang di'aulakan menjadi 7, 8, 9 atau 10.(lihat gambar 2)
  • Penyebut 12 terkadang di'aulkan menjadi 13, 15, dan terkadang jadi 17.(lihat gambar 3)
  • Penyebut 24 hanya bisa di'aulkan menjadi 27 saja.(lihat gambar 4)

4. Contoh-Contoh Masalah 'Aul

  1. Telah mati seorang perempuan dengan meninggalkan seorang suami, dua orang saudara perempuan sekandung, dua orang saudara perempuan se-ibu, dan ibu. Masalah demikian dinamakan masalah Syuraihiyah, sebab si suami itu mencaci maki Syuraih, hakim yang terkenal itu, dimana si suami ini diberi bagian 3/10 oleh Syuraih, padahal seharusnya dia mendapatkan 5/10 (lihat gambar 2 di bawah). Lalu dia mengelilingi kabilah-kabilah sambil mengatakan: "Syuraih tidak memberikan kepadaku separuh dan tidak pula sepertiga." Ketika Syuraih mengetahui hal itu, dia memanggilnya untuk menghadap, dan memberikan hukuman  ta'zir kepadanya, kata Syuraih: "Engkau buruk bicara, dan menyembunyikan 'aul."
    masalah syuraihiyah
    Gambar 2. Pemecahan Masalah Syuraihiyah - Penyebut 6
  2. Seseorang telah meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris: suami, ibu dan 2 anak perempuan. Hitunglah berapa bagian masing-masing ahli waris.
    pemecahan aul
    Gambar 3. Pemecahan Masalah 'Aul - Penyebut 12
  3. Seorang suami telah mati, sedang ia meninggalkan seorang isteri, 2 anak perempuan, seorang bapak seorang ibu. Masalah ini dinamakan masalah mimbariyah, sebab 'Ali bin Abi Thalib r.a. tengah berada di atas mimbar di Kufah, dan dia mengatakan di dalam khutbahnya: "Segala puji bagi Allah yang telah memutuskan dengan kebenaran secara pasti, dan membalas setiap orang dengan apa yang dia usahakan, dan kepada-Nya tempat bepulang dan kembali," lalu dia ditanya tentang masalah itu, mak dia menjawab di tengah-tengah khutbahnya: "Dan isteri itu, seperdelapannya menjadi sepersembilan", kemudian dia melanjutkan khutbahnya.
    masalah mimbariyah
    Gambar 4. Metode Pemecahan Mimbariyah - Penyebut 24
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.

Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Cobalah berlatih membagi waris sendiri dengan download di Microsoft excel anda, klik Software Pembagi Waris..
Sumber: 
- Fikih Sunnah 14, Sayyid Sabiq
- Al-Fara'idh, A.Hassan
- Dokumentasi Pribadi.

1 komentar:

  1. Di dalam fikiran saya ulasan ini sangat bermanfaat baik bagi yang tak berharta untuk membantu saudara mukminnya yang berharta dalam membagi hartanya, maupun bagi yang berharta untuk membagi hartanya dengan tepat menurut syari'at agama. Namun hati saya prihatin tersebab kefakiran dan kapasitas saya untuk mensosialisasikan hal ini terbatas pada anak, isteri, dan famili saya. Meskipun amar ma'ruf nahi munkar itu diwajibkan bagi setiap diri muslim, bukan berarti saya tak ingin melaksanakannya, namun kebanyakan masyarakat hanya akan mendengarkan dan melaksanakan salah satu syari'at yang diutamakan ini jika yang menyampaikannya tokoh-tokoh agama, ustadz-ustadzah, para da'i, guru-guru agama, dan para pimpinan majelis-majelis ta'lim. Sehingga dalam keprihatinan ini saya hanya dapat berdo'a semoga ada lembaga yang mau dan tulus untuk mengadakan semacam diklat khusus bagi orang-orang yang terpercaya dan dipercaya masyarakat tersebut, sehingga tak ada saudara-saudara mukmin kita yang makan harta yang bukan haknya dengan sengaja maupun tidak sengaja. Semoga...Aamiin.

    BalasHapus