Senin, 26 Agustus 2013

Cara Membagi Harta Orang Yang Tidak Memiliki Ahli Waris

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
hidup sendiri
Hidup Sebatang Kara.
Hukum kewarisan dalam Islam mendapat perhatian besar, karena pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan bagi keluarga yang ditinggal mati pewarisnya. Naluriah manusia yang menyukai harta benda tidak jarang memotivasi seseorang untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan harta benda tersebut, termasuk didalamnya terhadap harta peninggalan pewarisnya sendiri. Kenyataan demikian telah ada dalam sejarah umat manusia hingga sekarang ini. Terjadinya kasus-kasus gugat waris di pengadilan, baik pengadilan agama maupun pengadilan negeri menunjukkan fenomena ini.
Bahkan, turunnya ayat-ayat al-Qur’an yang mengatur pembagian harta warisan yang menunjukkannya bersifat qath’i al-dalalah adalah merupakan refleksi sejarah dari adanya kecenderungan materialistis umat manusia, disamping sebagai rekayasa sosial terhadap sistem hukum yang berlaku di masyarakat.[3]
Hukum kewarisan sebagai suatu pernyataan tekstual yang tercantum dalam al-Qur’an merupakan suatu hal yang absolut dan universal bagi setiap muslim untuk mewujudkan dalam kehidupan sosial. Sebagai ajaran yang universal, hukum kewarisan Islam mengandung nilai-nilai abadi dan unsure yang berguna untuk senantiasa siap mengatasi segala kesulitan sesuai dengan kondisi ruang dan waktu.
Rasulullah juga memerintahkan kita membagi harta pusaka menurut kitab al-Qur’an, dalam sabdanya:
عن إبن عبّاس قال: قال رسول الله ص.م اقسموا المال بين أهل الفرائض على كتاب الله ( رواه مسلم 
Artinya : “Dari Abbas r.a., berkata, Rasulullah saw., bersabda: Bagikanlah harta pusaka antara ahli waris menurut kitabullah (al-Qur’an).(HR. Muslim)
Hadits diatas menjelaskan betapa pentingnya al-Qur’an sebagai sumber dalam hukum warisan, namun demikian masih terdapat masalah-masalah mengenai hukum waris yang tidak tercantum dalam al-Qur’an sehingga menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan ahli hukum fiqh, diantara salah satunya adalah "Orang yang hidupnya sebatang kara".


1. Pengertian Sebatang kara

Arti orang yang hidup sebatang kara adalah orang yang tidak memiliki sanak keluarga, atau dalam istilah ilmu fara'idh tidak memiliki ahli waris maupun ulul arham. Boleh jadi orang ini benar-benar sudah tidak memiliki sanak saudara lagi, tetapi boleh jadi juga  masih memilikinya tanpa diketahui oleh selain dirinya, mungkin dia orang lokal, mungkin juga dulunya pendatang yang sudah lama bermukim di wilayah tertentu. Permasalahannya adalah kalau orang yang sebatang kara ini meninggal dunia, untuk siapakah harta peninggalan atau harta warisannya ? Saya akan coba tampilkan 2 (dua) referensi yang menyingkap masalah ini. yakni dari kita "Al-Fara'idh" karya A.Hassan dan dari UU Warisan Negeri Mesir yang dimuat oleh kitab "Fikih Sunnah." Selamat menyimak.

1. Kitab Al-Fara'idh

  1. Jika si mati memiliki seorang hamba yang sudah ia merdekakan, maka harta si mati diberikan kepada hambanya itu. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.: Bahwasannya seorang laki-laki mati di  zaman Rasulullah saw. dengan tidak meninggalkan waris kecuali seorang hamba yang ia telah merdekakan, maka Rasulullah saw. berikan padanya peninggalan itu. (H.R.Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah). Sebaliknya kalau hamba itu mati dengan tidak meninggalkan ahli waris, maka tuannya-lah yang mendapat harta itu.
  2. Untuk orang yang memasukkan dia Islam. Karena telah menyelamatkan dia dari kekufuran. Dari Qabieshah bin Tamiemid-Daarie: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw. : Bagaimana sunnah (cara pembagian) tentang seorang musyrik yang masuk Islam dengan perantaraan seorang Islam? Sabdanya: Yang memasukkan Islam itu lebih hampir (berhak ) kepadanya di waktu hidupnya dan matinya (H.R.Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).
  3. Diberikan kepada "setengah daripada ahli negerinya", Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah r.a.: Telah mati seorang hamba yang Nabi saw. pernah merdekakan. Maka Nabi bertanya: "Adakah baginya warits atau keluarganya?" Mereka jawab: 'Tidak ada'. Sabdanya: Berikanlah peninggalannya itu kepada sebagian ahli daripada negerinya. (H.R.Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah). mungkin maksud "setengah daripada ahli negerinya" adalah orang-orang miskin atau orang-orang yang bakal gunakan harta itu dalam urusan umum dalam negeri yang sekarang disebut dengan Baitulmal.
  4. Hartanya kembali kepada ketua kaumnya. Harta itu bukan untuk dipunyai oleh ketua tersebut untuk pribadi, tetapi guna keperluan umum di dalam kaum itu yang pada masa ini disebut baitulmal. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah: Telah meninggal seorang laki-laki dari kaum Azd dengan tidak meninggalkan warits, maka sabda Rasulullah saw.: Berilkan harta peninggalannya kepada ketua kaum Khuza'ah (H.R.Ahmad dan Abu Daud).
  5. Bagaimanakah halnya jika seorang mati tanpa meninggalkan ahli waris dan tidak pula ulul arham, tetapi ada meninggalkan 4 atau beberapa golongan yang tersebut di atas. Pemberian kepada siapakah yang mesti didahulukan ?  Tentang hal prioritas, memang tidak ada keterangan dari Nabi saw., maka hendaklah dipertimbangkan dengan memperhatikan beberapa aspek menurut kebutuhan, kepentingan mendesak, kemaslahatan, dll. wallahu a'lam.

2. Undang-Undang Warisan mesir

Termuat dalam pasal 4 Undang-Undang Warisan sebagai berikut:

Apabila tidak didapati ahli waris dari harta peninggalan, maka ditetapkan menurut tertib sebagai berikut:
  1. Orang yang kepadanya diikrarkan nasab. Apabila si mati mengikrarkan nasab kepada orang lain, maka orang yang diikrari itu berhak mendapatkan harta peninggalannya, bila si mati tidak diketahui nasabnya dan tidak menetapkan nasabnya kepada orang lain serta tidak menarik kembali ikrarnya itu. Dalam keadaan yang demikian disyaratkan agar orang yang diikrarkan itu hidup di waktu kematian orang yang mengikrarkan  atau di waktu penetapan kematiannya dan tidak ada salah satu penghalang pewarisan.
  2. Orang yang diberi wasiat melebihi sepertiga. Bila mayit mati sedang dia tidak meninggalkan ahli waris dan tidak pula meninggalkan orang yang diikrarkan kepadanya nasab, maka wasiat kepada orang lain dengan semua harta peninggalan atau sebagiannya itu diperbolehkan; sebab pembatasan dengan 1/3 harta itu demi ahli waris, sedang ahli waris tak seorangpun yang ada.
  3. Baitulmal. Apabila mayit mati, sedang dia tidak meninggalkan ahli waris, tidak didapati orang yang diikrarkan kepadanya nasab, dan tidak pula didapati orang yang diberi wasiat melebihi 1/3, maka hartanya itu disimpan di baitulmal kaum muslimin untuk digunakan demi kemaslahatan umat pad umumnya. Wallahu a'lam.

3. Seseorang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempunyai ahli waris, maka untuk siapakah harta warisnya?


Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika menafsirkan surat Al-Anfal ayat 75 mengatakan: “Tidaklah mewarisi harta si mayit kecuali karib kerabatnya dari para ‘ashabah maupun ashhabul furudh (ahli waris, pen.). Jika tidak didapati para ahli waris tersebut maka yang mewarisinya adalah yang terdekat hubungannya dengan si mayit dari kalangan dzawil arham (para kerabat dekat yang tidak termasuk ashhabul furudh dan tidak pula ‘ashabah).” (Taisirul Karimirrahman, hal. 289)

Pendapat inilah yang difatwakan oleh sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, juga Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, serta generasi akhir dari kalangan mazhab Maliki dan Syafi’i.1 Demikian pula yang dipilih Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II, Tashilul Faraidh, hal. 73 dan At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 263-264)

Yang termasuk Dzawil Arhaam, menurut Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Mereka ada sebelas jenis, yakni:

  1. Para cucu dari anak-anak perempuan dan anak-anak para cucu perempuan dari anak lelaki (cicit) dan ke bawahnya.
  2. Anak saudara perempuan secara mutlak; sekandung, sebapak saja dan seibu saja (keponakan).
  3. Anak perempuan dari saudara lelaki; sekandung dan sebapak saja, tidak termasuk yang seibu (keponakan) dan para cucu perempuan dari jalur anak lelaki saudara tersebut.
  4. Anak saudara seibu (keponakan).
  5. Paman (seibu); baik paman (saudara bapak yang seibu) dari si mayit, paman bapak (saudara kakek seibu) dari si mayit atau paman kakek (saudara buyut lelaki seibu) dari si mayit.
  6. Bibi dari jalur bapak secara umum; baik bibi dari jalur bapak si mayit, bibi kedua orangtua si mayit dari jalur bapaknya masing-masing, bibi dari kakek si mayit dari jalur bapaknya (saudara perempuan buyut lelaki dari kakek) ataupun bibi dari nenek si mayit dari jalur bapaknya (saudara perempuan buyut lelaki dari nenek).
  7. Anak perempuan paman dari jalur bapak; baik yang sekandung, sebapak saja ataupun seibu saja (saudara sepupu).
  8. Paman dan bibi (saudara-saudara ibu; baik yang sekandung, sebapak saja ataupun seibu saja).
  9. Para kakek yang bukan termasuk ahli waris, baik dari jalur ibu maupun jalur bapak. Seperti bapaknya ibu (kakek) dan juga bapaknya nenek (buyut lelaki) dari jalur bapak, dsb.
  10. Para nenek yang bukan dari ahli waris, baik dari jalur ibu maupun jalur bapak. Seperti; Ibunya kakek (buyut perempuan) dari jalur ibu dan ibunya buyut lelaki menurut pendapat yang memasukkan keduanya ke dalam dzawil arham, dsb.
  11. Semua kerabat yang mempunyai keterkaitan dengan si mayit melalui (perantara) sepuluh jenis yang telah disebutkan sebelumnya.” (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II).

Bukankah dzawil arham tersebut tidak mempunyai ketentuan khusus dalam hal perwarisannya? Dengan cara apakah mereka mendapatkan bagiannya?

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan cara perwarisannya. Namun jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bahwa perwarisannya dengan cara tanzil, yaitu dengan memosisikan masing-masing dari dzawil arham tersebut (baik lelaki maupun perempuan) seperti posisi ahli waris yang menjadi perantaranya dengan si mayit. Misalnya, cucu lelaki dari anak perempuan dan cucu perempuan dari anak perempuan, mereka diposisikan seperti anak perempuan (ibu mereka). Anak lelaki dan anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), mereka diposisikan seperti saudara perempuan (ibu mereka). Tak dibedakan antara yang lelaki dengan yang perempuan, karena yang dijadikan patokan dalam masalah ini adalah ahli waris perantaranya bukan dzat dari dzawil arham tersebut. (Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 102, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II, At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 266-267 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 240)
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                
      “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah 14, Sayyid Sabiq
Al-Fara'idh, A.Hassan., telah diedit untuk keselarasan.
http://nurussyahid.blogspot.com/p/blog-page_9559.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar