Senin, 29 Juli 2013

Takbir Idul Fitri Yang Sesuai Tuntunan Sunnah

beduk takbir
Takbir Diiringi Suara Beduk.
Bertakbir atau mengagungkan nama Allah adalah salah satu dari sekian banyak lafadz dzikir. Takbir yang saya maksud pada postingan ini adalah takbir yang biasa dibacakan pada hari raya , atau yang biasa disebut dengan takbiran, di dalamnya termasuk juga ada kalimat tahlil dan tahmid . Pada saat-saat menjelang hari raya, gema takbir berkumandang di seantero pelosok tanah air; di masjid-masjid, di televisi dan radio, takbir keliling jalanan dan di beberapa tempat lain dengan pengeras suara, dengan lafadz yang bervariasi, bahkan terkadang dengan iringan musik plus berjingkrak-jingkrak . Takbiran sudah menjadi budaya menjelang hari raya.

1. Dasar Hukum Takbiran

Membaca takbir di kedua hari raya itu hukumnya sunat, berdasarkan beberapa firman Allah dalam Al-Qur'an. Tentang takbir Idul Fitri Allah berfirman: 
                                                  ولتڪملوا ٱلعدة ولتڪبروا ٱلله على ما هدٮكم ولعلڪم تشكرون  
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah : 185).
Sedang tentang takbir Idul Adha, firman-Nya:
                                                                                       وٱذكروا ٱلله فى أيام معدودٲت
Dan berzikirlah [dengan menyebut] Allah dalam beberapa hari yang berbilang... (QS Al-Baqarah : 203).

2. Waktu Mulai dan Akhir Takbir

  • Jumhur ( mayoritas ) ulama berpendapat bahwa takbir pada hari raya Fitri adalah mulai pada waktu pergi shalat 'Id sampai dimulai khotbah . Menurut Hakim, hal ini merupakan sunnah yang umum tersiar di kalangan anggota-anggota hadits. Juga merupakan pendapat Malik, Ishak, Ahmad dan Abu Tsaur . Hal ini berdasarkan beberapa hadits: 
  1. Dari  Ibn Abi Syaibah yang meriwayatkan bahwa Nabi  saw.  keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir sampai tiba di lapangan. Dia tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 5621).
  2. Dari Nafi: "Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai ia tiba di lapangan. Dia tetap melanjutkan takbir sampai imam datang."(HR. Al Faryabi dalam  Ahkam al Idain).
  3. Dari Muhammad bin Ibrahim (seorang tabi'in), beliau mengatakan: "Dulu Abu Qotadah berangkat menuju lapangan pada hari raya kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan." ( Al Faryabi  dalam  Ahkam al Idain ).
  4. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa permulaannya adalah semenjak kelihatannya hilal pada malam hari raya Fitri itu samapai pagi hari waktu pergi ke tempat shalat, atau sampai imam pergi shalat.

3. Lafadz Takbir


Tidak ada riwayat lafadz takbir tertentu dari Nabi  saw . Hanya saja ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbir. Diantara riwayat tersebut adalah:
1. Takbir Ibn Mas'ud ra . Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:
                                                    الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله, والله أكبر, الله أكبر ولله الحمد
                                                  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله, الله أكبر ولله الحمد
Keterangan:
Lafadz: "Allahu Akbar" pada takbir Ibn Mas'ud dapat dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam  Al Mushannaf.
2. Takbir Ibn Abbas  r.a.
                         الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, ولله الحمد, الله أكبر وأجل الله أكبر, على ما هدانا Keterangan:
Takbir Ibn Abbas  radiriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani.
3. Takbir Salman Al Farisi  r.a. :
  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر كبيرا
Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi  ra  diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman .

4. Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran

a. Takbir berjamaah di masjid atau di lapangan
Karena takbir yang sunnah itu dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dikomando. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik bahwa para sahabat ketika bersama nabi pada saat bertakbir, ada yang sedang membaca Allahu akbar, ada yang sedang membaca  laa ilaaha illa Allah , dan satu sama lain tidak saling menyalahkan ... ( Musnad Imam Syafi'i 909).
Riwayat ini menunjukkan bahwa takbirnya para sahabat tidak seragam. Karena mereka bertakbir sendiri-sendiri dan tidak berjamaah.
b. Takbir dengan menggunakan pengeras suara
Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam  seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang. Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak ada satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, ia melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.
Oleh karena itu, sebaiknya melakukan takbir hari raya tidak sebagaimana adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda.
c. Hanya bertakbir setiap selesai shalat berjamaah
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa takbiran itu ada dua. Ada yang terikat waktu dan ada yang sifatnya mutlak (tidak terikat waktu). Untuk takbiran yang mutlak sebaiknya tidak dilaksanakan setiap selesai shalat fardlu saja. Tetapi yang sunnah dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.   Ibnul Mulaqin mengatakan: "Takbiran setelah shalat wajib dan yang lainnya, untuk takbiran Idul Fitrimaka tidak dianjurkan untuk dilakukan setelah shalat, menurut pendapat yang lebih kuat." ( Al I ' lam bi Fawaid Umadatil Ahkam : 4/259). Amal yang disyariatkan ketika selesai shalat jamaah adalah berdzikir sebagaimana dzikir setelah shalat. Bukan melantunkan takbir. Waktu melantunkan takbir cukup longgar, bisa dilakukan kapanpun selama hari raya. Oleh karena itu, tidak selayaknya menyita waktu yang digunakan untuk berdzikir setelah shalat.
d. Tidak bertakbir ketika di tengah perjalanan menuju lapangan
Sebagaimana riwayat yang telah disebutkan di atas, bahwa takbir yang sunnah itu dilakukan ketika di perjalanan menuju tempat shalat hari raya. Namun sayang sunnah ini hampir hilang, mengingat banyaknya orang yang meninggalkannya.
e. Bertakbir dengan lafadz yang terlalu panjang
Sebagian pemimpin takbir sesekali melantunkan takbir dengan bacaan yang sangat panjang. Berikut lafadznya:
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده...
Takbiran dengan lafadz yang panjang di atas tidak ada dalilnya.  WAllahu a'lam
                      سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك                               "Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu. "
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber: 
Fikih Sunnah , Sayyid Sabiq dan www.Muslim.or.id

2 komentar:

  1. Sbg umat islam dalil2 spt ini yg dibutuhkan, jd tdk asal asal mengerjakan sesuatu yg tdk ada sunnahnya, yg bs menyebabkan kita menjd ahli bid'ah, trim's

    BalasHapus
  2. ada dua kelompok muslim dalam beragama, Muqolid dan muttabi' Taqlid itu dilarang, sebab Islam bisa menjadi rusak, yang benar Muslim itu harus Ittiba' yaitu mengikuti dalil/alasan ustadz yang menyampaikan 'afwan Ustadz, jazaakalloh

    BalasHapus