Rabu, 31 Juli 2013

Shalat Idul Fitri; Kaidah dan Sunnah-Sunnahnya

بسم االلهالرحمن اارحيم
Shalat id
Shalat 'Idul Fitri.
Shalat 'Idul Fitri adalah shalat yang dilakukan oleh umat Muslim sekali dalam setahun. Pelaksanaan shalat 'Idul fitri ( shalat 'id ) bertepatan pada tanggal 1 Syawal setelah kita selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan , Shalat Idul Fitri itu disyari'atkan pada tahun pertama dari hijrah Rasulullah saw. Hukumnya adalah sunnah mu'akkad , yang oleh Nabi saw. selalu dikerjakan, dan disuruhnya semua lelaki atau perempuan agar mengunjunginya.

Beberapa Kaidah dan Sunah Shalat Idul Fitri

1. Mandi, Memakai Wangi-Wangi dan Memakai Pakaian Terbaik

1. Dari Ja'far bin Muhammad , dari ayahnya berikutnya dari kakeknya : "Bahwa Nabi saw. memakai baju buatan Yaman yang indah pada tiap hari raya. " (Diriwayatkan oleh Syafi'i dan Baghawi ).
2. Dari Hasan as-Shibti, katanya: "Rasulullah saw. memerintahkan kami agar pada hari raya itu mengenakan pakaian yang terbagus, memakai wewangian yang terbaik, dan berkurban dengan hewan yang terbaik (Diriwayatkan oleh Hakim, hanya dalam sanadnya ada I shak bin Barzakh yang oleh al-Azdi dianggap dha'if, tapi oleh Ibnu Hibban dapat dipercaya). - Pemotongan hewan maksudnya pada hari raya Idul Adha-.
Berkata Ibnul Qayyim : " Pada kedua hari raya itu, Rasulullah saw. biasa mengenakan pakaian yang terbaik, dan ada sepasang pakaian beliau yang khusus digunakannya pada shalat hari raya dan shalat Jum'at.

2. Makan Dulu Sebelum Pergi Shalat Idul Fitri

Disunatkan memakan beberapa biji kurma dengan jumlah ganjil sebelum pergi mengerjakan shalat 'Idul Fitri.
1. Dari Anas, katanya: " Pada waktu 'Idul fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil. " (Riwayat Ahmad dan Bukhari ). 
2. Dan dari Buraidah, katanya: "Nabi saw. tidak berangkat pada waktu 'Idul Fitri sebelum makan dulu, dan tidak makan pada waktu' Idul Adha sebelum pulang. " (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ibnu Majah , juga oleh Ahmad yang menambahkan: "Kemudian beliau makan dari hasil kurbannya. ").

3. Tempat Shalat

Shalat hari raya itu bisa dilakukan di masjid, tapi melakukannya di mushola, yakni lapangan di luar masjid, adalah lebih utama. Demikian itu adalah selama tidak ada halangan seperti hujan dan sebagainya, sebab Rasulullah saw. biasa melakukan shalat dua hari raya itu di mushala (sebuah lapangan di pintu timur kota Madinah) dan tidak pernah melakukannya di masjid, kecuali hanya sekali yaitu ketika turun hujan. Dari Abu Hurairah ra . : "Bahwa pada suatu hari raya, turun hujan, maka nabi saw.pun bershalat dengan sahabat-sahabatnya di masjid. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, dalam At-Talkhish Hafizh mengatakan bahwa isnadnya dha'if, sedang Adz- Dzahabi menyatakan bahwa hadits ini munkar ).

4. Ikut sertanya Wanita dan Anak-Anak

Disyari'atkan pada kedua hari raya itu keluarnya anak-anak serta kaum wanita , gadis atau janda, yang masih remaja atau yang sudah tua , bahkan juga wanita-wanita haid , berdasarkan: 
1. Hadits Ummu 'Athiyah : " Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita yang haid pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga doa dari kaum muslimin. Hanya saja sehingga wanita-wanita yang haid menjauhi tempat shalat. " ( Riwayat Bukhari dan Muslim )
2.Dari Ibnu Abbas: "Bahwa Rasulullah saw. keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya." ( Riwayat Ibnu Majah dan B aihaqi ).

5. Menempuh Jalan Yang Berbeda

Sebagian ahli berpendapat bahwa pada shalat 'Id disunatkan menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang. baik sebagai imam maupun makmum . 1. Dari Jabir ra : "Bahwa Nabi saw. pada waktu hari raya, menempuh jalan yang berbeda." (Riwayat Bukhari ).
2. Dan dari Abu Hurairah ra, katanya: "Ketika Nabi saw. pergi shalat hari raya, maka ketika pulang dia menempuh jalan yang berbeda dengan di waktu perginya." (Riwayat Ahmad, Muslim dan Turmudzi ).

6. Waktu Shalat 'Id

Waktunya adalah mulai terbit matahari setinggi sekitar tiga meter , dan berakhir ketika telah tergelincir, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin hasan Banna yang diterima dari Jundub, katanya: "Rasulullah saw. bershalat 'Idul Fitri bersama kami, sedang matahari tingginya kira- kira dua penggalah, dan bershalat 'Idul Adha sedang tingginya sekitar sepenggalah. "
Dari hadits tersebut menyatakan Disunatkannya menyegerakan shalat 'Idul Adha dan menunda shalat' Idul fitri.

7. Adzan dan Qamat Waktu Shalat Dua Hari Raya

1. Berkata Ibnul Qayyim: "Ketika Rasulullah saw. telah sampai di mushala, beliau memulai shalat tanpa adzan dan qamat, serta tidak pula mengucapkan 'Ashalaatu Jami'at. jadi menurut sunnah tidaklah dilakukan suatu apapun dari hal-hal tersebut di atas. " 
2. Dari Ibnu Abbas dan Jabir , kata mereka : "Pada hari raya 'Idul Fitri dan' Idul Adha, tidaklah diserukan adzan." (Riwayat Bukhari dan Muslim )
3. Dan Muslim meriwayatkan dari 'Atha', katanya: "Saya diberitahu oleh Jabir, bahwa pada shalat 'Idul Fitri itu tidak diserukan adzan, baik sebelum atau sesudah imam keluar, tidak pula qamat, panggilan atau apapun. Tegasnya pada hari itu tidak ada panggilan apa -apa atau qamat. " 
4. Dari Sa'ad bin Abi Waqash : "Bahwa Nabi saw. mengerjakan shalat hari raya tanpa adzan dan qamat, dan di waktu berkhutbah beliau berdiri, dan kedua khutbahnya itu ia pisahkan dengan duduk sebentar." (Riwayat Bazzar ) .

8. Takbir Pada Shalat Dua Hari Raya

  • Jumlah raka'at dan takbirnya. Shalat hari raya itu dua raka'at. Pada raka'at pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah disunatkan membaca takbir 7 kali, dan pada raka'at kedua 5 kali, dengan mengangkat kedua tangan setiap kali takbir. Diterima dari 'Amir bin Syu'aib , dari ayahnya selanjutnya dari kakeknya: "Bahwa Nabi saw. bertakbir dua belas kali, tujuh kali pada raka'at petama dan lima kali pada raka'at kedua. Dia tidak mengerjakan shalat sunat apapun, baik sebelum atau sesudah shalat hari raya itu. " (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah. Ahmad mengatakan bahwa pendapat itulah yang dianutnya). 
  • Bacaan diantara takbirTentang yang dilakukan antara dua takbir, maka Nabi saw. hanya diam sebentar saja, dan tidak diterima deskripsi tentang bacaan tertentu yang diucapkannya saat diam itu. Tapi Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang kuat dari Ibnu Mas'ud , yakni dari ucapan dan perbuatannya, bahwa ia memuji dan menyanjung Allah serta membaca shalawat atas Nabi saw. Riwayat ini juga diterima dari Hudzaifah dan Abu Musa. Menurut Ahmad dan Syafi'i sunat antara dua takbir itu membaca dzikir misalnya: "Subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar. " Tapi Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa takbir itu harus terhubung tanpa terpisah oleh bacaan apapun.

9. Khutbah Hari Raya

  • Hukumnya sunnah. Khotbah hari raya itu sunat, demikian pula mendengarkannya. Diterima dari Abdullah Ibnus Sa-ib, katanya: "Saya menghadiri shalat 'Id bersama Rasulullah saw. Setelah selesai shalat beliau bersabda:' Kami akan memberikan khotbah, barangsiapa yang ingin mendengarnya, duduklah, dan barangsiapa yang tak ingin, silakan pergi '!" (Riwayat Nasa'i, Abu Daud dan Ibnu Majah ). 
  • Dimulai dengan hamdallah, bukan takbir. Berkata Ibnul Qoyyim : " Nabi saw. memulai semua khotbahnya dengan hamdalah, dan tidak sebuah hadits pun yang menyebutkan bahwa beliau memulai khotbah kedua hari raya dengan membaca takbir. Yang diriwayatkan oleh ibnu Majah dalam sunannya dari Sa'ad, muadzdzin Nabi saw, hanyalah bahwa beliau bertakbir di sela-sela khotbah hari raya. Tapi ini tidak berarti bahwa ia memulai khotbahnya dengan takbir. "
                      سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك             
"Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu. "
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber: 
Fikih Sunnah , Sayyid Sabiq, telah diedit untuk keselarasan.

2 komentar:

  1. Selamat menyambut lebaran Wasiun. Selamat berAidul Fitri bersama keluarga. Salam ukuwah dari Malaysia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat berlebaran juga Lynn Munir, Taqabbalallaahu minnaa wa minkum. Mhn maaf baru balas kerana Google keliru menyimpan sebagai spam. Salam ukhuwah kami sekeluarga dari Indonesia.

      Hapus