Jumat, 12 Juli 2013

Sahur, Imsak dan Berbuka Termasuk Adab dalam Berpuasa

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
animasi minuman
Dengan Yang Manis.
Di banyak daerah, kita menjumpai adanya batasan waktu bagi orang yang akan berpuasa untuk berhenti dari makan dan minum ketika sahur. Hal ini diistilahkan dengaan imsak. Biasanya waktu imsak ini ditetapkan sekitar sepuluh menit sebelum waktu fajar terbit (waktu azan shalat Subuh). Demi menghindari waktu imsak ini, banyak kaum muslimin yang memulai makan sahur jauh sebelum waktu adzan Shubuh tiba. Bahkan sebagian dari mereka yang terlambat bangun menjelang waktu imsak, terburu-buru makan dan minum meskipun hanya sedikit. Sedangkan mereka yang bangun setelah waktu imsak, malah tidak makan sama sekali karena beranggapan bahwa makan dan minum setelah waktu imsak tidak diperbolehkan.
Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah penetapan batas waktu imsak ini dikenal di dalam agama, dan benarkah bila waktu imsak tiba seseorang yang akan berpuasa tidak boleh lagi bagi dia untuk makan sahur?
Arti puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut syariat Islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari/ fajar / Shubuh hingga matahari terbenam / maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya.

1. Adab-Adab Dalam Berpuasa

1. Makan sahur
Sahur merupakan waktu makan yang sangat penting bagi kelanjutan pertahanan tubuh selama berpuasa. Bila sarapan saja sudah sangat penting, apalagi makan sahur. sesungguhnya barakah dalam sahur dapat diperoleh dari beberapa segi, yaitu:
a. Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
b. Menyelisihi ahli kitab. 
c. Menambah kemampuan untuk beribadah.
d. Menambah semangat. 
e. Mencegah akhlak yang buruk yang timbul karena pengaruh lapar. 
f. Mendorong bersedekah terhadap orang yang meminta pada waktu sahur atau berkumpul bersamanya untuk makan sahur. 
g. Merupakan sebab untuk berdzikir dan berdoa pada waktu mustajab.
h. Menjumpai niat puasa bagi orang yang lupa niat puasa sebelum tidur. Umat Islam telah ijma' menyatakan sunatnya, dan tidak berdosa jika ditinggalkan.
Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: 
 تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَة
"Makan sahurlah kamu, karena makan sahur itu berkah!" (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dari Miqdam bin Madiyakriba, dari Nabi saw.bersabda : "Hendaklah kamu makan sahur, karena itulah makanan yang berkah." (Riwayat Nasa'i dengan sanad yang baik).
Yang menyebabkan berkahnya ialah karena ia menguatkan orang yang berpuasa, menggiatkan dan memudahkannya. Bersahur dianggap tercapai biar dengan makanan banyak atau sedikit, bahkan walau dengan seteguk air. 
Diterima dair Abu Said al-Khudri r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda:
السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ
Bersahur itu berkah, maka janganlah kamu tingglkan, walau seseorang diantaramu itu akan mereguk air! Karena Allah dan para Malaikat-Nya akan mengucapkan shalawat pada orang-orang yang bersahur. (Riwayat Ahmad).

Waktunya
Waktu sahur ialah dari pertengahan malam, sampai terbit fajar. Dan disunahkan menta'khirkannya (meng-akhirkan).
Dari Zaid bin Tsabit r.a., katanya: "Kami makan sahur bersama Rasulullah saw. lalu kami berdiri untuk melakukan shalat, saya tanyakan: 'Berapa kira-kira jarak antara keduanya '? Ujar Nabi : 'Lima puluh ayat." (H.R. Bukhari dan Muslim). Dari 'Amar bin Maimun, katanya: "Para sahabat Nabi Muhammad saw. itu adalah orang-orang yang paling segera berbukanya, dan paling terlambat bersahurnya." (Riwayat baihaqi dengan sanad yang sah).

Imsak
Ketahuilah, bahwasanya penentuan batasan waktu larangan sahur sebelum azan Subuh (imsak) adalah bertentangan dengan berbagai dalil yang shahih di dalam Al Qur`an dan sunnah. Al Qur`an dan sunnah justru menerangkan bahwa batasan akhir waktu sahur adalah ketika terbitnya fajar shadiq atau ketika masuk waktu shalat Subuh. Di antara dalilnya adalah sebagai berikut:
1. Firman Allah ta’ala:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
Makan dan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [QS Al Baqarah: 187].
Di dalam ayat di atas sangat jelas disebutkan bahwa makan dan minum atau sahur boleh dilakukan sampai fajar tiba, yaitu ketika masuknya waktu shalat Subuh.
2. Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ
Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan (pertama) di waktu malam. Maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan (kedua).” [HR Al Bukhari (617) dan Muslim (1092)].
Hadits di atas menerangkan dengan jelas bahwa makan sahur boleh dilakukan sepanjang adzan kedua atau adzan Subuh belum dikumandangkan. Apabila adzan Subuh sudah dikumandangkan maka berarti waktu sahur telah selesai.
3. Hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi saw. bersabda:
الْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ الطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ الصَّلَاةُ، وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ الصَّلَاةُ وَيَحِلُّ فِيهِ الطَّعَامُ
“Fajar ada dua macam: Fajar yang mengharamkan makanan dan boleh shalat padanya, dan fajar yang haram shalat padanya dan halal makanan padanya.[HR Ibnu Khuzaimah (1/52/2) dan Al Hakim (1/452). Hadits shahih.]
Makna hadits di atas adalah ketika fajar pertama (fajar kadzib) muncul, seseorang diharamkan untuk melaksanakan shalat Subuh dan masih boleh makan sahur. Adapun ketika fajar kedua (fajar shadiq) terbit, maka seseorang sudah diharamkan untuk sahur dan sudah diperbolehkan untuk melaksanakan shalat Subuh.
4. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
Kami makan sahur bersama Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian beliau berdiri untuk shalat. Saya (Anas bin Malik) bertanya: “Berapa lama waktu antara azan dan sahur?” Dia menjawab: “Sekitar (bacaan sebanyak) lima puluh ayat.” [HR Al Bukhari (1921) dan Muslim (1097)].
Hadits ini menerangkan bahwa Rasul صلى الله عليه وسلم baru memulai makan sahur sekitar 10 hingga 15 menit sebelum shalat Subuh dimulai atau sekitar membaca 50 ayat dengan tartil.
Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Hizam hafizhahullah di dalam Syarhu Kitabish Shalah min Bulughil Maram (hal. 16) bahwa haramnya makan, minum, dan bersetubuh setelah terbitnya fajar kedua adalah mazhab Imam Asy Syafi’i, Ahmad, Abu Hanifah, jumhur sahabat Nabi, tabi’in, dan generasi setelah mereka berdasarkan ayat yang telah kami sebutkan di atas.
Seandaianya seseorang ragu mengenai terbitnya fajar, ia boleh makan-minum sampai benar-benar yakin bahwa ia telah terbit, dan tidak beramal berdasarkan keraguan tersebut. Karena Allah 'azza wajalla membatasi makan-minum itu hingga betul-betul nyata dan bukan ragu. 
Pernah seorang laki-laki mengatakan kepada Ibnu Abbas r.a.: "Saya bersahur, dan jika saya ragu makan saya berimsak - menahan diri dari makan-minum- " Maka kata Ibnu Abbas; "Makanlah selama anda masih ragu, sampai akhirnya anda tidak ragu lagi!" Berkata Abu Daud :"Telah berfatwa Abu Abdillah - yakni Ahmad bin Hanbal - :'Jika seseorang ragu tentang terbitnya fajar, ia boleh makan sampai yakin benar-benar terbit'." Ini merupakan madzhab Ibnu Abbas, 'Atha', Auza'i dan ahmad, Dan menurut Nawawi, para  sahabat Syafi'i sepakat bolehnya makan bagi orang yang meragukan terbitnya fajar. Imsak sebenarnya mempunyai arti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari waktu Subuh hingga waktu Maghrib. Dengan kata lain sebelum waktu adzan Subuh dikumandangkan, umat muslim masih diperbolehkan untuk makan dan minum. Tapi tidak boleh lewat dari waktu Subuh. Jadi, ketika Anda bangun untuk makan sahur tapi waktu sudah sangat dekat dengan waktu adzan subuh, dan radio, masjid, serta televisi sudah menyatakan imsak, tidak usah khawatir. Karena sebenarnya Anda masih punya waktu 10 menit lagi untuk makan sahur. Manfaatkanlah waktu itu dengan makan dan minum.

2. Ta'jil, Menyegerakan Berbuka
Disunahkan bagi orang yang berpuasa menyegerakan berbuka, bila telah nyata terbenamnya matahari. Diterima dari Sahal bin Sa'ad, bahwa Nabi saw. bersabda:
 لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ 
Artinya "Selalulah manusia itu dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka." (Riwayat Bukhari dan Muslim). 
Dan sebaiknya berbuka itu dengan buah kurma, dan jka tidak ada maka dengan air. Diterima dari Anas r.a. katanya: "Rasulullah saw. biasa berbuka dengan beberapa buah kurma basah sebelum shalat, jika tidak ada, maka dengan kurma-kurma kering, dan jika tidak ada pula, maka direguknya beberapa teguk air." (Diriwayatkan oleh Abu Daud, juga oleh Hakim yang menyatakan sahnya serta Turmudzi yang menyatakan hasannya). 
Diterima dari Salman bin 'Amir bahwa Nabi saw. bersabda: "Jika salah seorang diantaramu berpuasa, hendklah ia berbuka dengan kurma, dan jika tidak da maka dengan air, karena air itu suci.'(Riwayat Ahmad, jua Turmudzi yang menyatkannya hasan lagi shahih). 
Dalam hadits terdapat petunjuk bahwa sunat berbuka sebelum shalat Maghrib dengan cara ini. Jika ia telah selesai shalat, barulah ia makan, kecuali bila makanan telah terhidang, mak ia hendaklah makan lebih dulu. Diterima dari Anas, bahwa Nabi saw. bersabda: "Jika makanan malam telah dihidangkan, maka makanlah dulu sebelum shalat Maghrib, janganlah makan malammu itu dikebelakangkan."

3. Berdo'a Ketika Berpuasa dan Berbuka
  • Diriwayatkan oleh Turmudzi dengan sanad yang hasan bahwa Nabi saw. bersabda: "Ada tiga golongan yang tidak ditolak do'a mereka: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil dan orang yang teraniaya."
  • Dari Ibnu Majah dari Abdullah bin 'Amar bin 'Ash bahwa Nabi saw.bersabda: Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, di waktu ia berbuka teredia do'a yang makbul." Dan di saat berbuka Abdullah mengucapkan dalam do'anya:"اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي" ("Ya Allah aku mohon kepada-Mu - dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu - agar aku engkau ampuni.")
  • Dan diterima berita yang sah bahwa Nabi saw. biasa mengucapkan :"ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ " (Telah lenyap haus dahaga, telah basah urat-urat, dan insya Allah ditetapkan pahalanya). 
  • Dan diriwayatkan secara mursal  bahwa Nabi saw. biasa berdo'a: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ(Ya Allah karena-Mu lah aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka." Doa dengan redaksi ini diriwayatkan Abu Daud dalam Sunan-nya no. 2358 secara mursal (tidak ada perawi sahabat di atas tabi’in), dari Mu’adz bin Zuhrah. Sementara Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in, sehingga hadis ini mursal. Dalam ilmu hadis, hadis mursal merupakan hadis dhaif karena sanad yang terputus. 
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq
http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2013/12/hukum-imsak-dalam-sahur.html
Catatan Penulis:
Kendati hadits-nya dho'if, bukan berarti tidak boleh membaca do'a ini - Pada galibnya, redaksi do'a itu terserah yang memanjatkan - hanya saja, agar tidak menganggap bahwa redaksi do'a tsb. berasal dari Rasul atau sunnah Rasul. wallaahu a'lam.

4 komentar:

  1. Aruah bapak dulu selalu berkata," makanlah selagi azan subuh belum berkumandang ". Agak-agak lagi 5 minit azan berkumuandang ...kami semua sudah berhenti makan. Pencerahannya di sini bagus sekali Wasiun Mika. Terima kasih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Lynn Munir, postingan ini saya tulis karena masih banyak yang anggap bahwa imsak itu batas akhir tidak boleh makan dan minum lagi, padahal artinya: menahan / mengerem. Sebagaimana hadits Rasulullah saw. "Teruskan makan jika mendengar adzan Bilal, dan berhentilah jika mendengar adzan 'Abdullah bin Umi Maktum." jazaakillaahu khaira.

      Hapus
  2. Mantap postingannya Sahabat semoga yang lain memahaminya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin..., terima kasih atas kunjungan dan semangatnya, Kang Faesholi

      Hapus