Kamis, 04 Juli 2013

Pengertian dan Perbedaan Antara Hilal, Sidang Isbat, Hisab dan Rukyat

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhanatau Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994.Pada tahun 2011 juga terjadi perbedaan yang menarik. Dalam kalender resmi Indonesia sudah tercetak bahwa awal Syawal adalah 30 Agustus 2011. Tetapi sidang isbat memutuskan awal Syawal berubah menjadi 31 Agustus 2011. Sementara itu, Muhammadiyah tetap pada pendirian semula awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Hal yang sama terjadi pada tahun 2012, dimana awal bulan Ramadhan ditetapkan Muhammadiyah tanggal 20 Juli 2012, sedangkan sidang isbatmenentukan awal bulan Ramadhan jatuh pada tanggal 21 Juli 2012. Namun demikian, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.

1. Metodologi Penentuan Awal Bulan

  1. Hisab.  Secara harfiah artinya 'perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering  digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu shalat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah.
  2. Rukyat. Adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.


2. Metode Penentuan Hilal Di Indonesia

1. Rukyatul Hilal. Yakni kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyahdengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah. 

2. Wujudul Hilal: kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima' qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam. Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 PERSIS (PERSATUAN ISLAM) sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat.

3. Imkanur Rukyat MABIMS: kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei DarussalamIndonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:       

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:
  1. Pada saat Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum , dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
  2. Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.
  3. Ketinggian hilal kurang dari 0 derajat. Dipastikan hilal tidak dapat dilihat sehingga malam itu belum masuk bulan baru. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
  4. Ketinggian hilal lebih dari 2 derajat. Kemungkinan besar hilal dapat dilihat pada    ketinggian ini. Pelaksanaan rukyat kemungkinan besar akan mengkonfirmasi terlihatnya hilal. Sehingga awal bulan baru telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
  1. Ketinggian hilal antara 0 sampai 2 derajat. Kemungkinan besar hilal tidak dapat dilihat secara rukyat. Tetapi secara metode hisab hilal sudah di atas cakrawala. Jika ternyata hilal berhasil dilihat ketika rukyat maka awal bulan telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini. Tetapi jika rukyat tidak berhasil melihat hilal maka metode rukyat menggenapkan bulan menjadi 30 hari sehingga malam itu belum masuk awal bulan baru. Dalam kondisi ini rukyat dan hisab mengambil kesimpulan yang berbeda.
  2. Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip Imkanur-Rukyat digunakan antara lain oleh Persis.
4. Rukyat Global. Adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya. Prinsip ini antara lain dipakai oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

3. Sejarah Penentuan Awal Hilal Di Masa Nabi dan Sahabat

Masuknya bulan Ramadhan itu diketahui dengan jalan rukyat atau melihat hilal walau dari seorang saja yang bersifat adil, atau dengan menghitung (menggenapkan ) bilangan bulan sya’bancukup tiga puluh hari.
Dari Umar r.a., katanya:”Orang-orang sama mengintai hilal, Maka saya sampaikanlah kepada Rasulullah saw. bahwa saya telah melihatnya. Maka Nabipun menyuruh manusia mempuasakan nya. (Riwayat Abu Daud, juga Hakim dan Ibnu Hibban yang sama menyatakan sahnya).
Dari Abu Hurairah, Bahwa Nabi saw. bersabda: “Berpusalah kamu jika melihatnya, dan berbukalah bila melihaatnya! Dan jika terhalang oleh awan, maka cukupkanlah bilangan sya’ban itu tiga puluh hari.”
Pendapat Para Ulama:
1.Kesaksian 1 orang. Mengenai penentuan awal Ramadhan, cukup diterima kesaksian seorang laki-laki, pendapat ini dianut oleh Turmudzi, Ibnul Mubarak, Syafi’i dan  Ahmad.
2.Minimal saksi 2 orang lelaki. Hilal syawal, dapat diterima dengan menggenapkan bilangan Ramadhan cukup tiga puluh hari, dan kesaksian hanya seorang laki-laki saja tidak dapat diterima, minimal kesaksian adalah dua orang laki-laki. Ini  Pendapat umumnya fukaha atau Ahli Fikih.
3.Sama saja. Hilal Ramadhan dan hilal Syawal tidak ada perbedaan; demikian pula kesaksian, diterima kesaksian dari seorang laki-laki yang bersifat adil. Ini Pendapat Abu Tsur.

4. Perbedaan Tempat Terbit Bulan

1. Berlaku Global. Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat, bahwa perbedaan tempat terbit bulan itu tidak menjadi soal. Maka apabila penduduk suatu nergeri melihat hilal, wajiblah puasa bagi seluruh negeri, berdasarkan sabda Rasulullah saw. yang lalu “Berpuasalah bila melihatnya, dan berbukalah bila melihatnya!”Pembicaraan ini tertuju pada seluruh umat. Maka jika salah seorang mereka menyaksikannya pada tempat manapun, itu berarti rukyat bagi mereka semua.
2. Berlaku lokal. Ikrimah, Qasim bin Muhammad, Salim, Ishak dan yang sah menurut golongan Hanafi serta yang dipilih oleh golongan Syafi’i, bahwa yang jadi ukuran bagi penduduk setiap negeri itu ialah penglihatan mereka sendiri, hingga mereka tak perlu terpengaruh oleh penglihatan orang lain. Pendapat ini bedasarkan apa yang diriwayatkan oleh Kuraib, katanya: “Saya pergi ke Syam, dan sewaktu saya berada di sana muncullah hilal Ramadhan, dan saya saksikan sendiri hilal itu pada malam Jum’at. Kemudian pada akhir bulan, saya datang kembali ke Madinah dan ditanyai oleh Ibnu Abbas – kemudian teringat olehnya hilal – katanya:
‘Bilakah kelihatan oleh Tuan-Tuan hilal’?
‘Kelihatan oleh kami malam Jum’at, ujar saya.
‘Apakah anda sendiri melihatnya’? tanya Ibnu Abbas pula.
‘Benar’, ujar saya, ‘Juga dilihat oleh orang banyak, hingga mereka berpuasa, termasuk diantaranya Mu’awiyah’.
‘Tetapi kami melihatnya malam Sabtu’, kata Ibnu Abbas. ‘hingga kami akan berpuasa sampai cukup tiga puluh hari, entah kalau kelihatan sebelum itu’.
‘Tidakkah cukup menurut Anda penglihatan dan berpuasanya Mua’awiyah’? tanya saya.
‘Tidak’, ujarnya, ‘Begitulah yang dititahkan oleh Rasulullah kepada kami’.” (Riwayat Ahmad, Muslim dan Turmudzi, Kata Turmudzi: “Hadits ini hasan lagi shahih dan gharib, dan menurut para ulama mengamalkan hadits ini berarti bahwa bagi tiap-tiap negeri berlaku rukyat atau penglihatan masing-masing).
Wallaahu a'lam
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Dirangkum dari berbagai sumber dan telah melalui proses editing.

2 komentar:

  1. Mas, di negeri ini kalau bisa semuanya dibisnisin. Al-Qur'an aja dikorupsi..... Kalau bisa bayar kenapa harus gratis....(gitu kali prinsipnya), abis untuk jadi pejabat kan juga mahal....(Yang waras harap maklum).

    BalasHapus
  2. Tau ,apa di indonesian ini kebanyakan orang pinter yg kebelinger,wawlohuallM

    BalasHapus