Minggu, 14 Juli 2013

Memakai wewangian Beralkohol, Bolehkah ?

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Dalil Sunahnya Memakai Wewangian

Rasulullah saw. senantiasa menganjurkan umat Muslim untuk memakai wewangian. Inilah salahsatu sunah yang penting diperhatikan ketika hendak beribadah. Bahkan, keringat beliau sangat harum. Berkata Anas r.a., "Tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasulullah saw.." (Shahih Bukhari, Hadis no 3368). Di dalam kitab ash-Shahiihain disebutkan, dari Abu Bakar bin al-Munkadir, dia berkata, ‘Amr bin Sulaim al-Anshari pernah memberitahuku, dia berkata, Aku bersaksi atas Abu Sa’id yang mengatakan, Aku bersaksi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَأَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ
Mandi pada hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh. Dan hendaklah dia menyikat gigi serta memakai wewangian jika punya.[Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 880) dan Muslim (no. 846)].
Di dalam kitab Shahiih al-Bukhari juga disebutkan, dari Salman al-Farisi, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيُدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى
“Tidaklah seseorang mandi dan bersuci semampunya pada hari Jum’at, memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi di rumahnya kemudian keluar lalu dia tidak memisahkan antara dua orang (dalam shaff) kemudian mengerjakan shalat dan selanjutnya dia diam (tidak berbicara) jika khatib berkhutbah, melainkan akan diberikan ampunan kepadanya (atas kesalahan yang terjadi) antara Jum’atnya itu dengan Jum’at yang berikut-nya.” [Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 883)].

2. Adab Memakai Wewangian

  1. Sunnah Memakainya Sebelum ke Masjid. Memakai wewangian termasuk berhias, disunnahkan ketika hendak berangkat ke mesjd. Firman Allah,” Wahai anak cucu Adam, pakailah perhiasanmu (pakaianmu) yang bagus pada setiap memasuki masjid.” (Al-A’raf(7):31). Memakai parfum juga termasuk perkara yang disunnahkan ketika shalat Jum’at, shalat Ied dan ibadah2 lainnya.
  2. Boleh Memakai Ketika Berpuasa. Hukum bersiwak, memakai minyak rambut, wangi2an,celak mata, dan beberapa hal lainnya termasuk perkara yang dibolehkan ketika berpuasa. Sebab ia kembali kepada hukum asal sesuatu yaitu mubah (boleh), selama tak ada dalil yang melarangnya.
  3. Kesunnahan memakai parfum hanya berlaku untuk laki-laki, sementara untuk kaum perempuan justru tidak diperkenankan memakainya, kecuali hanya untuk di dalam rumah dan untuk suaminya. (lihat penjabarannya berikut).

3. Larangan Dan Batasan Wanita Memakai Parfum


1. Larangan memakainya saat keluar rumah. Bersandarkan kepada Hadits sbb.:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad. Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ , no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Memang benar, akan tetapi yang dimaksud hadits tersebut adalah parfum untuk keluar rumah dan laki-laki bisa mencium wanginya dan bisa membangkitkan syahwat laki-laki.
Al-Munawi rahimahullah berkata,
والمرأة إذا استعطرت فمرت بالمجلس فقد هيجت شهوة الرجال بعطرها وحملتهم على النظر إليها، فكل من ينظر ‏إليها فقد زنا بعينه، ويحصل لها إثمٌ لأنها حملته على النظر إليها وشوشت قلبه، فإذن هي سببُ زناه بالعين، فهي أيضاً زانية
Wanita jika memakai parfum kemudian melewati majelis (sekumpulan) laki-laki maka ia bisa membangkitkan syahwat laki-laki dan mendorong mereka untuk melihat kepadanya. Setiap yang melihat kepadanya maka matanya telah berzina. Wanita tersebut mendapat dosa karena memancing pandangan kepadanya dan membuat hati laki-laki tidak tenang. Jadi, ia adalah penyebab zina mata dan ia termasuk pezina.” (Faidhul Qadir, 5:27, Makatabah At-Tijariyah, cet. 1, 1356 H, Al-Maktabah Asy-Syamilah).
2. Larangan memakainya walaupun untuk pergi ke masjidIslam memang tegas dalam hal ini, mengingat sangat besarnya fitnah wanita terhadap laki-laki. Bahkan jika sudah terlanjur memakai parfum kemudian hendak ke masjid, sang wanita diperintahkan mandi agar tidak tercium bau semerbaknya. Padahal tujuan ke masjid adalah untuk beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أيما امرأة تطيبت ثم خرجت إلى المسجد لم تقبل لها صلاة حتى تغتسل
Perempuan mana pun yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi.(Hadits riwayat Ahmad, 2:444. Syaikh Al-Albani menilainya shahih dalam Shahihul Jami’, no.2703).
Dalam riwayat lain disebutkan,” Janganlah kalian melarang hamba2 Allah (perempuan) untuk mendatangi masjid.Tapi hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.’ ( Riwayat Abu Daud).
3. Tidak Memakainya Ketika sedang berkabung.
Dari Ummu Athiyyah, Rasulullah saw. bersabda,” Janganlah seorang wanita berkabung atas kematian seseorang lebih dari 3 hari. Kecuali atas kematian suaminya, ia  berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Janganlah ia mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashab ( kain berasal dari Yaman yang dipintal kemudian  dicelup), jangan memakai celak. Jangan memakai parfum kecuali ia suci dari haidh, hendaklah ia mengambil sepotong quasth atau azhfaar (jenis tumbuhan yang diolah untuk parfum). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
4.Hanya Untuk Suami atau di dalam Rumah
Islam mengajarkan wanita agar mengkhususkan wewangian buat sang suami saja atau ketika berada di dalam rumah. Sebagaimana pesan nabi saw. kepada para wanita,” Sebaik2 istri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu disaat engkau pergi,” (Riwayat a Thabrani).
Ada keringanan untuk perempuan
Larangan diatas bukan berarti perempuan tidak boleh memakai wewangian sama sekali atau dibiarkan berbau tak sedap. Kaum perempuan masih boleh memakai parfum dengan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Berwarna jernih dan samar baunya.
Perhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إن طيب الرجال ما خفي لونه وظهر ريحه ، وطيب النساء ما ظهر لونه وخفي ريحه
Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi tampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no.7564; hadits hasan. Lihat: Fiqh Sunnah lin Nisa’, hlm. 387)
Oleh karena itu, jika parfum dengan wangi sedikit/samar atau untuk sekadar menetralkan bau, (misalnya: deodoran), maka boleh. Selain itu, jika untuk suami, silakan berwangi seharum mungkin. Perlu diperhatikan bahwa parfum wanita warnanya jelas.
2. Di dalam rumah boleh memakai sekehendaknya.
Al-Munawi rahimahullah berkata,
وطيب النساء ما ظهر لونه وخفي ريحه) قالوا: هذا فيمن تخرج من بيتها وإلا فلتطيب بما شاءت
“Maksud dari ‘wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak’. Ulama berkata, ‘Ini bagi perempuan yang hendak keluar dari rumahnya. Jika tidak, ia bisa memakai parfum sekehendak hatinya.’” (Syarh Asy-Syama’il, 2:5).

Allaahu a'lam.

4. Campuran Alkohol Dalam Parfum

Tidak berlebihan bila dikatakan wewangian sepertinya sudah menjadi bagian dari keseharian. Maka itu, sejak lama industri wewangian yang kemudian dikenal dengan parfum, berkembang pesat. Inovasi dan kreasi diketengahkan oleh para ahli di sejumlah negara untuk dapat menghadirkan parfum dengan citra rasa khusus. Akan tetapi, seiring perkembangan teknologi dalam industri ini, ada hal yang patut dicermati oleh konsumen Muslim. Bukan rahasia lagi jika alkohol menjadi salah satu campuan dalam bahan pembuat parfum.
Inilah yang memunculkan pertanyaan, apakah parfum atau wewangian yang memakai bahan alkohol tadi boleh digunakan atau tidak? Sebagian kalangan segera mengaitkan alkohol dengan bahan serupa yang terdapat dalam produk minuman keras (khamar). Oleh sebab itu, kalangan ini menganggap bahwa parfum yang berbahan alkohol, jelas haram dan dilarang untuk digunakan umat Islam.
Mengapa mesti ada alkohol dalam parfum? 

5. Penjelasan LPOM MUI

  1. Bahan dasarnya berbeda. LPPOM MUI menjelaskan, alkohol berfungsi sebagai pelarut bahan-bahan esensial yang menghasilkan aroma tertentu. Banyak sekali bahan aroma parfum yang tidak larut di dalam air, tetapi hanya larut di dalam alkohol. Oleh karena itu, alkohol merupakan salah satu alternatif terbaik dalam melarutkan bahan-bahan tersebut. Meski demikian, sambung LPPOM MUI, sejatinya antara alkohol maupun minuman beralkohol atau khamar, tidaklah serupa. Alkohol atau disebut juga ethanol, adalah salah satu senyawa kimia yang bisa berasal dari bermacam bahan, semisal fermentasi khamar, fermentasi non-khamar, tapi juga terdapat secara alamiah dalam buah-buahan matang. Dengan begitu, alkohol teknis yang digunakan untuk keperluan non-pangan, seperti bahan sanitasi (dalam dunia laboratorium dan kedokteran) masih diperbolehkan. Sementara minuman keras atau khamar adalah suatu istilah untuk jenis minuman yang memabukkan. Di dalam khamar memang mengandung alkohol sebagai salah satu komponen yang bisa menyebabkan mabuk.
  2. Dibolehkan untuk campuran pangan dengan syarat. Komisi Fatwa MUI masih membolehkan pemakaian alkohol sebagai pelarut dalam dunia pangan, selama tidak terdeteksi di dalam produk akhir bahan makanan tersebut. Contohnya adalah penggunaan alkohol sebagai pelarut dalam mengekstrak minyak atsiri atau oleoresin atau juga alkohol untuk melarutkan bahan-bahan perasa (flavor). "Syaratnya, alkohol tersebut bukan berasal dari fermentasi khamar (alkohol teknis) dan alkohol tersebut diuapkan kembali hingga tidak terdeteksi dalam produk akhir," demikian pemaparan Komisi Fatwa MUI.

6. Mewaspadai Bahan Penyusun Lain dan Proses Pembuatannya

  • Alkohol hanya bahan penolong. Pemanfaatan alkohol dalam industri parfum, hanyalah sebagai bahan penolong untuk melarutkan komponen wewangian tadi. Ada kemungkinan alkohol ini masih tertinggal dalam produk parfum yang dihasilkan. Hanya saja, saat digunakan, semisal dioleskan atau disemprotkan ke badan, bahan ini akan cepat menguap dan tinggal meninggalkan aroma parfum.
  • Lemak musang dan civet perlu diwaspadai. Di luar alkohol, masih banyak bahan penyusun parfum. Ada dua kelompok besar, yaitu bahan alami yang diekstrak dari alam, serta dari bahan kimia sintetis. Nah, bahan parfum inilah, baik yang berasal dari alam maupun sintetik memiliki kemungkinan mengandung bahan non-halal. Tak hanya itu, titik rawan kehalalan parfum berasal dari proses pembuatan parfum itu sendiri. Salah satu bahan yang kerap ada dalam produk ini yakni sejenis lemak yang diperoleh dari hewan musang atau civet. Civet memberikan kesan tertentu pada parfum, dan menghasilkan nuansa maskulin. Sebagai bahan lemak hewan, masih harus dikaji lebih lanjut apakah hewan ini halal atau tidak. Pun cara memperolehnya apakah disembelih secara syar'i ataukah tidak.
  • Pilih yang non-alkohol lebih aman. Dalam menentukan halal atau haramnya penggunaan parfum, bukan hanya dari kandungan bahan alkohol yang ada, melainkan perlu ditinjau dari bahan penyusun lainnya juga proses pembuatannya. Maka berkembanglah wewangian non-alkohol yang dijual di masyarakat sebagai parfum halal. Meski begitu, bagi yang ingin merasa aman, bisa memilih wewangian non-alkohol yang kini banyak tersedia di pasaran.

               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ            
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:

www.Republika.co.id. telah diedit untuk keselarasan.
http://muslimah.or.id/fikih/wanita-haram-memakai-parfum.html

2 komentar:

  1. Informasi yang sangat menarik nich, selamat siang dan salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tks atas kunjungannya, salam kenal juga, smg anda sukses.

      Hapus