Senin, 15 Juli 2013

Hukum Boleh Tidaknya Muslimah Adzan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Adzan mulai disyaria'tkan pada tahun pertama Hijriah; sebuah riwayat dari Bukhari dan Muslim mengisahkan bagaimanakah adzan disyariatkan. Ketika rombongan para sahabat yang hijrah dari Makkah tiba di Madinah bersama Rasulullah SAW, telah masuk waktu shalat. Di saat bersamaan, belum terdapat media yang dipergunakan untuk memanggil khalayak agar berkumpul dan shalat berjamaah.
Mereka akhirnya bermusyawarah. Ada usulan menggunakan lonceng ala Nasrani atau torempet seperti umat Yahudi. Lantas, Umar bin Khatab mengusulkan cukup dengan panggilan yang diserukan oleh seorang sahabat. Rasulullah akhirnya menunjuk Bilal untuk memenuhi tugas tersebut. Bilal, adalah muadzin pertama. Dan, ia adalah sosok lelaki.
Bila sahabat Bilal adalah sosok sahabat dari golongan laki-laki, muncul dalam kajian fikih Islam pertanyaan tentang boleh atau tidaknya seorang perempuan mengumandangkan adzan. 


1. Pendapat Boleh TIdaknya Wanita Adzan

  1. Hanya dilakukan lelaki. Dari hadits di atas, Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari-nya mengemukakan penunjukan adzan hanya ditujukan untuk golongan laki-laki. Karena itu, mayoritas ulama bersepakat bahwa seorang perempuan tidak boleh adzan ataupun iqamat untuk jamaah laki-laki. Pendapat ini masyhur dipakai oleh empat mazhab fikih terkemuka, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Dengan demikian, seorang perempuan tidak diperbolehkan adzan untuk jama'ah lawan jenis.
  2. Adzan perempuan tidak sah(?). Lalu, timbul permasalahan apakah adzan yang sudah telanjur dikumandangkan sah? Terkait ini, para ulama juga berselisih pandang. Pendapat pertama mengatakan adzan yang terlanjut ia kumandangkan tidak sah. Pandangan ini dianut oleh mayoritas ulama dari Mazhab Maliki, Syafii, dan Hambali. Sedangkan pendapat kedua menyatakan adzan perempuan yang bersangkutan dianggap sah dengan adanya kemakruhan. Pendapat ini banyak digunakan di Mazhab Hanafi.
  3. Adzan Di Komunitas Muslimah. Kemudian, bagaimana bila yang bersangkutan beradzan untuk komunitas Muslimah. Bolehkah adzan ia kumandangkan? Sebuah riwayat dari Abdullah bin Umaryang dinukil oleh Baihaqi menyebutkan bahwa sebagaimana sabda Rasulullah, tidak ada adzan dan iqamat bagi kaum wanita. Berdasarkan pada hadits ini:Penganut Mazhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa tidak ada adzan dan iqamat bagi kaum wanita. Adapun menurut Mazhab Syafi’i, tidak ada larangan pengumandangan adzan oleh dan untuk jamaah perempuan. Pun demikian dengan pandangan Ahmad bin Hambal. Menurut dia, tidak ada pelarangan perempuan beradzan. Mereka juga boleh dengan keinginan sendiri meninggalkan beradzan. Mereka menyandarkan pendapatnya berdasarkan hadits dari 'Aisyah: "Bahwa ia biasa adzan, qamat dan memimpin wanita sebagai imam dalam shalat, dan berdiri di tengah-tengah mereka," (Riwayat Baihaqi). Wallaahu a'lam.


2. Dalil dan Alasan Yang Membolehkan Wanita Adzan

Diperbolehkan bagi wanita untuk melakukan azan dan iqamah, namun dengan syarat: hanya dilakukan di lingkungan tempat jemaah khusus wanita. Di antara dalilnya adalah sebagai berikut:
  1. Keterangan dari Ibnu Umar, bahwa beliau ditanya, “Apakah wanita boleh beradzan?” Kemudian, beliau marah, dan mengatakan, “Apakah saya melarang orang untuk berdzikir (menyebut nama) Allah?” (Riwayat Ibnu Abu Syaibah; sanad-nya dinilai baik olehSyekh Al-Albani). Maksud Ibnu Umar–Allahu a’lam–adalah beliau merasa aneh dengan pertanyaan yang diajukan orang tersebut. Karena itu, beliau marah dan memberikan alasan bahwa adzan termasuk dzikir yang disyariatkan, maka bagaimana mungkin dilarang?
  2. Riwayat dari ‘Aisyah r.a., bahwa dulu beliau melakukan adzan dan iqamah, kemudian mengimami jemaah wanita. Beliau berdiri di tengah shaf wanita. (HR. Al-Baihaqi; dinilai kuat oleh Al-Albani).
Semua riwayat di atas menunjukkan bolehnya adzan dan iqamah bagi wanita. Hanya saja, harus dilakukan di lingkungan khusus wanita dan tidak didengar kaum laki-laki.
(Disarikan dari: Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah lil Imam Al-Albani, hlm. 78, Dar Al-Ghad Al-Jadid, Mesir, 1427 H.).

3. Dalil dan Alasan Yang Melarang Wanita Adzan

  1. Adzan sama sekali bukan hak wanita, tidak boleh bagi wanita untuk mengumandangkan adzan, karena adzan termasuk perkara-perkara yang zhahir dan ditampakkan, yang mana perkara-perkara macam ini adalah urusan pria, sebagaimana wanita tidak diberi tugas untuk melakukan jihad dan hal-hal serupa lainnya. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh).
  2. Pendapat yang benar dari para ulama menyatakan, bahwa wanita tidak boleh mengumandangkan adzan, karena hal semacam ini belum pernah terjadi pada jaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga tidak pernah terjadi di zaman Khulafa'ur Rasyidin Radhiyallahu 'anhum.(Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta').
  3. Tidak disyariatkan bagi kaum wanita untuk melaksanakan adzan dan iqamat baik di dalam perjalanan ataupun tidak. Adzan dan iqamat merupakan hal yang dikhususkan bagi kaum pria sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.(Syaikh Abdul Aziz bin Baaz)
  4. Tidak disunnahkan beriqamat bagi jama'ah shalat kaum wanita yang diimami wanita pula. Ketetapan ini juga berlaku bagi wanita yang melakukan shalat sendiri, sebagaimana tidak disyari'atkan bagi mereka mengumandangkan adzan.(Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta').
[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 117-118, penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin].

    4. Adab Ketika Mendengar Adzan

    Syekh Kamil Muhammad Uwaidah dalam Al Jami’ fi Fiqh An Nisa’, mengatakan bagi Muslimah yang menjadi objek dari adzan, ada beberapa hal yang penting ditempuh mereka saat mendengar dan seusai adzan dikumandang kan. Di antaranya:
    1. Muslimah yang mendengar adzan, hendaklah ia mengucapkan bacaan seperti apa yang dikumandangkan muadzin, kecuali pada saat membaca “hayya alasshalah” dan “ hayya alalfalah”. Hendaknya, ia mengucapkan "la haula wala quwwata illa billah."
    2.Sunnah lainnya yang bisa dikerjakan seusai mendengar adzan ialah bershalawat kepada Nabi SAW. Riwayat Muslim menyebutkan bahwa barang siapa yang bershalawat sekali bagi Rasulullah, Allah akan ber salawat 10 kali baginya. Selain bershalawat, hendaknya disertai dengan pengajuan doa kepada-Nya. Waktu yang terdapat di antara adzan dan iqamat, menurut sejumlah dalil disebut-sebut sebagai momen yang tepat untuk berdoa. Di waktu itu, Allah banyak mengabulkan do'a.
    Hal ini sebagaimana yang dikutip dari hadits Anas bin Malik. Menurut hadits riwayat Turmudzi itu, Rasulullah menegaskan bahwa tidak akan ditolak do'a yang dibaca di antara dan adzan dan iqamat. Tak hanya saat adzan. Ketika iqamat mulai diserukan oleh muadzin, hendaklah wanita mengucapkan, “Aqaamahallaahu wa adaamahaa/Semoga Allah mendirikan dan melanggengkannya.”
                ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ          
    “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Mudah-mudahan bermanfaat.
    Sumber:
    www.republika.co.id, telah diedit untuk keselarasan.
    http://almanhaj.or.id/content/122/slash/0/hukum-adzan-dan-iqomat-bagi-wanita/
    http://www.konsultasisyariah.com/hukum-azan-dan-iqamah-bagi-wanita/
    Baca juga artikel berkaitan : Muadzin dan Tata Tertibnya Menurut Sunnah

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar