Senin, 01 Juli 2013

Fatwa Tentang Hukum Donor Organ Tubuh

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Baru-baru ini berita di media massa mengabarkan bahwa seorang ayah menarik perhatian umum di depan pintu masuk RSCM, Bunderan HI, dll. hendak menjajakan ginjalnya untuk ditukar dengan sejumlah uang. Konon uang itu akan dipakai untuk menebus ijasah anaknya yang ditahan oleh pihak pesantren. Secara sosial, tindakan si ayah tadi langsung direspon dengan mengalirnya aneka dukungan dan simpati. Artikel ini hanya akan meninjau tindakan serupa dari sisi syari'at, mudah-mudahan bisa menambah pencerahan bagi pembaca, aminDonor adalah seseorang yang menyumbangkan darah, jaringan, atau organ untuk transplantasi. Pada transplantasi ginjal, donor mungkin seseorang yang baru saja meninggal atau seseorang yang masih hidup.

1. Sejarah Perjalanan Donor Organ

  • Definisi donor organ. Permasalahan transplantasi organ tubuh manusia merupakan salah satu masalah yang paling mengundang perdebatan dalam dunia medis. Secara definitif, transplantasi organ adalah pemindahan sebagian atau seluruh organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain atau dari suatu tempat ke tempat yang lain pada tubuh yang sama. Transplantasi tersebut bertujuan untuk mengantikan organ yang rusak atau tidak berfungsi pada resipien (penerima donor) dengan organ yang masih berfungsi dari pemberi donor. Pendonor bisa saja muncul dari orang yang sudah meninggal bahkan masih hidup. Orang yang sudah meninggal biasanya terlebih dahulu, di masa hidupnya, meninggalkan wasiat kepada keluarga agar bagian-bagian tertentu dari tubuhnya didonorkan.
  • Dijadikan komoditas. Permasalahan muncul ketika yang ingin mendonorkan adalah orang yang masih hidup. Secara etika biomedis (bioethical  atau bioetika) hal tersebut sering dianggap tidak dapat dibenarkan. Argumentasi-argumentasi dari hukum negara hingga hukum agama dimajukan untuk menentang kemungkinan adanya donor organ oleh orang yang masih hidup ini. Sangat mungkin, pendonor adalah orang yang secara kemampuan ekonomi tergolong orang tidak mampu dan menjual organ tubuhnya untuk mendapatkan uang. Selain itu, dikhawatirkan akan adanya perdagangan organ (organ trafficking) yang sarat dengan tindak kejahatan. Masih banyak argumentasi lain yang menjadi dasar untuk menolak adanya transplantasi organ oleh pendonor yang masih hidup. 
  • Kebutuhan dan permintaan organ selalu meningkat. Sejak berhasil melakukan transplantasi organ kepada pasien gagal ginjal pada 1954, donor organ dan studi tentang cangkok organ tubuh semakin berkembang pesat. Selain ginjal, kini beragam organ tubuh seperti hati, mata, jantung juga sudah bisa ditransplantasi. Permasalahan muncul pada kebutuhan akan organ yang terus meningkat dari waktu ke waktu sedangkan organ siap donor tak signifikan jumlahnya. Untuk menjawab hal tersebut salah satu langkah yang ditawarkan adalah membuka “pasar transplantasi organ” sehingga organ tubuh berlaku layaknya barang pada umumnya dan karenanya dapat diperjual-belikan. Pertanyaan yang sering muncul muncul adalah, apakah sebenarnya organ tubuh dapat dikategorikan sebagai properti yang dapat diperjualbelikan? Dalam sebuah tulisan yang memancing kontroversi, Introducing Incentives in the Market for Live and Cadaveric Organ Donations (2007), dua ekonom, Gary S. Becker dan Julio Jorge Elias, mengintroduksi kemungkinan adanya pasar donor organ tubuh. Becker dan Elias mengategorikan organ tubuh sebagai properti yang dapat diperjualbelikan dan adanya insentif berupa uang atau insentif moneter (monetary incentive ) pada pendonor (mati maupun hidup) memungkinkan terpecahkannya masalah permintaan atas organ tubuh bagi para pasien yang mengalami kegagalan organ dengan tercapainya equilibrium antara penawaran dan permintaan di “pasar organ tubuh”.
  • Perundangan di Indonesia. Meski di Indonesia masih jarang orang yang mau mendonorkan organ tubuhnya, di luar negeri donor organ sudah berkembang. Pasal 64 ayat (3) Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan bahkan dengan tegas melarang organ dan/atau jaringan tubuh untuk diperjualbelikan dengan dalih apapun. Pasal 192 undang-undang yang sama menyebut bahwa memperjualbelikan organ dan/atau jaringan tubuh dengan dalih apapun akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) dan denda paling banyak Rp 1 Miliar.
  • Kebutuhan organ di Amerika. Di Amerika Serikat, misalnya, telah berdiri sebuah perkumpulan bernama United Network for Organ Sharing (UNOS). Organisasi itu memiliki 14.709  anggota yang siap untuk transplantasi hati. Hingga saat ini, kebutuhan akan organ tubuh baru muncul dari pasien-pasien yang mengalami kegagalan organ. Pemerintah Amerika Serikat melansir data yang dikutipnya dari World Health Organization (WHO) bahwa setiap harinya, di dunia ini, kira-kira 79 orang menerima transplantasi organ tubuh dan 18 orang meninggal setiap harinya menunggu datangnya organ tubuh baru untuk ditransplantasikan. 
Lalu bagaimana hukum Islam memandang donor organ? Bolehkah seorang Muslim mendonorkan tubuhnya? Serta apakah seorang Muslim boleh menjual organ tubuhnya?

2. Fatwa Para Ulama Tentang Donor Organ dan Mata.

1. Syekh Qardhawi.
  • Termasuk shadaqah sekiranya murni menolong. Secara khusus, ulama terkemuka, Syekh Yusuf al-Qardhawi pun telah menyampaikan fatwanya terkait donor organ tubuh. Menurut Syekh al-Qardhawi, tindakan seorang Muslim yang mendonorkan salah satu ginjalnya yang sehat kepada Muslim lainnya yang menderita gagal ginjal dapat dibenarkan syara'. ''Bahkan terpuji dan berpahala bagi yang melakukannya,'' kata dia. Menurutnya, Islam tak membatasi sedekah pada harta semata-mata, bahkan semua kebaikan merupakan sedekah. ''Maka mendermakan sebagian organ tubuh termasuk kebaikan (sedakah),'' ujar Syekh al-Qaradhawi.
  • Tidak boleh jika akan menimbulkan bahaya. Mendonorkan organ tubuh kepada orang lain ada syaratnya. Seseorang menjadi tak boleh mendonorkan organ tubuhnya, jika  akan menimbulkan bahaya, kemelaratan dan kesengsaraan pada dirinya. ''Oleh karena itu, tidak diperkenankan seseorang mendonorkan organ tubuh yang cuma satu-satunya seperti hati atau jantung, karena tak akan mungkin hidup tanpa organ tersebut,'' tegas Qardhawi.
  • Tidak boleh diperdagangkan. Mendonorkan organ tubuh boleh dilakukan kepada orang Muslim dan non-Muslim, kecuali pada kafir harbi yang memerangi umat Islam. Qardhawi pun melarang seorang Muslim menjual organ tubuhnya. Sebab, kata dia, tubuh manusia itu bukanlah harta yang dapat dipertukarkan dan ditawar-tawarkan, sehingga organ manusia menjadi obyek perdagangan dan jual-beli.
2. MUI (Majelis Ulama Indonesia)
  • Dibolehkan jika mendesak. Para ulama di Tanah Air dalam forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III Tahun 2009, telah menetapkan; hukum melakukan transplatasi kornea mata kepada orang yang membutuhkan adalah diperbolehkan, apabila sangat dibutuhkan dan tidak diperoleh upaya medis lain untuk menyembuhkan.
  • Manusia bukan pemilik organ. ''Pada dasarnya, seseorang tak mempunyai hak untuk mendonorkan anggota tubuhnya kepada orang lain, karena ia bukan pemilik sejati atas organ tubuhnya. Akan tetapi, karena untuk kepentingan menolong orang lain, dibolehkan dan dilaksanakan sesuai wasiat,'' demikian salah satu bunyi butir fatwa MUI itu.
  • Orang hidup haram mendonorkan matanya. Para ulama dalam fatwanya juga menyatakan, orang yang hidup haram hukumnya mendonorkan kornea mata atau organ tubuh lainnya kepada orang lain. 
  • Bolehnya berwasiat untuk mendonor. Ijtima ulama memperbolehkan seseorang berwasiat untuk mendonorkan kornea matanya kepada orang lain, dan diperuntukkan bagi orang yang membutuhkan dengan niat tabarru' (prinsip sukarela dan tidak bertujuan komersial).
3. PP.Muhammadiyah:
  • Bolehnya wasiat hendak mendonor mata. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam fatwanya membolehkan seseorang berwasiat untuk mendonorkan matanya. Muhammadiyah memandang, hukum Islam dapat membenarkan donor kornea mata yang diwasiatkan seseorang ketika meninggal dunia. Sebab, hal itu dapat membawa kemaslahatan bagi penderita yang menerima sumbangan kornea mata. ''Hendaknya, mereka yang berwasiat untuk mendonorkan kornea matanya benar-benar ikhlas untuk memperoleh ridha-Nya. Jangan berkecenderungan komersial,'' demikian salah satu bunyi fatwa Muhammadiyah terkait masalah itu. Selain itu, Muhammadiyah juga menekankan, bagi donor yang mempunyai ahli waris, harus mendapatkan izin dari keluarganya. Hal itu untuk menghindari keberatan dari ahli waris. ''Kecuali bagi donor yang ketika hidup telah menyatakan sukarela menyumbangkan kornea matanya dengan persaksian ahli waris,'' tegas Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
4. PBNU
  • Orang hidup haram mendonorkan mata. Para ulama NU juga telah membahas masalah donor bola mata mayit untuk mengganti bola mata orang buta  pada Muktamar NU ke-23 di Solo, Jawa Tengah, pada 25-29 Desember 1962. Para ulama dalam fatwanya juga menyatakan, orang yang hidup haram hukumnya mendonorkan kornea mata atau organ tubuh lainnya kepada orang lain.  
  • Haram mengambil bola mata dan organ mayat. Dalam fatwanya, para ulama NU menegaskan, haram hukumnya mengambil bola mata mayit, walaupun mayit itu tidak terhormat, seperti orang murtad''Demikian pula, haram menyambung anggota organ tubuh dengan organ tubuh lainnya, karena bahayanya buta itu tak sampai melebihi bahayanya merusak kehormatan mayit,'' tegas ulama NU dalam fatwanya.
          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ           
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber: 
www.republika.co.id. telah diedit untuk keselarasan.
http://www.academia.edu/8338634/Pasar_Organ_Tubuh_Manusia_Sebuah_Tawaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar