Senin, 01 Juli 2013

Arti Bulan Ramadhan dan Keistimewaan Beramal Padanya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Marhaban Yaa Ramadha...

1. Makna Ramadhan

Insyaallah, sebentar lagi kita akan bersama-sama memasuki bulan Ramadhan; bulan penuh ampunan, rahmat dan barakah. Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya berpuasasalat tarawih, Memaknai Nuzulul Qur'an, mencari malam Lailatul Qadar, memperbanyak membaca Al-Qur'an dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri.
Ramadhan berasal dari akar kata ر م ﺿ , yang berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan.
Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. 
Wallahu a'lam.

2. Disyaria'atkannya

Puasa Ramadhan itu mulai disyari'atkan pada hari Senin tanggal 2 Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Hukumnya wajib, berdasarkan Kitab, Sunnah dan Ijma'. Mengenai kitab, maka firman Allah Ta'ala:   
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa... (Q.S. Al-Baqarah: 183).
           شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ فَمَن شَہِدَ مِنكُمُ ٱلشَّہۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ‌ۖ
[Beberapa hari yang ditentukan itu ialah] bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan [permulaan] Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang hak dan yang bathil]. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir [di negeri tempat tinggalnya] di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, ... (Q.S. Al-Baqarah: 185).
Mengenai Sunnah, maka :
  • sabda Nabi saw.: "Didirikan Islam atas lima dasar, yaitu mengaku bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, Mendirikan shalt, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji."(Al-Hadits).
  • Dari Thalhah bin 'Ubaidillah: Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw.: "Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku, puasa apa yang diwajibkan Allah atas diriku!" Ujaar Nabi saw.: "Puasa Ramadhan." Tanya laki-laki tadi pula: "Apakah ada lagi yang wajib atasku?" Ujar Nabi: "Tidak, kecuali kalau anda berpuasa sunat."
Dan ummat Islam telah ijma' atau sekata atas wajibnya puasa Ramadhan, dan bahwa ia merupakan salah satu diantara rukun Islam.

3. Keutamaan dan Keistimewaan Pada Bulan Ramadhan


  • Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi saw. bersabda: - yakni ketika telah datang bulan Ramadhan.-:"Sungguh telah datang padamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, di saat dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan dan dimana dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tidak berhasil beroleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu buat selama-lamanya"
  • Dari Abu Said Al-Khudri  r.a. : bahwa Nabi saw. bersabda: "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dna mengetahui batas-batasnya, dan ia menjaga diri dari segala pa yang patut dijaga, dihapuskanlah dosanya yang sebelumnya."(Riwayat Ahmad, baihaqi dengan sanad yang sah).
  • Dari Abu Hurairah: Bahwa Nabi saw. bersabda: "Shalat yang lima waktu, jum'at ke Jum'at dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat di antara masing-masing selama kesalahan besar dijauhi." (Riwayat Muslim).
  • Dan beberapa hadits lainnya.

4. Ancaman Bagi Yang Berbuka Bulan Ramadhan

  • Dari Ibnu 'Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Ikatan Islam dan sendi agama itu ada tiga, di atasnya didirikan Isla dan siapa yang meningggalkannya salah satu diantaranya, berarti ia kafir terhadapnya dan halal darnhnya' mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan allah, shalat fardhu, dan puasa Ramadhan."
  • Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: "Siapa yang berbuka pada satu hari dari bulan Ramadhan tanpa keringanan yang diberikan Allah padanya, tiadalah akan dapat dibayar oleh puasa sepanjang masa walau dilakukannya."(H.R. Abu Daud, Ibnu Majah dan Turmudzi).
  • Dan adapula disebutkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu'; "Siapa yang berbuka pada satu hari dari bulan ramadhan tanpa uzur atau sakit, maka tidaklah akan terbayar oleh puasa sepanjang masa walau dilakukannya'. Dan ini juga menjadi pendapat Ibnu Mas'ud r.a.

5. Atas Siapa Diwajibkan ?

  يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa... (Q.S. Al-Baqarah: 183).
Para ulama telah ijma' bahwa puasa Ramadhan itu wajib atas orang Islam yang berakal lagi baligh, sehat dan menetap. sedang wanita hendaklah ia suci dari haid dan nifas. Maka tidak wajib puasa atas orang kafir, orang gila, anak-anak, orang sakit, musafir. prempuan dalam haid atau nifas, begitupun orang tua renta, perempuan hamil atau menyusukkan anak.
Mengenai anak-anak, - walaupun ia tidak wajib berpuasa- tetapi sepatutnyalah walinya menyuruhnya mengerjakannya agar ia dapat membiasakannya dari kecil, yakni selama anak itu dapat dan kuasa.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Bersambung....
Sumber 
Fikih Sunnah 3, Sayyid Sabiq, telah diedit untuk keselarasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar