Kamis, 06 Juni 2013

Kriteria Memilih Pasangan Hidup dan Calon Menantu Menurut Syari'ah.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sudah menjadi kodrat manusia, siapapun dia adanya, jika hendak mencari pasangan hidup sudah pasti menginginkan yang berharta, cantik / ganteng, berkedudukan, bernasab tinggi, dari keluarga terpandang; syukur-syukur kalau ditambah penyayang, setia, penuh tanggungg jawab, sabar, pemaaf, patuh, pintar, populer, baik hati, dermawan, .........(siapa yang tidak mau ?). Tetapi, kerap apa -apa idealisme yang diinginkan, malah sebaliknya yang didapat, perkawinan dirasakan bagai malapetaka, konflik, aneka perbedaan, bahkan tidak jarang berakhir dengan perceraian.  Idealisme hanya menjadi mimpi dan angan-angan. Maka, Agama Islam memberi tuntunan agar ummatnya berhasil dalam membina rumah tangga, sakinah mawaddah wa rahmah,  dan kunci awalnya dimulai dari kriteria dalam memilih pasangan hidup.

1. Kriteria Memilih Isteri

Isteri adalah tempat penenang bagi suaminya, tempat menyemai benih, sekutu hidup, pengatur rumah tangga, ibu dari anak-anaknya tempat tambatan hati, tempat menumpahkan rahasia dan mengadukan nasibnya. Isteri merupakan tiang rumah tangga paling penting karena ia menjadi sarana memuliakan anak-anak, membimbing, memberi contoh dan tempat belajar bagi anak-anak, tempat mendapatkan warisan berbagai nilai dan sifat-sifat, tempat anak membentuk emosinya, memperoleh pendidikan bakatnya, bahasanya,  mengenal agamanya dan tempat memperoleh latihan bermasyarakat. karena itu Islam menganjurkan agar memilih isteri yang shaleh dan menyatakannya sebagai perhiasan yang terbaik. Yang dimaksud shaleh disini adalah hidup mematuhi agama dengan baik, bersikap luhur, memperhatikan hak-hak suaminya dan memelihara anak-anaknya dengan baik.Adapun sifat-sifat duniawi yang tidak mempunyai nilai baik, luhur dan utama, Islam memperingatkannya dan menyuruh menjauhinya,
Demikian juga Rasul saw berpesan agar dipilih seorang wanita shalihah yang memiliki kebaikan agama yang menjaga suaminya, anak-anaknya dan rumahnya.  Al-Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw, Beliau bersabda:
«تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ»
Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, niscaya selamat tanganmu.”

2. Tuntunan Islam dalam Memilih Isteri

1. Karena agamanya :
                              وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَـٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّ‌ۚ وَلَأَمَةٌ۬ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٌ۬ مِّن مُّشۡرِكَةٍ۬ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ‌ۗ 
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita  budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu(QS.Al-Baqarah: 221).
Rasulullah saw bersabda: "Perempuan itu dikawini karena empat perkara; karena cantiknya, atau karena keturunannya, atau karena hartanya atau karena agamanya. Tetapi pilihlah yang beragama, agar selamatlah dirimu.(HR.Bukhari dan Muslim).
2. Meluruskan niat, bukan karena motif duniawi
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa kawin dengan perempuan karena hartanya, maka Allah malah akan menjaadikannya fakir. Barangsiapa kawin denga perempuan karena keturunanya, malah Allah akan menghinakannya. Tetapi barangsiapa kawin dengan perempuan agar lebih dapat menundukkan pandangannya, membentengi nafsunya atau untuk menyambung tali persaudaraan, maka Allah tentu memberikan barokah kepadanya dengan perempuan itu dan kepada perempuannya diberikan barokah karenanya." (HR.Ibnu Hibban).
3. Mencari yang terbaik sesuai definisi Rasulullah
Rasulullah saw. bersabda: "Perempuan yang terbaik yaitu bila kau lihat, menyenangkan, bila kap perintah mematuhimu, bila kau beri janji, diterimanya dengan baik dan bila kau pergi, dirinya dan hartanya dijaganya dengan baik.(HR.Nasa'i).
4. Mencari yang beriman dan shalihah.
Hal yang terpenting dalam kehidupan di dunia ini adalah kebahagiaan, sesuai dengan tujuan kehidupan manusia “sebuah proses penyempurnaan”, sebab di akhirat tidak ada lagi penyempurnaan yang kita alami seperti di dunia ini. Dan dunia ini diibaratkan seperti ungkapan, “Dunia tempat beramal, dan akhirat adalah tempat menerima ganjarannya”, sesuai dengan apa yang kita usahakan di dunia, kita renungkan hadits ini,
أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الْصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْحَنِيْءُ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ الْسُوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ الْسُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيَّقُ. (رَوَاهُ أَحْمَدٌ وَ إِبْنُ حِبَّانٌ
“Empat hal yang merupakan kebahagiaan, yaitu: wanita shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: tetangga yang jahat, istri yang jahat, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).
لِيَتَّخِذَ اَحَدَ كُم قَلْبًاشَاكِرًا وَلِسَانًا ذََاكِرًا وَزَوْجَةً  مُؤْمِنَةً عَلَى  أَمْرِاْلآخِرَةِ. (رَوَاهُ الْبَيْهَقِى
“Hendaknya ada diantara kamu hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, dan isteri yang beriman  yang membantu melakukan urusan akhirat(HR. Baihaqiy)
Demikian juga sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam,
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرِ مَتَاعِهَا الْمَرأَةِ الصَّالِحَةِ (رَوَاهُ مُسْلِمْ
Dunia adalah perhiasan, namun sebaik-baik perhiasan adalah isteri yang shalehah”. (HR. Muslim).
carilah calon isteri shalehah, inilah yang disenangi Rasul Allâh lewat sabdanya,
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلاَثٌ الطَّيِّبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِي الصَّلاَةِ
“Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Wangi-wangian, Isteri shalehah, dan ketenangan saat shalat.(Imam Nawawi, 2005, hal. 75).
4.Memperhatikan lingkungan asalnya.
Sebelum melangsungkan akad pernikahan maka hendaklah seorang perempuan memperhatikan calon suaminya atau laki-laki memperhatikan calon isterinya. Ulama telah memberikan kriteria perempuan yang baik dan begitu juga dengan laki-laki. Kriteria isteri yang baik itu menurut Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam menggaris bawahi dengan sabdanya;
اَلْمَرْءُ عَلَىِ  ديْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرُ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang wanita akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapa yang harus dikawininya”.
Rasulullah saw. bersabda: "Jauhilah olehmu si cantik yang beracun!" lalu seorang sahabat bertanya: " Wahai Rasulullah, siapakah si cantik yang beracun itu?" Jawabnya: "Perempuan yang cantik  tetapi dalam lingkungan yang jahat."
5. Disunnatkan agar isteri diambil masih gadis.
Karena gadis umumnyua masih segaar dan belum pernah mengikat cinta dengan laki-laki lain, sehingga perkawinan lebih kokoh dan cintanya kepada suami lebih menyentuh jantung hatinya, sebab biasanya cinta itu jatuhnya pada kekasih pertama.
Tatkala Jabir bin Abdullah kawin dengan seorang janda, Rasulullah saw. bersabda kepadanya: هَلاً بِكرًا تَلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ “Mengapa engkau tidak menikahi perawan agar engkau bersenda gurau dengannya dan ia bisa bersenda gurau denganmu”
Dalam riwayat lain disebutkan;
تُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ Engkau bisa menjadikan dia tertawa dan dia bisa membuat engkau  tertawa”.
6. Minimalisir perbedaan.
Juga patut diperhatikan tentang perbedaan umur, kedudukan sosial, pendidikan dan keadaan ekonomi antara suami dan istreri. Jika perbedaan-perbedaan dalam soal-soal ini relatif kecil, maka hal ini akan bisa menolong kelanggengan hidup berumah-tanggga dan keabadiannya dalam kasih sayang.
Insyaallah, amin....

3. Kriteria Calon suami

Kepada wali dalam memilihkan suami buat puterinya, hendaknya dipilihkan laki-laki yang memenuhi syarat-syarat, sbb. :
1. Beragama Islam/mu'min
  وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَـٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّ‌ۚ وَلَأَمَةٌ۬ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٌ۬ مِّن مُّشۡرِكَةٍ۬ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ‌ۗ
... Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik [dengan wanita-wanita mu’min] sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya [perintah-perintah-Nya] kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS.Al-Baqarah: 221).
2. Ber-akhlak mulia dan baik keturunannya. 
Tujuannya agar nanti bisa menggaulinya dengan baik, dan kalau mau mentalaknya, ia akan mentalaknya dengan baik pula.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya' berkata: "Berhati-hatilah menjaga anak perempuan; itu lebih penting sebab dengan kawin dia menjadi budak yang tak gampang bisa lepas, sedang suaminya bisa bebas mentalaknya kapan saja ia suka."
Allah Ta'ala berfirman: 
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَامِنْ اَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَاتِنَاقُرَةَاَعْيُنٍ وَجَعَلْنَالِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqân/25: 74).
3. Taat, paham ilmu agama, tidak fasik dan bukan ahli  maksiat.
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى  النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ…(سُوْرَةُ النِّسَاءِ
Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan),… (QS. Al-Nisâ’/4: 34).
* Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali:" Saya punya seorang putri. Siapakah kiranya yang patut jadi suaminya menurut anda?" Jawabnya: " Seorang laki-laki yang taqwa kepada Allah. Sebab jika ia senang, ia akan sudi menghormatinya dan jika ia sedang marah, ia tak suka berbuat zhalim kepadanya."
* 'Aisyah r.a. berkata:" Kawin berarti perbudakan, Karena itu hendaklah seseorang perhatikan di tempat mana ia lepaskan anak permpuannya."
* Ibnu Taimiyah berkata:" Laki-laki yang selalu berbuat dosa tidak patut dijadikan suami."
Jika masih ada kriteria yang belum dituliskan di artikel ini, mohon di tambahkan di kotak komentar.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah (6)-Sayyid Sabiq; diedit dibeberapa bagian untuk keselarasan.

3 komentar:

  1. Sebenarnya sih satu kriteria saja cukup yaitu Taqwa/ taat kepada Allah. karena tatkala seseorang itu taat kepada Allah baik laki atau perempuan, sudah tentu kriteria lain bisa didapat/ mengikutinya. Karena perintah dan larangan Allah itu semua bernilai BAIK.

    Kalau diliat dari fisik, perbandingan antara budak yang hitam legam sekalipun dengan putri raja yang paling cantik misal. Jika taqwa berada pada budak bukan putri, budak lebih sesuai dengan kriteria syariat Islam.

    Bagi pria (awam), apakah sanggup jika harus mengikuti syariat. dan memilih budak dari pada putri??? hmmm sedang untuk menegakkan syariat dasar saja masih 1/2, 1/2 (umum & real).

    BalasHapus
    Balasan
    1. antara syariat dan gengsi biasanya saling adu. iman dan taqwa dapat meredam keinginan yang muluk2. laki2 memang wajib lebih banyak tahu tentang syariat karena akan jadi pembimbing dalam rumah tangga.

      Hapus
    2. Anda benar, sdr. Kurnia Tuhadi, terima kasih telah berkunjung dan berbagi,jazaakallaahu khaira.

      Hapus