Jumat, 21 Juni 2013

Kedudukan dan Keutamaan Shalat di Dalam Agama Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Pengertian Shalat

Secara bahasa, shalat berarti do'a, sedangkan secara istilah, Shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir bagi Allah Ta'ala dan disudahi dengan memberi salam. Secara etimologi shalat berarti do’a dan secara terminology (istilah), para ahli Fiqih mengartikan secara lahir dan hakiki.
Secara lahiriah Shalat berarti ‘Beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat-syarat yang telah ditentukan’ (Sidi Gazalba,88).
Secara hakiki Shalat ialah ‘Berhadapan hati, jiwa dan raga kepada Allah,secara yang mendatangkan rasa takut kepada-Nya atau mendhairkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan perbuatan’ (Hasbi Asy-syidiqi,59).
Dalam pengertian lain Shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya sebagai bentuk ibadah yang didalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara’ (Imam Basyahri Assayuthi,30).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Shalat adalah Suatu ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan dengan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara’ berupa penyerahan diri secara lahir batin kepada Allah dalam rangkah ibadah dan memohon ridha-Nya.

2. Kedudukannya dalam Islam

  1. Tiang agama. Dalam Islam shalat menempati kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadah manapun. Ia merupakan tiang agama dimana ia tak dapat tegak kecuali dengan itu. Rasulullah saw. bersabda: Pokok urusan adalah Islam, sedang tiangnya ialah shalat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah.
  2. Diperintahkan saat Isra' Mi'raj. Shalat adalah ibadah yang pertama diwajibkan oleh Allah Ta'ala, yang titahnya disampaikan secara langsung oleh-Nya tanpa perantara, dengan berdialog dengan Rasul-Nya pada malam mi'raj. Dari Anas r.a.: "Shalat itu difardhukan atas Nabi saw. pada malam ia diisra'kan sebanyak lima puluh kali, kemudian dikurangi lima. lalu ia dipanggil: 'Hai Muhammad! Putusan-Ku tak dapat diubah lagi, dan dengan shalat lima waktu ini, kau tetap mendapat ganjaran lima puluh kali'." (HR.Ahmad, Nasa'i, dan Tirmidzi yang menyatakan sahnya).
  3. Yang Pertama dihisab. Shalat merupakan amalan hamba yang mula-mula dihisab. Disampaikan oleh Abdullah bin Qurth r.a. :"Amalan yang mula-mula dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah shalat. Jika ia baik, baiklah seluruh amalannya, sebaliknya jika jelek, jeleklah pula semua amalannya." (HR.Thabrani).
  4. Wasiat terakhir Nabi saw. Shalat adalah wasiat terakhir yang diamanatkan oleh Rasulullah saw. kepada umatnya sewaktu hendak berpisah menginggal dunia. Demikianlah ia bersabda,-dalam saat-saat ia hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir - : "Jagalah shalat..., shalat, begitupun hamba sahayamu!"
  5. Terakhir lenyap. Shalat adalah barang terakhir yang lenyap dari agama, dengan arti bila ia hilang, maka hilanglah pula agama secara keseluruhannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. "Sungguh, buhul atau ikatan agama Islam itu akan terurai saru demi satu! Maka setiap terurai satu buhul, orang-orang pun bergantung pada buhul berikutnya, Maka buhul yang pertama ialah menegakkan hukum, sedang yang terakhir ialah shalat." (H.R. Ibnu Hibban dari Abu Umamah).
  6. Ancaman bagi yang melalaikan. Islam amat menentang orang yang menyia-nyiakan dan mengancam orang yang lalai dari melakukannya. Allah Ta'ala berfirman: فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّہَوَٲتِ‌ۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti [yang jelek] yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (Q.S. Maryam: 59). Dan firman-Nya yang lain: فَوَيۡلٌ۬ لِّلۡمُصَلِّينَ (٤) ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِہِمۡ سَاهُونَ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (4) [yaitu] orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Q.S. Al-Ma’un: 4 – 5).
  7. Diutamakan sangat. Karena pentingnya shalat, maka penganutnya disuruh mengerjakannya baik di waktu mukim maupun di dalam perjalanan, di waktu damai maupun perang. حَـٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٲتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَـٰنِتِينَ (٢٣٨) فَإِنۡ خِفۡتُمۡ فَرِجَالاً أَوۡ رُكۡبَانً۬ا‌ۖ فَإِذَآ أَمِنتُمۡ فَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ كَمَا عَلَّمَڪُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ (٢٣٩ Peliharalah segala shalat [mu], dan [peliharalah] shalat wusthaa . Berdirilah karena Allah [dalam shalatmu] dengan khusyu’. (238) Jika kamu dalam keadaan takut [bahaya], maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah [shalatlah], Sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Q.S. Al-Baqarah: (238-239).
  8. Perintahnya diiiringi amalan lain. Di dalam Al-Qur'anul Karim, Allah Ta'ala menyebutkan perintah shalat terkadang diiringi dengan amalan ibadah lainnya, seperti :
  • Diiringi perintah dzikir: إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ  Sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain].(Q.S. Al-Ankabut: 45). “Sungguh telah berbahagialah orang yang berusaha menyucikandiri dan mengingat nama Tuhannya, lalu ia shalat.” (Q.S. Al-A’la: 14 – 15). “Dan dirikanlah shalat itu untuk mengingat-Ku. (Q.S. Thaha: 14). 
  • Dan  sewaktu-waktu diiringi dengan zakat: وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّڪَوٰةَ‌ۚ Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat... (Q.S. Al-Baqarah: 110)
  • Kali yang lain diiringi dengan perintah bersabar: وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ Dan mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat... (Q.S. Al-Baqarah: 45). 
  • Dan terkadang diiringi dengan qurban dan ibadah-ibadah lainnya: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (Q.S. Al-Kautsar: 2).
 قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٦٢) لَا شَرِيكَ لَهُ ۥ‌ۖ وَبِذَٲلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ (١٦٣

Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadat, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (162) tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri [kepada Allah]". (Q.S. Al-An’am:163).
Dan karena shalat merupakan salah satu urusan penting yang membutuhkan petunjuk khusus, maka Nabi Ibrahim a.s. pun memohon kepada Allah agar ia bersama anak cucunya dijadikan penegaknya, katanya: 
رَبِّ ٱجۡعَلۡنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. (Q.S. Ibrahim: 40).
Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang menjaga shalat dan menegakannya, amin.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber: 
Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq, jilid 1. telah diedit untuk keselarasan.

2 komentar:

  1. Subhanallah. Semoga kita termasuk manusia yang totalitas ibadahnya bukan seperti STMK.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin..., kendati banyak godaan dan nafsu duniawi, mudha-mudahan kita termasuk golongan yang istiqamah, terima kasih atas do'anya, jazaakallaahu khaira.

      Hapus