Rabu, 19 Juni 2013

Hukum Berdua-an dengan Tunangan dan Hukum Membatalkan Tunangan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Larangan menyendiri dengan tunangan

Agama tidak membolehkan melakukan sesuatu terhadap pinangannya, kecuali melihat saja, sedang perbuatan-perbuatan lainnya, seperti menyendiri (berdua-an) dengan tunangan dihukumi haram. Berdua-an dengan tunangan tak akan bisa selamat daripada terjatuh pada perbuatan yang dilarang agama. Akan tetapi bila dalam bersendirian itu ditemani oleh salah seorang mahramnya guna mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan maksiat, hukumnya dibolehkan.
Dari Jabir, Rasulullah saw. pernah bersabda:" Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian maka janganlah sekali-sekali menyendiri dengan seorang perempuan yang tidak disertai oleh mahramnya, sebab nanti yang jadi oragn ketiganya adalah setan."
Dari 'Amir bin Rabiah, Rasulullah saw. pernah bersabda: " Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya, karena orang ketiganya nanti adalah setan, kecuali kalau ada mahramnya." (HR.Ahmad).

2. Bahaya dan akibat melengahkan masalah menyendiri dengan perempuan

  • Ikhtilat dan khalwat. Merupakan suatu bentuk pergaulan/hubungan secara bebas yang melibatkan lelaki dan perempuan di tempat sunyi atau di tempat terbuka. Ia merupakan suatu ciri pergaulan masyarakat jahiliyyah dan juga berasaskan kepada nilai2 dan system hidup jahiliyyah. Bentuk pergaulan seperti ini telah ditolak oleh Islam sejak kedatangan Rasulullah SAW yang membawa sistim dan nilai hidup yg dipandu oleh Al-Quran dan Sunnah. Beda antara ikhtilat dan khalwat:Ikhtilat artinya Seorang lelaki & seorang perempuan berada bersama di tempat terbuka. sementara khalwat ialah Seorang lelaki dan perempuan berada bersama di tempat tertutup/sunyi.
  • Pergaulan Bebas. Banyak sekali orang-orang yang melengahkan persoalan ini, sehingga anak perempuannya atau keluarga perempuannya dibebaskan bergaul dengan tunangannya atau menyendiri tanpa ada lagi pengawasan serta pergi ke mana saja mereka suka tanpa pengawalan. Akibat dari perbuatan ini akhirnya perempuanlah yang kehilangan harga dirinya, rasa malunya dan kegadisannya, padahal hari perkawinannya belum lagi dilangsungkan, sehingga malah ia kehilangan kesempatan untuk kawin.
  • Berakibat zina. Pergaulan bebas yang dimaksud pada bagian ini adalah pergaulan yang tidak dibatasi oleh aturan agama maupun susila. Salah satu dampak negatif dari pergaulan bebas adalah perilaku yang sangat dilarang oleh agama Islam, yaitu zina. secara bahasa, zina berasal dari kata zana-yazni yang artinya hubungan persetubuhan antara perempuan dengan laki-laki yang sudah mukallaf (balig) tanpa akad nikah yang sah. Jadi, zina adalah hubungan biologis layaknya suami istri di luar tali pernikahan yang sah menurut syari'at Islam.
  • Hukum Zina.Terkait hukum zina,semua ulama sepakat bahwa zina hukumnya haram, bahkan zina dianggap sebagai puncak keharaman. Hal tersebut didasarkan pada firman Allah Swt. dalam Q.S. al-isra/17:32. Menurut pandangan hukum Islam, perbuatan zina merupakan dosa besar yang dikategorikan sebagai perbuatan yang keji, hina, dan buruk.

3.. Hukum membatalkan pinangan

Pinangan merupakan langkah pendahuluan sebelum aqad nikah, Seringkali sesudah diikuti dengan memberikan pembayaran maskawin (mahar)
seluruh atau sebagiannya dan memberikan macam-macam pemberian guna memperkokoh pertalian dan hubungan yang masih beru itu. Akan tetapi teradang terjadi salah satu pihak membatalkan pinangan di tengah jalan. Bolehkah ? bagaimana barang-barang yang sudah diberikan ?
  1. Baru perjanjian.Pinangan semata-mata baru perjanjinan hendak melakukan akad nikah, tapi belum terjadi aqad nikah.
  2. Usahakan tepati janji. Membatalkan pinangan adalah menjadi hak dari masing-masing pihak . Terhadap yang menyalahi janjinya, Islam tidak menjatuhkan hukuman material, sekalipun perbuatan ini dipandang amat tercela dan dianggapknya sebagai salah satu dari sifat-sifat kemunafikan, kecuali kalau ada alasan-alasan yang benar yang menjadi sebab tidak dipatuhinya perjanjian tadi. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw. bersabda: "Sifat orang munafik itu ada tiga: Apabila berbicara dusta, bila berjanji menyalahi, dan bila dipercaya khianat."
  3. Jika batal. Jika aqad nikah batal, maka mahar yang telah diberikan oleh peminang berhak untuk diminta kembali, karena mahar diberikan sebagai ganti dan imbalan perkawinan. Adapun pemberian-pemberian dan hadiah-hadiah lain (non mahar) yang telah diberikan peminang, hukumnya sama dengan hibah; secara hukum hibah tidak boleh diminta kembali, karena merupakan suatu derma sukarela dan bukan sebagai pengganti dari sesuatu. Tetapi jika pemberian itu bersyarat; misalnya sebagai imbalan dari sesuatu yang akan diterimanya dari penerima hibah, lalu tidak dipenuhi, maka hibahnya boleh diminta kembali.
Hal ini didasarkan kepada: 
1. Riwayat Ash-Habus Sunan (Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa'i) dari Ibnu Abbas. Rasulullah saw telah bersabda:"Tidak halal seorang yang telah memberikan sesuatu atau menghibahkan sesuatu lalu meminta kembali barangnya, kecuali ayah terhadap anaknya."
2. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. telah bersabda:" Orang yang menarik kembali barang yang diberikannya adalah laksana orang yang menarik kembali sesuatu yang dimuntahkannya."
3. Dari Salim, dari bapaknya, Rasulullah saw. bersabda:"Barangsiapa memberikan hibah, maka dia masih tetap lebih berhak terhadap barangnya, selama belum mendapatkan imbalannya."

4. Pendapat para ahli Fikih mengenai hadiah yang sudah diberikan

  1. Mandzhab Hanafi. Pengadilan Mesir yang berdasarkan madzhab Hanafi menggariskan: segala hadiah yang diberikan peminang, berhak diminta kembali selagi barangnya masih utuh, tidak berubah sesuatunya-pun. Misalnya: kalung atau cincin, gelang atau jam tangan, dll. Tetapi jika barangnya sudah tidak utuh lagi, atau karena hilang, atau diubah, atau karena berupa bahan makanan yang sudah dimakan, atau berupa bahan pakaian yang sudah dipotong, maka peminang tidak berhak meminta kembali barang yang sudah diberikannya atau minta ganti yang lain.
  2. Golongan Maliki. menitik-beratkan pada masalah siapakah pihak yang membatalkan pinangan. Jika yang membatalkan pihak laki-laki, dia tak berhak lagi meminta kembali barang -barang yang dihadiahkannya. Tetapi jika pihak perempuan yang membatalkannya, maka ia berhak meminta kembali semua barang yang pernah dihadiahkannya, baik barang itu masih utuh maupun sudah rusak, jika sudah rusak harus diganti, kecuali ada perjanjian sebelumnya atau menurut uruf yang berlaku pada masyarakatnya.
  3. Golongan Syafi'i, barang-barang hadiahnya harus dikembalikan, baik masih utuh atau sudah rusak. Jika masih utuh cukuplah barang-barangnya semula itu dikembalikan. tetapi jika sudah rusak diganti harganya.
Wallaahu a'lam.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat
Sumber 
Fikih Sunnah, Sayydi Sabiq, jilid 6. telah diedit untuk penyelarasan.

2 komentar:

  1. Banyak yang menganggap jika sudah bertunangan maka kemana pun bersama tunangan diperbolehkan..sungguh persepsi yang salah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, tunangan sebenarnya baru menunjukkan minat, belum kepemilikan, begitulah memang orang sudah salah mengikuti budaya dari luar, sudah rusak,Terima ksih telah berkunjung dan berbagi, jazaakallaahu khaira.

      Hapus