Kamis, 23 Mei 2013

Muadzin dan Tata Tertibnya Menurut Sunnah

Materi Kultum
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Adzan dari segi bahasa berarti pengumuman, permakluman atau pemberitahuan. Sebagaimana ungkapan yang digunakan ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini :
وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الاكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ
Dan suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.(QS. At-Taubah : 3).
Selain itu, adzan juga bermakna seruan atau panggilan. Makna ini digunakan ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diperintahkan untuk memberitahukan kepada manusia untuk melakukan ibadah haji.
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Dan panggillah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj : 27).
Secara syariat, definisi adzan adalah perkataan tertentu yang bergun memberitahukan masuknya waktu shalat yang fardhu.
muadzin adalah orang yang mengumandangkan adzan sebagai pemberitahuan telah masuknya waktu shalat.

1. Tata Tertib Adzan

  1. Telah Masuk Waktu ShalatSyarat sah adzan adalah telah masuknya waktu shalat, sehingga adzan yang dilakukan sebelum waktu solat masuk maka tidak sah. Akan tetapi terdapat pengecualian pada adzan subuh. Adzan subuh diperbolehkan untuk dilaksanakan dua kali, yaitu sebelum waktu subuh tiba dan ketika waktu subuh tiba (terbitnya fajar shadiq).
  2. Berniat adzanHendaknya seseorang yang akan adzan berniat di dalam hatinya (tidak dengan lafazh tertentu) bahwa ia akan melakukan adzan ikhlas untuk Allah semata.
  3. Dikumandangkan dengan bahasa arab. Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jika menggunakan bahasa selain bahasa arab. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah ulama dari Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafi’i
  4. Tidak ada lahn dalam pengucapan lafadz adzan yang merubah makna. Maksudnya adalah hendaknya adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan pengucapan yang hal tersebut bisa merubah makna adzan. Lafadz-lafadz adzan harus diucapkan dengan jelas dan benar.
  5. Lafadz-lafaznya diucapkan sesuai urutanHendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai urutan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang sahih. Adapun bagaimana urutannya akan dibahas di bawah.
  6. Lafadz-lafadznya diucapkan bersambung. Maksudnya adalah hendaknya antara lafazh adzan yang satu dengan yang lain diucapkan secara bersambung tanpa dipisah oleh sebuah perkataan atau pun perbuatan di luar adzan. Akan tetapi diperbolehkan berkata atau berbuat sesuatu yang sifatnya ringan seperti bersin.
  7. Adzan diperdengarkan kepada orang yang tidak berada di tempat muadzinAdzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah terdengar oleh orang yang tidak berada di tempat sang muadzin melakukan adzan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengeraskan suara atau dengan alat pengerasa suara.

2. Syarat-Syarat Seorang Muadzin

  1. MuslimDisyaratkan bahwa seorang muadzin haruslah seorang muslim. Tidak sah adzan dari seorang yang kafir.
  2. Ikhlas. semata-mata hanya mengharap wajah Allah. Sepatutnya seorang muadzin melakukan adzan dengan niat ikhlas mengaharap wajah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari adzannya itu.”
  3. Adil dan amanahYaitu hendaklah muadzin adil dan amanah dalam waktu-waktu shalat.
  4. Memiliki suara yang bagusRasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada sahabat Abdullah bin Zaid: “pergilah dan ajarkanlah apa yang kamu lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, sebab ia memiliki suara yang lebih bagus dari pada suaramu” 
  5. Mengetahui kapan waktu solat masukHendaknya seorang muadzin mengetahui kapan waktu solat masuk sehingga ia bisa mengumandangkan adzan tepat pada awal waktu dan terhindar dari kesalahan. 

3. Anjuran Untuk Muadzin

  1. Tidak mengharap upah. Hendaklah ia dengan adzan itu mengharap keridhoan Allah semata, tiada menerima upah. Dari Utsman bin Abil 'Ash katanya: "saya minta kepada Rasululllah: Ya Rasulullah, jadikanlah saya sebagai imam dari kaumku!" Ujar Nabi: "Baiklah, anda jadi imam bagi mereka, dan hendaklah jadikan sebagai patokan orang yang terlemah di antara mereka dan carilah sebagai muadzdzin orang yang tak hendak memerima bayaran atas adzannya itu!" (HR. Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Majah dan Turmudzi).
  2. Suci badan. Hendaklah ia suci dari hadats kecil dan hadats besar. Dari  Muhajir bin Qunfudh r.a.: "Bahwa Nabi saw. mengatakan kepadanya: 'Sesungguhnya tak ada halangan bagiku untuk menjawab salamnya, hanyalah karena aku tiada suka menyebut nama Allah itu kecuali  dalam keadaan suci." (HR.Ahmad, Abu Daud, Nasa'i dan Ibnu Majah)Menurut Syafi'i, jika seseorang adzan dalam keadaan tidak suci maka dibolehkan,  hanya makruh. Tetapi madzhab Ahmad dan pengikut-pengikut Hanafi menganggapnya  tidak makruh.
  3. Menghadap kiblat. Hendaknya muadzdzin berdiri menghadap kiblat.
  4. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Menoleh ke kanan dengan kepala, leher dan dadanya ketika mengucapkan "Hayya 'alash Shalah-Hayya 'alash Shalah", dan menoleh ke sebelah kiri ketika mengucapkan "Hayya 'alal Falah-Hayya 'alal Falah".

4x اَللهُ اَكْبَرُاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ ×2
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ ×2
حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ ×2
حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ ×2
2x اَللهُ اَكْبَرُ
1x لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ
5. Memasukkan kedua anak jarinya ke kedua belah telinganya. Bilal berkata: "Maka saya masukkanlah anak jariku ke dalam telinga, dan sayapun adzanlah." (HR.Abu Daud dan Ibnu Hibban).
6. Mengeraskan suara panggilannya , walaupun ia berada seorang diri di padang sahara.
7. Melambatkan bacaan adzan dan memisah di antara tiap-tiap dua kalimat dengan berhenti sebentar. Sebaliknya menyegerakan bacaan qamat.  Telah diriwayatkan hadits yang menunjukkan sunatnya hal tersebut dari beberapa sumber.
8.Supaya tidak berbicara disaat qamat.
Mengenai berbicara sewaktu adzan, dianggap makruh oleh segolongan para ahli.
Berkata Abu Daud : "saya bertanya kepada Ahmad: 'Bolehkah seseorang berbicara sewaktu adzan"? 'Boleh', ujarnya. Lalu ditanyakan orang pula: "Bagaimana kalaau sewaktu qamat ? Jawabnya: "Tidak boleh'. Dan selanjutnya ialah karena di waktu qamat disunatkan menyegerakan bacaan.
9. Qamat oleh yang adzan. Disunatkan muadzin sendiri yang mengucapkan qamatBaik muadzdzin maupun lainnya dibolehkan qamat, demikianlah kesepakatan para ulama. Tetapi lebih utama bila muadzdzin itu sendiri yang mengucapkan qamat, Berkata Syafi'i,"Bila seorang laki-laki adzan, saya lebih suka jika ia sendiri yang mengucapkan qamat." Dan berkaata pula Turmudzi: "Mengenai soal ini, menurut kebanyakan ahli, siapa yang adzan, maka dialah yang qamat."


4. Sejarah Permulaan digunakannya Redaksi Lafadz adzan

Permulaan lafadz adzan dan iqamah telah diceritakan di dalam sebuah hadits:
Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid berkata sebagai berikut: "Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk shalat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. Orang tersebut malah bertanya," Untuk apa? Aku menjawabnya, "Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan salat." Orang itu berkata lagi, "Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?" Dan aku menjawab "Ya!" Lalu dia berkata lagi dan kali ini dengan suara yang amat lantang:
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya 'alash sholah (2 kali)
Hayya 'alal falah (2 kali)
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah
Setelah lelaki yang membawa lonceng itu melafalkan adzan, dia diam sejenak, lalu berkata: "Kau katakanlah jika shalat akan didirikan:
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya 'alash sholah
Hayya 'alal falah
Qod qomatish sholah (2 kali), artinya "Salat akan didirikan"
Allahu Akbar, Allahu Akbar
La ilaha illallah
Begitu subuh, aku mendatangi Rasulullah SAW kemudian kuberitahu beliau apa yang kumimpikan. Beliau pun bersabda: "Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau mimpikan agar diadzankannya (diserukannya), karena sesungguhnya suaranya lebih lantang darimu." Ia berkata: Maka aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dia yang beradzan. Ia berkata: Hal tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab ketika dia berada di rumahnya. Kemudian dia keluar dengan selendangnya yang menjuntai. Dia berkata: "Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Maka bagi Allah-lah segala puji."
[HR Abu Dawud (499), at-Tirmidzi (189) secara ringkas tanpa cerita Abdullah bin Zaid tentang mimpinya, al-Bukhari dalam Khalq Af'al al-Ibad, ad-Darimi (1187), Ibnu Majah (706), Ibnu Jarud, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan Ahmad (16043-redaksi di atas). At-Tirmidzi berkata: "Ini hadits hasan shahih". Juga dishahihkan oleh jamaah imam ahli hadits, seperti al-Bukhari, adz-Dzahabi, an-Nawawi, dan yang lainnya. Demikian diutarakan al-Albani dalam al-Irwa (246), Shahih Abu Dawud (512), dan Takhrij al-Misykah (I: 650)].  

Berkata Ibnu Umar r.a. :"Tak ada adzan dan qamat bagi perempuan," (Riwayat Baihaqi dengan sanad yang sah). Pendapat ini  juga dianut oleh Anas, Hasan, Ibnu Sirin, Nakh'i, Malik, Abu Tsur dan ahli-ahli pikir lainnya. Sementara Syafi'i dan Ishak berpendapat: "Jika mereka adzan dan qamat maka tidak ada salahnya." Dan diceritakan pula pendapat Ahmad: "Jika mereka lakukan tidak menjadi apa, sebaliknya jika mereka kerjakan, juga boleh."
Dan dari 'Aisyah: "Bahwa ia biasa adzan, qamat dan memimpin wanita sebagai imam dalam shalat, dan berdiri di tengah-tengah mereka," (Riwayat Baihaqi).
Wallahu a'lam.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq
https://aljaami.wordpress.com/2011/03/23/adzan/
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-adzan-dan-iqomah.html
http://adzan4.blogspot.com/2012/05/sejarah-adzan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar