Kamis, 23 Mei 2013

Mandi Wajib bagi Orang Junub dan Larangannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Junub secara bahasa merupakan lawan dari qurb dan qarabah yang bermakna dekat, sehingga junub artinya jauh. Istilah junub secara syar’i, diberikan kepada orang yang mengeluarkan mani atau orang yang telah melakukan jima’. Orang yang demikian dikatakan junub dikarenakan menjauhi dan meninggalkan apa yang dilarang pelaksanaannya oleh syariat dalam keadaan junub tersebut. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 16/47). 
Mandi besar, mandi junub atau mandi wajib adalah mandi dengan menggunakan air suci dan bersih (air mutlak) yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tujuan mandi wajib adalah untuk menghilangkan hadas besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah shalat.


1. Sebab/Alasan Seseorang Harus Mandi Wajib

1. Mengeluarkan air mani baik disengaja maupun tidak sengaja
2. Melakukan hubungan seks / hubungan intim / bersetubuh
3. Selesai haid / menstruasi
4. Melahirkan (wiladah) dan pasca melahirkan (nifas)
5. Meninggal dunia yang bukan mati syahid.
6. Orang kafir jika masuk islam.
Bagi mereka yang masuk dalam kategori di atas maka mereka berarti telah mendapat hadats besar dengan najis yang harus dibersihkan. Jika tidak segera disucikan dengan mandi wajib maka banyak ibadah orang tersebut yang tidak akan diterima Allah SWT.


2. Rukun-Rukun Mandi Wajib/Junub

Mandi yang disyariatkan tidaklah mencapai hakikatnya kecuali jika memenuhi dua perkara berikut :
  1. Niat, karena inilah yang membedakan ibadah dengan adat kebiasaan. Niat adalah pekerjaan hati. Adapun kebiasaan kebanyakan orang yang melafazhkan niat maka ia adalah perkara bid’ah yang tidak disyariatkan, harus dijauhkan dan dihindari.
  2. Membasuh seluruh anggota tubuh, berdasarkan firman Allah swt : Artinya : “Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al Maidah : 6). وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(QS. Al-Baqarah : 222)Yang dimaksud dengan suci adalah mandi, sebagaimana dijelaskan pula didalam firman-Nya yang lain : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…” (QS. An Nisaa : 43).

3. Sunnah-Sunnah Mandi Junub

Disunnahkan bagi seorang yang mandi untuk memperhatikan perkara-perkara yang pernah dilakukan Rasulullah saw saat mandi dan memulainya dengan :
  1. Mencuci kedua tangannya sebanyak tiga kali. 
  2. Membasuh kemaluannya.
  3. Kemudian berwudhu secara sempurna sepertihalnya wudhu ketika ingin melaksanakan shalat. Diperbolehkan baginya mengakhirkan membasuh kedua kakinya hingga selesai mandi apabila dirinya mandi dengan bejana atau sejenisnya.
  4. Kemudian menuangkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali sambil menyelang-nyelangi rambur agar air dapat sampai ke pangkal rambutnya. 
  5. Kemudian mengalirkan ait ke seluruh badan dengan memulai sebelah kanannya lalu sebelah kirinya tanpa mengabaikan dua ketiak, bagian dalam telinga, pusat dan jari-jari kaki serta menggosok anggota tubuh yang dapat digosok.
  • Dari Aisyah dia berkata, "Apabila Nabi saw mandi hadas karena junub, maka beliau memulainya dengan membasuh kedua tangan, lalu menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan dan berwudhu dengan wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sehingga rata. Hingga ketika selesai, beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh seluruh tubuh.(HR. Bukhari dan Muslim).
  • Didalam riwayat lain dari keduanya (Bukhari dan Muslim),”Kemudian beliau menyelang-nyelangi rambutnya dengan kedua tangannya hingga kulit kepala terasa basah maka beliau menyiramkankan air ke atas kepalanya sebanyak tiga kali.
  • Dari Bukhari dan Muslim juga dari Aisyah dia berkata, "Apabila Rasulullah saw mandi karena junub, maka beliau meminta air pada bejana, lalu beliau mengambil air dengan telapak tangannya, beliau memulainya dengan bagian kanan kepalanya kemudian kiri, kemudian mengambil air dengan kedua telapak tangannya dan disiramkan diatas kepalanya.” 
  • Dari Maimunah berkata,”Saya menyediakan air mandi untuk Nabi saw lalu beliau menuangkan air itu kepada kedua telapak tangan dan membasuhnya sebanyak dua atau tiga kali. Setelah itu beliau menuangkan air dengan tangan kanan kepada tangan kirinya lalu membasuh bagian kemaluannya dan menggosokkan tangannya ke tanah, lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Setelah itu, barulah beliau membasuh kepalanya sebanyak tiga kali kemudian beliau menyiramkan ke seluruh tubuhnya. Lalu beliau bergeser dari tempatnya dan membasuh kedua telapak kakinya.” Maimunah mengatakan,”Lalu aku membawakan sehelai handuk, tetapi beliau cukup menepis air yang terdapat pada tubuhnya dengan tangannya saja.” (HR. Jama’ah)
  • Cara mandi bagi seorang wanita sama dengan cara mandi bagi seorang pria. Akan tetapi kaum wanita tidak diwajibkan baginya menguraikan ikat rambutnya dengan syarat air tersebut dapat masuk kedalam pangkal rambutnya, berdasarkan hadits Ummu Salamah berkata,”Ada seorang wanita ang bertanya kepada Rasulullah saw,”Ikatan rambutku sangat kuat, apakah aku harus menguraikannya jika hendak mandi junub? Nabi saw menjawab,”Cukuplah engkau menuangkan air ke atasnya sebanyak tiga kali. Setelah itu hendaklah engkau menyiramkan air ke seluruh tubuhmu. Dengan demikian berarti engkau telah suci.” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi yang mengatakannya sebagai hadits hasan shahih) –(Fiqhus Sunnah juz I hal 74 – 75).
Dan tidak ada keharusan bagi seorang yang mandi hadats untuk menggunakan sampo atau sabun. Begitu pula dengan rambut yang rontok dari seorang wanita yang haid maka tidak ada dalil yang menjelaskan wajib baginya mencuci rambut itu bersamaan dengan keramasnya.

4. Hal Yang Dilarang Untuk Orang Junub

  1. Shalat.
  2. Thawaf. Dalil-dalilnya يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ  وَأَرۡجُلَڪُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِ‌ۚ وَإِن كُنتُمۡ   جُنُبً۬ا فَٱطَّهَّرُواْ‌ۚ  Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan [basuh] kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, (QS.Al-Maidah  ayat 6).
  3. Menyentuh mushaf Al-Qur'an dan membacanya. Haramnya itu disepakati oleh para Imam dan tak seorangpun diantara sahabat yang menyangkal. Akan halnya Daud dan Ibnu Hazmin yang membolehkan orang junub membawa dan membaca Al-Qur'an adalah mengacu kepada hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah mengirim surat kepada Kaisar Heraklius yang di dalamnya tertera ayat Al-Qur'an dan yakin orang Nasrani itu akan menyentuhnya. Tetapi pendapatnya dibantah oleh jumhur (ulama kebanyakan), bahwa itu hanya merupakan surat, dan tidak ada halangannya buat menyentuh apa yang memuat ayat-ayat Al-Qur'an tersebut seperti surat-surat, kitab-kitab tafsir, fikih dll. Semuanya itu tidaklah disebut mush-haf dan memang tak ada keterangan menyatakan haram menyentuhnya. Wallahu a'lam.
  4. Membaca Al-Qur'an; menurut jumhur, diharamkan bagi orang junub membaca sesuatu dari ayat-ayat Al-Qur'an, berdasarkan hadits Ali r.a.: Bahwa Rasulullah saw bersabda:"Tidak satupun yang menghalanginya dari A-Qur'an kecuali janabat." (HR.Ash-habus Sunan dan sisahkan oleh Turmudzi dan yang lain). Sementara itu Bukhari, Thabrani, Daud dan Ibnu Hazmin berpendapat dibolehkannya membaca Qur'an bagi orang junub, Bukhari berkata: "Menurut Ibrahim tak ada halangannya perempuan haid membaca Qur'an, begitupun menurut Ibnu Abbas tak apa orang junub membaca Qur'an, Nabi saw selalu dzikir kepada Allah setiap saat." wallahu a'lam.
  5. Menetap di masjid, berdasarkan beberapa hadits, diantaranya :
  • Dari Ummu Salamah r.a.: Rasulullah saw. masuk ke halaman masjid dan berseru sekeras suaranya: "Sesungguhnya masjid tidak dibolehkan bagi orang haid maupun junub!" (HR.Ibnu Majah dan Thabrani). Yang tidak boleh adalah tinggal atau menetap di dalam masjid bagi orang junub dan haid, adapun lewat atau melaluinya diperbolehkan (sebagai keringanan), berdasarkan firman Allah swt. يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا  إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْ‌    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan   mabuk, sehingga kamu  mengerti apa yang kamu ucapkan, [jangan pula hampiri masjid] sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. ..( QS.An-Nisa: 43).    
  • Dari Jabir r.a. katanya: "Masing-masing kami biasa melewati masjid dalam keadaan janabat, hanya melaluinya saja." (HR.Ibnu Syaibah dan Sa'id bin Manshur dalam buku  Sunannya).
  • Dari Zaid bin Aslam, katanya: "Para sahabat Rasulullah saw biasa berjalan di masjid sedang mereka dalam keadaan janabat." (riwayat Ibnul Mundzir).
  • Dari 'Aisyah r.a., katanya: "Rasulullah telah bersabda kepadaku: 'Ambilah timba buatku dari masjid!' Jawabku: "Aku haid."Maka ujarnya: "Haidmu itu bukan terletak dalam tanganmu." (HR.Jama'ah kecuali Bukhari).
  • Dari Maimunah r.a.: "Rasulullah saw biasa masuk mendapatkan salah seorang di antara kami sedang haid maka ditaruhnya kepalanya di pangkuan isterinya yang haid itu lalu membaca Qur'an. Setelah itu salah seorang di antara kami bangkit dengan timbanya lalu meletakkannya ke dalam masjid, sedang ia dalam haid." (HR.Ahmad dan Nasa'i dengan adanya kesaksian -kesaksian yang mengukuhkannya).                          
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ 
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”  
Sumber:
Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/cara-dan-sebab-mandi-hadast-besar-junub-stlh-bhubungn-suami-istri.htm#.VM7VUDSUfWg  

5 komentar:

  1. membaca disitukan maksudnya tidak hanya secara tulisan arab kemudian dibaca, sebenarnya lebih kepada amalannya yang terdapat pada Al qur'an sebagai petunjuk ada perintah dan larangan. Ketika junub apa lantas manusia dilarang untuk berbuat baik? karena perintah perbuatan baik itu ada di Al Qur'an.

    Seperti yang diterangkan juga diatas "Menurut Ibrahim tak ada halangannya perempuan haid membaca Qur'an, begitupun menurut Ibnu Abbas tak apa orang junub membaca Qur'an, Nabi saw selalu dzikir kepada Allah setiap saat."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. Penerangannya sangat detail dan entri ini memang sangat bermanfaat. Terima kasih atas pencerahannya Wasiun Mika.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lynn Munir pandai memuji dan sangat rendah hati, saya berharap ada koreksi untuk perbaikan, terima kasih anda sering silaturahim ke blog E TA'LIM, baarakillaah

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus