Jumat, 10 Mei 2013

Mandi-Mandi Yang diSunatkan

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Selain mandi yang diwajibkan ada pula yang mandi disunnahkan/disenangi untuk dilakukan oleh seorang muslim. Berikut ini beberapa mandi mustahab yang dapat kami sebutkan dengan dalil-dalilnya.  
Mandi artinya ialah meratakan air ke seluruh tubuh. Mandi itu disyari'atkan berdasarkan firman Allah ta'ala :  
                                             وَإِن كُنتُمۡ جُنُبً۬ا فَٱطَّهَّرُواْ‌ۚ
Artinya : " Dan jika kamu junub hendaklah bersuci ." (Q.S.Al-Ma'idah: 6). Mandi-mandi yang disunatkan yakni mandi yang bila dikerjakan oleh mukallaf maka ia terpuji dan berpahala, dan bila ditinggalkan tidaklah ia tercela atau menerima siksa.
Mandi ini juga adalah mandi yang disunatkan dan shalat dan ibadah lain tetap sah walaupun seseorang itu tidak melakukan mandi sunat ini.

1. Beberapa Jenis Mandi Yang Disunahkan

1. Mandi Jum'at. 
Karena hari itu merupakan pertemuan buat beribadah dan melakukan shalat, maka syara' memerintahkan mandi dan memuntutnya dengan keras, agar dalam pertemuan tersebut kaum Muslimin berada dalam keadaan bersih dan suci yang sebaik-baiknya. Diterima hadits dari Abu Sa'id r.a.: Bahwa Nabi saw.bersabda: "Mandi Jum'at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi, menggosok gigi dan agar ia memakai wangi-wangian sekedar kemampuannya." (HR.Bukhari dan Muslim). 
  • Yang dimaksud dengan "orang yang telah bermimpi" ialah orang yang telah baligh.
  • Wajib di sini maksudnya sunnah mu'akkad berdasarkan :
  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar (dalam sebuah hadits)
  2. Hadits dari Abu Hurairah r.a.;bahwa Nabi saw. bersabda; 'Siapa yang berwudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya itu, kemudian ia datang menghadiri shalat Jum'at dan diam mendengarkan, diampunilah kesalahannya dari Jum'at yang lalu sampai Jum'at itu dengan tambahan selama tiga hari." (HR.Muslim). Berkata Qurtubi dalam menetapkan hadits ini sebagai bukti sunatnya; "Menyebutkan wudhu' dll. semata, sebagai suatu hal yang diberi ganjaran pahala yang menunjukkan sahnya Jum'at menjadi bukti bahwa wudhu' itu sudah cukup dan memadai." Dan masih banyak lagi hadits yang menguatkan bahwa mandi Jum'at hukumnya hanya sampai pada level sunat.
2. Mandi Pada dua hari raya ('Idain)Ada atsar sahabat yang menunjukkan dianjurkannya mandi ketika hari raya yaitu dari ‘Ali bin Abi Thalib dan Ibnu ‘Umar yang dikenal yang sangat ittiba’ (meneladani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Riwayat dari ‘Ali bin Abi Tholib ra.,
سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهَ عَنِ الغُسْلِ قَالَ اِغْتَسِلْ كُلًّ يَوْمٍ إِنْ شِئْتَ فَقَالَ لاَ الغُسْل الَّذِي هُوَ الغُسْلُ قَالَ يَوْمَ الجُُُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الفِطْرِ
Seseorang pernah bertanya pada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arofah, hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Al Baihaqi 3/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ 1/177).
Riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang. (HR. Malik dalam Muwatho’ 426. An Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih[10])
3. Bagi yang memandikan mayat.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.: Nabi saw bersabda:مِنْ غُسْلِهِ الْغُسْلُ وَمِنْ حَمْلِهِ الْوُضُوءُ "Siapa yang baru memandikan mayat, hendaklah ia mandi, dan siapa yang memikulnya hendaknya ia berwudhu'." (HR.Ahmad, Ash-Habus Sunan, dll.). Kendati ada sejumlah ulama yang menyanggah hadits ini, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa perintah yang terdapat dalam hadits ini diartikan sunat, berdasarkan apa yang diriiwayatkan dari Umar r.a., katanya: "kami memandikan mayat, maka ada diantara kami yang mandi, dan ada pula yang tidak," (diriwayatkan oleh Khatib dengan sanad yang sah). Dan tatkala Asma binti 'Umeis memandikan suaminya Abu Bakar Shiddiq r.a. ketika wafatnya, ia keluar dan bertanya kepada orang-orang muhajirin yang hadir di sana: "Sekarang ini hari yang amat dingin dan saya sedang berpuasa. Apakah saya harus mandi?" Ujar mereka: "Tidak usah!" (riwayat Malik).
4. Mandi Ihram
    Kesunahannya berdasarkan hadits dari Zaid bin Tsabit r.a.:أَنَّهُ رَأَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَجَرَّدَ لإِهْلاَلِهِ وَاغْتَسَلَ "Bahwa ia melihat Rasulullah saw. membuka pakaiannya buat ihram lalu mandi."(HR.Daruquthni, Baihaqi, dan Turmudzi yang menyatakannya hasan). Abu Isa At Tirmidzi berkata, “Ini merupakan hadits hasan gharib. Sebagian ulama menyunahkan mandi pada waktu ihram. Ini juga pendapat Asy Syafi’i.” (HR. Tirmidzi no. 830. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Anjuran untuk mandi ketika ihrom ini adalah pendapat mayoritas ulama.
5. Mandi ketika hendak masuk kota Makkah
Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar r.a.: أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ لاَ يَقْدَمُ مَكَّةَ إِلاَّ بَاتَ بِذِى طَوًى حَتَّى يُصْبِحَ وَيَغْتَسِلَ ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا وَيَذْكُرُ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ فَعَلَهُ. "Bahwa ia tidak memasuki kota Mekah kecuali bermalam di Dzi Thuwa sampai waktu pagi. Kemudian baru masuk Mekah di siang hari. Dan ia ingat bahwa Nabi saw. pernah melakukannya seperti itu." (HR.Bukhari dan Muslim dengan susunan perkataan menurut Muslim).
Mengenai ini sebagian ulama mengatakan: "Sebagai gantinya dapat dengan berwudhu'."
6. Ketika hendak berwukuf di Arafah
    Berdasarkan riwayat Malik dari Nafi': "Bahwa Abdullah bin Umar r.a. biasa mandi ihram sewaktu hendak melakukan ihram itu ketika hendak memasuki Mekah dan ketika hendak wukuf di Arafah yakni pada waktu sore hari."
7. Mandi ketika ingin mengulangi jima’ (bersenggama dengan istri).
Berdasarkan hadits Abu Rofi’ r.a., ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ يَغْتَسِلُ عِنْدَ هَذِهِ وَعِنْدَ هَذِهِ. قَالَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَجْعَلُهُ غُسْلاً وَاحِدًا قَالَ « هَذَا أَزْكَى وَأَطْيَبُ وَأَطْهَرُ »
Nabi saw. pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?” Beliau menjawab, “Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih.” (HR. Abu Daud no. 219 dan Ahmad 6/8. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dalam riwayat lain, untuk mengulangi senggama, cukup dengan wudhu, sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id, Rasulullah saw. bersabda,
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ
Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulangi senggamanya, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim no. 308).
8.Mandi setiap kali shalat bagi wanita istihadhoh.
Ini disunnahkan berdasarkan hadits ‘Aisyah r.a., ia berkata,
أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ ، فَسَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ ذَلِكَ ، فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ فَقَالَ « هَذَا عِرْقٌ » . فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاَةٍ
Ummu Habibah mengeluarkan darah istihadhah (darah penyakit) selama tujuh tahun. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah itu. Beliau lalu memerintahkan kepadanya untuk mandi, beliau bersabda, “Ini akibat urat yang luka (darah penyakit).” Maka Ummu Habibah selalu mandi untuk setiap kali shalat.” (HR. Bukhari no. 327 dan Muslim no. 334).
Imam Asy Syafi’i berkata, “Nabi saw. memerintahkan Ummu Habibah untuk mandi, lalu shalat. Namun mandi setiap kali shalat untuknya hanyalah sunnah (tidak sampai wajib)”. Demikian pula dikatakan oleh Al Laits bin Sa’ad dalam riwayatnya pada Imam Muslim, di sana Ibnu Syihab tidak menyebutkan bahwa Nabi saw. memerintahkan Ummu Habibah untuk mandi setiap kali shalat. Namun Ummu Habibah saja yang melakukannya setiap kali shalat.

2. Rukun-Rukun Mandi

Mandi yang disyari'atkan itu tidak tercapai hakikatnya kecuali dengan dua perkara: 
1. Niat 
2. Membasuh seluruh anggota.
Maka hal itu mencakup rambut (bulu) yang berada di atas badan. Rambut itu wajib dibasuh luar dan dalam, baik rambutnya tipis ataupun tebal. Namun yang wajib itu adalah hendaknya   air tersebut dapat masuk ke celah – celah rambut. Dan air itu tidak wajib sampai dikulitnya bila rambut itu tebal yang tidak dapat ditembus dengan air hingga di kulit. Dan wajib melepaskan rambut yang dianyam apabila anyaman itu dapat mencegah sampainya air kebagian dalam rambut. Apabila rambut itu sangat tebal secara alami tanpa dianyam, maka hal itu dapat di maafkan bila air tersebut tidak sampai kebagian dalamnya. Akan tetapi ia wajib menyampaikan air tersebut ke setiap tempat yang memungkinkan untuk dimasuki air tanpa ada suatu kesulitan, sehingga apabila masih tersisa sebagian kecil dari badannya yang tidak terkena air maka batallah mandinya. Dan ia wajib meratakan air itu keseluruh rongga badan, seperti lubang pusar, tempat bekas luka yang dalam dan sebagainya.Dan ia tidaklah dibebani untuk memasukkan air kedalam lubang yang dalam itu dengan menggunakan pipa, akan tetapi yang diminta dari orang tersebut adalah hendaknya berusaha memasukkan air ke dalam lubang tersebut sebisa mungkin tanpa ada suatu beban yang memberatkan dan tidak pula menyulitkan.
           Dan ia wajib menghilangkan segala sesuatu yang dapat menghalangi sampainya air tersebut pada bagian bawahnya seperti tepung adonan, cat, lilin dan lain sebagainya. Sebagaimana ia juga wajib melepas cincinnya yang sempit dimana air tidak sampai kebawahnya kecuali dengan melepasnya. Dan seorang wanita wajib menggerak – gerakkan antingnya yang sempit. Jika ditelinganya itu terdapat lubang yang tidak terdapat anting maka tidaklah wajib menyampaikan air kedalamnya, karena yang wajib adalah membasuh sesuatu yang terlihat pada bagian luar badan, sedangkan lubang itu adalah termasuk bagian dalam, bukan bagian luar.
            Dan diwajibkan pula membasuh bagian luar kedua lubang telinga. Sedangkan bagian dalamnya tidak wajib dibasuh. Begitu pula wajib menyampaikan air kebagian yang terdapat dibawah kulit kulup (kulit ujung kemaluan laki – laki yang belum disunat). Apabila membasuh bagian dibawahnya itu tidak mungkin kecuali dengan menghilangkan kulit kulup, maka menghilangkan atau memotong kulit kulup itu adalah wajib. Jika tidak dapat dihilangkan, maka hukumnya adalah sebagaimana hukum orang yang tidak mendapatkan air dan debu untuk tayammum, dan orang tersebut dinamakan dengan orang yang tidak mendapatkan dua hal yang mensucikan. Dengan demikian berkhitan adalah wajib dan berkhitan itu merupakan sebagian dari tuntutan kesehatan pada zaman kita.


3. Sunah-Sunah Mandi

Hendaklah mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika mandi, sbb.:
1.Mulai dengan mencuci kedua tangan tiga kali.
2.Kemudian membasuh kemaluan.
3.Kemudian berwudhu' secara sempurna seperti halnya wudhu' buat shalat.
4.Menuangkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali sambil menyelang-nyelangi rambut  agar air sampai membasahi urat-uratnya.
5.Mengalirkan air ke seluruh badan dengan memulai sebelah kanan lalu sebelah kiri tanpa mengabaikan kedua ketiak, bagian dalam telinga, pusar, dan jari-jari kaki serta  menggosok anggota tubuh yang dapat digosok.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:
Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq.
http://tulisanserat.blogspot.com/2012/10/rukun-rukun-mandi-fardhu-mandi.html
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                     
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar