Kamis, 02 Mei 2013

Hal-Hal Yang Membatalkan dan Tidak Membatalkan Wudhu

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
cara wudhu
Wudhu sebagai rangkaian ibadah yang tidak dapat dipisahkan dari shalat seorang hamba dapat batal karena beberapa perkara. Hal-hal yang bisa membatalkan ini diistilahkan dalam fiqih Nawaqidhul Wudhu (pembatal-pembatal wudhu). Wudhu yang telah batal akan membatalkan pula shalat seseorang sehingga mengharuskannya untuk berwudhu kembali. 
Nawaqidhul wudhu ini ada yang disepakati oleh ulama karena adanya sandaran dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan telah terjadinya ijma’ di antara mereka tentang permasalahan tersebut. Ada juga yang diperselisihkan oleh mereka keberadaannya sebagai pembatal wudhu ataupun tidak. Hal ini disebabkan tidak adanya dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta tidak terjadinya ijma’ sehingga kembalinya perkara ini kepada ijtihad masing-masing ahlul ilmi.


1. Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu

1. Apapun yang keluar dari salah satu dari kedua jalan, baik muka maupun belakang (qubul dan dubur). Meliputi :
  1. Kencing. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ، إِذَا أَحْدَثَ، حَتَّى يَتَوَضَّأَ Artinya: Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 135). Hadits ini menunjukkan bahwa hadats kecil ataupun besar merupakan pembatal wudhu dan shalat seorang, dan kencing termasuk hadats kecil.
  2. Buang air besar. . ... أَوۡ جَآءَ أَحَدٌ۬ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآٮِٕطِ.....   atau kembali dari tempat buang air...... (QS.An-Nisa:42), maksudnya buang air besar   maupun  kecil.  
  3. Angin dubur, yakni kentut, berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a.: Telah bersabda Rasulullah saw.:لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ، إِذَا أَحْدَثَ، حَتَّى يَتَوَضَّأَ " Allah tidak menerima shalat salah seorang di antaramu jika ia berhadts sampai ia berwudhu, " Maka berkatalah seorang laki-laki dari Hadramaut: "Apa yang dimaksud hadats, ya Abu Hurairah ?" "Kentut atau berak," ujarnya (diriwayatkan oleh ahli-ahli hadits).
  4. Keluarnya mani, madzi dan wadi, karena sabda Rasulullah saw. tentang madzi. "Karenanya harus berwudhu", dan karena kata Ibnu Abbas r.a.: "Mengenai mani, itulah yang diwajibkan mandi karenanya. adapun madzi dan wadi, maka hendklah kau basuh kemaluanmu atau sekitarnya, kemudian berwudhulah, yakni wudhu untuk shalat."(HR.Baihaqi dalam Sunan). Dalam hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ali berkata: “Aku seorang yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu untuk bertanya langsung kepada Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena keberadaan putrinya (Fathimah radhiallahu ‘anha) yang menjadi istriku. Maka akupun meminta Miqdad ibnul Aswad radhiallahu ‘anhu untuk menanyakannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:  يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ “Hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303). 
2. Tidur nyenyak hingga tiada kesadaran lagi, tanpa tetapnya pinggul di atas lantai. Jika tidurnya sambil duduk, dan duduknya itu dalam keadaan tetap, tidaklah batal wudhu'nya, Berdasarkan hadits dari Anas: "Para sahabat Rasulullah saw. menunggu-nunggu waktu 'isya hingga larut malam, hingga kepala mereka berkulaian, kemudian mereka melakukan shalat tanpa wudhu lebih dahulu." (H.R.Syafi'i, Muslim, Abu Daud dan Turmudi).
3. Hilang akalbaik karena gila, pingsan, mabuk atau disebabkan obat, biar sedikit atau banyak.
4. Menyentuh kemaluan tanpa ada batas, berdasarkan hadits Basrah binti Shafwan r.a.: Bahwa Nabi saw bersabda: " Siapa yang menyentuh kemaluannya, maka janganlah shalat sampai ia wudhu legih dahulu!" (HR. yang berlima dan dinyatkan sah oleh Turmudi). Dan menurut Bukhari, hadits ini merupakan yang paling sah tentang soal ini.
Sebaliknya Al-Ahnaf berpendapat bahwa menyentuh kemaluan itu tidaklah membatalkan wudhu berdasarkan hadits Thaliq: Bahwa seorang laki-laki menanyakan kepada Rasulullah saw tentang orang yang menyentuh kemaluannya, apakah ia wajib berwudhu?" Ujar Nabi saw.: "Tidak, itu adalah merupakan bagian dari tubuhmu sendiri." (diriwayatkan oleh yang berlima dan dinyatakan sah oleh Ibnu Hibban), wallahu a'lam.

2. Yang Tidak Membatalkan Wudhu

Disini akan dikemukakan hal-hal yang disangka membatalkan wudhu padahal tidak demikian, karena tidak adanya alasan yang sah yang dapat dijadikan pegangan mengenainya. Diantaranya:
  1.   Menyentuh perempuan (isteri) tanpa ada yang membatas, karena diterima hadits dari 'Aisyah r.a.: Bahwa Rasulullah menciumnya sedang beliau sedang berpuasa, kemudian ulas Nabi: "Ciuman ini tidaklah merusak wudhu' dan tidak pula membatalkan puasa." (Dikeluarkan oleh Ishak Rahawaih, juga oleh Bazaar dengan sanad yang cukup baik, menurut Abdul Hak tidak ada cacat untuk tidak mengamalkannya.). Juga diriwayatkan pula oleh 'Aisyah r.a.: "Bahwa Nabi saw. mencium sebagian isteri-isterinya lalu pergi shalat tanpa berwudhu lagi." (HR.Ahmad). Beberapa hadits serupa yang tidak saya kutipkan lagi, sudah cukup jelas.
  2. Keluar darah dari jalan yang tidak lazim, baik disebabkan luka karena berbekam, atau darah hidung (mimisan), biar sedikit atau banyak. Berdasarkan hadits dari Hasan r.a.: "Kaum muslimin tetap bershalat dengan luka-luka mereka," (HR.Bukhari).
  3. Muntah; biar sepenuh mulut atau kurang dari itu. Tidak diterima sebuah haditspun yang dapat dijadikan alasan menyatakan bahwa ia membatalkannya.
  4. Memakan daging unta. Ini merupakan pendapat khalifah yang berempat dan kebanyakan sahabat serta tabi'in, hanya ada diterima hadits shahih yang menyuruh berwudhu disebabkan itu, diantaranya: Dari Barra' bin Azid r.a. katanya: "Rasulullah ditanyai tentang wudhu' karena makan daging onta!" Maka sabdanya: "Berwudhu'lah karenanya!" Dan ketika ditanya tentang daging kambing, jawabnya: "Janganlah berwudhu!"  Nabi ditanyai pula mengenai shalat di tempat unta memamah biak, Ujarnya: "Jangan shalat di sana, karena itu tempat setan-setan." Lalu ditanyakan kepadanya tentag shalat di tempat kambing memamah biak, maka ujarnya: "Shalatlah di sana, karena tempat itu berkah." (HR.Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Hibban). Wallahu a'lam.
  5. Keraguan tentang hadats bagi orang yang telah berwudhu', apakah ia telah berhadats atau belum. Maka kebimbangan itu tidak jadi soal dan wudhu'nya tidak batal, baik ia sedang shalat maupun diluarnya, sampai ia yakin betul-betul telah berhadats. Dari Abbas bin tammim r.a., katanya: "Bahwa seorang laki-laki mengadukan kepada Nabi saw: bahwa ia merasa mengalami sesuatu saat shalat. Ujar Nabi: 'Janganlah ia berpaling sebelum mendengar bunya atau tercium  baunya.'" (HR.Jama'ah kecuali Turmudzi).
  6. Gelak terbahak di waktu shalat tidaklah membatalkan wudhu, karena tidak sahnya berita-berita yang sampai mengenai itu.
  7. Memandikan mayat; tidaklah wajib berwudhu' karenanya, disebabkan lemahnya dalil yang menyatakan batalnya.


    3. Tatacara wudhu’ menurut syariat adalah sebagai berikut:


    1. Menuangkan air dari bejana (gayung) untuk mencuci telapak tangan sebanyak tiga kali ;
    2. Kemudian menyiduk air dengan tangan kanan lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali.
    3. Kemudian membasuh wajah sebanyak tiga kali.
    4. Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku sebanyak tiga kali.
    5. Kemudian mengusap kepala dan kedua telinga sekali usap.
    6. Kemudian mencuci kaki sampai mata kaki sebanyak tiga kali. Ia boleh membasuhnya sebanyak dua kali atau mencukupkan sekali basuhan saja.

    Setelah itu hendaknya berdoa:

    Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, Allahummaj ‘alni minat tawwabiin waj’alni minal mutathahhiriin.”

    Artinya: “Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.“

    Adapun sebelumnya hendaklah ia mengucapkan ‘bismillah’ berdasarkan hadits yang berbunyi:

    Tidak sempurna wudhu’ yang tidak dimulai dengan membaca asma Allah (bismillah).
(H.R At-Tirmidzi 56)

(Dinukil dari Fatawa Lajnah Daimah juz V/231. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa).

    ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                             
    “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
    Sumber:
    Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq.
    https://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/29/8-delapan-penyebab-batalnya-wudhu-seseorang

    1 komentar:

    1. Alhamdulillah akhirnya aku menemukan yang aku cari, semoga bermanfaat, aamiin

      BalasHapus