Minggu, 05 Mei 2013

Daftar Koran, Tabloid dan Majalah Online

بسم االلهالرحمن اارحيم
INFORMASI di Jaman sekarang sudah menjadi kebutuhan Dan Lahan Bisnis ; contohnya Dunia Media massa baik Cetak maupun elektronik di Indonesia tumbuh Subur dan berkembang mengikuti kemajuan zaman. Sekarang perkembangannya sudah mengarah ke media digital yang memanfaatkan jaringan internet, dengan diterbitkannya juga media dalam format online, yang bisa diakses para pengguna di mana pun berada tanpa harus membayar secara khusus seperti layaknya membeli koran, majalah atau tabloid. Postingan ini berisi  SITUS surat kabar secara online , Majalah Dan tabloid. Diantaranya: 
1 Koran : Republika, Warta Kota, Suara Pembaruan, Media Indonesia, The Jakarta Post, Suara Karya, Pos Kota, Seputar Indonesia, Koran Tempo, Bisnis Indonesia, Harian Pelita, Sinar Harapan, Kompas, Rakyat Merdeka Dan Top SKOR.
2.Majalah: Intisari, Trubus, Sabili, Panji Masyarakat, Gatra, Ummi, Femina, Nurani Dan Bobo.
3 Tabloid: Bola, Sepakbola, Mancing, Kontan, Pulsa, Otomotif, Wanita Indonesia, Internet, Nyata.
Cara membukanya tinggla KLIK Saja Nama koran, Majalah atau tabloid  maka anda akan langsung terhubung Ke halaman koran atau Majalah pilihan anda  (kecuali beberapa yang linknya sedang bermasalah).
Selamat menikmati sajian info gratis ini.


1. Koran Nasional

                  
           Republika             Warta Kota    Suara Pembaruan

  
     Media Indonesia           Indo Pos              Jawa Pos  

      
        
     
                Pos Kota          Seputar Indonesia
     Koran Tempo

                  
           Bisnis Indonesia                 The Jakarta Post            Sinar Harapan

                     
                  Kompas              Rakyat Merdeka               Top SKOR

2. Majalah


      
                    
                Intisari                      Trubus               Sabili (?)

      
       
        
        Panji Masyarakat (?)               Gatra                      Ummi

              
         
            Femina             Nurani                      Bobo
         
      
                
        Wanita Indonesia                Internet            Nyata

3. Tabloid

      
          
       
                Bola                 Sepak bola               Mancing (?)

                       
                   Kontan                    Pulsa                  Otomotif

3. Sejarah dan Perkembangan Suratkabar di Indonesia

Sejak pertama kali suratkabar terbit di Batavia 1744, pers Indonesia tidak pernah lepas dari pengekangan. Karena itulah kemudian muncul istilah “pers perjuangan” sebagai media untuk melawan penjajahan. Mengetahui hal itu, pemerintah kolonial Belanda mengharuskan adanya surat izin atau sensor atas penerbitan pers di Batavia, Semarang dan Surabaya. Sejak itu pula, pendapat tentang kebebasan pers terbelah. Satu pihak menolak adanya surat ijin terbit, sensor dan pembredelan, namun di pihak lain mengatakan bahwa kontrol terhadap pers perlu dilakukan.
Pemerintah kolonial kemudian meninggalkan sejumlah aturan yang dibawa ke alam kemerdekaan. Aturan tersebut seperti Druckpers Reglement (UU Pers) yang dikeluarkan pada 1854, Haatzaai Delicten (UU Hukum Pidana Komunikasi Massa) tahun 1856 ataupun Persbreidel Ordonnatie yang dikeluarkan tahun 1931. Isinya jelas, kontrol terhadap pers.
Meski telah dihapus dengan UU No 23/1954, pers Indonesia tidak berarti terbebas dari pemasungan. Seperti dikatakan Presiden saat itu, Soekarno, saat melantik Dewan Pengawas dan Dewan Pimpinan Kantor Berita Antara 15 Oktober 1952. “Saya tidak menginginkan siaran berita yang obyektif, tetapi jelas memihak pada revolusi kita dan menghantam musuh-musuh revolusi.” Karena itu, pers yang bermusuhan dengan revolusi harus dilenyapkan. Sehingga tidak heran, tindakan, tuduhan dan pembredelan pers terjadi berkali-kali.
Seperti pada tahun 1952, telah diambil tindakan bredel terhadap dua suratkabar, Merdeka dan Berita Indonesia, dan 12 tuduhan lainnya terhadap pers. Tuduhan pelanggaran dengan jumlah yang sama juga terjadi di tahun 1953. Pada tahun 1954 hanya terjadi 8 tindakan kemudian meningkat lagi pada tahun 1955 dengan 13 tindakan dan 32 tindakan pada tahun 1956.
Terparah, ketika pada tanggal 14 Maret 1957 saat Indonesia dinyatakan dalam keadaan darurat perang (SOB-Staat van Orlog en Beleg). Pada masa itu, terjadi 125 tindakan terhadap pers, termasuk di dalamnya penutupan tiga kantor berita, pembredelan 10 suratkabar dan penahanan tujuh wartawan.

Pers di Jaman Orde baru

Pers otoriter juga dikembangkan pemerintahan Orde Baru. Pembredelan, sensor dan perlunya surat izin terbit yang secara resmi dilarang UU Pokok Pers (pasal 4 dan 8 ayat 2), dengan Permenpen 01/1984 pasal 33h yang menghadirkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), melestarikan kekangan terhadap pers. Sebab dengan definisi “pers yang bebas dan bertanggung jawab”, SIUPP merupakan lembaga yang menerbitkan pers dan pembredelan.
Terjadinya pembredelan Tempo, Detik, Editor pada 21 Juni 1994, mengisyaratkan ketidakmampuan sistem hukum pers mengembangkan konsep pers yang bebas dan bertanggung jawab secara hukum. Sejarah ketiga media tersebut mengikuti sejarah Fokus, Sinar Harapan, Prioritas dan Monitor, yang semuanya dibredel tanpa proses pengadilan.

Pers di Jaman Reformasi

Perubahan kekuasaan pada tahun 1998, dari Orde Baru ke Orde Reformasi, membuat pers menemukan kemerdekaanya. Yaitu, ketika Menteri Penerangan saat itu, Yunus Yosfiah, mencabut pemberlakuan SIUPP. Menurut Yunus, kebebasan pers adalah satu pengejawantahan dari keikutsertaan warga negara dalam melaksanakan kekuasaan negara. Ini berarti bahwa kebebasan pers merupakan bagian dari konsep demokrasi bahkan merupakan salah satu unsur fundamental.
Sejak titik balik itulah, pers Indonesia dapat mengabarkan berita secara transparan tanpa kekhawatiran SIUPP yang akan dicabut. Tidak perlu takut lagi untuk menampilkan tokoh-tokoh kontroversial yang menggugat maupun berseberangan dengan pemerintah. Begitu juga, tidak perlu ragu lagi untuk menyajikan berita atau laporan-laporan yang sebelumnya dinilai beresiko.
Dengan dihapuskannya lembaga SIUPP, beberapa media yang sempat ‘mati’, kini pun hidup kembali. Seperti Majalah Berita Mingguan Tempo dan suratkabar Sinar Harapan. Kalaupun tidak menghidupkan yang ‘mati’, dengan segala kemudahan implikasinya kini mudah ditemui suratkabat, majalah, berita radio dan televisi maupun situs berita online baru.
Selain menghapuskan SIUPP, pada tahun 1999 Presiden Abdurrahman wahid kemudian juga menghapuskan Departemen Penerangan. Meski para wartawan masih tetap mendapat ancaman intimidasi, kekerasan, bahkan pembunuhan, dengan dihapuskannya Deppen paling tidak pers punya hak untuk menyebarkan informasi yang bebas dari sensor melalui bentuk media apapun.


Era Media Online

Mengikuti trend pengantaran media saat ini, Indonesia tidak ketinggalan dalam hal itu. Sebut saja dalam hal cetak jarak jauh, maupun penggunaan internet. Beberapa suratkabar seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Bisnis Indonesia dan banyak lagi lainnya, telah dapat dibaca lewat layar monitor komputer. Tidak hanya yang berbasis koran atau majalah, media yang yang langsung menghuni jaringan maya ini pun ada, sebut saja seperti Detik.com, Kompas.com, Okezone.com, vivanews.com  dan lain-lain.
Peran internet sebagai media alternatif ketika media dalam negeri dihantui ketakutan pasca pembredelan Tempo, Detik dan Editor, cukup signifikan. Lewat situs Apakabar, Pijar Online, IndoKini ataupun Indonews, pendapat maupun cerita-cerita unik yang tak mungkin dipublikasikan media umum di Indonesia, bisa dibaca. Situs-situs tersebut, termasuk hadirnya Tempo Interaktif, membalikan pendapat bahwa kebebasan pers bisa dipasung hanya karena sebuah SIUPP.
Semoga bermanfaat.
Sumber:
Berbagai sumber di internet
http://hsutadi.blogspot.com/2009/03/sejarah-kelahiran-suratkabar-dan.html

8 komentar:

  1. Wahh...memang banyak listnya. Tak akan kehabisan sumber bacaan nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ukhty Lynn Munir, mungkin ada koran, majalah atau tabloid kesukaan anda yang hendak dikumpulkan di sini? akan saya collect sebanyak mungkin, Jazaakillaahu khaira.

      Hapus
  2. mantap ya ru tau aku.........
    banyak bacaan atau sumber brita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tks telah berkunjung ke Blog ini, dan apresiasinya. E TA'LIM MEMANG UNTUK ANDA.

      Hapus
  3. Terima kasih juga anda telah berkunjung ke jadipintar.com

    BalasHapus

  4. terima kasih atas informasinya..
    semoga dapat bermanfaat bagi kita semua :) Jessica Iskandar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga mbak Jessica Iskandar telah berkunjung ke jadipintar.com, amin.....

      Hapus
  5. Pak Wasiun..
    Blognya mantep banget.. Jadi betah berlama-lama untuk baca di sini :)
    Like this
    Daftar Kasus Baja Ringan Rubuh Di Indonesia

    BalasHapus