Jumat, 26 April 2013

Sunnah-Sunnah Fitrah Mencontoh Rasulullah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sunah-Sunah Fitrah (Perkara-perkara fitrah) adalah hal-hal yang jika telah dilaksanakan (dikerjakan), maka si pelaku nya dapat dikatakan sudah memenuhi fitrah yang telah ditetapkan Allah baginya. Yaitu fitrah dimana Allah menciptakan para hamba-Nya diatas fitrah tersebut, mengumpulkan mereka diatas perkara itu, dan menganjurkan nya kepada mereka agar memiliki sifat-sifat paling sempurna dan penampilan paling mulia
Ini adalah sunnah orang-orang terdahulu yang dilaksanakan oleh para Nabi عليه السّلام dan telah di sepakati oleh semua syari’at. Seolah – olah ini adalah perkara yang sudah difitrahkan dimana manusia diciptakan diatasnya. [Nailul Authar (I/109), Asy-Syaukani dan Umdah Al-Qari (XX/45), Al-Aini].
Perkara – perkara fitrah ini berkaitan dengan kemaslahatan agama dan duniawi yang dapat diketahui melalui suatu penelitian, diantara nya : “Memperbaiki penampilan dan membersihkan badan, baik secara umum maupun terperinci” [Faidh al-Qadir (I/38), Al-Manawi]. 
Allah telah memilihkan buat Nabi-nabi a.s. itu sunnah-sunnah , dan memerintahkan kita buat mengikuti mereka dalam hal-hal tersebut, yang dijadikan-Nya sebagai syi'ar atau perlambang dan sebagai ciri yang banyak dilakukan, untuk mengenal pengikut masing-masing dan memisahkan mereka dari golongan lain.
Ketentuan-ketentuan itu dinamakan sunnah-sunnah fitrah, dan keterangannya adalah sebagai berikut:
  1. Berkhitan :  Yaitu memotong kulit yang menutupi ujung kemaluan untuk menjaga agar di sana tidak berkumpul kotoran, juga agar dapat menahan kencing dan supaya tidak mengurangi kenikmatan dalam bersenggama. Berkhitan adalah sunnah yang telah lama sekali; dari Abu Hurairah r.a.:Telah bersaksi Rasulullah saw.: "Ibrahim Al-Khalil itu berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan ia berkhitan itu dengan atau di Al-Qadum." *(HR.Bukhari). Syeikh al-Qardhawi berkata, di antara fiqh almaqosyid (kebaikan) khitan lelaki adalah: 1.Mencegah kotoran dan tempat pembiakan kuman pada zakar, 2.Terhindarnya zakar dari terkena penyakit kelamin seperti sifilis, 3.Quluf atau foreskin zakar akan mudah mengalami radang atau melecet, 4.Zakar akan kurang risiko kepada penyakit zakar seperti pembengkakan atau kanker, dan 5.Memaksimumkan kepuasan seks ketika jima’ (hubungan seks) (Fiqh Taharah, 172).
  2. Mencukur bulu kemaluan. mencukur bulu kemaluan pun menjadi bagian sunnah fitrah yang harus diperhatikan. Di daerah sensitif tersebut pun berkembang bakteri propionibacteria dan taphylococcus yang menyebabkan bau tidak sedap yang keluar dari wilayah aurat tersebut, khusus wanita ada bakteri vaginosis. Bila tidak dilakukan pencukuran yang teratur, maka dipastikan akan mendatangkan penyakit yang sangat-sangat mengganggu, seperti gatal-gatal, infeksi dari penyakit kulit sekitar kelamin, bahkan bagi wanita dikhawatirkan terkena penyakit kanker (seperti servik, dan lainnya) karena aurat wanita sangat sensitif terhadap bakteri maupun virus, atau penyakit radang panggul. 
  3. Mencabut bulu ketiak. Keduanya sunnah yang dapat dilakukan dengan menggunting atau memotong, mencabut atau mencukur. Ada masalah dengan bau yang keluar dari kedua lipatan pangkal lengan (alias ketiak) Anda, dipastikan disebabkan oleh kolaborasi antara bakteri yang ada di permukaan kulit (ketiak) dengan keringat yang keluar dari kelenjar apokrin yang berada di daerah tubuh yang tumbuh rambut seperti di daerah kepala (menghasilkan ketombe dan bau apek pada rambut), daerah ketiak dan selangkangan (menghasilkan bau khas tidak sedap, apalagi bila dipengaruhi oleh jenis makanan yang diasup)
  4. Memotong kuku. Sunnah memotong kuku adalah memotong  bagian yang tumbuh dari kuku dan tidak membiarkan memanjangkannya. Tujuan dari sunnah ini adalah untuk kemaslahatan diri manusia sendiri (kesehatan), keindahan dan tidak bertasyabuh dengan makhluk lain (Lihat Al Mulakhos Al Fiqh, 38). Pengertian makhluk lain di sini adalah bisa jadi dari golongan hewan buas atau golongan jin. Dari sisi kesehatan, bahwa ketika kuku yang panjang sangat rentan terhadap tumbuhnya jamur atau hewan parasit dan penyakit lainnya yang bisa masuk melalui mulut ketika makan maupun ketika bersentuhan dengan organ qubul atau dubur atau iritasi kulit lewat kegiatan menggaruk ketika gatal.
  5. Memendekkan kumis atau memanjangkannya. Dalam Islam, hadits-hadits yang menjelaskan perkara kumis dan jenggot ini adalah masalah pembeda bagi umat lain (tidak bertasyabuh), selain menjadi bagian dari syariat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Hadits-haditsnya jelas dan tidak ada pertentangan, seperti : Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Cukurlah kumis, biarkanlah jenggot, dan selisilah majusi. (HR. Muslim, 1/222/260). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa makna memelihara di atas adalah membiarkannya sebagaimana adanya. (Syarah Shahih Muslim). 
    Dalam hadits Ibnu Umar, tersebut sbb.: Bahwa Nabi saw. telah bersabda: "Yang demikianlah kaum musyrikin; melebatkan jenggot dan memanjangkan kumis." (HR.Bukhari , Muslim).
  6. Membiarkan jenggot dan memangkasnya tidak sampai jadi lebat, hingga seseorang tampak berwibawa. Jadi jangan dipendekkan seolah-olah dicukur, tapi jangan pula dibiarkan demikian rupa hingga kelihatan tak terurus, hanya hendaklah diambil jalan tengah; karena yang demikian itu, dalam hal apa juga adalah baik. Dari Ibnu Umar ra.: Telah bersabda Rasulullah saw.: "Demikianlah orang-orang musyrik; melebatkan jenggot dan memendekkan kumis." (disepakati oleh ahli-ahli hadits, sementara Bukhari menambahkan :"Bila Ibnu 'Umar naik haji atau umrah dipegannya janggutnya, dan mana-mana yang berlebih dipotong).
  7. Merapikan rambut yang lebat dan panjang dengan meminyaki dan menyisirnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a.: Bahwa Nabi saw. bersabda: "Siapa yang empunya rambut, hendaklah dirapikannya."(HR.Abu Daud). Memotong rambut kepala diperbolehkan, begitupun memanjangkannya dengan syarat dirawat dengan baik, berdasarkan hadits Ibnu Umar r.a. : Bahwa Nabi saw. telah bersabda : "Cukurlah semuanya, atau biarkan semuanya!"  Adapun mencukur sebagian dan meninggalkan sebagian, maka hukumnya makruh, berdasarkan hadits Nafi dari Ibnu 'Umar: Rasulullah saw. telah melarang qaza' "Lalu ditanyakan orang kepada Nafi'" Apakah yang dimaksud dengan Qaza'?"ujarnya: "Mencukur sebagian kepala anak, dan meninggalkan sebagiannya lagi." (Diriwayatkan oleh ahli-ahli hadits).
  8. Membiarkan uban dan tidak mencabutnya, biar dijenggot atau di kepala. Dalam hal ini tidak ada bedanya antara perempuan dan laki-laki, berdasarkan hadits 'Amar bin Syu'aib ra. yang diterimanya dari bapaknya seterusnya dari kakeknya: Bahwa Nabi saw. telah bersabda: "Janganlah kau cabut uban itu karena ia merupakan cahaya bagi muslim. Tak seorang muslimpun yang beroleh selembar uban dalam menegakkan Islam kecuali Allah akan mencatatkan untuknya satu kebaikan, meninggikan derajatnya satu tingkat dan menghapus daripadanya satu kesalahan."(HR.Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i dan Ibnu Majah).
  9. Mencelup membiarkan uban dengan inai, dengan warna merah, kuning dan sebagainya, berdasarkan hadits Abu Hurairah ra.: Telah bersabda Rasulullah saw:"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mencat rambut. Demikianlah orang-orang itu !" (HR.Jama'ah). Juga berdasarkan hadits Abu Dzar r.a. : Telah bersabda Rasulullah saw: "Sebaik-baik bahan untuk mencelup uban ini ialah inai dari katam." ** (HR.Riwayat yang berlima).
  10. Berharum-haruman dengan kesturi dan minyak wangi. lainnya yang   menyenangkan hati, melegakan dada dan menyegarkan jiwa, serta membangkitkan tenaga dan kegairahan bekerja, berdasarkan hadits Anas r,a, :  Telah bersabda Rasulullah saw. "Diantara kesenangan-kesenangan dunia yang saya sukai adalah wanita dan wangi-wangian, sedang biji mataku ialah mengerjakan Shalat." (HR.Ahmad,Nasa'i). Juga hadits Abu Hurairah r.a.: "Siapa yang diberi wangi-wangian janganlah menolak, karena ia mudah dibawa dan semerbak harumnya." (HR.Muslim, Nasa'i dan Abu Daud).
    Demikianlah sunnah-sunnah fitrah para nabi yang sebenarnya mudah untuk kita tiru dan laksanakan; jika ada kemauan, insyaallah.
    Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
    Sumber:
    Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq
    https://abinehisyam.wordpress.com/2013/01/29/hikmah-dari-syariat-i-sunnah-fitrah/

                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    *    Mungkin arti qadum itu kampak mungkin pula yang dimaksud suatu negeri di Syam.
    ** Sebagian tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan celup hitam kemerah-merahan (pirang).

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar