Selasa, 09 April 2013

Pengertian Harta Warisan / Pusaka Yang Dibagikan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Warisan berasal dari bahasa Arab Al-miirats, dalam bahasa arab adalah bentuk mashdar (infinititif) dari kata waritsa- yaritsu- irtsan- miiraatsan. Maknanya menurut bahasa ialah ‘berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain’. Atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Harta Warisan yang dalam istilah fara’id dinamakan tirkah (peninggalan) adalah sesuau yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, baik berupa uang atau materi lainnya yang dibenarkan oleh syariat Islam untuk diwariskan kepada ahli warisnya.
Tirkah yaitu semua harta peninggalan si mayit sebelum diambil untuk kepentingan pengurusan mayit, wasiat, atau pelunasan hutang. Sedangkan al-irst adalah harta yang siap dibagikan kepada ahli waris setelah dikurangi biaya pengurusan mayit, dan lain-lainnya.
Arti harta warisan/pusaka/peninggalan (tirkah) adalah: harta yang ditinggalkan oleh si mati secara mutlak. Artinya harta yang dimiliki oleh si mati saja, tidak dicampur-campur dengan harta lain (sering disebut gono-gini) secara keseluruhan, apa-apa saja yang menjadi milik si mati secara sah, itulah yang dibagikan sebagai harta warisan atau pusaka, Misalnya seorang isteri meninggal dunia, maka yang dibagikan hanyalah milik si isteri misalnya tabungannya, motornya, atau apa saja yang menjadi milik dia, baik berasal dari perolehan, pendapatan, ataupun pemberian; harta tinggalan lain seperti rumah dll. tidak ikut menjadi obyek warisan jika rumah itu dibeli dari uang suaminya.
Dasarnya adalah sekian banyak ayat Al-Qur'an yang menisbatkan harta dengan si mati, misalnya
فَإِن كُنَّ نِسَآءً۬ فَوۡقَ ٱثۡنَتَيۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ‌ۖ وَإِن كَانَتۡ وَٲحِدَةً۬ فَلَهَا ٱلنِّصۡفُ‌ۚ وَلِأَبَوَيۡهِ لِكُلِّ وَٲحِدٍ۬ مِّنۡہُمَا ٱلسُّدُسُ مِمَّا تَرَك
Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua , maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, (QS.An-Nisa: 11).
 وَلَڪُمۡ نِصۡفُ مَا تَرَكَ أَزۡوَٲجُڪُمۡ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهُنَّ وَلَدٌ۬‌ۚ فَإِن ڪَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ۬ فَلَڪُمُ ٱلرُّبُعُ مِمَّا تَرَڪۡنَ‌ۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ۬ يُوصِينَ بِهَآ أَوۡ دَيۡنٍ۬‌ۚ وَلَهُنَّ ٱلرُّبُعُ مِمَّا تَرَكۡتُمۡ إِن لَّمۡ يَڪُن لَّكُمۡ وَلَدٌ۬‌ۚ فَإِن ڪَانَ لَڪُمۡ وَلَدٌ۬ فَلَهُنَّ ٱلثُّمُنُ مِمَّا تَرَڪۡتُم‌ۚ 
Dan bagimu [suami-suami] seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau [dan] sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (QS.An-Nisa:12).

1. Hak-Hak Yang Harus Ditunaikan Sebelum Warisan Dibagikan

  1. Pengurusan Jenazah. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya, dengan catatan tidak boleh berlebihan. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit, sejak wafatnya hingga pemakamannya. Di antaranya, biaya memandikan, pembelian kain kafan, biaya pemakaman, dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit, baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya.
  2. Pelunasan Hutang. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Artinya, seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT, seperti belum membayar zakat, atau belum menunaikan nadzar, atau belum memenuhi kafarat (denda), maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah, sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. Padahal, menurut mereka, pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan, dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Akan tetapi, meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal, ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Pendapat mazhab ini, menurut saya, tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. Namun, bila sang mayit berwasiat, maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Menurut jumhur ulama, hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah, tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya, baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. Sementara itu, ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. 
  3. Menunaikan Wasiatnya. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris, serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya, termasuk diambil untuk membayar utangnya. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya, maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r.a. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Rasulullah saw. bersabda: "... Sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang."
  4. Siap Dibagikan. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama (ijma'). Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya, misalnya ibu, ayah, istri, suami, dan lainnya), kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-- setelah ashhabul furudh menerima bagian).

2. Pengertian Harta Gono-Gini:

Di beberapa tempat di jawa, ada berlaku adat bahwa apabila suami meninggal, maka sebelum di fara'idh dipisahkan dahulu 1/3 harta untuk isteri yang mereka namakan gono-gini di jawa, raja-kaya di Sunda, dan seguna-sekaya di Sumatera, lalu 2/3 lagi dibagi dan dalam 2/3 ini isteri dapat lagi sebagai isteri menurut syari'at. Asal mulanya dilakukan adat ini, karena isteri turut bekerja buat mendapatkan kekayaan itu, tetapi lama kelamaan walaupun isteri itu tidak turut bekerja, ia dapat 1/3 itu dari kekayaan suami yang terdapat sesudah kawin dengannya, tidak dari kekayaan sebelum kawin dengannya.
Di dalam kaidah pembagian waris menurut Islam aturan seperti itu tidak ada, yang benar adalah :
  1. Harta pusaka yang dibagikan adalah yang menjadi milik si mati saja.
  2. Allah  telah menetapkan bagian warisan sesuai dengan kehendakNya, bukan sesuai kehendak pemilik harta atau ahli warisnya.
  3. Apabila suami-isteri bekerja sama dalam hal permodalan, maka ketika suami meninggal, pisahkan berapa besaran modal isteri dan berapa besaran modal suami. Besaran modal isteri tetap menjadi milik isteri alias tidak dihitung sebagai pusaka, adapun besaran modal suami, itulah yang ditambahkan sebagai harta pusaka untuk dibagikan.
Ingin konsultasi waris online ? klik di sini.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ             
                  “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Cobalah berlatih membagi waris sendiri dengan download di Microsoft excel anda, klik Software Pembagi Waris..
Mudah-mudahan bermanfaat, dan dijalankan dengan penuh ketakwaan kepada Allah semata.
jazaakumullaahu khaira.
Sumber:
Ilmu Faraidh, A.Hasan
http://media.isnet.org/islam/Waris/Definisi.html

24 komentar:

  1. Rani
    Assalaamualaikuam wr.wb. saya mau bertanya kakak laki2 saya meninggal dunia dua minggu setelah isterinya meninggal.Mereka meninggalkan 3 orng anak lk2 dan 5 orng anak perempuan dan waktu itu ibu saya masih ada, 3 tahun kemudian ibu saya meninggal juga,bagaimana cara membagi warisannya,misalkan nilai warisannya Rp.600.000.000,- berapa bagian masing2? mohon dijawab terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 'Alaikum salam wr. wb. Silakan lihat jawabannya di "Forum Konsultasi..... nomor 18."

      Hapus
  2. 'Alaikum salam Wr.Wb.
    Saudara Hendro Cahyo, pembagian warisnya adalah sbb.:
    [1]. Isteri : 1/8 (12,5 %)
    [2]. Anak perempuan: 4/8 (50 %)
    [3]. Saudara laki-laki mendapat sisanya, 3/8 (37,5 %)
    Semoga bermanfaat.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum Wr.Wb. Saya hendak bertanya tentang definisi harta warisan.

    Seorang ayah yg sudah meninggal memiliki 1 istri dan 6 orang anak. Saat ayah meninggal, istri dan anak-anak masih tinggal di rumah dinas milik perusahaan tempat ayah bekerja.Saat ayah meninggal, rumah tersebut masih milik perusahaan tempat ayah bekerja, belum menjadi hak milik ayah.

    Duapuluh tujuh tahun kemudian, setelah ayah meninggal, perusahaan tempat ayah dulu bekerja menjual rumah tersebut dan dibeli oleh salah satu anak dari ayah.

    Pertanyaan saya adalah: Setelah rumah tersebut dibeli oleh salah satu anak dari ayah setelah 27 tahun ayah meninggal, apakah rumah tersebut dikategorikan sebagai harta warisan yang harus dibagi sesuai hak kepada istri dan ke-6 orang anak2 ayah tersebut?

    Terimakasih atas jawabannya. Wassalamualaikum wr.wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. WARISAN RUMAH DINAS
      'Alaikum salam wr.wb.
      Permasalahannya adalah HAK MILIK siapakah rumah itu ?
      - Jika milik /dibeli oleh ayah, maka ketika ayah meninggal, rumah itu dibagikan kepada ahli warisnya, yakni isteri dan 6 orang anaknya.
      -Tetapi jika milik / dibeli oleh salah satu anak saja, maka ketika si pembeli meninggal dunia, rumah itu diberikan kepada ahli waris si pembeli saja.
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Alhamdulilah, terimakasih atas waktu yang diluangkan untuk menjawab pertanyaan saya. Sangat, sangat bermanfaat.

      Wassalamualaikum Wr.Wb.

      Hapus
    3. Terima kasih kembali, semoga bermanfaat dan mendapat barakah.
      'Alaikum salam warhmatullaahi wabarakaatuh.

      Hapus
  4. Asaslamu'alaikum Wr.Wb.
    Saya mau bertanya tentang bagaimana cara menbagi harta waris

    Ayah saya menjual tanahnya kemudian dari hasil penjualannya sebagian dibelikan rumah untuk kakak laki-laki tertua atas nama kakak tertua, sebagiannya lagi dibelikan sebuah rumah untuk atas namanya untuk mereka tinggal. Ayah saya seorang duda mempunyai 3 orang laki2 termasuk kakak laki2 tertua dan 4 orang perempuan.
    Setahun kemudian Ayah saya menikahi seorang janda, dari hasil pernikahannya mendapat 2 orang anak laki-laki.
    Sudah 3 tahun ayah saya meninggal dunia dan saya akan menjual rumah yang ditinggalkannya.
    Bagaimanakan cara membagi harta peninggalannya.
    1. Apakah Kakak laki2 tertua masih berhak mendapat harta pninggalan
    2. Apakah Isteri yang ditinggalkannya berhak mendapat harta peningalan
    Mohon penjelasannya.

    Terima kasih banyan atas jawabannya.

    Wassalamu alaikum Wr.Wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. BAGIAN ANAK TERTUA DAN ISTERI:
      'Alaikum salam wr. wb,
      1. Kakak tertua mendapat hak bagian waris normal. Pemberian di waktu ayah hidup adalah suatu hibah yang statusnya tidak mengurangi apalagi menghilangkan hak waris.
      2. Isteri berhak mendapat bagian waris dari suaminya, Ini dijamin Al-Qur'an surah An-Nisa: 12.
      3. Pembagian Warisnya, sbb:
      [1]. Isteri: 14/112 (12,5 %)
      [2]. 5 Anak laki-laki masing-masing mendapat 14/112 (12,5 %).
      ]4\. 4 Anak perempuan masing-masing mendapat 7/112 (6,25 %).
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
  5. Salam,
    Saya seorang janda yang mempunyai 2 orang anak perempuan, 4 orang saudara lelaki dan 5 orang saudara perempuan. Ibubapa sudah meninggal. Jika saya berkahwin lagi dan meninggal, berapakah peratusan harta yang waris-waris saya dapat. Buat masa ini saya telahpun membuat wasiat melalui amanah raya yang semua harta-harta saya dibahagikan kepada 2 anak perempuan saya sahaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. WARISAN DAN WASIAT UNTUK 2 ANAK PEREMPUAN.
      'Alaikum salam wr. wb (yang lengkap ya bu....)
      Jika anda menikah lagi dan meninggal, maka pembagian warisannya adalah, sbb.:
      [1]. 2 Anak perempuan = 2/3 - masing-masing = 1/3 (33,33 %).
      [2]. Suami baru anda = 1/4 (25 %)
      [3]. 4 Saudara laki-laki, masing-masing = 2/156 (1,28 %).
      5 Saudara perempuan, masing-masing = 1/156 (0,64 %).
      [4]. a. Wasiat anda untuk anak menurut syari'ah Islam dinyatakan BATAL, karena anak anda sudah mendapat bagian waris; sementara salah satu syarat wasiat (harta) adalah: penerima bukanlah ahli waris.
      b. Jika hendak memberi anak, pakailah jalan hibah (pemberian dikala anda masih hidup), tapi jangan semuanya.
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
  6. Assalamualaikum,

    Saya ingin bertanya dan mohon dibantu mengenai solusi tentang permasalahan berikut.
    Sebut saja A (suami), B (istri), C (anak angkat laki-laki), D (anak kandung laki-laki)

    A meninggal dunia, ibu A masih hidup tetapi ayah nya telah meninggal. Saudara2 kandung A menuntut 3 hal kepada B.

    1. Nazar A kepada ibu A dimana A pernah berjanji akan membiayai pergi umroh.
    2. Bagian dari rumah dan mobil yang ditempati A, B, C dan D sebesar 10% dari nilai totalnya..

    Menurut pengakuan B, rumah dan mobil dibeli oleh B. Bisa dibuktikan dari kuitansi pelunasan.
    Sedangkan uang si A habis untuk pengobatan A selama 1 tahun.

    Bagaiman mencari solusi yang terbaik untuk masalah ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. WARISAN DAN NADZAR
      'Alaikum salam wr. wb.
      1.Nadzar adalah hutang yang harus dibayarkan dan diambilkan dari harta peninggalan almarhum sebelum dibagikan kepada ahli waris.
      2.Wasiat 10 % dari total harta untuk ibu menurut hukum Islam batal, karena ibu termasuk ahli waris yang memperoleh bagian dari almarhum berdasarkan ketentuan ilmu Faraidh.
      3.Yang dibagikan adalah harta milik almarhum saja, harta milik yang lain (mis: B) jika dapat dibuktikan kebenarannya, maka tidak dibagikan sebagai warisan.
      Pembagian Harta A adalah sbb.:
      - Isteri (B) : 12,5 %
      - Ibu :1/6 atau 16,66 %
      - Anak laki-laki mendapat sisa 17/24 atau 70, 83 %.
      Adapun anak angkat (C), dia tidak mendapat bagian waris karena menurut hukum Islam dia bukan ahli waris (hakikatnya orang lain).
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
  7. ass,,.
    mohon penjelasanya untuk permasalahan ini:
    ketika suami maninggal,,dia meninggalkan seorang istri,seorang anak,seorang ibu(bapaknya sudah meninggal),4 sodara perempuan dan 4 sodara laki laki,pembagian harta nya bagaimana. harta itu bukan harta dari orang tua melainkan harta dari hasil kerja berdua( si istri dari semenjak menikah sampai si suami meninggal tetap bekerja)
    mohon penjelasanya,terimakasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. MEMISAHKAN HARTA WARISAN DAN HARTA MILIK ISTERI
      'Alaikum salam wr. wb
      1. Pisahkan dulu mana harta milik / perolehan suami dan mana yang milik isteri, Yang milik suami merupakan harta warisan, sementara yang milik isteri tetap dalam genggaman isteri.
      2. Sayang sekali anda tidak menyebut jenis kelamin anak alm. tapi sy coba membuat 2 alternatif:
      A. Jika anak alm. laki-laki, ahlli waris dan bagiannya adalah:
      - Isteri: 1/8 ( 3/24)
      - Ibu : 1/6 (4/24)
      - Anak laki-laki: 'Ashabah (sisa yang 17/24).
      B. Jika anak alm. perempuan, maka ahli waris dan bagiannya:
      - Isteri; 1/8 (3/24)
      - Ibu : 1/6 (4/24)
      - Anak perempuan : 1/3 (8/24)
      - 4 Saudara laki-laki alm.: 9/24 dibagi rata.
      Maaf terlambat menjawab, semoga bermanfaat.

      Hapus
  8. Assalam mu alaikum wr wb

    Sayang ingin menanyakan mengenai beberapa hal sebagai berikut
    1. Berapakah hak warisan istri dari suaminya jika tidak memiliki keturunan ( harta yang dibagikan adalah bukan gono-gini / milik suaminya sebelum menikah dengan istri tersebut )
    2. Kerabat yang dimiliki sang suami tersebut adalah mempunyai 2 orang saudari yaitu laki & perempuan. berapakan pembagian kedua orang saudaranya tersebut ?
    3. Pembagian warisan tersebut belum pernah dilakukan sempai melewati beberapa generasi. Apakah perhitungannya berdasarkan kondisi sekarang setelah melewati beberapa generasi, atau mengacu pada perhitungan saat pewaris meninggal dunia ?

    Wass
    Suhartono

    BalasHapus
    Balasan
    1. WARISAN MENGACU PUSAKA SAAT PEWARIS MENINGGAL
      'Alaikum salam wr. wb.
      1. Bagian isteri: 1/4 dari harta warisan suaminya (QS. An-Nisa: 12)
      2. Jiika saat meninggal alm. hanya mempunyai ahli waris isteri dan 2 saudara (alm. tidak memiliki orang tua), maka sisa yang 3/4 untuk 2 saudaranya, dengan komposisi: saudara laki-laki mendapat 1/2 dan saudara perempuannya 1/4.
      3. Penghitungannya berdasarkan tempo saat alm. meninggal, mengaculah pada persentase di atas agar harga aset/barang pusaka bisa mengikuti sampai kapanpun.
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
  9. Assalam mu alaikum wr wb Ustadz,

    Pada saat masih hidup, Almarhum mertua saya memiliki harta berupa mobil dan rumah.
    setelah meninggal Almarhum mendapatkan uang jaminan hari tua, jamsostek, dan santunan dari perusahaan tempat beliau bekerja.
    Mohon pencerahannya yang termasuk harta waris apakah hanya harta yang dibeli/dimiliki saat Almarhum masih hidup? Dan apakah uang jaminan hari tua, jamsostek, dan santunan dari perusahaan tempat beliau bekerja termasuk kedalam harta warisan yg harus dibagi ke para ahli waris?

    Wassalam
    Dwi



    BalasHapus
    Balasan
    1. ASURANSI, JAMSOSTEK DAN SANTUNAN BUKAN HARTA WARISAN
      'Alaikum salam wr. wb.
      1. Uang duka, uang santunan, uang pensiun dan uang klaim asuransi pada hakikatnya bukan harta milik si mati, sehingga tidak dikategorikan sebagai harta warisan yang harus dibagikan menurut kaidah waris.
      2. Uang pensiun dan klaim asuransi, pada hakikatnya adalah hibah dari si mati untuk orang yang namanya telah tertera di dalam akte atau SK, maka merekalah yang berhak menerima uang tersebut. Adapun uang duka dan santunan yang bersifat umum, hendaklah dibagikan sesuai dengan kesepakatan, keperluan dan keikhlasan masing-masing ahli waris.

      Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel kami yang terkait: http://www.jadipintar.com/2014/10/Apakah-Uang-Duka-Santunan-Pensiun-dan-Klaim-Asuransi-Termasuk-Harta-Warisan-Bagaimana-Membaginya.html

      Hapus
  10. Assalamualaikum ustad... Saya mau nanya ... Bagaimana hukumnya jika ada seorang suami meninggal dia meninggalkan beberapa unit ruko yg sudah di hibahkan ke anak2nya, sementara uang hasil sewa rukonya masih di pegang sang istri... Anak2nya gak berani untuk menanyakan hal tsb ke ibunya karena untuk menghindari konflik.
    Mohon penjelasannya ... Terimakasih

    BalasHapus
  11. 'Alaikum salam Wr. wb.
    Hibah atau pemberian dikala si pemberi masih hidup, secara hukum kepemilikan barang yang dihibahkan telah menjadi hak penerima. Konsekuensinya, aset dan manfaat barang tersebut menjadi hak penuh si penerima juga; kecuali ada perjanjian lain di dalam hibahnya. Karena uang sewa masih diambil ibu yang notabena orang tua penerima hibah, maka mesti dilihat juga keadaan ekonomi ibu, apakah cukup atau kurang. Sebenarnya ini hanya masalah komunikasi keluarga, bicaralah yang baik dengan ibu anda, kemukakan bahwa hukumnya sudah menjadi milik para anak maka uang sewa pun menjadi milik penuh para anak, tetapi para anak juga akan menopang ekonomi si ibu sebagaimana mestinya. Insyaallah dengan musyawarah yang ma'ruf bisa ditemukan jalan yang baik dan benar, saya do'akan.

    BalasHapus
  12. Assalamualikum Wr.Wb
    Saya Hendro mau bertanya sehubungan dengan pembagian warisan.
    Ayah saya telah meninggal dan kami masih tinggal bersama ibu kami di papua dgn jumlah anaknya ada 5 orang yakni 3 perempuan & 2 laki2, dengan klasifikasi kakak tertua perempuan saya adlh anak dr ibu yg pertama yg sdh menikah lagi sedangkn 4 org anak adlh dgn ibu kami yg skng dimana saya selaku laki yg tertua & selanjutnya ke 3 adik saya adlh laki dn 2 org perempuan.
    Alm ayah kami meninggalkan bbrapa harta berupa: 1. tanah & rumah yg semasa hidupnya pernah mengutarakan niatnya utk berikan tanah & rumah ketika nanti menikah kpd saya selaku ank laki2 tertua tetapi sertifikat msh atas nama alm ayah
    2. ada tanah lagi di tempat lain, dan
    3. ada rumah lagi yg sekrng ditempati oleh ibu kandung saya (istri ke-2 alm ayah).
    Pertanyaannya, bagaimana pembagian warisan nantinya utk 5 org dr kami sebagai anak ahli waris mendapatkan hak dn bagiannya secara adil. Dan utk point 1 bagaimna hukumnya apabila semasa hidup ayah saya pernah mengutarakan niatnya utk memberikan tanah dn rumah tsb.
    Wassalam
    zein

    BalasHapus
  13. Assalamualaikum wr wb..
    Ustad saya mau bertanya, nama saya hartono saya mau tanya ayah saya meninggalkan beberapa bidang tanah termasuk sebidang tanah yang ada bangunan rumah, beliau mempunyai 4 orang anak 3 laki-laki dan 1 perempuan,berapakah bagian yang harus diterima oleh masing-masing anak,, terus siapakah yang berhak membagi?
    Terimakasih atas jawabanya,,
    Wassalamualaikum wr wb

    BalasHapus
  14. 'Alaikum salam Wr. Wb.
    Pak Hartono yang dirahmati Allah, lakukanlah hal-hal seperti berikut:
    1. Taksir semua asset/peninggalan ayah anda dan kurskan dengan taksiran nilai rupiah.
    2. Jika ayah sudah tidak memiliki isteri, maka semua harta warisan dibagikan kepada anak-anaknya dengan komposisi:
    - 3 Anak laki-laki, masing-masing: 2/7 (28,57%).
    - 1 Anak perempuan : 1/7 (14,28%)
    3. Yang berhak membagikan:
    - Jika ahli waris sudah tahu besaran dan cara membagi dan sudah sepakat, silakan antar ahli waris saja yang membagikan.
    - Jika ahli waris belum tahu cara pembagiannya, bisa meminta bantuan ustadz atau kyai yang mengerti masalah pembagian waris Islam di sekitar anda.
    - Jika terjadi sengketa antar ahli waris, bisa dimintakan putusan pada hakim pengadilan Agama setempat.
    Semoga bermanfaat.

    BalasHapus