Senin, 22 April 2013

Pengertian dan Sejarah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah (Bahasa Arab: أهل السنة والجماعة) atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah (bahasa Arab: أهل السنة) atau Sunni adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.
As-Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah jalan/cara. Sedangkan menurut ulama 'aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, baik tentang ilmu, i'tiqad (keyakinan), perkataan maupun  perbuatan. Disebut al-jama'ah karena mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para imam (yang berpegang kepada al-haqq/kebenaran). Al-Jama'ah menurut ulama 'aqidah (terminologi) adalah generasi pertama dari umat ini, yaitu kalangan sahabat, tabi'in dan tabu'ut tabi'in. serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran, sebagaimana dikatakan Ibnu Mas'ud: "Al-Jama'ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian."
Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti sunnah Nabi saw.dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid'ah dalam agama.
Ciri-ciri ahlus sunnah wal jama'ah adalah mereka ittiba' (mengikuti) kepada sunnah Rasulullah dan mengikuti atsar (jejak) salaful ummah.

1. Sebutan lain untuk ahlus sunnah wal jama'ah:

  1. Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Ahlul Ittiba'
  2. Ath-Thaaifatul Manshurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Mu'awiyah: Bahwa Rasulullah bersabda : "Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan orang yang akan menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.(HR.Bukhari, Muslim).
  3. Al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat)
  4. Al-Ghurabaa' (orang asing). Dari Abu Hurairah : Rasulullah saw.bersabda:"Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah bagi al-ghurabaa' (orang-orang asinng)." (HR.Muslim).
Makna Al-Ghurabaa' adalah sebagaimana diriwayatkan oleh 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, ketika Rasulullah suatu hari menerangkan tetang makna ghurabaa', beliau bersabda: "Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang jelek, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka." (HR.Ahmad). Juga dalam hadits lain, dari 'Amr bin 'Auf: Rasulullah bersabda: "Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnahku (sunnah Rasul) sepeninggalku sesudah dirusak oleh manusia." (HR.At-Tirmidzi).


2. Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Ada beberapa pendapat sejarah mengenai kapan dan siapayang pertama kali menggunakan istilah "aswaja", saya nukilkan beberapa diantaranya:
1. Ibnu Abbas r.a. Penamaan istilah aswaja sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Ketika menafsirkan ayat :
 يَوۡمَ تَبۡيَضُّ وُجُوهٌ۬ وَتَسۡوَدُّ وُجُوهٌ۬‌ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسۡوَدَّتۡ وُجُوهُهُمۡ أَكَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُون 
"Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya [kepada mereka dikatakan]: "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". (QS.Ali-Imran:106). 
Abdullah bin Abbas/Ibnu Abbas berkata: "Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid'ah dan sesat." (Tafsir Ibnu Katsir[I/419, cet.Daarus Salaam]).
2. Dinasti Abassiah. Istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini baru digunakan dan berkembang pada pertengahan zaman Khilafah ‘Abbasiyah untuk membedakannya dengan “Syî’ah”,  yang mulai digunakan setelah terbunuhnya Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib di tangan kaum Khawarij. Istilah Syî’ah mulai digunakan, khususnya setelah peristiwa tersebut, dan setelah ‘Am al-Jamâ’ah (Tahun Rekonsiliasi) terjadi pada masa Khalifah al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Namun, pemilahan antara Syî’ah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah ini sudah mulai mengerucut. Orang yang menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini pertama kalinya adalah Muhammad bin Sirin (w. 110 H), sebagaimana yang dituturkan oleh Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahîh-nya dengan sanad dari Ibn Sirin, bahwa dia berkata, “Dulu mereka tidak mempertanyakan tentang isnâd, namun setelah terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah tokoh-tokoh [perawi] kalian kepada kami.’ Kemudian ditunjukkanlah Ahlus Sunnah, lalu hadis mereka pun diambil. Ditunjukkan pula ahli bid’ah, lalu hadits mereka pun ditolak.”

Kemudian istilah ASwJ diikuti oleh kebanyakan ulama salaf, diantaranya:
  1. Ayyub as-Sikhtiyani (wafat th.131 H) ia berkata: "Apabila aku dikabarkan tentang menginggalnya seorang dari ahlus sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku."
  2. Sofyan ats-Tsaury (wafat th. 161 H.) berkata: "Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada ahlus sunnah dengan baik, karena mereka adalah a-ghurabaa', alangkah sedikitnya ASwJ."
  3. Fudhail bin Iyadh (wafat th. 187 H.) berkata : "... berkata ahlus sunnah: iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan,"
  4. Abu Ubaid al Qasim bin Sallam (Th. 157H-224H) berkata :"...Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan ummat, tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah -olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut ahlus sunnah dari yang demikian ...."
  5. Imam Ahmad bin hambal (Th. 164 241 H) berkata : "Inilah madzhab ahlul 'ilmi, ash-haabul atsar dan ahlus sunnah, yang mereka dikenal sebagi pengikut sunnah Rasul dan  para sahabatnya, dari semenjak zaman para sahabat hingga pada masa sekarang ini...."
  6. Ibnu Jarir ath-Thabari (wafat th. 310 H.) berkata: "... adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum Mukminin akan melihat Allah pad hari kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa ahlus sunnah wal jama'ah berpendapat bahwa penghuni surga akan melihat Allah sesuai berita yang shahih dari Rasulullah saw. ..."
  7. Imam Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad ath-Tahawi (Th. 239-321 H) berkata: " .... Ini adalah penjelasan tentang 'aqidah ahlus sunnah wal jama'ah."
                             ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                            
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
http://hizbut-tahrir.or.id/2013/03/31/siapakah-aswaja/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar