Sabtu, 06 April 2013

Kedudukan Roh Setelah Terpisah dari Jasad

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Kediaman roh itu di alam barzakh, bertingkat-tingkat yang satu sama lainnya jauh sekali bedanya Diantaranya ada roh di puncak tertinggi dari alam  arwah, yaitu roh para anbiyaa. Dan roh-roh ini berbeda pula tinggi-rendahnya kedudukan mereka sebagaimana disaksikan oleh Nabi saw. di malam Isra’. Allah membatasi persoalan roh dan kedudukan mereka seperti tercantum dalam  Al-Qur'an  dengan menyatakan (artinya): “ mereka bertanya padamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah bahwa roh adalah urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. ”
Sebagian ulama (antara lain Ibnu Qoyyim) telah menyimpulkan tempat-tempat roh orang mati dari beberapa  hadits dengan menyatkan bahwa mereka berada di alam barzakh yang masing-masing memiliki kedudukan berbeda di antara mereka tergantung kepada amalnya dikala hidupnya.


1. Pengertian Ruh

1. Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti.
Kata روح untuk ruh
Kata ريح (rih) yang berarti angin
Kata روح (rawh) yang berarti rahmat.
Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat روحانيون * روحاني Digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin.
2. Dalam al-Qur'an, ruh juga digunakan bukan hanya satu arti. Term-term yang digunakan al-Qur'an dalam penyebutan ruh, bermacam-macam. Diantaranya ruh di sebut sebagai sesuatu:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra': 85).
Hanya saja, ketika ruh manusia diyakini sebagai zat yang menjadikan seseorang masih tetap hidup
الروح انه ما به حياة النفس
atau seperti yang dikatakan al-Farra' 
الروح هو الذي يعيش به الإنسان 
Serta jawaban singkat al-Qur'an atas pertanyaan itu (lihat QS. Al-Isra': 85), menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi "rahasia" yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata. Selanjutnya al-Qur'an juga banyak menggunakan kata ruh untuk menyebut hal lain, seperti:
Malaikat Jibril, atau malaikat lain dalam QS. Al-Syu'ara' 193, al-Baqarah 87, al-Ma'arij 4, al-Naba' 38 dan al-Qadr 4.
(الروح الأمين , روح القدس , (والروح الملئكة
Rahmad Allah kepada kaum mukminin dalam QS. al-Mujadalah 22
وأيدهم بروح منه
Kitab suci al-Qur'an dalam QS. Al-Shura 52.6 
وكذلك أوحينا إليك روحا من امرنا
Tentang bagaimana hubungan ruh itu sendiri dengan nafs, para ulama berbeda pendapat mengenainya. Ibn Manzur mengutip pendapat Abu Bakar al-Anbari yang menyatakan bahwa bagi orang Arab, ruh dan nafs merupakan dua nama untuk satu hal yang sama, yang satu dipandang mu'anats dan lainnya mudhakkar.


2. Beberapa Tingkat / Derajat Kedudukan Roh Manusia

  1. Roh sebagian syuhada. Roh yang berupa burung berwarna hijau dilepasakan dalam surga sesuka hatinya, yaitu roh sebagian dari syuhada dan bukan semua. Bahkan ada diantara mereka itu yang rohnya terhalang masuk surga disebabkan ia berhutang, atau karena sebab-sebab lainnya, sebagaimana tercantum dalam Musnad,  diterima dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya:  “Ya Rasulullah, apakah yang akan saya peroleh seandainya saya berperang di jalan Allah” Ujarnya: “Surga.” Setelah orang itu berpalaing, ditambakan oleh Nabi: “Kecuali yang berutang” dibisikkan oleh Jibril kepadaku barusan.”
  2. Terpenjara di pintu surga. Adapula yang terpenjara di pintu surga, seprti tersebut pada hadits yang lain: “Saya lihat saudaramu terpenjara di pintu surga.
  3. Roh pencuri. Ada lagi yang terpenjara di kuburnya seperti hadits mengenai pencuri kain rampasan perang yang diambilnya secara diam-diam sebelum dibagikan. kemudain ia mati syahid. Orang-orang sama mengatakan: “ Alangkah nikmatnya baginya surga!Tetapi Nabi saw. bersabda;” Demi Tuhan yang nyawaku berada dalam genggamannya! Kain rampasan yang dicurinya itu , akan menjadi api yang bernyala di dalam kuburnya!” 
  4. Rohnya para syuhada. Adapula para syuhada yang bertempat tinggal di gerbang surga, sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Abbas: “Para syuhada itu akan berdiam di pantulan sebuah sungai di pintu surga, yakni disebuah kubah berwarna hijau, sedang makanan mereka akan dikirim dari surga di waktu pagi dan di waktu sore.” (Riwayat Ahmad).
  5. Roh yang bisa terbang. Dan ini berbeda dengan Ja’far bin Abi Thalib, karena kedua tangannya akan diganti oleh Allah dengan dua buah sayap, hingga ia bisa terbang dalam surga itu sesuka hatinya.
  6. Roh kelas rendah. Dan sebagian dari roh-roh itu ada pula yang terbelenggu di bumi, tidak dapat naik ke alam yang tinggi, karena ia adalah roh rendah yang hanya layak tinggal di bumi. Roh rendah tak kan dapat bercampur gaul dengan roh tinggi sebagaimana kedua macam roh itu tak dapat bercampur gaul di dunia. Jiwa yang selama di dunia tak hendak berusaha mengenal Tuhannya, tak hendak mengingat, mencintai, mendekati dan beramah-tamah dengan-Nya adalah jiwa yang hina-dina, dan setelah berpisah dari badan, tak ada tempatnya yang layak kecuali di bumi itu.
  7. Roh luhur. Sebaliknya jiwa yang luhur yang selama di dunia selalu mencintai, dan mengingat Allah, mendekatkan diri dan beramah tamah dengan-Nya, maka setelah terpisah dari badan, ia akan berada di lingkungan roh-roh yang setaraf dengannya.
  8. Roh di tungku para pelacur. Adapula roh yang berdiam di tungku para pelacur, dan di sungai darah, berenang di sana dan menelan batu.
Syeikh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar menjelaskan posisi roh setelah terpisah dari jasad (dalam buku Al-Yaumul Akhir, hlm. 102), dengan rincian sebagai berikut:
  1. Roh para nabi. Roh mereka berada di tempat tertinggi, bersama para malaikat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada detik-detik wafatnya, mengatakan, “Ar-Rafiiqul a’la (kumpulkanlah aku bersama sahabat terbaik yang berada di atas).”
  2. Roh para syuhada. Roh mereka berada di tembolok burung-burung hijau di surga. Burung ini memiliki sarang yang menggantung di bawah ‘Arsy, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim
  3. Roh orang mukmin yang shaleh. Roh mereka berada di tembolok burung (bukan burung berwarna hijau) yang bergelantungan di pohon-pohon surga, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad yang dinilai sahih oleh Al-Albani.
  4. Roh orang kafirRoh mereka disiksa di alam kubur, dengan siksaan yang pedih. Dia dipukul dengan gadha oleh sosok makhluk yang buta lagi tuli. Andaikan gadha itu dipukulkan ke gunung, niscaya gunung tersebut akan menjadi tanah. Ini, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat An-Nasa’i.
  5. Roh ahli maksiat (orang yang gemar bermaksiat). Roh mereka berada di tempat mereka mendapat siksaan. 
  • Roh pezina berada di suatu lubang seperti tanur; bagian atasnya sempit, dan bagian bawahnya longgar. Dari bawah tanur ini dinyalakan api, kemudian mereka berlomba-lomba berebut naik ke atas.
  • Roh orang yang makan hasil riba berada di sungai darah; dia berenang, berusaha menepi. Ketika hampir sampai ke tepi, dia dilempari batu, kemudian dia berbalik lagi ke tengah.
  • Roh tukang bohong akan digantung, kemudian mulutnya dirobek sampai ke tengkuk. Semua ini disebutkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan Bukhari.  Allahu a’lam.
Dan roh itu walaupun ia berada di surga, tetapi ia juga di langit, dan dapat berhubungan dengan lingkungan kubur serta badannya yang tertanam di sana, karena gerakan dan perpindahannya, naik dan turunnya amat cepat. Ia bermacam-macam, ada yang lepas bebas dan ada yang terpenjara, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Setelah terpisah dari badannya ia akan juga mengalami sehat dan sakit, kebahagiaan dan kesengsaraan, bahkan ada dalam tingkat yang lebih besar lagi  dari sewaktu ia bersama badannya itu. maka ada yang akan mengalami penjara, adzab dan siksa, sakit dan duka, sebaliknya ada pula yang menemui suasana bahagian aman sentosa dan alam yang bebas dan merdeka.


3. Empat Macam Alam

Maka jiwa itu mempunyai empat alam, yang masing-masingnya lebih besar dari yang sebelumnya.
  1. Alam pertama: di perut bunda, dan ini merupakan alam yang sempit dan terbatas, alam sesak yang diliputi kegelapan yang tiga.
  2. Alam kedua: ialah alam tempat ia bertumbuh dan yang amat dicintainya, dimana ia mengusahakan kebaikan atau kejahatan, sebab-sebab kebahagiaan atau kesengsaraan.
  3. Alam ketiga: Alam barzakh, lebih luas dan lebih besar dari alam dunia ini. Bahkan perbandinagnnya dengan dunia, tak ubahnya bagai dunia terhadap alam pertama ata di perut bunda.
  4. Alam ke empat: Alam yang kekal, yaitu surga atau neraka. Yang merupakan alam penghabisan karena tak ada lagi alam setelah itu. 
Maka Allah memindahkan jiwa pada alam-alam ini tahap demi tahap, hingga mencapai alam yang layak baginya dan tidak cocok jika detempatkan-Nya pada lainnya, yakni alam yang sengaja dicipta untuknya, dan ia dipersiapkan untuk mencapai dan mendapatkannya.
Kemudian pada setiap alam yang empat ini, roh itu mempunyai norma dan keadaan tertentu yang tidak serupa dengan norma dan keadaan yang dijumpai pada alam lainnya. Maka Maha berkahlah Allah Pencipta arwah dan yang mengembangkannya, yang menghidupkan dan mematikannya, yang membahagiakan dan menyengsarakannya. Yang menjadikannya berlebih-berkurang dalam tingkat kebahagiaan dan kesengsaraan, sebagaimana dijadikan-Nya berlebih-kurang pula dalam derajat ilmu dan amal, tenaga serta moral
Wallahu a'lam.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah Bermanfaat.
Sumber: 
Fikih SUnnah 4, hal. 237 - 241, Sayyid Sabiq, Penerbit: Al-Ma'arif - Bandung.
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-bin/content.cgi/artikel/eksistensi_ruh.single?seemore=y
http://www.konsultasisyariah.com/tempat-roh-setelah-kematian/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar